
Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.
DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II. KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-1)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#1) Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya. Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”
هَلْ تَعْتَقِدُ أَنَّ الْأُمُومَةَ هِيَ أَجْمَلُ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ، وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ. لَكِنْ لَمْ يُخْبِرْهَا أَحَدٌ قَطُّ أَنَّ طِفْلَهَا قَدْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا مُبَاشَرَةً عَلَى عَيْنَيْهَا وَيَقُولُ: “أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا.
a. Kajian Kalimat… هَلْ تَعْتَقِدُ أَنَّ الْأُمُومَةَ هِيَ أَجْمَلُ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ، وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ.
Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya.
هَلْ تَعْتَقِدُ أَنَّ الْأُمُومَةَ هِيَ أَجْمَلُ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ، وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- isim istifham هَلْ
- fi’il mudhari’ lazim تَعْتَقِدُ
- jumlah inna أَنَّ الْأُمُومَةَ هِيَ أَجْمَلُ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ
- huruf taukid [amil nashab] أَنَّ
- isim inna [manshub] الْأُمُومَةَ
- badal dari isim inna هِيَ
- khabar inna [marfu‘] dalam bentuk murakkab idhafiy أَجْمَلُ شَيْءٍ, yang terdiri dari :
- mudhaf أَجْمَلُ
- mudhaf ilaih [majrur] شَيْءٍ
- zharf makan dalam bentuk jar wa majrur فِي الْعَالَمِ
- jumlah ismiyyah وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ , yang terdiri dari :
- huruf athaf وَ
- mubtada‘ [marfu‘] dalam bentuk isim dhamir هِيَ
- khabar [fi mahalli raf’in] كَذَلِكَ
- zharf makan dalam bentuk jar wa majrur فِي الْعَالَمِ
- Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) 1 dalam bentuk kalimat tanya (didahului huruf tanya هَلْ ،(apakah), dengan kata kerjanya (fi’il) تَعْتَقِدُ (anda percaya)
- Huruf tanya bukan sebagai isim, sehingga tidak mempengaruhi struktur kalimat.
- Frase أَنَّ الْأُمُومَةَ (bahwa keibuan) adalah huruf dan isim anna 2, dengan i’rab isim-nya manshub/fathah. Lafadz هِيَ adalah badal dari isim inna, sebagai penguat.
- Dan untuk khabar anna, yaitu أَجْمَلُ sesuai kaidahnya maka i’rab nya marfu‘/dhammah.
- Murakkab 3 sesudahnya أَجْمَلُ شَيْءٍ (sesuatu/ hal terindah) berbentuk idhafiy.
- Murakkab فِي الْعَالَمِ (di dunia ini) adalah berbentuk jar wa majrur 4 , berperan dalam kalimat ini sebagai zharf makan 5 (keterangan tempat).
- Kalimat وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ (dan hal itu seperti itu/memang demikian) berupa jumlah ismiyyah 6 (kalimat nominal) dengan mubtada’nya هِيَ dan khabarnya كَذَلِكَ .
- Lafadz 7 وَهِيَ mengacu pada isim inna sebelumnya أَنَّ الْأُمُومَةَ (menjadi seorang ibu).
- Lafadz كَذَلِكَ berbentuk jar wa majrur dengan jar كَ.
- Adapun murakkab بِالْفِعْلِ adalah haal 8 (kata keadaan), berbentuk jar wa majrur juga dengan huruf jar بِ.
b. Kajian Kalimat… لَكِنْ لَمْ يُخْبِرْهَا أَحَدٌ قَطُّ أَنَّ طِفْلَهَا قَدْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا مُبَاشَرَةً عَلَى عَيْنَيْهَا وَيَقُولُ: “أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا.
Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”
لَكِنْ لَمْ يُخْبِرْهَا أَحَدٌ قَطُّ أَنَّ طِفْلَهَا قَدْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا مُبَاشَرَةً عَلَى عَيْنَيْهَا وَيَقُولُ: “أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- huruf istidrak لَكِنْ
- huruf nafi lam jazm لَمْ
- fi’il mudhari’ [majzum] يُخْبِرْهَا dengan obyek berupa dhamir nashab muttasil هِيَ – هَا
- fa’il muakhkhar/diakhirkan أَحَدٌ
- zharf zaman [mabni] قَطُّ terkait kalimat negatif lam.
- jumlah anna أَنَّ طِفْلَهَا قَدْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا , yang terdiri dari :
- huruf masdariyyah أَنَّ
- isim anna [manshub] طِفْلَهَا dalam bentuk idhafiy dengan mudhaf ilaih berupa dhamir jar muttasil هِيَ – هَا
- huruf taqlil قَدْ
- fi’il mudhari’ lazim يَنْظُرُ
- muta’alliq bil fi’li إِلَيْهَا yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq إِلَيْ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq هِيَ – هَا
- zharf zaman [manshub] يَوْمًا مَا
- haal [manshub] مُبَاشَرَةً عَلَى عَيْنَيْهَا وَيَقُولُ
- muta’alliq bil fi’li عَلَى عَيْنَيْهَا
- huruf athaf وَ
- fi’il mudhari‘ يَقُولُ
- jumlah ismiyyah أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا , yang terdiri dari :
- mubtada‘ أَنْتِ
- khabar dalam bentuk jumlah fi’liyyah لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا, yang terdiri dari :
- huruf laa nafiyah لَا
- fi’il mudhari’ تَفْهَمِينَ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتِ
- maf’ul bih [manshub] شَيْئًا
- Kalimat لَكِنْ لَمْ يُخْبِرْهَا أَحَدٌ (tetapi tidak seorangpun yang memberitahu dia) adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) yang diawali huruf istidrak (pengoreksi) 9 ( لَكِنْ ), dengan fa’il (subyek) nya أَحَدٌ (seseorang) dengan i’rab marfu’/dhammah, fi’il (kata kerja) nya لَمْ يُخْبِرْ (belum pernah memberitahu), dan maf’ul bih (obyek) nya isim dhamir هَا (dia, pr.)
- Lafadz لَمْ يُخْبِرْ disebut fi’il mudhari (kata kerja sekarang/akan datang), namun karena diawali oleh huruf lam jazm, maka maknanya menjadi negatif lampau, dengan kaidah harakat huruf akhirnya menjadi sukun (tanda baca mati) (atau penghapusan huruf tertentu) karena kemasukan amil jazm لَمْ.
- Lafadz قَطُّ (tidak…sama sekali) adalah zharf zaman (kata keterangan waktu) dan harus diawali negasi (nafiyah), dan hanya digunakan pada kalimat negatif (diawali lam atau maa).
- Lafadz أَنَّ طِفْلَهَا (bahwa anaknya) adalah isim keluarga inna dengan i’rab manshub untuk isim inna nya (طِفْلَ). Kata طِفْلَهَا disini berbentuk mudhaf wa mudhaf ilaihi 10 (kata yang disandarkan dan kata tempat bersandar).
- Lafadz قَدْ dalam kalimat ini adalah huruf taqlil, berarti mungkin, karena punya arti lain juga.
- Frase يَنْظُرُ إِلَيْهَا (melihat ke) adalah fi’il lazim يَنْظُرُ dan muta’alliq bil fi’li 11 إِلَيْهَا
- Fi’il يَنْظُرُ memiliki pola tashrif no.2 12 dalam ilmu shorof, dalam kelompok fi’il tsulatsi mujarrad.
- Lafadz يَوْمًا (suatu hari) adalah maf’ul fih/ zharf zaman (kata keterangan waktu) dengan kaidah i’rab seluruh zharf adalah manshub.
- Huruf مَا disini adalah disebut sebagai maa ibham (Menyatakan ketidakpastian atau ketidakjelasan yang mutlak), artinya ‘suatu hari…yang tidak pasti ‘.
- Lafadz مُبَاشَرَةً (segera) adalah haal (keadaan) dengan kaidah i’rab manshub.
- Murakkab عَلَى عَيْنَيْهَا (ke kedua matanya) adalah jar wa majrur dengan huruf jar عَلَى .
- Kata kerja وَيَقُولُ (dan dia berkata) adalah fi’il mudhari dengan pola tashrif no.2.
- Kalimat أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا (anda tidak mengerti apa-apa) adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dan bukan jumlah fi’liyah karena diawali oleh isim أَنْتِ , adapun kata kerja لَا تَفْهَمِينَ berperan disini sebagai khabar (predikat).
- Kata kerja ini لَا تَفْهَمِينَ adalah diawali laa nafiyah 13 yang tidak merubah i’rab kata kerja sesudahnya (tetap marfu’). Namun karena ini untuk ‘kamu‘ kata ganti perempuan, maka bentukya ditambah akhiran ينَ dan huruf terakhir di-kasrah.
- Lafadz شَيْئًا adalah maf’ul bih (obyek) dari kata kerja sebelumnya.
III. ARTIKEL(INDO-ARABIC) – (LINK):
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:
A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?
B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)
C. Titik Balik Perubahan
D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh
E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis
F. Kesimpulan
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Source Reference :
By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs
Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids https://youtu.be/KpWS-U0z9y4?si=OgP7QDoYErA_TNdY
Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-2)…
Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih
2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
Dua jenis utama sybhul jumlah:
Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎ - Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
• a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
• b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎ - Kata/ Lafadz:
Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
Isim اِسْمٌ (kata benda)
Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
↩︎ - Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
Contoh:
صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎ - Huruf وَلَكِنْ (artinya tetapi, namun) adalah huruf istidrak (اِسْتِدْرَكْ ) yang berfungsi sebagai kata penilai atau pembatas untuk mengoreksi atau menyela pernyataan sebelumnya. Sebagai huruf ibtida‘ , maka وَلَكِنْ tidak menashabkan isim atau merofa’kan khabar seperti inna dan saudaranya.
Contoh: وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ (tetapi ada bahaya tersembunyi)
Keterangan: setelah وَلَكِنْ adalah seperti isim dan khabar apabila dengan inna. ↩︎ - Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎ - Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎ - Pola tashrif 2: فَعَلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
duduk : قَعَدَ – يَقْعُدُ
menutupi : سَتَرَ – يَسْتُرُ
melihat : نَظَرَ – يَنْظُرُ
bersujud : سَجَدَ – يَسْجُدُ
menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ – اُنْصُرْ – نَصْرًا – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ – لَا تَنْصُرْ
ditolong : نُصِرَ – يُنْصَرُ ↩︎ - Laa Nafiyah adalah huruf ‘laa’ dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menolak, meniadakan, atau menyangkal suatu perbuatan, kejadian, atau sifat.Penjelasan SingkatFungsi: Menyatakan arti “tidak” atau “bukan”.Pengaruh I’rab: Berbeda dengan Laa Nahiyah (huruf larangan yang membuat kata kerja/fi’il mudhari’ ber-i’rab jazm atau sukun), Laa Nafiyah tidak mengubah i’rab kata kerja yang ada di belakangnya (tetap marfa’/rafa’) ↩︎
Leave a Reply