Mengasuh Anak (Seri-1)

Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.

 

DAFTAR ISI:

 

PENGANTAR ARTIKEL:

Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas  berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, ุงู„ูุตุญู‰), dengan harakat lengkap.

Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (ุงู„ู…ููู’ุฑุงุฏุงุช) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.

Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul โ€œIlmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.

Penyusun…:


 

KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-1)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.

#1) Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya. Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”

ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุกู ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ูุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ููุนู’ู„ู. ู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู‚ูŽุทูู‘ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุทููู’ู„ูŽู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ู…ูุจูŽุงุดูŽุฑูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: โ€œุฃูŽู†ู’ุชู ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง.


Cuplikan Kalimat…

a.

Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya.

ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุกู ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ูุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ููุนู’ู„ู.

  1. Ini kalimat verbal (jumlah fiโ€™liyah) 1 dalam bentuk kalimat tanya (didahului huruf tanya ู‡ูŽู„ู’ ุŒapakah), dengan kata kerjanya (fiโ€™il)  ุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏู (anda percaya)
  2. Huruf tanya bukan sebagai isim, sehingga tidak mempengaruhi struktur kalimat.
  3. Frase ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉูŽ  adalah huruf dan isim anna 2, dengan i’rab isim-nya manshub/fathah. Dan untuk khabar anna, yaitu ู‡ููŠูŽ harusnya i’rab marfu’/dhammah, namun karena disini isim dhamir, maka sifatnya mabni (tidak berubah).
  4. Frase sesudahnyaุฃูŽุฌู’ู…ูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุกู adalah badal 3 dari ู‡ููŠูŽ, dan sebagai badal, maka i’rabnya sama, yaitu marfu’/dhammah.
  5. Kata ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ู adalah berbentuk jar wa majrur 4 , berperan dalam kalimat ini sebagai zharf makan 5 (keterangan tempat).
  6. Kalimat ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ููุนู’ู„ู berupa jumlah ismiyyah 6 (kalimat nominal) dengan mubtada’nya ู‡ููŠูŽ dan khabarnya ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ .
  7. Kata ูˆูŽู‡ููŠูŽ mengacu pada isim inna sebelumnya ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉูŽ (menjadi seorang ibu).
  8. Kata ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ berbentuk jar wa majrur dengan jar ูƒูŽ.
  9. Adapun kata ุจูุงู„ู’ููุนู’ู„ู adalah haal 7 (kata keadaan), berbentuk jar wa majrur juga dengan huruf jar ุจู.

Cuplikan Kalimat…

b.

Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”

ู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู‚ูŽุทูู‘ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุทููู’ู„ูŽู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ู…ูุจูŽุงุดูŽุฑูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: โ€œุฃูŽู†ู’ุชู ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง.

  1. Kalimat ู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) yang diawali huruf saudara inna ( ู„ูŽูƒูู†ู’ ), dengan fa’il (subyek) nya ุฃูŽุญูŽุฏูŒ (seseorang) dengan i’rab marfu’/dhammah, fi’il (kata kerja) nya ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ (belum pernah memberitahu), dan maf’ul bih (obyek) nya isim dhamir ู‡ูŽุง (dia, pr.)
  2. Kata ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ disebut fi’il mudhari jazm (kata kerja sekarang/akan datang), namun karena diawali oleh huruf lam jazm, maka maknanya menjadi negatif lampau, dengan kaidah harakat huruf akhirnya menjadi sukun (tanda baca mati) (atau penghapusan huruf tertentu) karena kemasukan amil jazm ู„ูŽู…ู’.
  3. Kata ู‚ูŽุทูู‘ adalah zharf zaman (kata keterangan waktu) dan harus diawali negasi (nafiyah), dan hanya digunakan pada kalimat negatif (diawali lam atau maa).
  4. Kata ุฃูŽู†ูŽู‘ ุทููู’ู„ูŽู‡ูŽุง adalah isim keluarga inna dengan i’rab manshub untuk isim inna nya (ุทููู’ู„ูŽ). Kata ุทููู’ู„ูŽู‡ูŽุง disini berbentuk mudhaf wa mudhaf ilaihi 8 (kata yang disandarkan dan kata tempat bersandar).
  5. Kata ู‚ูŽุฏู’ dalam kalimat ini berarti mungkin, karena punya arti lain juga.
  6. Kata kerja ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠ memiliki pola tashrif no.2 9 dalam ilmu shorof, yaitu fi’il tsulatsi mujarrad.
  7. Kata ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง adalah zharf zaman (kata keterangan waktu) dengan kaidah i’rab seluruh zharf adalah manshub.
  8. Huruf ู…ูŽุง disini adalah disebut sebagai maa ibham (Menyatakan ketidakpastian atau ketidakjelasan yang mutlak), artinya suatu hari…yang tidak pasti.
  9. Kata ู…ูุจูŽุงุดูŽุฑูŽุฉู‹ adalah zharf zaman (keterangan waktu) dengan kaidah i’rab manshub.
  10. Kata ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ู‡ูŽุง adalah jar wa majrur dengan huruf jar alaa.
  11. Kata kerja ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู adalah fi’il mudhari dengan pola tashrif no.2.
  12. Kalimat ุฃูŽู†ู’ุชู ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dan bukan jumlah fi’liyah karena diawali oleh isim ุฃูŽู†ู’ุชู , adapun kata kerja ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ berperan disini sebagai khabar (predikat).
  13. Kata kerja ini ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ adalah diawali laa nafiyah 10 yang tidak merubah i’rab kata kerja sesudahnya (tetap marfu’). Namun karena ini untuk ‘kamu’ kata ganti perempuan, maka bentukya ditambah akhiran ูŠู†ูŽ dan huruf terakhir di-kasrah.
  14. Kata ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง adalah maf’ul bih (obyek) dari kata kerja sebelumnya.

PENGANTAR KISAH:

Kisah berikut adalah ilustrasi yang menggambarkan kondisi yang banyak dialami orang tua. Dan dibagi menjadi beberapa bagian:

  • A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?
  • B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)
  • C. Titik Balik Perubahan
  • D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh
  • E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis
  • F. Kesimpulan

ARTIKEL(INDO- ARABIC):

A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya.

#1) Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya. Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”

ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุนู’ุชูŽู‚ูุฏู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุฌู’ู…ูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุกู ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ูุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ููุนู’ู„ู. ู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุจูุฑู’ู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู‚ูŽุทูู‘ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุทููู’ู„ูŽู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ู…ูุจูŽุงุดูŽุฑูŽุฉู‹ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: โ€œุฃูŽู†ู’ุชู ู„ูŽุง ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ููŠู†ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง.

#2) Dan pada saat itu, dia terdiam. Bukan karena dia tidak punya jawaban, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya hancur. Suara itu, nada itu, tatapan itu. Atau mungkin tidak ada rasa hormat yang tersisa (dari seorang anak)?.

ูˆูŽูููŠ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ุญู’ุธูŽุฉูุŒ ุตูŽู…ูŽุชูŽุชู’. ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽู…ู’ู„ููƒู ุฅูุฌูŽุงุจูŽุฉู‹ุŒ ุจูŽู„ู’ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูŽุง ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูƒูŽุณูุฑู. ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ุชูุŒ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจู’ุฑูŽุฉูุŒ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุธู’ุฑูŽุฉู. ุฃูŽูˆู’ ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนูุฏู’ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ุฃูŽูŠูู‘ ุงุญู’ุชูุฑูŽุงู…ู ู…ูุชูŽุจูŽู‚ู.

#3) Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman? Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?

ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู…ู’ุชูŽู„ูุฆู ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ู ุจูุตูŽู…ู’ุชู. ู‡ูŽู„ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ุทูู‘ูู’ู„ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุงุญู’ุชูŽุถูŽู†ูŽุชู’ู‡ู ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูŽุงุŸ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุณูŽู‡ูุฑูŽุชู ุงู„ู„ูŽู‘ูŠูŽุงู„ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ูู‡ูุŸ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุดูŽุนูŽุฑูŽุชู’ ุจูุฏูŽู…ู’ุนูŽุฉู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ูŽุงุŸ ููŽู„ูู…ูŽุงุฐูŽุง ุฅูุฐูŽู†ู’ุŸ ู„ูู…ูŽุงุฐูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงููŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุŸ

#4) Sikap dingin dan tidak hormat ini? Mungkin Anda juga mengenal ibu seperti itu. Mungkin ada anak di sekitar Anda yang tidak mau mendengarkan, yang suka meninggikan suara, yang merusak barang karena marah. Atau yang sama sekali mengabaikan ibunya seolah-olah ibunya tidak berarti apa-apa baginya. Dan ibu itu hanya menonton. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain pergi ke sudut ruangan dan menangis dalam diam?

ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูุฑููˆุฏูุŒ ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ูุงุญู’ุชูุฑูŽุงู…ูุŸ ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ุชูŽุนู’ุฑููููŠู†ูŽ ุฃูู…ู‹ู‘ุง ูƒูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง. ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽูˆู’ู„ููƒู ุทููู’ู„ูŒ ู„ูŽุง ูŠูุตู’ุบููŠุŒ ุทููู’ู„ูŒ ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุตูŽูˆู’ุชูŽู‡ูุŒ ูŠูุญูŽุทูู‘ู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกูŽ ุบูŽุถูŽุจู‹ุง. ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุชูŽุฌูŽุงู‡ูŽู„ู ุฃูู…ูŽู‘ู‡ู ุชูŽู…ูŽุงู…ู‹ุง ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽู‡ูู…ูู‘ู‡ู. ูˆูŽุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ูู‘ุŒ ุชูุดูŽุงู‡ูุฏู ููŽู‚ูŽุทู’. ู…ูŽุงุฐูŽุง ุนูŽุณูŽุงู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูู’ุนูŽู„ูŽ ุณููˆูŽู‰ ุงู„ุฐูŽู‘ู‡ูŽุงุจู ุฅูู„ูŽู‰ ุฒูŽุงูˆููŠูŽุฉู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุฒูู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุจููƒูŽุงุกู ุจูุตูŽู…ู’ุชูุŸ

#5) Apakah ini kehidupan yang kubayangkan? Apakah ini peran ibu yang kuimpikan? Tidak, tentu saja tidak. Ini adalah kisah seorang ibu yang ada pada waktu itu. Sebut saja dia Aisha.

ู‡ูŽู„ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู‡ููŠูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุชูŽุฎูŽูŠูŽู‘ู„ู’ุชูู‡ูŽุงุŸ ู‡ูŽู„ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู‡ููŠูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุญูŽู„ูŽู…ู’ุชู ุจูู‡ูŽุงุŸ ู„ูŽุงุŒ ุจูุงู„ุชูŽู‘ุฃู’ูƒููŠุฏู ู„ูŽุง. ู‡ูŽุฐูู‡ู ู‚ูุตูŽู‘ุฉู ุฃูู…ูู‘ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุญูŽุงุถูุฑูŽุฉู‹ ูููŠ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ุญู’ุธูŽุฉู. ู„ูู†ูุณูŽู…ูู‘ูŠู‡ูŽุง ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉ.

B. Kisah Aisha (Sekadar Ilustrasi).

#6) Aisha berumur sekitar 28 tahun. Ia memiliki seorang putra berusia 9 tahun. Mulanya, putranya adalah anak yang patuh. Ia mendengarkan ibunya dan berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang. Tetapi seiring bertambahnya usia dan mulai bersekolah, perilakunya mulai berubah.

ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุซูŽู‘ุงู…ูู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูู…ู’ุฑูู‡ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุฑููŠุจู‹ุง. ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงุจู’ู†ูŒ ูููŠ ุงู„ุชูŽู‘ุงุณูุนูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุนูู…ู’ุฑูู‡ู. ูููŠ ุงู„ู’ุจูุฏูŽุงูŠูŽุฉูุŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุฏู‹ุง ู…ูุทููŠุนู‹ุง. ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตู’ุบููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูู…ูู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซู ู…ูŽุนูŽู‡ูŽุง ุจูุญูุจูู‘. ู„ูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ู’ุฐู ุฃูŽู†ู’ ูƒูŽุจูุฑูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฏู’ุฑูŽุณูŽุฉูุŒ ุจูŽุฏูŽุฃูŽ ุณูู„ููˆูƒูู‡ู ูŠูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑู.

#7) Awalnya, hal itu (dianggap) kecil. Kemudian membesar. Ketika Aisha sedang berbicara, dia akan menyela di tengah kalimat. Dia akan berkata, “Aku tahu engkau mengatakan itu selalu.” Dan ketika Aisha menolak sesuatu (permintaan), dia akan dengan marah melempar bukunya, kadang-kadang menjatuhkan piring, dan kadang-kadang membanting pintu kamar tidurnya.

ููŠ ุงู„ุจุฏุงูŠุฉ ูƒุงู†ุช ุฃู…ูˆุฑุง ุตุบูŠุฑุฉ. ุซู… ูƒุจุฑุช ุชู„ูƒ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ. ุนู†ุฏู…ุง ูƒุงู†ุช ุนุงุฆุดุฉ ุชุชุญุฏุซุŒ ูƒุงู† ูŠู‚ุงุทุนู‡ุง ููŠ ู…ู†ุชุตู ุญุฏูŠุซู‡ุง. ูƒุงู† ูŠู‚ูˆู„: ุฃุนู„ู… ุฃู†ูƒู ุชู‚ูˆู„ูŠู† ู‡ุฐุง ุทูˆุงู„ ุงู„ูˆู‚ุช. ูˆุนู†ุฏู…ุง ูƒุงู†ุช ุนุงุฆุดุฉ ุชุฑูุถ ุดูŠุฆุงุŒ ูƒุงู† ูŠุฑู…ูŠ ูƒุชุงุจู‡ ุบุงุถุจุงุŒ ูˆุฃุญูŠุงู†ุง ูŠุณู‚ุท ุทุจู‚ุงุŒ ูˆุฃุญูŠุงู†ุง ูŠุบู„ู‚ ุจุงุจ ุบุฑูุชู‡ ุจู‚ูˆุฉ. 

#8) Lebih buruknya, ketika Aisha mencoba berbicara kepadanya dengan lembut, dia bahkan tidak mau menghadap padanya, seolah-olah Aisha berbicara pada ruang kosong, seolah-olah Aisha tidak berharga sama sekali.

ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ูˆูŽุฃู ู…ูู†ู’ ุฐูฐู„ููƒูŽุŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุชูุญูŽุงูˆูู„ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุณูŽุฑูู‘ุญูŽ ู„ูŽู‡ู ุจูุญูŽู†ูŽุงู†ูุŒ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุญูŽุชูŽู‘ู‰ุŒ ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุชูุฎูŽุงุทูุจู ููŽุฑูŽุงุบุงู‹ุŒ ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ู‚ููŠู…ูŽุฉูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฅูุทู’ู„ูŽุงู‚ู. 

#9) Aisha menangis setiap hari. Di malam hari, ketika semua orang tidur, dia akan bermunajat kepada Tuhan. Dan berkata, โ€œYa Allah, apa yang harus kulakukan? Anakku perlahan-lahan menjauh dariku.โ€

ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุชูŽุจู’ูƒููŠ ูƒูู„ูŽู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู. ูˆูŽูููŠ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูุŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ูŠูŽู†ูŽุงู…ู ุงู„ู’ุฌูŽู…ููŠุนูุŒ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูู†ูŽุงุฌููŠ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ. ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูŽู‚ููˆู„ู: โ€œูŠูŽุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ุŒ ู…ูŽุงุฐูŽุง ุฃูŽูู’ุนูŽู„ูุŸ ุทููู’ู„ููŠ ูŠูŽุจู’ุชูŽุนูุฏู ุนูŽู†ูู‘ูŠ ุชูŽุฏู’ุฑููŠุฌููŠู‹ู‘ุง.

#10) โ€œPerlakuan tidak hormat ini, kekasaran ini, aku tidak tahan.โ€ Pikirnya, โ€œMungkin dia bukan ibu yang baik. Mungkin dia melakukan kesalahan. Mungkin dialah penyebab semua ini.โ€ Tapi apa kesalahan yang telah dia lakukan?

ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ูุงุญู’ุชูุฑูŽุงู…ูุŒ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽุณู’ูˆูŽุฉูุŒ ู„ูŽุง ุฃูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนู ุญูŽู…ู’ู„ูŽู‡ูŽุง.โ€ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูููŽูƒูู‘ุฑูุŒ โ€œุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ุฃูู…ู‹ู‘ุง ุฌูŽูŠูู‘ุฏูŽุฉู‹.โ€ ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽุชู’ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฎูŽุงุทูุฆู‹ุง. ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู‡ููŠูŽ ุงู„ุณูŽู‘ุจูŽุจู ูููŠ ูƒูู„ูู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง.โ€ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ู…ูŽุงุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽุชู’ ุฎูŽุทูŽุฃู‹ุŸ

#11) Yang dia inginkan hanyalah yang terbaik untuk anaknya. Ia hanya ingin putranya tetap berada di jalan yang benar. Jadi, mengapa ada jarak seperti ini?

ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ุชูุฑููŠุฏู ุณููˆูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู„ูุทููู’ู„ูู‡ูŽุง. ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ุชูุฑููŠุฏู ุณููˆูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุทูŽู‘ุฑููŠู‚ู ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญู. ููŽู„ูู…ูŽุงุฐูŽุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงููŽุฉูุŸ

C. Titik Balik Perubahan

#12) Suatu hari, Aisha sedang membuka-buka akun Instagram-nya, merasa lelah, sedih, dan diam. Ada perasaan harap-harap cemas di hatinya. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa memperbaiki semua ini?

ูููŠ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุชูŽุชูŽุตูŽููŽู‘ุญู ุญูุณูŽุงุจูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูู†ู’ุณู’ุชุบู’ุฑูŽุงู…ุŒ ู…ูุชู’ุนูŽุจูŽุฉู‹ุŒ ุญูŽุฒููŠู†ูŽุฉู‹ุŒ ุตูŽุงู…ูุชูŽุฉู‹. ูƒูŽุงู†ูŽ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ุชูŽุฑูŽู‚ูู‘ุจูŒ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูŽุง. ู…ูŽุงุฐูŽุง ุฃูŽูู’ุนูŽู„ูุŸ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุฃูุตู’ู„ูุญู ูƒูู„ูŽู‘ ุดูŽูŠู’ุกู.

#13) Kemudian dia melihat kisah ibu lain. Ibu itu berbagi pengalaman nyatanya. Dia menulis: โ€œSaya sangat khawatir perihal sikap putra saya. Dia tidak mau mendengarkan saya. Dia akan merusak barang-barang saat mengamuk. Dia mengabaikan saya. Saya menangis setiap hari. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang salah.โ€

ุซูู…ูŽู‘ ุฑูŽุฃูŽุชู’ ู‚ูุตูŽู‘ุฉูŽ ุฃูู…ูู‘ ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰. ุดูŽุงุฑูŽูƒูŽุชู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ูู‘ ุชูŽุฌู’ุฑูุจูŽุชูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽู‚ููŠู‚ููŠูŽู‘ุฉูŽ. ูƒูŽุชูŽุจูŽุชู’: โ€œูƒูู†ู’ุชู ู‚ูŽู„ูู‚ูŽุฉู‹ ู„ูู„ู’ุบูŽุงูŠูŽุฉู ุจูุดูŽุฃู’ู†ู ุงุจู’ู†ููŠ.โ€ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู ุฅูู„ูŽูŠูŽู‘. ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ุณูุฑู ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกูŽ ูููŠ ู†ูŽูˆู’ุจูŽุฉู ุบูŽุถูŽุจูู‡ู. ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุชูŽุฌูŽุงู‡ูŽู„ูู†ููŠ. ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุจู’ูƒููŠ ูƒูู„ูŽู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู. ุธูŽู†ูŽู†ู’ุชู ุฃูŽู†ูŽู‘ู†ููŠ ุฃูŽูู’ุนูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุฆุงู‹ ุฎูŽุงุทูุฆุงู‹. 

#14) Kemudian suatu hari, seorang teman dekat berkata kepada saya, โ€œMungkin ada sesuatu yang kurang dalam gaya pengasuhanmu.โ€ Awalnya, saya merasa sakit hati. Tapi kemudian saya melihat diri saya sendiri.

ุซูู…ูŽู‘ ูููŠ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ููŠ ุตูŽุฏููŠู‚ูŽุฉูŒ ู…ูู‚ูŽุฑูŽู‘ุจูŽุฉูŒ: โ€œุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูŽูู’ู‚ููˆุฏูŒ ูููŠ ุฃูุณู’ู„ููˆุจููƒู ูููŠ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู.โ€ ูููŠ ุงู„ู’ุจูุฏูŽุงูŠูŽุฉูุŒ ุดูŽุนูŽุฑู’ุชู ุจูุงู„ู’ุฃูŽู„ูŽู…ู. ู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ู†ููŠ ู†ูŽุธูŽุฑู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ.

#15) Aisha terus membaca. โ€œAku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak mendengarkan (omongan anakku). Aku terus membebaninya dengan harapan-harapanku. Aku terus saja cerewet/ menegurnya.โ€ Aku tidak pernah bertanya, “Anakku, gimana kabarmu? Kamu perlu apa? Apa yang sedang kau pikirkan?”

ูˆูŽุงุตูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ. โ€œุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู ุฃูŽู†ูŽู‘ู†ููŠ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุญูŽู‚ู‹ู‘ุง. ุงุณู’ุชูŽู…ู’ุฑูŽุฑู’ุชู ูููŠ ุชูŽุญู’ู…ููŠู„ูู‡ู ุชูŽูˆูŽู‚ูู‘ุนูŽุงุชููŠ. ุธูŽู„ูŽู„ู’ุชู ุฃููˆูŽุจูู‘ุฎูู‡ู”. ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ู’ ู‚ูŽุทูู‘: โ€œูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ุŒ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุญูŽุงู„ููƒูŽุŸ ู…ูŽุงุฐูŽุง ุชูŽุญู’ุชูŽุงุฌูุŸ ู…ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจููƒูŽุŸ

#16) Setelah membaca (tulisan ibu itu), hati Aisha bergetar karena ini juga kisahnya. Ini sepenuhnya miliknya. Kemudian ibu itu menulis lebih banyak lagi.

ุนูู†ู’ุฏูŽ ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู ู‡ูŽูฐุฐูŽุงุŒ ุงุฑู’ุชูŽุฌูŽููŽ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ู‡ูŽูฐุฐูู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‚ูุตูŽู‘ุชูŽู‡ูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง. ู‡ููŠูŽ ู…ูู„ู’ูƒูู‡ูŽุง ุชูŽู…ูŽุงู…ู‹ุง. ุซูู…ูŽู‘ ูƒูŽุชูŽุจูŽุชู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ูู‘ ุงู„ู’ู…ูŽุฒููŠุฏูŽ.

D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh

#17) Saya memutuskan untuk mengubah pendekatan saya dalam membesarkan anak-anak saya. Saya berdoa kepada Tuhan. Saya bangun setiap malam untuk shalat tahajud dan menangis. Saya berkata, โ€œYa Allah, tunjukkanlah jalan yang benar kepadaku, berikanlah aku kesabaran, berikanlah aku kekuatan.โ€

ู‚ูŽุฑูŽู‘ุฑู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุบูŽูŠูู‘ุฑูŽ ุฃูุณู’ู„ููˆุจููŠ ูููŠ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู. ุตูŽู„ูŽู‘ูŠู’ุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู. ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุณู’ุชูŽูŠู’ู‚ูุธู ูƒูู„ูŽู‘ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู„ูุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุชูŽู‘ู‡ูŽุฌูู‘ุฏู ูˆูŽุฃูŽุจู’ูƒููŠ. ุฃูŽู‚ููˆู„ู: โ€œูŠูŽุง ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฃูŽุฑูู†ููŠ ุงู„ุทูŽู‘ุฑููŠู‚ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽุŒ ุงู…ู†ูŽุญู’ู†ููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑูŽ. ุงู…ู†ูŽุญู’ู†ููŠ ุงู„ู’ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽโ€

#18) Kemudian saya mulai mengubah beberapa hal kecil. Pertama, saya berhenti menegurnya terlalu sering. Ketika dia melakukan kesalahan, saya tidak langsung marah. Pertama, saya akan mendengarkan dengan tenang. Saya akan bertanya kepadanya: “Anakku, mengapa kamu melakukan itu? Apa yang kamu rasakan?”

ุซูู…ูŽู‘ ุจูŽุฏูŽุฃุชู ุจูุชูŽุบู’ูŠููŠุฑู ุดูŽูŠู’ุกู ุตูŽุบููŠุฑูŽุฉู. ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุงุŒ ุชูŽูˆูŽู‚ูŽู‘ูู’ุชู ุนูŽู†ู’ ุชูŽูˆู’ุจููŠุฎูู‡ู ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง. ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฎูŽุงุทูุฆู‹ุงุŒ ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุบู’ุถูŽุจู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููŽูˆู’ุฑู. ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุงุŒ ุณูŽุฃูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู ุจูู‡ูุฏููˆุกู. ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ูู‡ู: ูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ุŒ ู„ูู…ูŽุงุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ู…ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽุดู’ุนูุฑู ุจูู‡ูุŸ

#19) Kedua, saya mulai meluangkan waktu untuknya. Setiap hari, meluangkan waktu di luar kesibukan, hanya kami berdua. Kami bermain bersama, dan mengobrol. Dan dia menceritakan apa yang ada di benaknya.

ุซูŽุงู†ููŠู‹ุง. ุจูŽุฏูŽุฃู’ุชู ุฃูŽู…ู’ู†ูŽุญูู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู. ูƒูู„ูŽู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ูุŒ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู ุจูŽุนููŠุฏู‹ุง ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ูุŒ ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ููŽู‚ูŽุทู’. ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽู„ู’ุนูŽุจู ู…ูŽุนู‹ุงุŒ ูˆูŽู†ูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซู. ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฎู’ุจูุฑูู†ููŠ ุจูู…ูŽุง ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู.

#20) Ketiga, saya mulai merayakan kebahagiaan kecilnya. Jika dia melakukan sesuatu yang baik, saya akan berkata kepadanya: โ€œAnakku, kamu telah melakukan yang terbaik, Ibu sangat bangga padamu.โ€

ุซูŽุงู„ูุซู‹ุง. ุจูŽุฏูŽุฃู’ุชู ุฃูŽุญู’ุชูŽููู„ู ุจูุฃูŽูู’ุฑูŽุงุญูู‡ู ุงู„ุตูŽู‘ุบููŠุฑูŽุฉู. ุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฌูŽูŠูู‘ุฏู‹ุงุŒ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽู‡ู: โ€œ ูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠูŽู‘ุŒ ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู’ุชูŽ ุตูู†ู’ุนู‹ุงุŒ ุฃูŽู†ูŽุง ููŽุฎููˆุฑูŽุฉูŒ ุจููƒูŽ ุฌูุฏู‹ู‘ุง.โ€

#21) Keempat, saya mulai mengajarinya bahwa perasaan (ingin) marah bukanlah hal yang salah, tetapi mengendalikannya, itulah yang penting. Saya berbicara (saya lakukan) dengan tenang. Saya mengendalikan amarah saya sendiri agar dia bisa belajar dari saya.

ุฑูŽุงุจูุนู‹ุง. ุจูŽุฏูŽุฃู’ุชู ุฃูุนูŽู„ูู‘ู…ูู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ุดูู‘ุนููˆุฑูŽ ุจูุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฎูŽุทูŽุฃู‹ุŒ ู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ุงู„ุณูŽู‘ูŠู’ุทูŽุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุถูŽุฑููˆุฑููŠูŽู‘ุฉูŒ. ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซู ุจูู‡ูุฏููˆุกู. ูƒูู†ู’ุชู ุฃูุณูŽูŠู’ุทูุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽุถูŽุจููŠ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุชูŽุนูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ูู‘ูŠ.

#22) Aisha membaca unggahan itu berulang-ulang. Kemudian air mata mengalir di wajahnya. “Mungkin dia juga bisa mengubah sesuatu,” pikirnya. Mungkin ada sesuatu yang kurang dalam gaya pengasuhannya juga. Mungkin dia bisa mulai dengan mendengarkan putranya.

ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุฐูฐู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุดููˆุฑูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง ูˆูŽุชููƒู’ุฑูŽุงุฑู‹ุง. ุซูู…ูŽู‘ ุงู†ู’ู‡ูŽู…ูŽุฑูŽุชู’ ุฏูู…ููˆุนูู‡ูŽุง. ููŽูƒูŽู‘ุฑูŽุชู’: โ€œุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ุชูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนู ู‡ููŠูŽ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุชูŽุบู’ูŠููŠุฑูŽ ุดูŽูŠู’ุกู ู…ูŽุงโ€. ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู…ูŽูู’ู‚ููˆุฏูŒ ูููŠ ุฃูุณู’ู„ููˆุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง. ุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ูŠูู…ู’ูƒูู†ูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจู’ุฏูŽุฃูŽ ุจูุงู„ูุงุณู’ุชูู…ูŽุงุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง.

#23) Malam itu, Aisha berdoa kepada Tuhan dari lubuk hatinya. Ia berkata, โ€œYa Tuhan, bimbinglah aku. Berikanlah aku kesabaran. Berikanlah aku kekuatan untuk memahami anakku.โ€

ูููŠ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽุฉูุŒ ุตูŽู„ูŽู‘ุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู‚ู ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูŽุง. ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: โ€œูŠูŽุง ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุงู‡ู’ุฏูู†ููŠ. ุงู…ู†ูŽุญู’ู†ููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑูŽ. ุงู…ู†ูŽุญู’ู†ููŠ ุงู„ู‚ููˆูŽู‘ุฉูŽ ู„ูุฃูŽูู’ู‡ูŽู…ูŽ ุทููู’ู„ููŠ.โ€

#24) Aisha mulai mengubah sikapnya keesokan harinya. Ketika putranya bangun di pagi hari, alih-alih cerewet padanya, dia berkata dengan lembut, “Selamat pagi.” Ketika putranya tidak sarapan, alih-alih marah, dia bertanya, “Kamu mau apa, sayangku? Ibu akan mengambilkannya untukmu.”

ุจูŽุฏูŽุฃูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ูููŠ ุชูŽุบู’ูŠููŠุฑู ู†ูŽูู’ุณูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุชูŽู‘ุงู„ููŠ. ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽูŠู’ู‚ูŽุธูŽ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุจูŽุงุญูุŒ ุจูŽุฏูŽู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุชูŽูˆู’ุจููŠุฎูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ุจูุญูŽู†ูŽุงู†ู: โ€œุตูŽุจูŽุงุญู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู.โ€ ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽู†ูŽุงูˆูŽู„ู ุงู„ู’ููุทููˆุฑูŽุŒ ุจูŽุฏูŽู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุบู’ุถูŽุจูŽุŒ ุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู’ู‡ู: ู…ูŽุงุฐูŽุง ุชูุญูุจูู‘ ูŠูŽุง ุญูŽุจููŠุจููŠุŸ ุณูŽุฃูุญู’ุถูุฑูู‡ู ู„ูŽูƒูŽ.

#25) Saat ia pulang dari sekolah, Aisha meletakkan ponselnya. Ia duduk di sebelahnya dan bertanya, โ€œBagaimana harimu? Apa yang terjadi di sekolah?โ€

ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ุนูŽุงุฏูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฏู’ุฑูŽุณูŽุฉูุŒ ูˆูŽุถูŽุนูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ู‡ูŽุงุชูููŽู‡ูŽุง ุฌูŽุงู†ูุจู‹ุง. ุฌูŽู„ูŽุณูŽุชู’ ุจูุฌูŽุงู†ูุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู’ู‡ู: โ€œูƒูŽูŠู’ููŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ููƒูŽุŸ ู…ูŽุงุฐูŽุง ุญูŽุฏูŽุซูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฏู’ุฑูŽุณูŽุฉูุŸ

#26) Awalnya, putranya terkejut. Ia terus berkata, “Tidak apa-apa, Bu,” tetapi Aisha tidak mendesaknya. Ia mulai duduk tenang bersamanya. Terkadang ia menonton televisi bersamanya. Terkadang ia bermain dengannya. Terkadang cukup hanya berada di dekatnya dengan tenang.

ูููŠ ุงู„ู’ุจูุฏูŽุงูŠูŽุฉูุŒ ุชูŽููŽุงุฌูŽุฃูŽ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง. ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู: โ€œู„ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŽ ูŠูŽุง ุฃูู…ูู‘ูŠ โ€œ ู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุถู’ุบูŽุทู’. ุจูŽุฏูŽุฃุชู’ ุชูŽุฌู’ู„ูุณู ู…ูŽุนูŽู‡ู ุจูู‡ูุฏููˆุกู. ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูุดูŽุงู‡ูุฏู ุงู„ุชูู‘ู„ู’ููŽุงุฒูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง. ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูŽู„ู’ุนูŽุจู ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง. ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู†ู‹ุง ูŠูŽูƒู’ูููŠ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู‚ูŽุฑููŠุจู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ู ุจูู‡ูุฏููˆุกู.

#27) Segalanya perlahan mulai berubah. Suatu hari, ketika Aisha menolak sesuatu (permintaan), dia hampir melempar sesuatu karena marah. Tapi Aisha tidak menegurnya.

ูˆูŽุจูŽุฏูŽุฃูŽุชู ุงู„ู’ุฃูู…ููˆุฑู ุชูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑู ุจูุจูุทู’ุกู. ูููŠ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ูุŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู…ูŽุง ุฑูŽููŽุถูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูŽุงุŒ ูƒูŽุงุฏูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ู…ููŠูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู…ูŽุง ุบูŽุงุถูุจู‹ุง. ู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชููˆูŽุจูู‘ุฎู’ู‡ู.

#28) Dia berkata, โ€œAku tahu kau marah, sayangku, tapi ini bukan cara yang benar. Ayo, katakan apa yang kau inginkan. Mari kita carikan jalan keluar nya bersama.โ€

ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: โ€œุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽุงุถูุจูŒ ูŠูŽุง ุญูŽุจููŠุจููŠุŒ ู„ูฐูƒูู†ู’ ู‡ูฐุฐูู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู ุงู„ุทูŽู‘ุฑููŠู‚ูŽุฉูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽุฉูŽ. ู‡ูŽูŠูŽู‘ุงุŒ ุฃูŽุฎู’ุจูุฑู’ู†ููŠ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุญู’ุชูŽุงุฌูู‡ู. ุฏูŽุนู’ู†ูŽุง ู†ูŽุฌูุฏู ุญูŽู„ู‹ู‘ุง ู…ูŽุนู‹ุง.โ€

#29) Hari itu, untuk pertama kalinya, putranya mendengarkan. Dia tidak melempar apa pun. Dia menatap ibunya dan terdiam. Kemudian dia berkata pelan, “Ibu, aku hanya butuh waktu.”

ูููŠ ุฐูฐู„ููƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูุŒ ูˆูŽู„ูุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉูุŒ ุงุณู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง. ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง. ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูู…ูู‘ู‡ู ูˆูŽุณูŽูƒูŽุชูŽ. ุซูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูู‡ูุฏููˆุกู: โ€œุฃูู…ูู‘ูŠุŒ ุฃูŽุญู’ุชูŽุงุฌู ููŽู‚ูŽุทู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชู.โ€

E. Pelajaran dari Al-Qurโ€™an dan Hadits.

#30) Kedamaian memenuhi hati Aisyah. Dia berkata, “Baiklah, sayangku. Jika kau ingin berbicara, aku di sini.” Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “…dan berbuat baiklah kepada orang tua…” [QS.17:23]

ุบูŽู…ูŽุฑูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ู ุฅูู„ูŽู‰ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: โ€œุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ูŠูŽุง ุญูŽุจููŠุจููŠ. ุฅูุฐูŽุง ุชูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง.โ€ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู…ู: โ€œโ€ฆูˆูŽุจูุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ู ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู‹ุงโ€ฆโ€ [QS.17:23]

#31) Ayat ini ditujukan kepada anak-anak. Bukankah ayat ini juga mengajarkan kita? Aisyah berpikir, jika ia ingin putranya memperlakukannya dengan baik, ia harus terlebih dahulu memperlakukan putranya dengan baik.

ู‡ูŽูฐุฐูู‡ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉู ู…ููˆูŽุฌูŽู‘ู‡ูŽุฉูŒ ู„ูู„ู’ุฃูŽุทู’ููŽุงู„ู. ุฃูŽู„ูŽุง ุชูุนูŽู„ูู‘ู…ูู†ูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุงุŸ ููŽูƒูŽู‘ุฑูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนูŽุงู…ูู„ูŽู‡ูŽุง ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ุจูู„ูุทู’ููุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุง ุฃูŽู†ู’ ุชูุนูŽุงู…ูู„ูŽู‡ู ุจูู„ูุทู’ูู.

#32) Jika dia ingin putranya menghormatinya, dia harus menghormati perasaan putranya itu. Jika dia ingin putranya itu mendengarkannya, dia harus mendengarkan putranya. Itu sederhana. Tetapi butuh waktu lama bagi Aisha untuk memahaminya.

ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุญู’ุชูŽุฑูู…ูŽู‡ูŽุงุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุญู’ุชูŽุฑูู…ูŽ ู…ูŽุดูŽุงุนูุฑูŽู‡ู. ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ุตูุชูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูู†ู’ุตูุชูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู. ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ุจูŽุณููŠุทู‹ุง. ู„ูŽูƒูู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุงุณู’ุชูŽุบู’ุฑูŽู‚ูŽุชู’ ูˆูŽู‚ู’ุชู‹ุง ุทูŽูˆููŠู„ู‹ุง ู„ูุชูŽูู’ู‡ูŽู…ูŽู‡ู.

#33) Di hari lainnya, putranya kembali menyela ibunya. Namun kali ini Aisha tidak marah; sebaliknya, ia berkata dengan tenang, “Sayangku, Ibu sedang berbicara. Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, biarkan Ibu selesai dulu, baru kamu bisa menyampaikan pendapatmu. Itu namanya menghormati.”

ูููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุขุฎูŽุฑูŽุŒ ู‚ูŽุงุทูŽุนูŽู‡ูŽุง ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉู‹ ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰. ู„ูŽูƒูู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑูŽู‘ุฉูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูุŒ ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุจูู‡ูุฏููˆุกู: โ€œูŠูŽุง ุญูŽุจููŠุจูŠุŒ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซู. ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูŽุง ุชูŽู‚ููˆู„ูู‡ูุŒ ุฏูŽุนู’ู†ููŠ ุฃูู†ู’ู‡ููŠ ูƒูŽู„ูŽุงู…ููŠ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูู…ู’ูƒูู†ููƒูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฑูŽุฃู’ูŠููƒูŽ. ู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ูุงุญู’ุชูุฑูŽุงู…ู.

#34) Mulanya putranya diam, lalu berkata pelan, โ€œMaafkan aku, Ibu.โ€ Kata โ€œpermintaan maafโ€ itu menyentuh hati Aisha. Karena itu bukan hanya sekadar kata, melainkan sebuah perubahan, sebuah awal yang baru.

ุตูŽู…ูŽุชูŽ ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุจูุฏูŽุงูŠูŽุฉูุŒ ุซูู…ูŽู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูู‡ูุฏููˆุกู: โ€œุขุณูููŒ ูŠูŽุง ุฃูู…ูู‘ูŠโ€ ู„ูŽู…ูŽุณูŽุชู’ ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุงู„ูุงุนู’ุชูุฐูŽุงุฑู ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ. ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ู…ูุฌูŽุฑูŽู‘ุฏูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉูุŒ ุจูŽู„ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูŽุบู’ูŠููŠุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุจูุฏูŽุงูŠูŽุฉู‹ ุฌูŽุฏููŠุฏูŽุฉู‹.

#35) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: โ€œSebaik-baik kalian adalah orang yang berbuat baik kepada keluarganya.โ€ Aisyah berpikir bahwa jika ia ingin rumahnya menjadi rumah yang damai, ia harus memperbaiki dirinya demi keluarganya, demi anaknya, dan menjadi ibu yang lebih baik.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŒ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: โ€œ ุฎูŽูŠู’ุฑููƒูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑููƒูู…ู’ ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูโ€ ููŽูƒูŽู‘ุฑูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽุชู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ุชู‹ุง ูŠูŽุณููˆุฏูู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ูุŒ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูุญู’ุณูู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณูู‡ูŽุง ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ู ุนูŽุงุฆูู„ูŽุชูู‡ูŽุงุŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูุตู’ุจูุญูŽ ุฃูู…ู‹ู‘ุง ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ.

#36) Menjadi ibu terbaik bukan berarti memarahi atau menceramahi; melainkan mendengarkan, memahami, bersabar, dan memberikan kasih sayang.

ุงู„ู’ุฃูู…ููˆู…ูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู†ููŠ ุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจููŠุฎูŽ ุฃูŽูˆู’ ุฅูู„ู’ู‚ูŽุงุกูŽ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุงุถูŽุฑูŽุงุชูุŒ ุจูŽู„ู’ ุชูŽุนู’ู†ููŠ ุงู„ู’ุฅูุตู’ุบูŽุงุกูŽุŒ ูˆูŽุงู„ุชูŽู‘ููŽู‡ูู‘ู…ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ุญูŽ ุงู„ู’ุญูุจูู‘

#37) Beberapa bulan kemudian, hidup Aisha berubah total. Putranya tidak lagi menyela perkataannya. Dia tidak lagi menghancurkan barang-barang karena marah. Dia tidak lagi mengabaikannya. Sebaliknya, dia datang kepadanya, menceritakan apa yang ada di pikirannya, berbagi kekhawatirannya dengannya, dan berbagi kegembiraannya dengannya.

ูˆูŽุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูุฑูุŒ ุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑูŽุชู’ ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุชูŽู…ูŽุงู…ู‹ุง. ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนูุฏู ุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ูŠูู‚ูŽุงุทูุนูู‡ูŽุง. ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนูุฏู’ ูŠูุญูŽุทูู‘ู…ู ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกูŽ ูููŠ ุบูŽุถูŽุจูู‡ู. ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนูุฏู’ ูŠูŽุชูŽุฌูŽุงู‡ูŽู„ูู‡ูŽุง. ุจูŽู„ู’ ุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽูŠูุฎู’ุจูุฑูู‡ูŽุง ุจูู…ูŽุง ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูุดูŽุงุฑููƒูู‡ูŽุง ู‡ูู…ููˆู…ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูุดูŽุงุฑููƒูู‡ูŽุง ุฃูŽูู’ุฑูŽุงุญูŽู‡ู.

#38) Aisha tahu bahwa semua ini berasal dari rahmat Allah. Dia telah mengubah gaya pengasuhannya, dan Tuhan telah menganugerahkan kedamaian bagi keluarganya.

ูˆูŽุนูŽุฑูŽููŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุฃูŽู†ูŽู‘ ูƒูู„ูŽู‘ ู‡ูŽูฐุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู. ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุบูŽูŠูŽู‘ุฑูŽุชู’ ุฃูุณู’ู„ููˆุจูŽ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุชูู‡ูŽุงุŒ ููŽุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง.

#39) Suatu hari, Aisha menulis sebuah unggahan di akun Instagram-nya. Di dalamnya, ia berbagi kisahnya. Ia menulis: โ€œJika anak Anda keras kepala, jika ia tidak mendengarkan, jika ia marah, lihatlah diri Anda sendiri terlebih dahulu.โ€

ูููŠ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ูุŒ ูƒูŽุชูŽุจูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ุดููˆุฑู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูุณูŽุงุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุฅูู†ู’ุณู’ุชูŽุบู’ุฑูŽุงู…. ุดูŽุงุฑูŽูƒูŽุชู’ ูููŠู‡ู ู‚ูุตูŽู‘ุชูŽู‡ูŽุง. ูˆูŽูƒูŽุชูŽุจูŽุชู’: โ€œ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุทููู’ู„ููƒูŽ ุนูŽู†ููŠุฏู‹ุงุŒ ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู’ุŒ ุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽุŒ ููŽุงู†ู’ุธูุฑู’ ุฅูู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู‹ุง.

#40) Periksalah gaya pengasuhan Anda. Apakah Anda mendengarkan anak-anak Anda? Apakah Anda meluangkan waktu untuk mereka? Apakah Anda memahami perasaan mereka? Jika tidak, mulailah dari sana. Berdoalah kepada Tuhan. Bersabarlah dan ubahlah diri Anda sendiri. Anak itu akan berubah dengan sendirinya.

ุงู†ู’ุธูุฑู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูุณู’ู„ููˆุจููƒูŽ ูููŠ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู. ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ุŸ ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽู…ู’ู†ูŽุญูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชูŽุŸ ู‡ูŽู„ู’ ุชูŽูู’ู‡ูŽู…ู ู…ูŽุดูŽุงุนูุฑูŽู‡ูู…ู’ุŸ ูˆูŽุฅูู„ูŽู‘ุงุŒ ููŽุงุจู’ุฏูŽุฃู’ ู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ. ุตูŽู„ูู‘ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู. ุชูŽุญูŽู„ูŽู‘ ุจูุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู ูˆูŽุบูŽูŠูู‘ุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ. ุณูŽูŠูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑู ุงู„ุทูู‘ูู’ู„ู ู…ูู†ู’ ุชูู„ู’ู‚ูŽุงุกู ู†ูŽูู’ุณูู‡ู.

#41) Unggahan ini mendapat banyak komentar. Banyak ibu yang berbagi cerita mereka di sini. Aisha menanggapi setiap komentar karena dia merasakan penderitaan yang sama.

ุญูŽุธูู‘ูŠ ู‡ูŽูฐุฐูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุดููˆุฑู ุจูุงู„ุชูŽู‘ุนู’ู„ููŠู‚ูŽุงุชู ุงู„ู’ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู. ูˆูŽุดูŽุงุฑูŽูƒูŽุชู’ ุงู„ุนูŽุฏููŠุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชู ู‚ูุตูŽุตูŽู‡ูู†ูŽู‘. ุฑูŽุฏูŽู‘ุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุชูŽุนู’ู„ููŠู‚ู ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุดูŽุนูŽุฑูŽุชู’ ุจูู‡ูŽูฐุฐูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽู„ูŽู…ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง.

#42) Hari ini, Aisha bahagia. Putranya adalah hidupnya. Dia mendengarkan putranya, meluangkan waktunya untuknya, dan memahami perasaannya. Dan putranya menghormatinya, berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang, dan membantunya.

ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุŒ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ุณูŽุนููŠุฏูŽุฉูŒ. ูˆูŽุงุจู’ู†ูู‡ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ูŽุง. ุชูŽุณู’ุชูŽู…ูุนู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุชูŽู…ู’ู†ูŽุญูู‡ู ูˆูŽู‚ู’ุชูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุชูŽูู’ู‡ูŽู…ู ู…ูŽุดูŽุงุนูุฑูŽู‡ู. ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูุงุจู’ู†ู ูŠูŽุญู’ุชูŽุฑูู…ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽูŠูŽุชูŽุญูŽุฏูŽู‘ุซู ู…ูŽุนูŽู‡ูŽุง ุจูู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉูุŒ ูˆูŽูŠูุณูŽุงุนูุฏูู‡ูŽุง.

#43) Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Sebaliknya, ini adalah buah dari upaya berbulan-bulan, buah dari kesabaran, buah dari doa, buah dari rahmat Allah.

ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชู ู‡ูŽูฐุฐูŽุง ุงู„ุชูŽู‘ุบู’ูŠููŠุฑู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ูˆูŽุถูุญูŽุงู‡ูŽุง. ุจูŽู„ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุซูŽู…ูŽุฑูŽุฉูŽ ุดูู‡ููˆุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู‡ู’ุฏูุŒ ุซูŽู…ูŽุฑูŽุฉูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑูุŒ ุซูŽู…ูŽุฑูŽุฉูŽ ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกูุŒ ุซูŽู…ูŽุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู

#44) Jika Anda mengenal seorang gadis seperti Aisha, atau jika Anda adalah ibu dari anak yang keras kepala, ingatlah ini: mendidik anak tidak hanya dilakukan dengan memarahi, tetapi dengan cinta, kesabaran, memberi waktu, dan mendengarkan.

ุฅูุฐูŽุง ูƒูู†ู’ุชู ุชูŽุนู’ุฑููููŠู†ูŽ ููŽุชูŽุงุฉู‹ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฅูุฐูŽุง ูƒูู†ู’ุชู ุฃูู…ู‹ู‘ุง ู„ูุทููู’ู„ู ุนูŽู†ููŠุฏูุŒ ููŽุชูŽุฐูŽูƒูŽู‘ุฑููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง: ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู ู„ูŽุง ุชูŽุชูู…ูู‘ ุจูุงู„ุชูŽู‘ูˆู’ุจููŠุฎู ููŽู‚ูŽุทู’ุŒ ุจูŽู„ู’ ุชูŽุชูู…ูู‘ ุจูุงู„ู’ุญูุจูู‘ุŒ ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ุญู ุงู„ู’ูˆูŽู‚ู’ุชูุŒ ูˆูŽุงู„ูุงุณู’ุชูู…ูŽุงุนูุŒ

#45) Dan yang terpenting, melalui doa. Mintalah pertolongan Allah, ubahlah dirimu, dan kamu akan melihat bagaimana Allah memenuhi rumahmu dengan kedamaian dan kasih sayang. Karena Allahlah yang mengubah hati. Dialah yang memperbaiki hubungan.

ูˆูŽุงู„ุฃูŽู‡ูŽู…ูู‘ ู…ูู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูู„ูู‘ู‡ู ุจูุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกู. ุงุทู’ู„ูุจููŠ ุงู„ุนูŽูˆู’ู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆูŽุบูŽูŠูู‘ุฑููŠ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูุŒ ูˆูŽุณูŽุชูŽุฑููŠู’ู†ูŽ ูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูŽู…ู’ู„ุฃู ุงู„ู„ู‡ู ุจูŽูŠู’ุชูŽูƒู ุจูุงู„ุณูŽู‘ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุฉู. ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจูŽ. ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุตู’ู„ูุญู ุงู„ู’ุนูŽู„ูŽุงู‚ูŽุงุชู. 

#46) Dialah yang menjawab doa-doa orang yang dengan tulus memohon kepada-Nya. Yang dibutuhkan hanyalah satu usaha yang tulus, satu niat yang tulus, dan satu doa yang tulus.

ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูŠูุฌููŠุจู ุงู„ุฏูู‘ุนูŽุงุกูŽ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ูู‡ู ุจูุตูุฏู’ู‚ู. ูƒูู„ูู‘ ู…ูŽุง ูŠูŽุชูŽุทูŽู„ูŽู‘ุจู ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑู ู‡ููˆูŽ ุฌูู‡ู’ุฏูŒ ุตูŽุงุฏูู‚ูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŒุŒ ูˆูŽู†ููŠูŽู‘ุฉูŒ ุตูŽุงุฏูู‚ูŽุฉูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉูŒุŒ ูˆูŽุฏูุนูŽุงุกูŒ ุตูŽุงุฏูู‚ูŒ ูˆูŽุงุญูุฏูŒ.

F. Kesimpulan

Perubahan anak sering kali dimulai dari perubahan orang tuanya. Semoga Allah memberi kita kesabaran, hikmah, dan kelembutan dalam mendidik amanah yang telah Dia titipkan.


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>


Source Reference :

By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs

Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids


Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-2)…

Baca juga Serial lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Nahwu …

Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Shorof …

Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah fiโ€™liyah adalah kalimat yang diawali fiโ€™il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fiโ€™il (kata kerja)
    b. faโ€™il (pelaku/subjek)
    c. Mafโ€™ul bih (ู…ูŽูู’ุนููˆู’ู„ู ุจูู‡ู), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู Muhammad pergi ke masjid
    b) ูŠูŽูƒู’ุชูุจู ุงู„ุทู‘ูŽุงู„ูุจู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑู’ุณูŽ murid itu sedang menulis pelajaran โ†ฉ๏ธŽ
  2. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtadaโ€™ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfuโ€™ (disebut khabar inna).
    โ€ข Contoh:
    o Asal: ุงูŽู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุนูŽุฒููŠู’ุฒูŒ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูŽ ุนูŽุฒููŠู’ุฒูŒ
    โ€ข Saudara-saudara inna:
    o 1) ู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽุŒ tetapi
    o 2) ุฃู†ู‘ูŽ. Sesungguhnya
    o 3) ูƒูŽุฃู†ู‘ูŽ. Seolah-olah
    o 4) ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽ. Mudah-mudahan
    o 5) ู„ูŽูŠู’ุชูŽ. Ingin sekali
    o ู„ูŽุง 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
    ๏‚ง ู„ูŽุง ุตูŽุงู„ูุญูŽ ุฎูŽุงุณูุฑูŒ โ†ฉ๏ธŽ
  3. Adalah isim yang mengikuti isim lain dan berfungsi untuk menggantikannya. Contoh:
    ู‚ุงู„ูŽ ุงู„ุฅู…ุงู…ู ู…ุงู„ููƒู. Telah berkata Imam Malik
    ู…ุงู„ูƒ adalah badal dari ุงู„ุฅู…ุงู…ุŒ. Sekalipun salah satunya dibuang, tidak akan menghilangkan arti.Ada 4 kategori badal:
    a. Badal sesuatu menggantikan sesuatu.
    b. Badal sebagian menggantikan keseluruhan. ุฃูŽูƒูŽู„ู’ุชู ุงู„ู’ุฎูุจู’ุฒูŽ ู†ูุตู’ููŽู‡ู.. Aku memakan roti setengahnya
    c. Badal sesuatu mencakup yang lainnya. ู†ูŽููŽุนูŽู†ููŠ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุนูู„ู’ู…ูู‡ู. Telah bermanfaat bagiku Muhammad yaitu ilmunya.
    d. Badal yang salah dalam penyebutan. โ†ฉ๏ธŽ
  4. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ูŠ atau ูˆ tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    ู…ูู†ู’. Dari
    ุฅู„ูŽู‰. Ke
    ุนูŽู†ู’. Dari, tentang
    ู„ู. Kepunyaan, untuk
    ู…ูู†ู’ุฏู. Semenjak
    ุนูŽู„ูŽู‰. Atas
    ุญูŽุชู‘ูŽู‰. Sehingga
    ูููŠ. Didalam
    ุจู dengan
    ูƒูŽ. Seperti
    Contoh:
    a) ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู. Didalam rumah
    b) ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู. Dari Jabir โ†ฉ๏ธŽ
  5. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan Iโ€™rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ุธูŽุฑู’ูู ู…ูŽูƒุงู† (tempat). Contoh:
    a) ุฃู…ุงู…ูŽ didepan, ูˆูŽุฑุงุก dibelakang, ููŽูˆู’ู‚ูŽ diatas, ูŠูŽู…ููŠู’ู†ูŽ sebelah kanan, ูŠูŽุณูŠุฑูŽ sebelah kiri.
    b) ุฌูŽู„ูŽุณู’ุชู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุงู„ุดูŽุฌูŽุฑุฉู (dibawah ุชุญุช)
    Zharf zaman ุธูŽุฑู’ู ุฒูŽู…ุงู†ู (waktu). Contoh:
    a) ู„ูŽูŠู’ู„ุงู‹ุŒ ุตูŽุจุงุญุงู‹ุŒ ุบูŽุฏุงู‹ุŒ ู…ูŽุณุงุกู‹ุŒ ู†ูŽู‡ุงุฑุงู‹ุŒ ุงู„ุขู†ูŽ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) ุจูŽูŠู’ู†ูŽ (antara, diantara) ุŒ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู…ุง (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) โ†ฉ๏ธŽ
  6. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtadaโ€™ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafaโ€™ (akhiran kasrah ู€ู). Contoh:
    โ€ข a) ุฃูŽู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ู†ูŽุธููŠู’ููŒ. Rumah itu bersih
    โ€ข b) ู‡ููˆูŽ ุทูŽุงู„ูุจูŒ. Dia adalah seorang murid โ†ฉ๏ธŽ
  7. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan ุงู„ู’. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    ุตูŽู„ู‘ู‰ ุฃุญู’ู…ูŽุฏู ุฌุงู„ูุณู‹ุง. Ahmad shalat [sambil duduk ุฌุงู„ู‹ุณู‹ุง ] โ†ฉ๏ธŽ
  8. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:ุฎูŽุชูŽู…ู ุฐูŽู‡ูŽุจู. Cincin emas
    Isim yang pertama (ูุฎุงุชู…) disebut mudhaf/ yang disandarkan ู…ูุถูŽุงููŒ
    Isim kedua (ุฐู‡ุจู) disebut mudhaf ilaih ู…ุถุงูู ุฅู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ dan harus majrurย  โ†ฉ๏ธŽ
  9. Pola tashrif no.2 adalah sebagai berikut:
    ููŽุนูŽู„ูŽ- ูŠูŽูู’ุนูู„ู
    ุŸโ€ฆุ› ุงููู’ุนูŽู„ู’
    ูุงุนูู„ูŒุŒ ู…ูŽูู’ุนููˆู„ูŒ
    ููุนูู„ูŽ- ูŠููู’ุนูŽู„ู โ†ฉ๏ธŽ
  10. Laa Nafiyah adalah huruf ‘laa’ dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menolak, meniadakan, atau menyangkal suatu perbuatan, kejadian, atau sifat.Penjelasan SingkatFungsi: Menyatakan arti “tidak” atau “bukan”.Pengaruh I’rab: Berbeda dengan Laa Nahiyah (huruf larangan yang membuat kata kerja/fi’il mudhari’ ber-i’rab jazm atau sukun), Laa Nafiyah tidak mengubah i’rab kata kerja yang ada di belakangnya (tetap marfa’/rafa’) โ†ฉ๏ธŽ

Response

Leave a comment