Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II. KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#3) Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman? Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?
ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟ الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
a. Kajian Kalimat… ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟
Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman?
ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- huruf athaf ثُمَّ
- fi’il mudhari’ lazim يَمْتَلِئُ
- fa’il [marfu‘] الْمَنْزِلُ
- muta’alliq bil fi’li بِصَمْتٍ yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq/jar بِ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq صَمْتٍ
- isim istifham هَلْ
- jumlah ismiyyah هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا , yang terdiri dari :
- mubtada‘ هَذَا
- badal penegas dari mubtada’ هُوَ
- khabar [marfu‘] الطِّفْلُ
- maushul الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا , yang terdiri dari :
- isim maushul الَّذِي
- shilah maushul dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari:
- fi’il madhi lazim احْتَضَنَتْهُ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تْ, dan maf’ul bih berupa dhamir nashab muttasil هُوَ – هُ
- muta’alliq bil fi’li فِي قَلْبِهَا , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq/jar فِي
- obyek dalam bentuk isim majrur idhafiy قَلْبِ dengan mudhaf ilaih berupa dhamir jar muttasil هِيَ – هَا
- maushul (kedua) الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ , yang terdiri dari :
- isim maushul الَّذِي
- shilah maushul dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari:
- fi’il madhi lazim سَهِرَتِ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تْ
- zharf zaman [manshub] اللَّيَالِيَ
- muta’alliq bil fi’li مِنْ أَجْلِهِ , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq مِنْ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq أَجْلِهِ , berbentuk idhafiy dengan mudhaf ilaih berupa dhamir jar muttasil هُوَ – هِ
- Kalimat يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ (rumah itu penuh dengan keheningan) adalah jumlah fi’liyah dengan kata kerja bentuk fi’il mudhari‘ 1 (masa sekarang), dengan pola tashrif no.10 2 . Fa’il (subyek) nya الْمَنْزِلُ (rumah itu), dan tidak ada maf’ul bih (obyek) karena fi’il lazim 3 .
- Lafadz بِصَمْتٍ (dengan keheningan) adalah muta’alliq bil fi’li 4 yaitu obyek yang dikaitkan dengan fi’il melalui perantara huruf ta’alluq/huruf jar, dan berkedudukan sebagai haal 5 (kata keadaan) berbentuk.
- Kata/lafadz 6 ثُمَّ (kemudian) adalah huruf athaf 7 (kata sambung).
- Kalimat هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) yang didahului oleh huruf istifham هَلْ. Kata هَذَا sebagai mubtada‘, kata هُوَ sebagai penegas sekaligus pemisah antara mubtada‘ هَذَا agar tidak tersambung langsung dengan khabar الطِّفْلُ karena nanti artinya berubah menjadi ‘anak ini‘, padahal yang kita perlukan adalah ‘ini adalah anak yang …‘.
- Lafadz الَّذِي adalah isim maushul (penyambung) dengan arti ‘yang‘.
- Kata kerja احْتَضَنَتْهُ (dia pr. menggendong dia lk.) sekaligus menggandeng fa’il (ana) dan maf’ul bih (huwa). Keduanya sebagai isim dhamir (kata ganti orang), dan sifatnya sebagai isim dhamir muttasil 8.
- Murakkab 9 فِي قَلْبِهَا (di hatinya) adalah zharf makan 10 (keterangan tempat) dalam bentuk jar wa majrur.
- Kalimat الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ (yang mana dia pr. terjaga/ begadang malam-malam tetap terjaga demi dia) adalah jumlah fi’liyah dengan diawali oleh isim maushul الَّذِي . Kata kerjanya berbentuk muannats ( تِ ) karena fa’ilnya perempuan.
- Lafadz اللَّيَالِيَ adalah zharf zaman, dan merupakan isim jamak dari ‘lail’.
- Muta’alliq bil fi’li مِنْ أَجْلِهِ arti harfiahnya ‘dari sebab/alasan dia’, namun arti umumnya adalah ‘demi dia‘, dengan huruf ta’alluq/jar مِنْ.
b. Kajian Kalimat… الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?
الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- maushul (ketiga) الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا , yang terdiri dari :
- isim maushul الَّذِي
- shilah maushul berupa fi’il lazim شَعَرَتْ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تْ
- muta’alliq bil fi’li بِدَمْعَةٍ , dengan huruf ta’alluq بِ dan obyek/isim majrur دَمْعَةٍ .
- muta’alliq bil masdar مِنْهُ dengan obyek berupa dhamir jar muttasil هُوَ – هُ
- isim tafdhil أَكْثَرَ
- jar wa majrur مِنْ حَيَاةِ
- idhafiy حَيَاتِهَا
- huruf athaf ف
- isim istifham لِمَاذَا
- mubtada’ [marfu‘] هَذِهِ الْمَسَافَةُ , dengan khabar tersembunyi (tidak disebutkan).
- zharf zaman الْيَوْمَ
- maushul (ketiga) الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا , yang terdiri dari :
- Kalimat الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ (yang dia merasakan dengan air mata ‘karena ulah’ dia) adalah maushul dengan isim maushul الَّذِي dan shilah maushul berupa jumlah fi’liyyah شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ.
- Lafadz بِدَمْعَةٍ adalah muta’alliq bil fi’li yang mengaitkan fi’il lazim dengan obyek tidak langsung دَمْعَةٍ .
- Lafadz مِنْهُ adalah muta’alliq bil masdar yang mengaitkan obyek هُ dengan masdar دَمْعَةٍ .
- Frase أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا menggunakan isim tafdhil/perbandingan أَكْثَرَ (aktsara): Artinya “lebih banyak“. Kata ini berasal dari akar kata كَثُرَ (katsura) yang berarti banyak.
- Murakkab مِنْ حَيَاتِهَا (dari hidupnya) berbentuk jar wa majrur 11 , dan حَيَاتِهَا berbentuk mudhaf wa mudhaf ilaihi 12.
- Kalimat tanya فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ (lantas mengapa) didahului oleh huruf athaf فَ (maka).
- Frase هَذِهِ الْمَسَافَةُ (jarak seperti ini) adalah mubtada’.
III. ARTIKEL(INDO-ARABIC) – (LINK):
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:
A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?
B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)
C. Titik Balik Perubahan
D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh
E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis
F. Kesimpulan
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Source Reference :
By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs
Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids https://youtu.be/KpWS-U0z9y4?si=OgP7QDoYErA_TNdY
Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-4)…
Baca artikel sebelumnya…Mengasuh Anak (Seri-2)…
Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ FootNote:
- Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎ - Pola tashrif 10: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ – اِفْتَعِلْ – اِفْتِعَالًا – مُفْتَعِلٌ، مُفْتَعَلٌ – اُفْتُعِلَ – يُفْتَعَلُ
Wazan اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ memiliki beberapa fungsi, namun yang paling umum adalah Mutawa’ah (dampak dari suatu perbuatan) dan Ittikhadz (membuat/mengambil sesuatu).
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْتَعَلَ diantaranya :
1. Maka menjadi ter-kumpul — فَاِجْتَمَعَ
2. Membikin roti — اِخْتَبَزَ
3. Telah sungguh2 me-ndengarkan — اِسْتَمَعَ
4. Sama2 ber-debat — اِخْتَصَمَ
5. = mujarrad, menarik — اِرْتَقَى = رَقَى
6. Menuntut agar bekerja keras — اِكْتَدَّ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
mendengar : اِسْتَمَعَ
mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ
berpegang teguh : اِعْتَصَمَ
menerima : اِسْتَلَمَ
memilih : اِصْطَفَى
bercerai : اِفْتَرَقَ
menang : اِنْتَصَرَ
memulai : اِبْتَدَأَ – يَبْتَدِئُ
menjadi dekat : اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ
menyimak, mendengar : اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ
menganggap, mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ – يَعْتَبِرُ
bersungguh-sungguh : اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ
berkumpul : اِجْتَمَعَ – يَجْتَمَعُ – اِجْتَمِعْ – اِجْتِمَاعًا – مُجْتَمِعٌ – مُجْتَمَعٌ – لَا تَجْتَمِعْ
dikumpulkan : اُجْتُمِعَ – يُجْتَمَعُ ↩︎ - Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja. Fi’il lazim dapat diketahui dengan melihat arti fi’il yang terbagi kedalam 7 macam:
Yang menunjukkan aktifitas tanpa obyek: _ جَلَسَ عَلِيٌ Ali duduk
_ قامَ أَحْمَدُ Ahmad berdiri
Yang menunjukan watak, bakat atau sifat, seperti: _ حَسُنَ bagus, قَبُحَ jelek
_ شَجُعَ berani, جَبُنَ pengecut
_ كَسَلَ malas, مَرِضَ sakit
_ فَرِحَ bergembira, شَبِعَ kenyang
Yang menunjukkan warna, seperti: _ اِحْمَرَّ memerah,
_ اِبْيَضَّ memutih
Yang menunjukkan cacat, seperti: _ عَمِشَتْ عَيْنُهُ lemah penglihatannya
Yang menunjukkan bersih atau kotor, seperti: _ طَهُرَ telah suci, نَظَفَ telah bersih, rapih
_ وَسِخَ telah kotor, قَذَرَ telah dekil, busuk, tidak bersih
Yang menunjukkan arti muthawa’ah (menjadi ter-…) akibat me-… _ اِنْكَسَرَ menjadi pecah
_ اِجْتَمَعَ menjadi terkumpul
Dengan melihat bentuk fi’il/pola wazan (note: pola wazan menjadi bahasa utama dalam ilmu shorof dan dibahas lengkap), ada beberapa macam: Pola فَعُلَ seperti: شَرَفَ mulia, جَمُلَ cantik, حَسُنَ bagus
Pola اِنْفَعَلَ seperti: اِنْقَسَمَ terbagi, اِنْكَسَرَ terpecah
Pola اِفْعَلَّ seperti: اِحْمَرَّ memerah
Pola اِفْعَالَّ seperti: اِحْمَارَّ menjadi sangat merah
Pola اِفْعَنْلَلَ seperti: اِقْعَنْسَسَ menolak taat, اِحْرَنْجَمَ berkumpul
↩︎ - Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎ - Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
Contoh:
صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎ - Kata/ Lafadz:
Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
Isim اِسْمٌ (kata benda)
Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
↩︎ - Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
Daftar huruf Athaf:
a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
Contoh:
جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ ↩︎ - Adalah fi’il yang menempelkan pelaku/ subyek menyatu satu kata padanya (sesudahnya). Bahkan sekaligus maf’ul bihi juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil.
• a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
• b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
• c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
• d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا. ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih
2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
Dua jenis utama sybhul jumlah:
Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎ - Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
Leave a Reply