Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.
DAFTAR ISI:

PENGANTAR ARTIKEL:
Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.
Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.
Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.
Penyusun…:

KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#3) Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman? Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?
ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟ الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
Cuplikan Kalimat…
a.
Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman?
ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟
- kkkk
- ddd
Cuplikan Kalimat…
b.
Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?
الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
- kkkk
- ddd
PENGANTAR KISAH:
Kisah berikut adalah ilustrasi yang menggambarkan kondisi yang banyak dialami orang tua. Dan dibagi menjadi beberapa bagian:
- A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?
- B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)
- C. Titik Balik Perubahan
- D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh
- E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis
- F. Kesimpulan
ARTIKEL(INDO- ARABIC):
A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya.
#1) Apakah anda percaya bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terindah di dunia, dan itu memang benar demikian adanya. Tetapi tidak ada yang pernah memberitahu seorang ibu bahwa suatu hari nanti anaknya mungkin akan menatap matanya dan berkata, “Ibu tidak mengerti apa pun.”
هَلْ تَعْتَقِدُ أَنَّ الْأُمُومَةَ هِيَ أَجْمَلُ شَيْءٍ فِي الْعَالَمِ، وَهِيَ كَذَلِكَ بِالْفِعْلِ. لَكِنْ لَمْ يُخْبِرْهَا أَحَدٌ قَطُّ أَنَّ طِفْلَهَا قَدْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا يَوْمًا مَا مُبَاشَرَةً عَلَى عَيْنَيْهَا وَيَقُولُ: “أَنْتِ لَا تَفْهَمِينَ شَيْئًا.
#2) Dan pada saat itu, dia terdiam. Bukan karena dia tidak punya jawaban, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya hancur. Suara itu, nada itu, tatapan itu. Atau mungkin tidak ada rasa hormat yang tersisa (dari seorang anak)?.
وَفِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ، صَمَتَتْ. لَيْسَ لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً، بَلْ لِأَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ. ذَلِكَ الصَّوْتُ، تِلْكَ النَّبْرَةُ، تِلْكَ النَّظْرَةُ. أَوْ رُبَّمَا لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ.
#3) Lalu rumah itu diliputi keheningan. Apakah ini anak yang pernah ia gendong di hatinya? Anak yang membuatnya begadang semalaman? Anak yang air matanya terasa lebih menyakitkan daripada hidupnya sendiri? Lantas mengapa? Mengapa ada jarak seperti ini hari ini?
ثُمَّ يَمْتَلِئُ الْمَنْزِلُ بِصَمْتٍ. هَلْ هَذَا هُوَ الطِّفْلُ الَّذِي احْتَضَنَتْهُ فِي قَلْبِهَا؟ الَّذِي سَهِرَتِ اللَّيَالِيَ مِنْ أَجْلِهِ؟ الَّذِي شَعَرَتْ بِدَمْعَةٍ مِنْهُ أَكْثَرَ مِنْ حَيَاتِهَا؟ فَلِمَاذَا إِذَنْ؟ لِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ الْيَوْمَ؟
#4) Sikap dingin dan tidak hormat ini? Mungkin Anda juga mengenal ibu seperti itu. Mungkin ada anak di sekitar Anda yang tidak mau mendengarkan, yang suka meninggikan suara, yang merusak barang karena marah. Atau yang sama sekali mengabaikan ibunya seolah-olah ibunya tidak berarti apa-apa baginya. Dan ibu itu hanya menonton. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain pergi ke sudut ruangan dan menangis dalam diam?
هَذَا الْبُرُودُ، هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ؟ رُبَّمَا تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا. رُبَّمَا هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي، طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا. أَوْ يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ. وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ. مَاذَا عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ سِوَى الذَّهَابِ إِلَى زَاوِيَةٍ مَا فِي الْمَنْزِلِ وَالْبُكَاءِ بِصَمْتٍ؟
#5) Apakah ini kehidupan yang kubayangkan? Apakah ini peran ibu yang kuimpikan? Tidak, tentu saja tidak. Ini adalah kisah seorang ibu yang ada pada waktu itu. Sebut saja dia Aisha.
هَلْ هَذِهِ هِيَ الْحَيَاةُ الَّتِي تَخَيَّلْتُهَا؟ هَلْ هَذِهِ هِيَ الْأُمُومَةُ الَّتِي حَلَمْتُ بِهَا؟ لَا، بِالتَّأْكِيدِ لَا. هَذِهِ قِصَّةُ أُمٍّ كَانَتْ حَاضِرَةً فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ. لِنُسَمِّيهَا عَائِشَة.
B. Kisah Aisha (Sekadar Ilustrasi).
#6) Aisha berumur sekitar 28 tahun. Ia memiliki seorang putra berusia 9 tahun. Mulanya, putranya adalah anak yang patuh. Ia mendengarkan ibunya dan berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang. Tetapi seiring bertambahnya usia dan mulai bersekolah, perilakunya mulai berubah.
كَانَتْ عَائِشَةُ فِي الثَّامِنَةِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ عُمْرِهَا تَقْرِيبًا. كَانَ لَدَيْهَا ابْنٌ فِي التَّاسِعَةِ مِنْ عُمْرِهِ. فِي الْبِدَايَةِ، كَانَ وَلَدًا مُطِيعًا. كَانَ يُصْغِي إِلَى أُمِّهِ، وَيَتَحَدَّثُ مَعَهَا بِحُبٍّ. لَكِنْ مُنْذُ أَنْ كَبِرَ فِي الْمَدْرَسَةِ، بَدَأَ سُلُوكُهُ يَتَغَيَّرُ.
#7) Awalnya, hal itu (dianggap) kecil. Kemudian membesar. Ketika Aisha sedang berbicara, dia akan menyela di tengah kalimat. Dia akan berkata, “Aku tahu engkau mengatakan itu selalu.” Dan ketika Aisha menolak sesuatu (permintaan), dia akan dengan marah melempar bukunya, kadang-kadang menjatuhkan piring, dan kadang-kadang membanting pintu kamar tidurnya.
في البداية كانت أمورا صغيرة. ثم كبرت تلك الأمور. عندما كانت عائشة تتحدث، كان يقاطعها في منتصف حديثها. كان يقول: أعلم أنكِ تقولين هذا طوال الوقت. وعندما كانت عائشة ترفض شيئا، كان يرمي كتابه غاضبا، وأحيانا يسقط طبقا، وأحيانا يغلق باب غرفته بقوة.
#8) Lebih buruknya, ketika Aisha mencoba berbicara kepadanya dengan lembut, dia bahkan tidak mau menghadap padanya, seolah-olah Aisha berbicara pada ruang kosong, seolah-olah Aisha tidak berharga sama sekali.
الْأَسْوَأُ مِنْ ذٰلِكَ، عِنْدَمَا كَانَتْ عَائِشَةُ تُحَاوِلُ أَنْ تُسَرِّحَ لَهُ بِحَنَانٍ، لَمْ يَكُنْ يَنْظُرُ إِلَيْهَا حَتَّى، وَكَأَنَّهَا تُخَاطِبُ فَرَاغاً، وَكَأَنَّهَا لَا قِيمَةَ لَهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ.
#9) Aisha menangis setiap hari. Di malam hari, ketika semua orang tidur, dia akan bermunajat kepada Tuhan. Dan berkata, “Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Anakku perlahan-lahan menjauh dariku.”
كَانَتْ عَائِشَةُ تَبْكِي كُلَّ يَوْمٍ. وَفِي اللَّيْلِ، عِنْدَمَا يَنَامُ الْجَمِيعُ، كَانَتْ تُنَاجِي اللَّهَ. كَانَتْ تَقُولُ: “يَا اللَّه، مَاذَا أَفْعَلُ؟ طِفْلِي يَبْتَعِدُ عَنِّي تَدْرِيجِيًّا.
#10) “Perlakuan tidak hormat ini, kekasaran ini, aku tidak tahan.” Pikirnya, “Mungkin dia bukan ibu yang baik. Mungkin dia melakukan kesalahan. Mungkin dialah penyebab semua ini.” Tapi apa kesalahan yang telah dia lakukan?
هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ، هَذِهِ الْقَسْوَةُ، لَا أَسْتَطِيعُ حَمْلَهَا.” كَانَتْ تُفَكِّرُ، “رُبَّمَا لَمْ تَكُنْ أُمًّا جَيِّدَةً.” رُبَّمَا فَعَلَتْ شَيْئًا خَاطِئًا. رُبَّمَا هِيَ السَّبَبُ فِي كُلِّ هَذَا.” وَلَكِنْ مَاذَا فَعَلَتْ خَطَأً؟
#11) Yang dia inginkan hanyalah yang terbaik untuk anaknya. Ia hanya ingin putranya tetap berada di jalan yang benar. Jadi, mengapa ada jarak seperti ini?
لَمْ تَكُنْ تُرِيدُ سِوَى الْأَفْضَلِ لِطِفْلِهَا. لَمْ تَكُنْ تُرِيدُ سِوَى أَنْ يَبْقَى ابْنُهَا عَلَى الطَّرِيقِ الصَّحِيحِ. فَلِمَاذَا هَذِهِ الْمَسَافَةُ؟
C. Titik Balik Perubahan
#12) Suatu hari, Aisha sedang membuka-buka akun Instagram-nya, merasa lelah, sedih, dan diam. Ada perasaan harap-harap cemas di hatinya. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa memperbaiki semua ini?
فِي أَحَدِ الْأَيَّامِ كَانَتْ عَائِشَةُ تَتَصَفَّحُ حِسَابَهَا عَلَى إِنْسْتغْرَام، مُتْعَبَةً، حَزِينَةً، صَامِتَةً. كَانَ هُنَاكَ تَرَقُّبٌ فِي قَلْبِهَا. مَاذَا أَفْعَلُ؟ كَيْفَ أُصْلِحُ كُلَّ شَيْءٍ.
#13) Kemudian dia melihat kisah ibu lain. Ibu itu berbagi pengalaman nyatanya. Dia menulis: “Saya sangat khawatir perihal sikap putra saya. Dia tidak mau mendengarkan saya. Dia akan merusak barang-barang saat mengamuk. Dia mengabaikan saya. Saya menangis setiap hari. Saya pikir saya melakukan sesuatu yang salah.”
ثُمَّ رَأَتْ قِصَّةَ أُمٍّ أُخْرَى. شَارَكَتْ تِلْكَ الْأُمُّ تَجْرِبَتَهَا الْحَقِيقِيَّةَ. كَتَبَتْ: “كُنْتُ قَلِقَةً لِلْغَايَةِ بِشَأْنِ ابْنِي.” لَمْ يَكُنْ يَسْتَمِعُ إِلَيَّ. كَانَ يَكْسِرُ الْأَشْيَاءَ فِي نَوْبَةِ غَضَبِهِ. كَانَ يَتَجَاهَلُنِي. كُنْتُ أَبْكِي كُلَّ يَوْمٍ. ظَنَنْتُ أَنَّنِي أَفْعَلُ شَيْئاً خَاطِئاً.
#14) Kemudian suatu hari, seorang teman dekat berkata kepada saya, “Mungkin ada sesuatu yang kurang dalam gaya pengasuhanmu.” Awalnya, saya merasa sakit hati. Tapi kemudian saya melihat diri saya sendiri.
ثُمَّ فِي أَحَدِ الْأَيَّامِ، قَالَ لِي صَدِيقَةٌ مُقَرَّبَةٌ: “رُبَّمَا هُنَاكَ شَيْءٌ مَفْقُودٌ فِي أُسْلُوبِكِ فِي تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ.” فِي الْبِدَايَةِ، شَعَرْتُ بِالْأَلَمِ. لَكِنَّنِي نَظَرْتُ إِلَى نَفْسِي بَعْدَ ذَلِكَ.
#15) Aisha terus membaca. “Aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak mendengarkan (omongan anakku). Aku terus membebaninya dengan harapan-harapanku. Aku terus saja cerewet/ menegurnya.” Aku tidak pernah bertanya, “Anakku, gimana kabarmu? Kamu perlu apa? Apa yang sedang kau pikirkan?”
وَاصَلَتْ عَائِشَةُ الْقِرَاءَةَ. “أَدْرَكْتُ أَنَّنِي لَمْ أَسْتَمِعْ إِلَيْهِ حَقًّا. اسْتَمْرَرْتُ فِي تَحْمِيلِهِ تَوَقُّعَاتِي. ظَلَلْتُ أُوَبِّخُهُ”. لَمْ أَسْأَلْ قَطُّ: “يَا بُنَيَّ، كَيْفَ حَالُكَ؟ مَاذَا تَحْتَاجُ؟ مَا الَّذِي فِي قَلْبِكَ؟
#16) Setelah membaca (tulisan ibu itu), hati Aisha bergetar karena ini juga kisahnya. Ini sepenuhnya miliknya. Kemudian ibu itu menulis lebih banyak lagi.
عِنْدَ قِرَاءَةِ هَٰذَا، ارْتَجَفَ قَلْبُ عَائِشَةَ لِأَنَّ هَٰذِهِ كَانَتْ قِصَّتَهَا أَيْضًا. هِيَ مِلْكُهَا تَمَامًا. ثُمَّ كَتَبَتْ تِلْكَ الْأُمُّ الْمَزِيدَ.
D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh
#17) Saya memutuskan untuk mengubah pendekatan saya dalam membesarkan anak-anak saya. Saya berdoa kepada Tuhan. Saya bangun setiap malam untuk shalat tahajud dan menangis. Saya berkata, “Ya Allah, tunjukkanlah jalan yang benar kepadaku, berikanlah aku kesabaran, berikanlah aku kekuatan.”
قَرَّرْتُ أَنْ أُغَيِّرَ أُسْلُوبِي فِي تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ. صَلَّيْتُ إِلَى اللهِ. كُنْتُ أَسْتَيْقِظُ كُلَّ لَيْلَةٍ لِصَلَاةِ التَّهَجُّدِ وَأَبْكِي. أَقُولُ: “يَا اللهُ، أَرِنِي الطَّرِيقَ الصَّحِيحَ، امنَحْنِي الصَّبْرَ. امنَحْنِي الْقُوَّةَ”
#18) Kemudian saya mulai mengubah beberapa hal kecil. Pertama, saya berhenti menegurnya terlalu sering. Ketika dia melakukan kesalahan, saya tidak langsung marah. Pertama, saya akan mendengarkan dengan tenang. Saya akan bertanya kepadanya: “Anakku, mengapa kamu melakukan itu? Apa yang kamu rasakan?”
ثُمَّ بَدَأتُ بِتَغْيِيرِ شَيْءٍ صَغِيرَةٍ. أَوَّلًا، تَوَقَّفْتُ عَنْ تَوْبِيخِهِ كَثِيرًا. عِنْدَمَا كَانَ يَفْعَلُ شَيْئًا خَاطِئًا، لَمْ أَغْضَبْ عَلَى الْفَوْرِ. أَوَّلًا، سَأَسْتَمِعُ بِهُدُوءٍ. كُنْتُ أَسْأَلُهُ: يَا بُنَيَّ، لِمَاذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ؟ مَا الَّذِي كُنْتَ تَشْعُرُ بِهِ؟
#19) Kedua, saya mulai meluangkan waktu untuknya. Setiap hari, meluangkan waktu di luar kesibukan, hanya kami berdua. Kami bermain bersama, dan mengobrol. Dan dia menceritakan apa yang ada di benaknya.
ثَانِيًا. بَدَأْتُ أَمْنَحُهُ بَعْضَ الْوَقْتِ. كُلَّ يَوْمٍ، بَعْضَ الْوَقْتِ بَعِيدًا عَنِ الْعَمَلِ، أَنَا وَهُوَ فَقَطْ. كُنَّا نَلْعَبُ مَعًا، وَنَتَحَدَّثُ. كَانَ يُخْبِرُنِي بِمَا فِي قَلْبِهِ.
#20) Ketiga, saya mulai merayakan kebahagiaan kecilnya. Jika dia melakukan sesuatu yang baik, saya akan berkata kepadanya: “Anakku, kamu telah melakukan yang terbaik, Ibu sangat bangga padamu.”
ثَالِثًا. بَدَأْتُ أَحْتَفِلُ بِأَفْرَاحِهِ الصَّغِيرَةِ. إِذَا فَعَلَ شَيْئًا جَيِّدًا، كُنْتُ أَقُولُ لَهُ: “ يَا بُنَيَّ، لَقَدْ أَحْسَنْتَ صُنْعًا، أَنَا فَخُورَةٌ بِكَ جِدًّا.”
#21) Keempat, saya mulai mengajarinya bahwa perasaan (ingin) marah bukanlah hal yang salah, tetapi mengendalikannya, itulah yang penting. Saya berbicara (saya lakukan) dengan tenang. Saya mengendalikan amarah saya sendiri agar dia bisa belajar dari saya.
رَابِعًا. بَدَأْتُ أُعَلِّمُهُ أَنَّ الشُّعُورَ بِالْغَضَبِ لَيْسَ خَطَأً، لَكِنَّ السَّيْطَرَةَ عَلَيْهِ ضَرُورِيَّةٌ. كُنْتُ أَتَحَدَّثُ بِهُدُوءٍ. كُنْتُ أُسَيْطِرُ عَلَى غَضَبِي حَتَّى يَتَعَلَّمَ مِنِّي.
#22) Aisha membaca unggahan itu berulang-ulang. Kemudian air mata mengalir di wajahnya. “Mungkin dia juga bisa mengubah sesuatu,” pikirnya. Mungkin ada sesuatu yang kurang dalam gaya pengasuhannya juga. Mungkin dia bisa mulai dengan mendengarkan putranya.
قَرَأَتْ عَائِشَةُ ذٰلِكَ الْمَنْشُورَ مِرَارًا وَتِكْرَارًا. ثُمَّ انْهَمَرَتْ دُمُوعُهَا. فَكَّرَتْ: “رُبَّمَا تَسْتَطِيعُ هِيَ أَيْضًا تَغْيِيرَ شَيْءٍ مَا”. رُبَّمَا كَانَ هُنَاكَ شَيْءٌ مَفْقُودٌ فِي أُسْلُوبِهَا فِي تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ أَيْضًا. رُبَّمَا يُمْكِنُهَا أَنْ تَبْدَأَ بِالِاسْتِمَاعِ إِلَى ابْنِهَا.
#23) Malam itu, Aisha berdoa kepada Tuhan dari lubuk hatinya. Ia berkata, “Ya Tuhan, bimbinglah aku. Berikanlah aku kesabaran. Berikanlah aku kekuatan untuk memahami anakku.”
فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ، صَلَّتْ عَائِشَةُ إِلَى اللهِ مِنْ أَعْمَاقِ قَلْبِهَا. قَالَتْ: “يَا اللهُ، اهْدِنِي. امنَحْنِي الصَّبْرَ. امنَحْنِي القُوَّةَ لِأَفْهَمَ طِفْلِي.”
#24) Aisha mulai mengubah sikapnya keesokan harinya. Ketika putranya bangun di pagi hari, alih-alih cerewet padanya, dia berkata dengan lembut, “Selamat pagi.” Ketika putranya tidak sarapan, alih-alih marah, dia bertanya, “Kamu mau apa, sayangku? Ibu akan mengambilkannya untukmu.”
بَدَأَتْ عَائِشَةُ فِي تَغْيِيرِ نَفْسِهَا فِي الْيَوْمِ التَّالِي. عِنْدَمَا اسْتَيْقَظَ ابْنُهَا فِي الصَّبَاحِ، بَدَلًا مِنْ تَوْبِيخِهِ قَالَتْ لَهُ بِحَنَانٍ: “صَبَاحُ الْخَيْرِ.” عِنْدَمَا لَمْ يَتَنَاوَلِ الْفُطُورَ، بَدَلًا مِنْ أَنْ تَغْضَبَ، سَأَلَتْهُ: مَاذَا تُحِبُّ يَا حَبِيبِي؟ سَأُحْضِرُهُ لَكَ.
#25) Saat ia pulang dari sekolah, Aisha meletakkan ponselnya. Ia duduk di sebelahnya dan bertanya, “Bagaimana harimu? Apa yang terjadi di sekolah?”
عِنْدَمَا عَادَ مِنَ الْمَدْرَسَةِ، وَضَعَتْ عَائِشَةُ هَاتِفَهَا جَانِبًا. جَلَسَتْ بِجَانِبِهِ وَسَأَلَتْهُ: “كَيْفَ كَانَ يَوْمُكَ؟ مَاذَا حَدَثَ فِي الْمَدْرَسَةِ؟
#26) Awalnya, putranya terkejut. Ia terus berkata, “Tidak apa-apa, Bu,” tetapi Aisha tidak mendesaknya. Ia mulai duduk tenang bersamanya. Terkadang ia menonton televisi bersamanya. Terkadang ia bermain dengannya. Terkadang cukup hanya berada di dekatnya dengan tenang.
فِي الْبِدَايَةِ، تَفَاجَأَ ابْنُهَا. كَانَ يَقُولُ: “لَا شَيْءَ يَا أُمِّي “ لَكِنَّ عَائِشَةَ لَمْ تَضْغَطْ. بَدَأتْ تَجْلِسُ مَعَهُ بِهُدُوءٍ. كَانَتْ تُشَاهِدُ التِّلْفَازَ مَعَهُ أَحْيَانًا. كَانَتْ تَلْعَبُ مَعَهُ أَحْيَانًا. أَحْيَانًا يَكْفِي أَنْ تَكُونَ قَرِيبًا مِنْهُ بِهُدُوءٍ.
#27) Segalanya perlahan mulai berubah. Suatu hari, ketika Aisha menolak sesuatu (permintaan), dia hampir melempar sesuatu karena marah. Tapi Aisha tidak menegurnya.
وَبَدَأَتِ الْأُمُورُ تَتَغَيَّرُ بِبُطْءٍ. فِي أَحَدِ الْأَيَّامِ، عِنْدَمَا رَفَضَتْ عَائِشَةُ شَيْئًا مَا، كَادَ أَنْ يَرْمِيَ شَيْئًا مَا غَاضِبًا. لَكِنَّ عَائِشَةَ لَمْ تُوَبِّخْهُ.
#28) Dia berkata, “Aku tahu kau marah, sayangku, tapi ini bukan cara yang benar. Ayo, katakan apa yang kau inginkan. Mari kita carikan jalan keluar nya bersama.”
قَالَتْ: “أَعْلَمُ أَنَّكَ غَاضِبٌ يَا حَبِيبِي، لٰكِنْ هٰذِهِ لَيْسَتِ الطَّرِيقَةَ الصَّحِيحَةَ. هَيَّا، أَخْبِرْنِي بِمَا تَحْتَاجُهُ. دَعْنَا نَجِدُ حَلًّا مَعًا.”
#29) Hari itu, untuk pertama kalinya, putranya mendengarkan. Dia tidak melempar apa pun. Dia menatap ibunya dan terdiam. Kemudian dia berkata pelan, “Ibu, aku hanya butuh waktu.”
فِي ذٰلِكَ الْيَوْمِ، وَلِأَوَّلِ مَرَّةٍ، اسْتَمَعَ ابْنُهَا. لَمْ يَرْمِ شَيْئًا. نَظَرَ إِلَى أُمِّهِ وَسَكَتَ. ثُمَّ قَالَ بِهُدُوءٍ: “أُمِّي، أَحْتَاجُ فَقَطْ إِلَى بَعْضِ الْوَقْتِ.”
E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadits.
#30) Kedamaian memenuhi hati Aisyah. Dia berkata, “Baiklah, sayangku. Jika kau ingin berbicara, aku di sini.” Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “…dan berbuat baiklah kepada orang tua…” [QS.17:23]
غَمَرَ السَّلَامُ إِلَى قَلْبِ عَائِشَةَ. فَقَالَتْ: “حَسَنًا يَا حَبِيبِي. إِذَا تُرِيدُ أَنْ تَتَحَدَّثَ أَنَا هُنَا.” يَقُولُ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: “…وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…” [QS.17:23]
#31) Ayat ini ditujukan kepada anak-anak. Bukankah ayat ini juga mengajarkan kita? Aisyah berpikir, jika ia ingin putranya memperlakukannya dengan baik, ia harus terlebih dahulu memperlakukan putranya dengan baik.
هَٰذِهِ الْآيَةُ مُوَجَّهَةٌ لِلْأَطْفَالِ. أَلَا تُعَلِّمُنَا أَيْضًا؟ فَكَّرَتْ عَائِشَةُ إِذَا أَرَادَتْ أَنْ يُعَامِلَهَا ابْنُهَا بِلُطْفٍ، فَعَلَيْهَا أَوَّلًا أَنْ تُعَامِلَهُ بِلُطْفٍ.
#32) Jika dia ingin putranya menghormatinya, dia harus menghormati perasaan putranya itu. Jika dia ingin putranya itu mendengarkannya, dia harus mendengarkan putranya. Itu sederhana. Tetapi butuh waktu lama bagi Aisha untuk memahaminya.
إِذَا أَرَادَتْ أَنْ يَحْتَرِمَهَا، فَعَلَيْهَا أَنْ تَحْتَرِمَ مَشَاعِرَهُ. فَإِذَا أَرَادَتْ أَنْ يُنْصِتَ إِلَيْهَا فَعَلَيْهَا أَنْ تُنْصِتَ إِلَيْهِ. كَانَ الْأَمْرُ بَسِيطًا. لَكِنْ عَائِشَةَ اسْتَغْرَقَتْ وَقْتًا طَوِيلًا لِتَفْهَمَهُ.
#33) Di hari lainnya, putranya kembali menyela ibunya. Namun kali ini Aisha tidak marah; sebaliknya, ia berkata dengan tenang, “Sayangku, Ibu sedang berbicara. Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, biarkan Ibu selesai dulu, baru kamu bisa menyampaikan pendapatmu. Itu namanya menghormati.”
فِي يَوْمٍ آخَرَ، قَاطَعَهَا ابْنُهَا مَرَّةً أُخْرَى. لَكِنَّ هَذِهِ الْمَرَّةَ لَمْ تَغْضَبْ عَائِشَةُ، بَلْ قَالَتْ بِهُدُوءٍ: “يَا حَبِيبي، كُنْتُ أَتَحَدَّثُ. إِذَا كَانَ لَدَيْكَ مَا تَقُولُهُ، دَعْنِي أُنْهِي كَلَامِي أَوَّلًا، ثُمَّ يُمْكِنُكَ قَوْلُ رَأْيِكَ. هَذَا هُوَ الِاحْتِرَامُ.
#34) Mulanya putranya diam, lalu berkata pelan, “Maafkan aku, Ibu.” Kata “permintaan maaf” itu menyentuh hati Aisha. Karena itu bukan hanya sekadar kata, melainkan sebuah perubahan, sebuah awal yang baru.
صَمَتَ ابْنُهَا فِي الْبِدَايَةِ، ثُمَّ قَالَ بِهُدُوءٍ: “آسِفٌ يَا أُمِّي” لَمَسَتْ كَلِمَةُ الِاعْتِذَارِ قَلْبَ عَائِشَةَ. لِأَنَّهَا لَمْ تَكُنْ مُجَرَّدَ كَلِمَةٍ، بَلْ كَانَتْ تَغْيِيرًا، وَبِدَايَةً جَدِيدَةً.
#35) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang berbuat baik kepada keluarganya.” Aisyah berpikir bahwa jika ia ingin rumahnya menjadi rumah yang damai, ia harus memperbaiki dirinya demi keluarganya, demi anaknya, dan menjadi ibu yang lebih baik.
قَالَ النَّبِيُّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ” فَكَّرَتْ عَائِشَةُ أَنَّهَا إِذَا أَرَادَتْ أَنْ يَكُونَ بَيْتُهَا بَيْتًا يَسُودُهُ السَّلَامُ، فَعَلَيْهَا أَنْ تُحْسِنَ مِنْ نَفْسِهَا لِأَجْلِ عَائِلَتِهَا، مِنْ أَجْلِ ابْنِهَا، وَأَنْ تُصْبِحَ أُمًّا أَفْضَلَ.
#36) Menjadi ibu terbaik bukan berarti memarahi atau menceramahi; melainkan mendengarkan, memahami, bersabar, dan memberikan kasih sayang.
الْأُمُومَةُ الْأَفْضَلُ لَا تَعْنِي التَّوْبِيخَ أَوْ إِلْقَاءَ الْمُحَاضَرَاتِ، بَلْ تَعْنِي الْإِصْغَاءَ، وَالتَّفَهُّمَ، وَالصَّبْرَ، وَمَنْحَ الْحُبِّ
#37) Beberapa bulan kemudian, hidup Aisha berubah total. Putranya tidak lagi menyela perkataannya. Dia tidak lagi menghancurkan barang-barang karena marah. Dia tidak lagi mengabaikannya. Sebaliknya, dia datang kepadanya, menceritakan apa yang ada di pikirannya, berbagi kekhawatirannya dengannya, dan berbagi kegembiraannya dengannya.
وَبَعْدَ أَشْهُرٍ، تَغَيَّرَتْ حَيَاةُ عَائِشَةَ تَمَامًا. لَمْ يَعُدِ ابْنُهَا يُقَاطِعُهَا. وَلَمْ يَعُدْ يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ فِي غَضَبِهِ. وَلَمْ يَعُدْ يَتَجَاهَلُهَا. بَلْ أَصْبَحَ يَأْتِي إِلَيْهَا، وَيُخْبِرُهَا بِمَا فِي قَلْبِهِ، وَيُشَارِكُهَا هُمُومَهُ، وَيُشَارِكُهَا أَفْرَاحَهُ.
#38) Aisha tahu bahwa semua ini berasal dari rahmat Allah. Dia telah mengubah gaya pengasuhannya, dan Tuhan telah menganugerahkan kedamaian bagi keluarganya.
وَعَرَفَتْ عَائِشَةُ أَنَّ كُلَّ هَٰذَا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ. لَقَدْ غَيَّرَتْ أُسْلُوبَ تَرْبِيَتِهَا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ السَّلَامَ عَلَى بَيْتِهَا.
#39) Suatu hari, Aisha menulis sebuah unggahan di akun Instagram-nya. Di dalamnya, ia berbagi kisahnya. Ia menulis: “Jika anak Anda keras kepala, jika ia tidak mendengarkan, jika ia marah, lihatlah diri Anda sendiri terlebih dahulu.”
فِي أَحَدِ الْأَيَّامِ، كَتَبَتْ عَائِشَةُ مَنْشُورًا عَلَى حِسَابِهَا فِي إِنْسْتَغْرَام. شَارَكَتْ فِيهِ قِصَّتَهَا. وَكَتَبَتْ: “ إِذَا كَانَ طِفْلُكَ عَنِيدًا، إِذَا لَمْ يَسْتَمِعْ، إِذَا غَضِبَ، فَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ أَوَّلًا.
#40) Periksalah gaya pengasuhan Anda. Apakah Anda mendengarkan anak-anak Anda? Apakah Anda meluangkan waktu untuk mereka? Apakah Anda memahami perasaan mereka? Jika tidak, mulailah dari sana. Berdoalah kepada Tuhan. Bersabarlah dan ubahlah diri Anda sendiri. Anak itu akan berubah dengan sendirinya.
انْظُرْ إِلَى أُسْلُوبِكَ فِي تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ. هَلْ تَسْتَمِعُ إِلَيْهِمْ؟ هَلْ تَمْنَحُهُمُ الْوَقْتَ؟ هَلْ تَفْهَمُ مَشَاعِرَهُمْ؟ وَإِلَّا، فَابْدَأْ مِنْ هُنَاكَ. صَلِّ إِلَى اللهِ. تَحَلَّ بِالصَّبْرِ وَغَيِّرْ نَفْسَكَ. سَيَتَغَيَّرُ الطِّفْلُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ.
#41) Unggahan ini mendapat banyak komentar. Banyak ibu yang berbagi cerita mereka di sini. Aisha menanggapi setiap komentar karena dia merasakan penderitaan yang sama.
حَظِّي هَٰذَا الْمَنْشُورُ بِالتَّعْلِيقَاتِ الْكَثِيرَةِ. وَشَارَكَتْ العَدِيدُ مِنَ الْأُمَّهَاتِ قِصَصَهُنَّ. رَدَّتْ عَائِشَةُ عَلَى كُلِّ تَعْلِيقٍ لِأَنَّهَا شَعَرَتْ بِهَٰذَا الْأَلَمِ أَيْضًا.
#42) Hari ini, Aisha bahagia. Putranya adalah hidupnya. Dia mendengarkan putranya, meluangkan waktunya untuknya, dan memahami perasaannya. Dan putranya menghormatinya, berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang, dan membantunya.
الْيَوْمَ، عَائِشَةُ سَعِيدَةٌ. وَابْنُهَا هُوَ حَيَاتُهَا. تَسْتَمِعُ إِلَيْهِ، وَتَمْنَحُهُ وَقْتَهَا، وَتَفْهَمُ مَشَاعِرَهُ. وَهَذَا الِابْنُ يَحْتَرِمُهَا، وَيَتَحَدَّثُ مَعَهَا بِمَحَبَّةٍ، وَيُسَاعِدُهَا.
#43) Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Sebaliknya, ini adalah buah dari upaya berbulan-bulan, buah dari kesabaran, buah dari doa, buah dari rahmat Allah.
لَمْ يَأْتِ هَٰذَا التَّغْيِيرُ بَيْنَ لَيْلَةٍ وَضُحَاهَا. بَلْ كَانَ ثَمَرَةَ شُهُورٍ مِنَ الْجُهْدِ، ثَمَرَةَ الصَّبْرِ، ثَمَرَةَ الدُّعَاءِ، ثَمَرَةَ رَحْمَةِ اللَّهِ
#44) Jika Anda mengenal seorang gadis seperti Aisha, atau jika Anda adalah ibu dari anak yang keras kepala, ingatlah ini: mendidik anak tidak hanya dilakukan dengan memarahi, tetapi dengan cinta, kesabaran, memberi waktu, dan mendengarkan.
إِذَا كُنْتِ تَعْرِفِينَ فَتَاةً مِثْلَ عَائِشَةَ، أَوْ إِذَا كُنْتِ أُمًّا لِطِفْلٍ عَنِيدٍ، فَتَذَكَّرِي هَذَا: تَرْبِيَةُ الْأَبْنَاءِ لَا تَتِمُّ بِالتَّوْبِيخِ فَقَطْ، بَلْ تَتِمُّ بِالْحُبِّ، وَالصَّبْرِ، وَمَنْحِ الْوَقْتِ، وَالِاسْتِمَاعِ،
#45) Dan yang terpenting, melalui doa. Mintalah pertolongan Allah, ubahlah dirimu, dan kamu akan melihat bagaimana Allah memenuhi rumahmu dengan kedamaian dan kasih sayang. Karena Allahlah yang mengubah hati. Dialah yang memperbaiki hubungan.
وَالأَهَمُّ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ بِالدُّعَاءِ. اطْلُبِي العَوْنَ مِنَ اللهِ، وَغَيِّرِي نَفْسَكِ، وَسَتَرِيْنَ كَيْفَ يَمْلأُ اللهُ بَيْتَكِ بِالسَّلَامِ وَالْمَحَبَّةِ. لِأَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يُغَيِّرُ الْقُلُوبَ. وَهُوَ الَّذِي يُصْلِحُ الْعَلَاقَاتِ.
#46) Dialah yang menjawab doa-doa orang yang dengan tulus memohon kepada-Nya. Yang dibutuhkan hanyalah satu usaha yang tulus, satu niat yang tulus, dan satu doa yang tulus.
وَهُوَ الَّذِي يُجِيبُ الدُّعَاءَ مَنْ يَسْأَلُهُ بِصِدْقٍ. كُلُّ مَا يَتَطَلَّبُ الأَمْرُ هُوَ جُهْدٌ صَادِقٌ وَاحِدٌ، وَنِيَّةٌ صَادِقَةٌ وَاحِدَةٌ، وَدُعَاءٌ صَادِقٌ وَاحِدٌ.
F. Kesimpulan
Perubahan anak sering kali dimulai dari perubahan orang tuanya. Semoga Allah memberi kita kesabaran, hikmah, dan kelembutan dalam mendidik amanah yang telah Dia titipkan.
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

Source Reference :
By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs
Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids
Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-4)
Baca artikel sebelumnya…Mengasuh Anak (Seri-2)…
Baca juga Serial lainnya… Shalat ataukah Rutinitas (Seri-1) …
Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Nahwu …
Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:

Leave a comment