Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Kisah Ahmad (Seri-2)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II. KAJIAN NAHWU SHOROF (KALIMAT-2):

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#2) Kami tinggal bertujuh, saya, istri saya Sarah, anak kami empat, dua anak lelaki dan dua anak perempuan, yaitu utsman, ali, fatimah dan maryam, dan ibu saya halimah tinggal bersama kami.

نَحْنُ سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ نَعِيشُ هُنَا، أَنَا وَزَوْجَتِي سَارَةُ وَأَطْفَالُنَا الْأَرْبَعَةُ، وَلَدَانِ وَبِنْتَانِ، وَهُمْ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ، وَوَالِدَتِي حَلِيمَةُ تَعِيشُ مَعَنَا.


a. Kajian Kalimat: نَحْنُ سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ نَعِيشُ هُنَا، أَنَا وَزَوْجَتِي سَارَةُ وَأَطْفَالُنَا الْأَرْبَعَةُ، وَلَدَانِ وَبِنْتَانِ،

نَحْنُ سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ نَعِيشُ هُنَا، أَنَا وَزَوْجَتِي سَارَةُ وَأَطْفَالُنَا الْأَرْبَعَةُ، وَلَدَانِ وَبِنْتَانِ،

Kami tinggal bertujuh, saya, istri saya Sarah, anak kami empat, dua anak lelaki dan dua anak perempuan,

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah ismiyyah نَحْنُ سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ نَعِيشُ هُنَا, yang terdiri dari:
      • mubtada‘ [marfu‘] dalam bentuk isim dhamir نَحْنُ
      • badal dari mubtada‘ [marfu‘] سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ dalam bentuk idhafiy yang terdiri dari:
        • isim adad سَبْعَةُ
        • Isim ma’dud [majrur] أَشْخَاصٍ . Kaidah ma’dud untuk adad 3-10 adalah dalam bentuk isim jamak majrur.
      • khabar [marfu‘] dalam bentuk jumlah fi’liyyah نَعِيشُ هُنَا, yang terdiri dari:
        • fi’il mudhari’ نَعِيشُ dengan isim dhamir rafa’ muttasil نَ (kami)
        • zharf makan هُنَا
  2. Ini kalimat nominal (jumlah ismiyyah)1. Jumlah ismiyyah terdiri dari mubtada’ (subyek) dan Khabar (predikat).
  3. Kata/lafadz 2 نَحْنُ (kami) adalah mubtada’ nya, berupa isim dhamir (kata ganti orang pertama jamak, ‘kami’). Kaidah I’rab (harakat/ tanda baca untuk huruf terakhir) harus di-rafa’ (harakat dhammah ـُ ). Namun untuk isim dhamir sifat katanya adalah mabni (tidak berubah harakat huruf akhirnya), sehingga tetap tertulis نَحْنُ. Hal yang sama berlaku untuk yang lainnya, diantaranya : أَنْتَ، أَنَا، هُوَ، هِيَ dsb.
  4. Lafadz سَبْعَةُ (tujuh) adalah khabar-nya, berupa isim juga yaitu isim adad (bilangan 1,2…). Isim ini sifatnya mu’rab 3, artinya bisa di-I’rab atau bisa berubah harakatnya. Harakat untuk isim adad adalah marfu’ , sehingga tertulis سَبْعَةُ dengan harakat dhammah ةُ.
  5. Lafadz أَشْخَاصٍ (orang, jamak) adalah isim ma’dud (yang terbilang) 4, berperan sebagai mudhaf ilaihi bagi kata sebelumnya سَبْعَةُ, dan I’rab nya majrur/ di-kasrah. Aturan untuk isim ma’dud, untuk adad bilangan 3-10 adalah jamak, dan ma’dud nya harus jamak dengan I’rab kasrah tanwin (ـٍ). Bentuk tunggal dari kata ini adalah شَخْصٌ (orang).
  6. Frase kalimat نَعِيشُ هُنَا (kami tinggal disini) secara terpisah adalah jumlah fi’liyah (kalimat verbal) dengan fi’il (kata kerja) عَاشَ – يَعِيْشُ merujuk pada pola tashrif no.1 pada tabel Tashrif. Isim dhomir muttasil rafa‘ 5 (kata ganti yang tersambung disini adalah نَـ (kami), sebagai penjelas dari kata نهن di awal kalimat. Ini adalah fi’il lazim yaitu tidak memerlukan obyek. Sedangkan yang memerlukan obyek disebut fi’il muta’addi.
  7. Jumlah fi’liyah tersebut menjelaskan sifat dari أَشْخَاصٍ.
  8. Lafadz هُنَا adalah zharf makan (keterangan tempat).

b. Kajian Kalimat: وَهُمْ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ، وَوَالِدَتِي حَلِيمَةُ تَعِيشُ مَعَنَا

وَهُمْ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ، وَوَالِدَتِي حَلِيمَةُ تَعِيشُ مَعَنَا

, … yaitu utsman, ali, fatimah dan maryam, dan ibu saya halimah tinggal bersama kami.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah ismiyyah وَهُمْ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ, yang terdiri dari:
      • mubtada‘ dalam bentuk isim dhamir munfasil هُمْ
      • khabar [marfu‘] dalam bentuk 4 isim alam عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ yang disambung dengan huruf athaf وَ
    • jumlah ismiyyah وَالِدَتِي حَلِيمَةُ تَعِيشُ مَعَنَا, yang terdiri dari:
      • mubtada‘ [marfu‘] dalam bentuk idhafiy yang terdiri dari:
        • mudhaf [marfu‘] dalam bentuk isim mufrad muannats وَالِدَةُ
        • mudhaf ilaih dalam bentuk dhamir majrur أَنَا – ي (saya)
      • badal mubtada’ [marfu‘] حَلِيمَةُ
      • khabar dalam bentuk jumlah fi’liyyah تَعِيشُ مَعَنَا , yang terdiri dari :
        • fi’il mudhari’ تَعِيشُ dengan dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تَ
        • zharf makan مَعَنَا dengan dhamir jar muttasil نَحْنُ – نَا
  2. Lafadz وَ adalah huruf athaf 6 (sambung) dari isim sesudahnya (هُمْ, mereka) dengan isim sebelumnya. هُمْ adalah mubtada’ .
  3. Frase/tarkib/murakkab 7 عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ (usman, dan ali, dan fatimah, dan maryam) adalah Khabar dengan huruf sambung وَ untuk setiap tambahan isimnya.
  4. Frase kalimat وَوَالِدَتِي حَلِيمَةُ (dan ibuku Halimah) Ini jumlah ismiyyah dengan mubtada’ وَالِدَتِي dan khabarnya حَلِيمَةُ, yang berfungsi juga sebagai badal dari kata sebelumnya وَالِدَتِي.
  5. Lafadz عَائِلَةِ menjadi mudhaf dengan mudhaf ilaihi nya adalah isim dhamir majrur muttasil 8 ـتِي (artinya milik saya).
  6. Frase kalimat تَعِيشُ مَعَنَا adalah jumlah fi’liyah dengan struktur sama dengan kalimat sebelumnya.

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri.

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Kisah Ahmad (The Story)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Baca selanjutnya… Kisah Ahmad (Seri-3) …

Baca Sebelumnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ FootNote:

  1. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎
  2. Kata/ Lafadz:
    Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
    Isim اِسْمٌ (kata benda)
    Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
    Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
    Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
    Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
    Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
    Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
    ↩︎
  3. Mu’rab adalah kata-kata yang harakatnya bisa berubah akibat pengaruh kedudukannya (amil) dalam kalimat. I’rab adalah perubahan tanda akhir kata berdasarkan fungsinya dalam kalimat.
    Ada 4 status i’rab utama:
    a. Rafa’ (Marfu’): Kondisi dasar kata yang biasanya ditandai dengan harakat dhammah ـُـ
    b. Nashab (Manshub): Ditandai dengan harakat fathah ـَ atau huruf Alif ا.
    c. Jarr (Majrur):Kondisi khusus untuk kata benda yang biasanya ditandai dengan harakat kasrah atau huruf ya ي.
    d. Jazem (Majzum): Kondisi khusus untuk kata kerja yang umumnya ditandai dengan harakat sukun atau penghilangan huruf. ↩︎
  4. Isim adad adalah kata benda dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti bilangan atau angka. Sedangkan isim ma’dud adalah kata benda yang mengikuti adad atau benda yang sedang dihitung/dibilang. 
    Contohnya dalam kalimat “empat kursi”, kata “empat” adalah adad, dan kata “kursi” adalah ma’dud.
    Macam-Macam Isim Adad dalam tata bahasa Arab (nahwu), adad dibagi menjadi empat jenis utama:
    Adad Mufrad: Bilangan murni dari angka 1 sampai 10, ditambah kata seperti 100 (mi’ah) dan 1000 (alf).
    Adad Murakkab: Bilangan susun dari angka 11 sampai 19.
    Adad ‘Uqud: Bilangan kelipatan puluhan dari 20 sampai 90 (seperti 20, 30, 40).
    Adad Ma’thuf: Bilangan gabungan atau rangkaian antara satuan dan puluhan dari 21 sampai 99 (kecuali kelipatan puluhan pas). ↩︎
  5. Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek/fa’il atau obyek/maf’ul bih yang menyatu satu kata dengan fi’il. Untuk fa’il yang kaidah i’rab-nya marfu’, maka isim dhamir nya disebut sebagai dhamir rafa’, dan untuk maf’ul bih yang kaidah i’rab-nya manshub maka isim dhamir nya disebut dhamir nashab.
    a. Dhamir Rafa’ (sebagai fa’il)
    _Rincian:
    Dhamir Rafa’.
    Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
    Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
    ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
    ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
    Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
    Dhamir rafa’ ghoib
    ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
    ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi ↩︎
  6. Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
    Daftar huruf Athaf:
    a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
    b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
    c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
    Contoh:
    جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ ↩︎
  7. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎
  8. Isim dhamir majrur muttasil adalah isim dhamir yang kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi yang irab-nya majrur/kasrah (fi mahalli jarrin mudhaf ilaih), dan dituliskan menempel di akhir kata benda/isim yang menjadi mudhaf-nya. Kedudukan ini menunjukkan kepemilikan (posesif) seperti “rumahku“, “kemejamu“, “mobil dia“.
    Berikut cara penulisan dhamir majrur:
    Orang pertama (mutakallim/pembicara): Saya: كِتَابِي – buku saya
    Kami: كِتَابُنَا – buku kami
    Orang kedua (mukhatab/orang yang diajak bicara): Kamu lk.: كِتَابُكَ – buku kamu lk.
    Kamu pr.: كِتَابُكِ – buku kamu pr.
    Kalian lk.: كِتَابُكُمْ – buku kalian lk.
    Kalian pr.: كِتَابُكُنَّ – buku kalian pr.
    Kalian berdua: كِتَابُكُمَا – buku kalian berdua
    Orang ketiga (ghoib/orang yang dibicarakan): Dia lk.: كِتَابُهُ – buku dia lk.
    Dia pr.: كِتَابُهَا – buku dia pr.
    Mereka lk.: كِتَابُهُمْ – buku mereka lk.
    Mereka pr.: كِتَابُهُنَّ – buku mereka pr.
    Mereka berdua: كِتَابُهُمَا – buku mereka berdua
    Catatan penting:
    Untuk dhamir orang ketiga yang diawali huruf Ha (ـهُ / ـهُمَا / ـهُمْ / ـهُنَّ), harakatnya akan berubah menjadi kasrah (ـهِ / ـهِمَا / ـهِمْ / ـهِنَّ) jika isim (mudhaf) di depannya diakhiri dengan harakat kasrah atau huruf Ya sukun (يْ).
    Contoh normal: بَيْتُهُ (rumah dia lk.)
    Contoh perubahan-1: فِي بَيْتِهِ (di rumah dia lk.) << harakatnya ikut berubah menjadi kasrah. ↩︎

Responses

Leave a Reply