Kisah Ahmad (Seri-1)

DAFTAR ISI:

PENGANTAR ARTIKEL

_Klik disini…

Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas  berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.

Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.

Blog dengan konten ilustratif serial “Kisah Ahmad” ini akan kami sajikan dalam beberapa seri, dan pembahasan tiap seri untuk paragraf kisah sesuai dengan nomer paragraf (#1, #2…dst).

Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.

Penyusun…:


KISAH AHMAD.

#1) Saya Ahmad, saya tinggal di rumah bersama keluarga saya.

أَنَا أَحْمَدُ, أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

#2) Kami tinggal bertujuh, saya, istri saya Sarah, anak kami empat, dua anak lelaki dan dua anak perempuan, yaitu utsman, ali, fatimah dan maryam, dan ibu saya halimah tinggal bersama kami.

نَحْنُ سَبْعَةُ أَشْخَاصٍ نَعِيشُ هُنَا، أَنَا وَزَوْجَتِي سَارَةُ وَأَطْفَالُنَا الْأَرْبَعَةُ، وَلَدَانِ وَبِنْتَانِ، وَهُمْ عُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَمَرْيَمُ، وَوَالِدَتِي حَلِيمَةُ تَعِيشُ مَعَنَا.

#3) Di saat saya sedang duduk di teras depan, istriku, Sarah berteriak:tolong!, kemarilah suamiku, disini ada kecoa, aku takut

بَيْنَمَا كُنْتُ أَجْلِسُ عَلَى الشُّرْفَةِ الْأَمَامِيَّةِ، صَرَخَتْ زَوْجَتِي سَارَةُ: النَّجْدَةُ! تَعَالَ إِلَى هُنَا يَا زَوْجِي، هُنَاكَ صُرْصُورٌ هُنَا، أَنَا خَائِفَةٌ

#4) Saya bilang “biarkan saja binatang kecil itu, nanti juga pergi. Itu penanda bahwa rumah kita perlu dibersihkan lebih sering.

قُلْتُ: “اتْرُكِ الْدُوَيبَةَ الصَّغِيرَ وَشَأْنَهُ، سَيَزُولُ فِي النِّهَايَةِ. إِنَّهَا عَلَامَةٌ عَلَى أَنَّ مَنْزِلَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى تَنْظِيفٍ أَكْثَرَ تِكْرَارًا.”.”

 

Fragmen kisah serial diatas yang ditulis dalam bahasa arab terdiri dari kalam-kalam (kalimat yang mengandung makna), yang dalam memahami artinya, kita perlu mempelajari ilmu tata bahasa arab, terutama ilmu Nahwu dan ilmu Shorof.

PEMBAHASAN KISAH DARI SISI TATA BAHASA ARAB (KAJIAN NAHWU SHOROF):

 

Sekarang, mari kita ulas kalimat-kalimat dan kata-kata bahasa arab diatas dalam ilmu nahwu dan shorof secara singkat. Karena tiap kata bisa memiliki lebih dari satu peran dalam ilmu tata bahasa.


#1) Saya Ahmad, saya tinggal di rumah bersama keluarga saya.

أَنَا أَحْمَدُ, أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

Cuplikan Kalimat-1:

أَنَا أَحْمَدُ,

Saya Ahmad

  1. Ini kalimat nominal (jumlah ismiyyah 1) paling sederhana. Jumlah ismiyyah terdiri dari mubtada’ (subyek) dan Khabar (predikat).
  2. Kata أَنَا (artinya: saya) adalah mubtada’ nya, berupa isim dhamir (kata ganti orang pertama, ‘saya’). Kaidah I’rab (harakat/ tanda baca untuk huruf terakhir) harus di-rafa’ (harakat dhammah ـُ ). Namun untuk isim dhamir sifat katanya adalah mabni (tidak berubah harakat huruf akhirnya), sehingga tetap tertulis أَنَا. Hal yang sama berlaku untuk yang lainnya, diantaranya : أَنْتَ، نَهْنُ، هُوَ، هِيَ dsb.
  3. Kata أَحْمَدُ adalah khabar-nya, berupa isim juga yaitu isim alam (nama orang, binatang dll.). Isim ini sifatnya mu’rab, artinya bisa di-I’rab atau bisa berubah harakatnya. Untuk Khabar harakatnya adalah rafa’ , sehingga tertulis  أَحْمَدُ dengan harakat dhammah دُ .

 

Cuplikan Kalimat-2:

أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

, … saya tinggal di rumah bersama keluarga saya.

  1. Ini adalah jumlah fi’liyah 2 (kalimat verbal) yang diawali oleh fi’il (kata kerja) dan diikuti oleh Fa’il (subyek/ pelaku) dan maf’ul bih (obyek).
  2. Dalam bahasa arab, fi’il, fa’il dan maf’ul bih dapat digabung menjadi satu kata tersambung. أَعِيشُ (artinya:saya tinggal) adalah fi’il Mudhari’ (kata kerja masa sekarang/ akan datang) yang sudah ada fa’il nya yaitu أـ (saya) di awalannya. Artinya ‘saya tinggal’. Kata kerja ini tidak memerlukan obyek dan disebut fi’il lazim 3. Adapun untuk fi’il yang membutuhkan obyek disebut fi’il muta’addi 4.
  3. Dalam ilmu Sharaf, perubahan kata dalam suatu kata disebut Tashrif. Ada 22 bentuk/Wazan tashrif, sebagaimana yang penulis cantumkan di bagian bawah konten ini.
  4. Kata أَعِيشُ masuk pola tashrif no.1 di tabel tersebut dengan pola عَاشَ – يَعِيْشُ .
  5. Kata فِي الْمَنْزِلِ (artinya: di rumah) adalah kata keterangan dalam bentuk jar majrur. Artinya terdiri dari huruf jar ( فِيْ ), dan isim yang majrur 5 (harakatnya di-rafa’ /kasrah). Disini terlihat huruf terakhir yang di-kasrah لِ.
  6. Kata مَعَ (artinya: bersama) , adalah isim zharf makan 6 (kata keterangan tempat), dan bersifat sebagai mudhaf (disandarkan), dan diikuti mudhaf ilaihi (kata yang kepadanya mudhaf disandarkan) 7.
  7. Kata عَائِلَتِي (artinya: keluarga saya) adalah mudhaf ilaihi nya. I’rab nya majrur/di-kasrah عَائِلَةِ (keluarga).
  8. Namun عَائِلَةِ menjadi mudhaf juga dengan mudhaf ilaihi nya adalah isim dhamir ـتِي (artinya milik saya).

Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>


Baca selanjutnya… Kisah Ahmad (Seri-2)

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1)

Baca juga… Ilmu Nahwu

Baca juga… Tabel Tashrif …

Baca juga… Ilmu Shorof

Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid
    ↩︎
  2. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    • a. Fi’il (kata kerja)
    • b. fa’il (pelaku/subjek)
    • c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    • a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  3. Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh:
    o a) جَلَسَ duduk
    o b) قامَ berdiri
    ↩︎
  4. Fi’il muta’addi adalah kata kerja yang butuh pelaku (fa’il) dan memerlukan objek (maf’ul bih) secara langsung supaya arti kalimatnya jelas dan lengkap.
    contoh:
    o a) أَكَلَ memakan
    o b) ضَرَبَ memukul
    ↩︎
  5. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎
  6. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  7. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎

Responses

  1. […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

  2. […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

  3. […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

Leave a comment