
Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-4)
DAFTAR ISI:

|
I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-4)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).
أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
a. Kajian Kalimat… أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ.
أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ.
Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah fi’liyyah ke-1 أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ yang terdiri dari :
- zharf zaman [manshub] أَحْيَانًا
- fi’il mudhari’ lazim لَا نَتَوَقَّفُ yang didahui oleh la nafiyah لَا
- fa’il dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil نَحْنُ – نَ
- muta’alliq bil fi’li عَنِ الْعِبَادَةِ , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq عَنْ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq الْعِبَادَةِ
- jumlah fi’liyyah ke-2 بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ yang terdiri dari :
- Haal dalam bentuk sybhul jumlah jar wa majrur بِبَسَاطَةٍ
- fi’il mudhari’ lazim نَتَوَقَّفُ
- fa’il dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil نَحْنُ – نَ
- muta’alliq bil fi’li عَنِ التَّوَاجُدِ , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq عَنْ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq التَّوَاجُدِ (masdar)
- muta’alliq bil masdar فِيهِ, yang terkait ke masdar (kata sebelumnya) التَّوَاجُدِ
- jumlah fi’liyyah الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ, yang terdiri dari :
- mubtada‘ [marfu‘] الْبَشَرُ
- khabar [marfu‘] dalam bentuk idhafiy مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ, yang terdiri dari :
- mudhaf مَخْلُوقَاتُ
- mudhaf ilaih [majrur] عَادَاتٍ
- jumlah fi’liyyah ke-1 أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ yang terdiri dari :
- Kata/lafadz 1 أَحْيَانًا (kadang-kadang) Zharf zaman 2 / kata keterangan waktu, dimana I’rab untuk semua Zharf (dan maf’ul) adalah manshub/fathah (lihat bab ‘Isim-isim Manshub’ pada materi Ilmu Nahwu).
- Lafadz لَا (tidak) disini laa nafiyah yang menafikan fi’il sesudahnya نَتَوَقَّفُ. Huruf ini tidak merubah I’rab, berbeda dengan laa nahiyah لَا (artinya ‘jangan’) yang merubah I’rab fi’il menjadi jazm/sukun. Contoh: لَا تَقْرَأْ ‘jangan baca’.
- Lafadz نَتَوَقَّفُ (kita berhenti) adalah fi’il nya (mudhari’ lazim ) pada kalimat ini yang memiliki pola tashrif no.12 3 تَفَعَّلَ dengan dhamir rafa’muttasil nya نَـ (kita).
- Frase/tarkib/murakkab 4 عَنِ الْعِبَادَةِ (dari ibadah) adalah jar majrur 5 , artinya ‘dari peribadatan’. (lihat bab ‘Isim-isim majrur pada materi ilmu nahwu). Kedudukan murakkab ini adalah muta’alliq bil fi’li 6 , yaitu obyek tak langsung/ yang dihubungkan ke fi’il lazim dengan bantuan huruf ta’alluq (berupa huruf jar).
- Murakkab بِبَسَاطَةٍ (sederhananya/ namun sebenarnya). Ini jar majrur dengan huruf jar بِ diikuti isim majrur berbentuk masdar بَسَاطَةٍ . Masdar ini dari fi’il بَسُطَ – يَبْسُطُ (pola tashrif no.6 7 (fi’il tsulatsi mujarrad).
- Murakkab عَنِ التَّوَاجُدِ (dari kehadiran) adalah jar majrur. تَوَاجُدِ yang artinya di kamus ‘hadir/ada’ adalah isim bentuk masdar dari fi’il تَوَاجَدَ. Kata ini akar katanya adalah وُجِدَ (ada, tersedia, ditemukan), dan dengan berubahnya tashrif, maka faidah/arti yang lebih tepatnya adalah ‘berangsur menjadi ada/tersedia). (Lihat tabel Pola Tashrif no.13 8 , faidah no.5).
- Kehalusan makna bahasa arab disini mengindikasikan bahwa ‘kehadiran hati’ dalam shalat adalah proses yang perlu waktu dan berangsur’… subhanallah, betapa anggun dan efektifnya bahasa arab!. Inilah alasan semakin tertariknya kita terhadap bahasa arab, jauh melebihi keunggulan bahasa Inggris yang menjadi bahasa global.
- Lafadz فِيهِ adalah jar majrur dengan arti ‘didalam-nya’. فِي adalah huruf jar, dan ـهِ disini kata ganti bentuk mudzakar.
- Frase الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ (manusia makhluk kebiasaan). Ini adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dengan Khabar nya dalam bentuk mudhaf.
- Lafadz الْبَشَرُ artinya “diri manusia” dalam arti salah satu dari ciptaan Allah yang bernyawa, selain makhluk hewan yang disebut الْحَيَوَانُ. Adapun untuk menunjuk pada manusia kolektif dalam konteks Khalifah/insan, maka kata yang tepat adalah الْإِنْسَانُ. Kalau merujuk pada ‘seseorang’ maka dipakai شَخْصٌ.
- Lafadz مَخْلُوقَاتُ artinya ‘makhluk-makhluk’ berbentuk isim jamak muannats (kata benda banyak berjenis perempuan), yaitu dibentuk dari isim mufrad muannats (tunggal) مَخْلُوقَةٌ dengan mengganti ‘ta marbutoh ة’ dengan ـَاتُ (…atu). Ini adalah mudhaf (yang disandarkan).
- Adapun mudhaf ilaihi nya adalah kata sesudahnya yaitu عَادَاتٍ dengan I’rab majrur/kasrah. Ini juga jamak muannats, dimana mufradnya adalah عَادَةٌ.
b. Kajian Kalimat… الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ.
الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ.
…, Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi.
الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah ismiyyah: الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ , yang terdiri dari :
- mubtada‘ [marfu‘] الْعَادَاتُ
- khabar dalam bentuk kalimat جَعَلَ (dzonna dan keluarganya) تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ , yang terdiri dari :
- fi’il تَجْعَلُ
- mubtada‘ [manshub] الْحَيَاةَ
- khabar [manshub] أَسْهَلَ
- jumlah fi’liyyah : إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ dalam bentuk kalimat inna, yang terdiri dari :
- huruf taukid [amil nashab] إِنَّ
- isim inna [fi mahalli nashbin] dalam bentuk isim dhamir هُوَ – هَا
- khabar inna [fi mahalli raf’in] dalam bentuk jumlah fi’liyyah تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ , yang terdiri dari :
- fi’il mudhari‘ تُسَاعِدُ
- maf’ul bih dalam bentuk dhamir nashab نَحْنُ – نَ
- murakkab عَلَى الْحِفَاظِ
- muta’alliq bil masdar عَلَى الِاتِّسَاقِ terkait ke masdar الْحِفَاظِ
- jumlah ismiyyah: الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ , yang terdiri dari :
- Kalimat pertama ini adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal). Karena khabarnya berupa fi’il maka I’rab nya tidak perlu di-rafa’, namun tetap mengikuti kaidah fi’il.
- Lafadz الْعَادَاتُ (kebiasaan-kebiasaan) adalah mubtada’ (subyek) dengan bentuk isim jamak muannats (majemuk perempuan), yaitu dibentuk dari isim mufrad الْعَادَةُ dibuang ta marbutoh nya (ة) dan ditambahkan akhiran ـَاتُ.
- Fi’il تَجْعَلُ (membuat, menjadikan) adalah keluarga dzonna wa akhawatuha 9 yang menashabkan mubtada’ dan khabar sekaligus, dalam hal ini, mubtada’ nya الْحَيَاةَ , dan khabar-nya أَسْهَلَ .
- Lafadz تَجْعَلُ termasuk fi’il Mudhari’ dengan pola tashrif no.3 10 فَعَلَ – يَجْعَلُ dengan dhamir rafa’ muttasil (kata ganti subyek yang di-rafa’ ) adalah تَـ (dia pr.) yang merujuk pada الْعَادَةُ yang muannats.
- Lafadz أَسْهَلَ ‘lebih mudah’ adalah isim tafdhil dengan wazan أفعلُ , ini di-nashab karena berperan sebagai khabar kalimat جَعَلَ . Kata أَسْهَلُ berasal dari kata sifat سَهْلٌ ‘mudah’.
- Kalimat إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ :
- Frase إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا (itu membantu kita) adalah tergolong inna dan saudaranya 11 . dengan هَا sebagai isim inna (manshub, namun karena isim dhomir maka tetap mabni). تُسَاعِدُ sebagai khabar inna (marfu).
- Muta’alliq bil fi’li عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى adalah jar majrur dengan huruf ta’alluq عَلَى, isim majrurnya berupa masdar الْحِفَاظِ (penjagaan atas). Masdar ini berasal dari fiil حَافِظَ, dimana selain حَافِظَ، tashrif masdar utamanya adalah مُحَافَظَةٌ, mengikuti pola tashrif no. 9 12 .
c. Kajian Kalimat… وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah ismiyyah وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ , yang terdiri dari :
- huruf istidrak وَلَكِنْ
- khabar muqoddam (khabar yang didahulukan) dalam bentuk zharf makan [mabni] هُنَاكَ
- mubtada’ muakhkhar (subyek yang diakhirkan) [marfu‘] خَطَرٌ خَفِيٌّ , dalam bentuk murakkab washfiy, yang terdiri dari :
- man’ut خَطَرٌ (marfu’ karena sebagai mubtada’)
- na’at خَفِيٌّ (marfu’ karena mengikuti man’ut)
- kalimat pengandaian عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا, yang terdiri dari:
- huruf pengandai عِنْدَمَا
- jumlah syarat يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا, dalam bentuk kalimat kaana dan saudaranya (ashbaha), yang terdiri dari :
- fi’il naqish ashbaha يُصْبِحُ
- isim ashbaha [marfu‘] شَيْءٌ مَا
- khabar ashbaha [manshub] تِلْقَائِيًّا
- jumlah jawab syarat قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari :
- huruf taqlil قَدْ (mungkin) yang tidak merubah harakat
- fi’il mudhari’ lazim تَغِيبُ
- fa’il [marfu‘] dalam bentuk idhafiy قُلُوبُنَا , yang terdiri dari:
- mudhaf قُلُوبُ
- mudhaf ilaih نَحْنُ – نَا
- maf’ul mutlaq [manshub] تَدْرِيجِيًّا
- jumlah ismiyyah وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ , yang terdiri dari :
- Lafadz وَلَكِنْ (tetapi) adalah huruf istidrak (pengoreksi) 13 yang tidak merubah harakat.
- Lafadz خَفِيٌّ (tersembunyi) adalah Naat (kata sifat) 14 dari kata sebelumnya خَطَرٌ, sehingga i’rab nya mengikuti (Marfu‘ ).
- Lafadz عِنْدَمَا (disaat, ketika) . tergolong isim syarat (huruf pengandai) 15 dalam bentuk bermakna ‘ketika’, yang mana berasal dari gabungan عِنْدَ yang merupakan zharf makan, dan huruf مَا.
- Lafadz شَيْءٌ مَا, perlu diperhatikan adanya tambahan مَا disini. Ini menunjukkan bahwa ‘sesuatu’ itu tidak begitu jelas, yang penting ada ‘sesuatu’ apapun itu.
- Lafadz تِلْقَائِيًّا (otomatis) berfungsi sebagai khabar ashbaha Manshub.
- Lafadz تَدْرِيجِيًّا. (bertahap, perlahan) sebagai maf’ul mutlaq 16 , sebagai penjelas sifat atau cara dari kata kerja sebelumnya تَغِيبُ .
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 4 EPISODE (LINK)
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 4 Episode sebagai berikut:
A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat
B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran
C. Tiga (3) Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali
D. Kesimpulan
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
YouTube By: Noordiaryframes
Judul: Are You Worshipping Allah… Or Just Following a Routine? https://youtu.be/d3-TECxXh1E?si=T5MjxJJYJ6PtLP6R
Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-5) …
Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) …
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Kata/ Lafadz:
Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
Isim اِسْمٌ (kata benda)
Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
↩︎ - Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎ - Pola tashrif 12: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ – تَفَعَّلْ – تَفَعُّلًا – مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ – تُفُعِّلَ – يُتَفَعَّلُ
Wazan ini merupakan bentuk mutawa’ah (hasil/dampak) dari wazan fa”ala, dan juga sering bermakna Takalluf (berusaha keras).
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَعَّلَ diantaranya :
1. Ter-/ber-/Menjadi pecah — تَكَسَّرَ
2. Memaksakan melihat — تَبَصَّرَ
3. Aku menjadikan Yusuf sbg anak — تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
4. Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
5. Membuat menjadi janda — تَأَيَّمَتْ
6. Me-neguk beberapa kali — تَجَرَّعَ
7. Meminta memper-jelaskan — تَبَيَّنَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
menjauhi : تَجَنَّبَ
mengganti : تَبَدَّلَ
mendekat : تَقَرَّبَ
maju, berkembang : تَقَدَّمَ – يَتَقَدَّمُ
berwudhu : تَوَضَّأَ
terpecah : تَكَسَّرَ
terlambat : تَأَخَّرَ – يَتَأَخَّرُ
berubah : تَغَيَّرَ – يَتَغَيَّرُ
bersengaja : تَعَمَّدَ
memikirkan, merenungkan : تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ
mengingat : تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ
berbicara : تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ
belajar, mempelajari : تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ – تَعَلَّمْ – تَعَلُّمًا – مُتَعَلِّمٌ – مُتَعَلَّمٌ – لَا تَتَعَلَّمْ – مُتَعَلَّمٌ
dipelajari : تُعُلِّمَ – يُتَعَلَّمُ ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih
2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
Dua jenis utama sybhul jumlah:
Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan u064a atau u0648 tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎ - Pola tashrif 2: فَعَلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
duduk : قَعَدَ – يَقْعُدُ
menutupi : سَتَرَ – يَسْتُرُ
melihat : نَظَرَ – يَنْظُرُ
bersujud : سَجَدَ – يَسْجُدُ
menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ – اُنْصُرْ – نَصْرًا – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ – لَا تَنْصُرْ
ditolong : نُصِرَ – يُنْصَرُ ↩︎ - Pola tashrif 13: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعَلْ- تَفَاعُلًا- مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ – تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
Pola wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ biasanya digunakan untuk menunjukkan makna saling melakukan (musyarakah) antara dua pihak atau lebih, atau berpura-pura.
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَاعَلَ diantaranya :
1. Saling ber-damai — تَصَالَحَ
2. Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
3. Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
4. = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
5. Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
saling menolong, bekerja sama: تَعَاوَنَ – يَتَعَاوَنُ
saling bersalaman : تَصَافَحَ – يَتَصَافَحُ
mengabaikan, pura-pura tidak tahu : تَجَاهَلَ – يَتَجَاهَلُ
pura-pura sakit : تَمَارَضَ – يَتَمَارَضُ
pura-pura tidur : تَنَاوَمَ – يَتَنَاوَمُ
pura-pura lalai : تَغَافَلَ
saling bertanya : تَسَاءَلَ
bercakap-cakap : تَحَادَثَ
saling menjauh : تَبَاعَدَ
berdekat-dekatan : تَقَارَبَ
bermain-main : تَلَاعَبَ
saling bertukar : تَبَادَلَ – يَتَبَادَلُ – تَبَادَلْ – تَبَادُلًا – مُتَبَادِلٌ – مُتَبَادَلٌ – لَا تَتَبَادَلْ – مُتَبَادَلٌ
saling dipertukarkan : تُبُودِلَ – يُتَبَادَلُ ↩︎ - 3. Keluarga ظَنَّ وأَخَوَاتُهَا (Dzonna)
Kelompok ini disebut sebagai Af’alul Qulub wal-Tahwil. Berbeda dengan Kana dan Kaada, kelompok Dzonna menashobkan mubtada dan khobar sekaligus, dan mengubah keduanya menjadi objek pertama (Maf’ul bih 1) dan objek kedua (Maf’ul bih 2).
Kelompok ini dibagi menjadi 2 bagian utama:
Af’alul Qulub (Kata kerja hati/keyakinan/dugaan): ظَنَّ (Dzonna) = Menduga / Mengira
حَسِبَ (Hasiba) = Mengira
خَالَ (Khaala) = Membayangkan / Mengira
زَعَمَ (Za’ama) = Mengklaim / Mengira
رَأَى (Ro’aa) = Melihat (dengan keyakinan hati)
عَلِمَ (‘Alima) = Mengetahui
وَجَدَ (Wajada) = Menemukan / Mendapati
سَمِعَ. (Samia) = mendengarkan
Af’alul Tahwil (Kata kerja yang bermakna mengubah status/mengubah bentuk): صَيَّرَ (Shoyyara) = Mengubah / Menjadikan
جَعَلَ (Ja’ala) = Menjadikan
اتَّخَذَ (Ittakhadza) = Mengambil / Menjadikan ↩︎ - Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ ↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎ - Pola tashrif 9: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ – فَاعِلْ- … – مُفَاعِلٌ، مُفَاعَلٌ – فُوعِلَ – يُفَاعَلُ
Fungsi utamanya adalah Musyarakah (saling). Wazan ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh dua pihak atau lebih secara timbal balik.
Faidah/arti fi’il dengan wazan فَاعَلَ diantaranya :
1. Saling me-mukul — ضَارَبَ
2. Memperbanyak pahala — يُضَاعِفُ
3. = Fi’il mujarrad, memberkahi — بَارَكَ
4. = أَفْعَلَ, menjauhkan — بَاعَدَ = أَبْعَدَ
5. Terus-menerus membaca — طَالَعَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
bersabar : صَابَرَ
saling melihat : نَاظَرَ
munafik : نَافَقَ
membantu : سَاعَدَ
berkhutbah : خَاطَبَ
berperang : قَاتَلَ
menemui, bertemu : قَابَلَ – يُقَابِلُ
menyetujui, cocok : وَافَقَ – يُوَافِقُ
berjihad, bersungguh-sungguh : جَاهَدَ – يُجَاهِدُ
bermusyawarah, berunding : شَاوَرَ – يُشَاوِرُ
bepergian: سَافَرَ – يُسَافِرُ – سَافِرْ – مُسَافَرَةٌ – مُسَافِرٌ – مُسَافَرٌ – لَا تُسَافِرْ
dijadikan pergi : سُوفِرَ – يُسَافَرُ ↩︎ - Huruf وَلَكِنْ (artinya tetapi, namun) adalah huruf istidrak (اِسْتِدْرَكْ ) yang berfungsi sebagai kata penilai atau pembatas untuk mengoreksi atau menyela pernyataan sebelumnya. Sebagai huruf ibtida‘ , maka وَلَكِنْ tidak menashabkan isim atau merofa’kan khabar seperti inna dan saudaranya.
Contoh: وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ (tetapi ada bahaya tersembunyi)
Keterangan: setelah وَلَكِنْ adalah seperti isim dan khabar apabila dengan inna. ↩︎ - Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
Keterangan:
a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎ - Isim Syarat (diikuti kalimat syarat & jawab syarat): _ إَذَا jika, apabila
_ مَنْ siapa saja/ barang siapa
_ مَتَى kapan saja
_ مَا apa saja
_ مَهْمَا bagaimana saja ↩︎ - _Definisi Maf’ul Mutlaq:
Isim yang berfungsi menguatkan suatu perbuatan; menjelaskan bilangannya; atau menjelaskan macamnya.
Ciri-ciri maf’ul mutlaq adalah biasanya berupa masdar yang lafadznya sejenis atau berasal dari akar kata kerja yang mendahului (yang disebut sebelumnya).
Contoh: a. نَظَرْتُ نَظْرًا. Saya melihatnya [betul-betul melihat نظرا ]
b. أكَلْتُ أكْلَةً. Saya makan [satu kali makan/suap أكلة]. Lihat: ada akhiran ةً untuk menjelaskan bilangan.
c. نَظَرْتُ نَظْرًا طَوِيْلًا. Saya melihat [dengan melihat نظرا lama sekali طويلا ]
↩︎
Leave a Reply