Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-4)

Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-4)

DAFTAR ISI:

|

I._PENGANTAR ARTIKEL

_klik disini…

Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas  berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.

Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.

Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.

Penyusun…:


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-4)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).

أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.

Cuplikan Kalimat…

a.

أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ.

Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan.

  1. Kata أَحْيَانًا Zharf zaman 1 / kata keterangan waktu, dimana I’rab untuk semua Zharf (dan maf’ul) adalah nashab/fathah (lihat bab ‘Isim-isim Manshub’ pada materi Ilmu Nahwu).
  2. Kata لَا disini laa nafiyah yang menafikan fi’il sesudahnya نَتَوَقَّفُ. Huruf ini tidak merubah I’rab, berbeda dengan laa nahiyah لَا (artinya ‘jangan’) yang merubah I’rab fi’il menjadi jazm/sukun. Contoh: لَا تَقْرَأْ ‘jangan baca’.
  3. Kata نَتَوَقَّفُ adalah fi’il nya (Mudhari’ ) pada kalimat ini yang memiliki pola tashrif no.12 2 تَفَعَّلَ dengan dhamir rafa’muttasil nya نَـ (kita).
  4. Kata عَنِ الْعِبَادَةِ adalah jar majrur 3 , artinya ‘dari peribadatan’. (lihat bab ‘Isim-isim majrur pada materi ilmu nahwu).
  5. Kata بِبَسَاطَةٍ ‘sederhananya/ namun sebenarnya’. Ini jar majrur dengan huruf jar بِ diikuti isim Majrur berbentuk Masdar بَسَاطَةٍ . Masdar ini dari fi’il بَسُطَ – يَبْسُطُ (pola tashrif no.6 4 (fi’il tsulatsi mujarrad).
  6. Kata عَنِ التَّوَاجُدِ adalah jar majrur. تَوَاجُدِ yang artinya di kamus ‘hadir/ada’ adalah isim bentuk Masdar dari fi’il تَوَاجَدَ. Kata ini akar katanya adalah وُجِدَ (ada, tersedia, ditemukan), dan dengan berubahnya tashrif, maka faidah/arti yang lebih tepatnya adalah ‘berangsur menjadi ada/tersedia). (Lihat tabel Pola Tashrif no.13 5 , faidah no.5).
  7. Kehalusan makna bahasa arab disini mengindikasikan bahwa ‘kehadiran hati’ dalam shalat adalah proses yang perlu waktu dan berangsur’… subhanallah, betapa anggun dan efektifnya bahasa arab!. Inilah alasan semakin tertariknya penulis terhadap bahasa arab, jauh melebihi keunggulan bahasa Inggris yang menjadi bahasa global.
  8. Kata فِيهِ adalah jar majrur dengan arti ‘didalam-nya’. فِي adalah huruf jar, dan  ـهِ disini kata ganti bentuk mudzakar.
  9. Frase الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ . Ini adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dengan Khabar nya dalam bentuk mudhaf.
  10. Kata الْبَشَرُ artinya diri manusia dalam arti salah satu dari ciptaan Allah (makhluk hewan disebut الْحَيَوَانُ. Adapun untuk menunjuk pada  manusia kolektif dalam konteks Khalifah/insan, maka kata yang tepat adalah الْإِنْسَانُ. Kalau merujuk pada  ‘seseorang’ maka dipakai أَشْخَاصٌ.
  11. Kata مَخْلُوقَاتُ artinya ‘makhluk-makhluk’ berbentuk isim jamak muannats (kata benda banyak berjenis perempuan), yaitu dibentuk dari isim mufrad muannats (tunggal)    مَخْلُوقَةٌ dengan mengganti ‘ta marbutoh ة’ dengan ـَاتُ (…atu). Ini adalah mudhaf (yang disandarkan).
  12. Adapun mudhaf ilaihi nya adalah kata sesudahnya yaitu عَادَاتٍ dengan I’rab majrur/kasrah. Ini juga jamak muannats, dimana mufradnya adalah عَادَةٌ.

Cuplikan Kalimat…

b.

الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ.  

…, Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi.

الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ

  1. Ini jumlah ismiyyah (kalimat nominal). Karena khabarnya berupa fi’il maka I’rab nya tidak perlu di-rafa’, namun tetap mengikuti kaidah fi’il.
  2. Kata الْعَادَاتُ adalah mubtada’ (subyek) dengan bentuk isim jamak muannats (majemuk perempuan), yaitu dibentuk dari isim mufrad الْعَادَةُ dibuang ta marbutoh nya (ة) dan ditambahkan akhiran ـَاتُ.
  3. Kata تَجْعَلُ adalah fi’il Mudhari’ dengan pola tashrif no.3 6 فَعَلَ – يَجْعَلُ dengan dhamir rafa’ muttasil (kata ganti subyek yang di-rafa’ ) adalah تَـ (dia pr.) yang merujuk pada الْعَادَةُ yang muannats.
  4. Kata الْحَيَاةَ adalah Maf’ul bih/ obyek manshub/di-fathah.
  5. Kata أَسْهَلَ ‘lebih mudah’ adalah isim tafdhil dengan wazan أفعلُ , namun ini di-nashab karena berperan sebagai Haal/ kata keadaan 7 . أَسْهَلُ berasal dari kata sifat سَهْلٌ ‘mudah’.
  6. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ
  7. Frase إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا adalah tergolong inna dan saudaranya 8 . dengan هَا sebagai isim inna (manshub, namun karena isim dhomir maka tetap mabni). تُسَاعِدُ sebagai khabar inna (marfu).
  8. Frase عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى adalah jar majrur dengan huruf jar عَلَى, isim majrurnya berupa masdar الْحِفَاظِ عَلَى (penjagaan atas). Masdar ini berasal dari fiil حَافِظَ, dimana selain حَافِظَ، tashrif Masdar utamanya adalah مُحَافَظَةٌ, mengikuti pola tashrif no. 9 9 .

Cuplikan Kalimat…

c.

وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.

Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).

  1. Kata وَلَكِنْ adalah saudara inna.
  2. Kata خَفِيٌّ adalah Naat (kata sifat) 10 dari kata sebelumnya خَطَرٌ, sehingga i’rab nya mengikuti (Marfu’ ).
  3. Kata عِنْدَمَا. tergolong zharf zaman bermakna ‘ketika’, yang mana berasal dari gabungan عِنْدَ yang merupakan zharf, dan huruf مَا.
  4. Kata شَيْءٌ مَا, perlu diperhatikan adanya tambahan مَا disini. Ini menunjukkan bahwa ‘sesuatu’ itu tidak begitu jelas, yang penting ada ‘sesuatu’ apapun itu.
  5. Kata تِلْقَائِيًّا berfungsi sebagai Maf’ul bih 11 Manshub.
  6. Kata تَدْرِيجِيًّا. sebagai haal, yang menerangkan keadaan subyek atau obyek.

III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC)

Berikut artikel bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,

A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat

#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’

هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟

#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.

#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?

لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”

Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.

أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.

B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran

#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).

أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.

#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.

تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.

#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).

مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ

#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.

نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ

C. 3 Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali

#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.

هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ

#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.

النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.

#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.

النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.

#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.

فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.

#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?

قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟

#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.

لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.

#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?

إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟

#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!

يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا

D. Kesimpulan 

Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Noordiaryframes

Judul: Are You Worshipping Allah…  Or Just Following a Routine?

Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-5) … terbit segera …

Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) …

Baca juga Seri lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga… Ilmu Nahwu …

Baca juga… Ilmu Shorof …

Catatan Kaki/ Note:

  1. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  2. Pola tashrif ke 12 adalah sebagai berikut:
    تَفَعَّلَ- يَتَفَعَّل
    تَفَعُّلًا؛ تَفَعَّلْ
    مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ
    تُفُعِّلَ- يُتَفَعَّلُ
    dengan faidah/artinya sbb.:
    1.Ter-/ber-/Menjadi pecah. تَكَسَّرَ
    2.Memaksakan melihat. تَبَصَّرَ
    3.Aku menjadikan Yusuf sbg anak. تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
    4.Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
    5.Membuat menjadi janda تَأَيَّمَتْ
    6.Me-neguk beberapa kali. تَجَرَّعَ
    7.Meminta memper-jelaskan. تَبَيَّنَ ↩︎
  3. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan u064a atau u0648 tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎
  4. Pola tashrif no.2:
    فَعَلَ- يَفْعُلُ
    ؟…؛ اِفْعَلْ
    فاعِلٌ، مَفْعُولٌ
    فُعِلَ- يُفْعَلُ ↩︎
  5. Beberapa arti dari pola tashrif ke-13, yaitu:
    Saling ber-damai — تَصَالَحَ
    Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
    Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
    = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
    Datang secara berangsur — تَوَارَدَAdapun pola tashrifnya adalah:
    تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ
    تَفَاعُلًا؛ تَفَاعَلْ
    مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ
    تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ ↩︎
  6. Pola tashrif no.7 adalah sebagai berikut:
    أفْعَلَ- يُفْعِلُ
    إفْعالًا؛ أَفْعِل
    مُفْعِل، مُفْعَلٌ
    أُفْعِلَ- يُفْعَلُ
    Adapun variasi faidah/artinya:
    1.Me-nurun-kan أَنْزَلَ
    2.Menjadi berbuah أَثْمَرَ
    3.Mendapatinya lalai. أَغْفَلَ
    4.Masuk waktu subuh. أَصْبَحَ
    5.Waktunya panen. أَحْصَدَ ↩︎
  7. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎
  8. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
     لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎
  9. Pola tashrif no.9 adalah sebagai berikut:
    فاعَلَ- يُفاعِل
    مُفاعَلَةً؛ فاعِلْ
    مُفاعِلٌ، مُفاعَلٌ
    فُوعِلَ- يُفاعَلُ
    Dengan variasi faidah/artinya:
    1.Saling me-mukul. ضَارَبَ
    2.Memperbanyak pahala يُضَاعِفُ
    3.=Fi’il mujarrad, memberkahi بَارَكَ
    4.=أَفْعَلَ, menjauhkan بَاعَدَ = أَبْعَدَ
    5.Terus-menerus membaca. طَالَعَ ↩︎
  10. Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎
  11. Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.
    • Contoh:
    o خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
    • Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub. ↩︎

Response

  1. […] Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-4) […]

    Like

Leave a comment