Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3)

Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-3)

DAFTAR ISI:

|

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?

لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينٍ بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”


a. Kajian Kalimat… لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ،

لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ،

Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat,

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah fi’liyah لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ yang diawali huruf laa nafiyah لَا, yang terdiri dari:
      • Huruf penegas لَا nafiyah (tidak merubah i’rab)
      • fi’il mudhari’ lazim يَتَعَلَّقُ dengan dhamir rafa’ mustatir هَوَ – يَ
      • fa’il [marfu‘] الْأَمْرُ dalam bentuk isim mufrad
      • zharf zaman [manshub] الْيَوْمَ
      • muta’alliq bil fi’li بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ, yang terdiri dari :
        • huruf ta’alluq بِ
        • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq إِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ, yang terdiri dari:
          • masdar إِكْثَارٍ
          • muta’alliq bil masdar مِنَ الصَّلَاةِ yang terdiri dari:
            • huruf ta’alluq مِنْ
            • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq الصَّلَاةِ
  2. Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) dengan fi’il  يَتَعَلَّقُ (berkaitan dengan) yang diawali huruf laa nafiyah لَا 1 yang menafikan kata kerja.
  3. Kata يَتَعَلَّقُ adalah fi’il tsulatsi Majid dengan pola tashrif urutan ke-12 2 di tabel tashrif dengan pola wazan تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ dengan ain ع di-tasydid عّ. Ada 7 macam faidah/arti dari tashrif ini (lihat Tabel Tashrif), dan kata ini masuk di kelompok faidah pertama yaitu ‘ter/ber-…kaitan’.
  4. Lafadz الْأَمْرُ (urusan, hal) , adalah fa’il / subyeknya, dalam bentuk isim Makrifah 3 (didahului oleh الْ), dalam kalimat ini, karena ‘hal’ nya sudah diketahui, yaitu merujuk pada hal sebelumnya. Bentuk jamaknya adalah الْاُمُوْرُ.
  5. Lafadz الْيَوْمَ (hari) adalah zharf zaman 4(keterangan waktu).
  6. Frase kalimat بِإِكْثَارٍ kedudukannya sebagai muta’alliq bil fi’li 5, yaitu obyek yang dikaitkan tidak langsung ke fi’il melalui huruf ta’alluq (huruf jar), artinya ‘berkaitan pada/dengan’. Dan مِنَ الصَّلَاةِ sebagai penjelas masdar إِكْثَارٍ dan disebut muta’alliq bil masdar.
  7. Obyek إِكْثَارٍ adalah isim dalam bentuk Masdar 6 dari fi’il أَكْثَرَ ‘memperbanyak’ (harap bedakan dengan isim أَكْثَرُ ya). Fi’il ini berpola tashrif no.7 7 أَفْعَلَ- يُفْعِلُ dengan faidah arti ke-1 ‘mem…’
  8. Arti masdar ini menjadi ‘tindakan memperbanyak segala sesuatunya’… dari shalat مِنَ الصَّلَاةِ.
  9. Tarkib jar wa majrur مِنَ الصَّلَاةِ mengandung huruf asy-syamsiyyah pada isim makrifahnya yaitu lafadz الصَّلَاةِ 8.

b. Kajian Kalimat… بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “.

بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “.

…, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf athaf بَلْ berperan sebagai huruf idhrab
    • jumlah fi’liyyah يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ , yang terdiri dari :
      • fi’il lazim يَتَعَلَّقُ dengan dhamir rafa’ mustatir هُوَ – يَ
      • muta’alliq bil fi’li بِطَرْحِ , yang terdiri dari :
        • huruf ta’alluq بِ
        • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq طَرْحِ (isim masdar)
      • murakkab idhafiy طَرْحِ سُؤَالٍ, yang terdiri dari:
        • mudhaf طَرْحِ
        • mudhaf ilaihi [majrur] سُؤَالٍ
      • murakkab washfiy [majrur] سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ, yang terdiri dari :
        • man’ut سُؤَالٍ
        • na’at (kata sifat) مُخْتَلِفٍ
  2. Huruf athaf بَلْ berperan dalam kalimat keseluruhan sebagai penghubung sekaligus sebagai huruf idhrab (huruf peralihan/pembatalan) terhadap kalimat sebelumnya yang dinegasikan oleh لَا nafiyah.
  3. Tarkib بِطَرْحِ سُؤَالٍ  (melemparkan pertanyaan) ini bentuknya sama dengan yang diatas tadi.     طَرْحِ adalah isim masdar dari fi’il طَرَحَ- يَطْرَحُ pola tashrif no.3 9 artinya: melemparkan/ mengajukan.
  4. Sebagian besar isim memang bentuk masdar dari kata kerja/fiil. Termasuk juga kata سُؤَالٍ adalah masdar dari fi’il سَأَلَ (bertanya, menanyakan).
  5. Huruf Hamzah memang bisa berubah-ubah bentuk tergantung posisi dalam kata (didepan, di tengah, di belakang), dan berubahnya tergantung juga dari harakat huruf sebelumnya، atau huruf sesudahnya (ي atau و ، atau ا). Dalam hal kata سُؤَالٍ kita tidak bisa menuliskan سُءَالٍ karena kalau ditengah kata harus ‘digendong’ menjadi ؤ atau ئ atau أ،  namun karena harakat huruf sebelumnya adalah rafa’ ( سُ ), maka ء harus menjadi ؤ .
  6. Lafadz مُخْتَلِفٍ (berbeda) adalah naat (sifat yang menjelaskan)10 kata sebelumnya سُؤَالٍ. Naat ini berbentuk isim fail dari kata اِخْتَلَفَ dengan pola tashrif no.10 11 اِفْتَعَلَ- يَفْتَعِلُ dengan faidah/arti no.1 ‘menjadi ber-beda’.
  7. Catatan: harap diperhatikan agar tidak mem-fathah-kan huruf sebelum terakhir ( ـلَ ) karena مُخْتَلَفٍ adalah isim maf’ul. Sedangkan isim fail maka huruf sebelum terakhir di-kasrah (untuk fi’il Majid).

c. Kajian Kalimat… هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينٍ بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟

هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينٍ بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟

Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf istifham هَلْ
    • fi’il madhi naqis asbhaha أَصْبَحَتْ (saudara kaana) dengan dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تْ (muannats)
    • isim ashbaha عِبَادَتِي dalam bentuk murakkab idhafiy, yang terdiri dari :
      • mudhaf mewakili fa’il utama [marfu‘] عِبَادَةٌ
      • mudhaf ilaihi dalam bentuk dhamir majrur أَنَا – ي
    • khabar ashbaha [manshub] مُجَرَّدَ رُوتِينٍ , dalam bentuk murakkab idhafiy, yang terdiri dari :
      • mudhaf مُجَرَّدَ
      • mudhaf ilaihi [majrur] رُوتِينٍ
    • maf’ul li-ajlih [manshub] بَدَلًا مِنْ
    • masdar mu’awwal أَنْ تَكُونَ , yang terdiri dari :
      • huruf masdariyah [amil nashab] أَنْ
      • fi’il mudhari’ [manshub] تَكُونَ
    • kalimat kaana تَكُونَ مُحَادَثَةً , yang terdiri dari :
      • fi’il naqish kaana تَكُونَ
      • khabar kaana [manshub] dalam bentuk masdar مُحَادَثَةً
    • muta’alliq bil masdar مَعَ اللهِ (terkait dengan masdar مُحَادَثَةً ), yang terdiri dari:
      • huruf ta’alluq مَعَ
      • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq اللهِ
  2. Lafadz أَصْبَحَتْ (menjadi) adalah saudara dari كَانَ 12 , yang me-rafa’ isim sesudahnya (dalam hal ini عِبَادَتِي ), dan me-nashab-kan khabar مُجَرَّدَ.
  3. Tarkib عِبَادَتِي (ibadah-ku) adalah jar majrur dengan I’rab عِبَادَةٌ marfu’ (isim أَصْبَحَ ).
  4. Lafadz مُجَرَّدَ (semata-mata) adalah khabar ashbaha dan i’rabnya manshub. Lafadz جَرَّدَ sudah menjadi kata umum yang sering dipakai, ini bentuk isim maf’ul dari kata مُجَرَّدَ .
  5. Lafadz رُوتِينٍ (rutin) adalah mudhaf ilaih bagi مُجَرَّدَ .
  6. Frase بَدَلًا مِنْ artinya pengganti atau bukan lagi, berkedudukan sebagai maf’ul li ajlih 13
  7. Lafadz أَنْ تَكُونَ artinya ‘adalah menjadi’, dan merupakan Masdar mu’awwal 14 (diawali huruf أنْ). Bentuk ekuivalen Masdar Sharihnya adalah: كَوْنٌ ‘ada/keberadaan’.
  8. Lafadz مُحَادَثَةً adalah isim masdar dari fi’il حَادَثَ ‘berbicara dengan’ dengan pola tashrif no.9 15 . Arti masdar-nya ‘percakapan’.
  9. Tarkib مَعَ اللهِ (bersama Allah) adalah jar majrur 16 .

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 4 Episode sebagai berikut:

A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat

B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran

C. Tiga (3) Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali

D. Kesimpulan 

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 4 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Noordiaryframes

Judul: Are You Worshipping Allah…  Or Just Following a Routine? https://youtu.be/d3-TECxXh1E?si=T5MjxJJYJ6PtLP6R


Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-4) …

Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) …

Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ Note:

  1. Laa Nafiyah adalah huruf ‘laa’ dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menolak, meniadakan, atau menyangkal suatu perbuatan, kejadian, atau sifat.Penjelasan SingkatFungsi: Menyatakan arti “tidak” atau “bukan”.Pengaruh I’rab: Berbeda dengan Laa Nahiyah (huruf larangan yang membuat kata kerja/fi’il mudhari’ ber-i’rab jazm atau sukun), Laa Nafiyah tidak mengubah i’rab kata kerja yang ada di belakangnya (tetap marfa’/rafa’) ↩︎
  2. Pola tashrif 12: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ – تَفَعَّلْ – تَفَعُّلًا – مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ – تُفُعِّلَ – يُتَفَعَّلُ
    Wazan ini merupakan bentuk mutawa’ah (hasil/dampak) dari wazan fa”ala, dan juga sering bermakna Takalluf (berusaha keras).
    Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَعَّلَ diantaranya :
    1. Ter-/ber-/Menjadi pecah — تَكَسَّرَ
    2. Memaksakan melihat — تَبَصَّرَ
    3. Aku menjadikan Yusuf sbg anak — تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
    4. Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
    5. Membuat menjadi janda — تَأَيَّمَتْ
    6. Me-neguk beberapa kali — تَجَرَّعَ
    7. Meminta memper-jelaskan — تَبَيَّنَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    menjauhi : تَجَنَّبَ
    mengganti : تَبَدَّلَ
    mendekat : تَقَرَّبَ
    maju, berkembang : تَقَدَّمَ – يَتَقَدَّمُ
    berwudhu : تَوَضَّأَ
    terpecah : تَكَسَّرَ
    terlambat : تَأَخَّرَ – يَتَأَخَّرُ
    berubah : تَغَيَّرَ – يَتَغَيَّرُ
    bersengaja : تَعَمَّدَ
    memikirkan, merenungkan : تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ
    mengingat : تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ
    berbicara : تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ
    belajar, mempelajari : تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ – تَعَلَّمْ – تَعَلُّمًا – مُتَعَلِّمٌ – مُتَعَلَّمٌ – لَا تَتَعَلَّمْ – مُتَعَلَّمٌ
    dipelajari : تُعُلِّمَ – يُتَعَلَّمُ
    ↩︎
  3. Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.
    Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
    Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku). ↩︎
  4. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  5. Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
    Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
    Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
    huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
    contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
    huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
    huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
    huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
    huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
    huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
    huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
    Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
    Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
    Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎
  6. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎
  7. Pola tashrif 7: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ – أَفْعِلْ – إِفْعَالًا – مُفْعِلٌ، مُفْعَلٌ – أُفْعِلَ – يُفْعَلُ
    Fungsi utamanya adalah menjadikan transitif. Wazan ini mengubah kata kerja yang tadinya tidak butuh objek (intransitif) menjadi butuh objek (transitif), atau menambah jumlah objeknya. Kadang juga menunjukkan waktu/tempat.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan أَفْعَلَ diantaranya :
    1. Me-nurun-kan — أَنْزَلَ
    2. Menjadi berbuah — أَثْمَرَ
    3. Mendapatinya lalai — أَغْفَلَ
    4. Masuk waktu subuh — أَصْبَحَ
    5. Waktunya panen — أَحْصَدَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    memberitahu : أَعْلَمَ
    menginfaqkan : أَنْفَقَ
    membereskan : أَصْلَحَ
    memasukkan : أَذْخَلَ
    menetapkan : أَثْبَتَ
    menurunkan : أَنْزَلَ
    berbuat baik : أَحْسَنَ – يُحْسِنُ
    berserah diri, masuk islam : أَسْلَمَ – يُسْلِمُ
    memuliakan : أَكْرَمَ
    memahami : أَفْهَمَ
    mengenakan (pakaian) : أَلْبَسَ
    mengeluarkan : أَخْرَجَ – يُخْرِجُ
    menyiapkan: أَعَدَّ – يُعِدּُ
    mengadakan, mewujudkan : أَوْجَدَ – يُوجِدُ
    menyampaikan, menghubungkan : أَوْصَلَ – يُوصِلُ
    menginginkan, menghendaki : أَرَادَ – يُرِيدُ
    memberi : أَعْطَى – يُعْطِي
    melempar, menyampaikan : أَلْقَى – يُلْقِي
    menjadi berbuah : أَثْمَرَ
    menjadi berdaun : أَوْرَقَ
    mendirikan, menegakkan : أَقَامَ – يُقِيمُ – أَقِمْ – إَقَامَةٌ – مُقِيْمٌ – مُقَامٌ – لَا تَقِمْ
    didirikan, ditegakkan: أُقِيْمَ – يُقِيْمُ ↩︎
  8. Huruf Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.
    Isim ma’rifah (kata benda yang sudah pasti) salah satunya ditandai dengan adanya alif lam ( ال ) di awal kata. Berdasarkan cara membaca alif lam tersebut saat bertemu huruf hijaiyah, hukumnya dibagi menjadi dua: Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.
    Alif Lam Syamsiyah: terjai jika bertemu dengan 14 huruf syamsiyah, maka cara membacanya – huruf lam tidak dibaca alias melebur atau dianggap tidak ada, dan suara langsung masuk ke huruf berikutnya dengan memakai tanda tasydid ( ّ ). Berikut kelompok huruf syamsiyah: ش, ز, ظ, س, د, ن, ذ, ض, ت, ر, ص, ث, ط, ل. Contoh: الشَمْسَ
    Alif Lam Qomariyah: terjadi jika bertemu dengan salah satu huruf qomariyah, maka cara membacanya yaitu huruf lam dibaca dengan jelas, eksplisit dan mati / tanda baca sukun ( ْ ). Berikut kelompok huruf qomariyah: ي, ه, و, م, ك, ق, ف, غ, ع, خ, ح, ج, ب, أ. Contoh: الْقَمَرُز
    ↩︎
  9. Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
    membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
    mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
    menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
    meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
    dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ
    ↩︎
  10. Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎
  11. Pola tashrif 10: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ – اِفْتَعِلْ – اِفْتِعَالًا – مُفْتَعِلٌ، مُفْتَعَلٌ – اُفْتُعِلَ – يُفْتَعَلُ
    Wazan اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ memiliki beberapa fungsi, namun yang paling umum adalah Mutawa’ah (dampak dari suatu perbuatan) dan Ittikhadz (membuat/mengambil sesuatu).
    Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْتَعَلَ diantaranya :
    1. Maka menjadi ter-kumpul — فَاِجْتَمَعَ
    2. Membikin roti — اِخْتَبَزَ
    3. Telah sungguh2 me-ndengarkan — اِسْتَمَعَ
    4. Sama2 ber-debat — اِخْتَصَمَ
    5. = mujarrad, menarik — اِرْتَقَى = رَقَى
    6. Menuntut agar bekerja keras — اِكْتَدَّ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    mendengar : اِسْتَمَعَ
    mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ
    berpegang teguh : اِعْتَصَمَ
    menerima : اِسْتَلَمَ
    memilih : اِصْطَفَى
    bercerai : اِفْتَرَقَ
    menang : اِنْتَصَرَ
    memulai : اِبْتَدَأَ – يَبْتَدِئُ
    menjadi dekat : اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ
    menyimak, mendengar : اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ
    menganggap, mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ – يَعْتَبِرُ
    bersungguh-sungguh : اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ
    berkumpul : اِجْتَمَعَ – يَجْتَمَعُ – اِجْتَمِعْ – اِجْتِمَاعًا – مُجْتَمِعٌ – مُجْتَمَعٌ – لَا تَجْتَمِعْ
    dikumpulkan : اُجْتُمِعَ – يُجْتَمَعُ ↩︎
  12. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh:
    Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana:
    a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa ↩︎
  13. Maf’ul liajlih berfungsi sebagai keterangan sebab terjadinya perbuatan.
    Contoh: ضَرَبْتُ الوَلَدَ تَأْدِيْبًا لَهُ. Saya memukul anak itu [karena bermaksud untuk mendidiknya تأديبا )
    Kata تأديبا adalah maf’ul liajlih I’rab Manshub. ↩︎
  14. Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
    Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
     قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
    Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
    Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
    Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ  (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎
  15. Pola tashrif 9: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ – فَاعِلْ- … – مُفَاعِلٌ، مُفَاعَلٌ – فُوعِلَ – يُفَاعَلُ
    Fungsi utamanya adalah Musyarakah (saling). Wazan ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh dua pihak atau lebih secara timbal balik.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan فَاعَلَ diantaranya :
    1. Saling me-mukul — ضَارَبَ
    2. Memperbanyak pahala — يُضَاعِفُ
    3. = Fi’il mujarrad, memberkahi — بَارَكَ
    4. = أَفْعَلَ, menjauhkan — بَاعَدَ = أَبْعَدَ
    5. Terus-menerus membaca — طَالَعَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    bersabar : صَابَرَ
    saling melihat : نَاظَرَ
    munafik : نَافَقَ
    membantu : سَاعَدَ
    berkhutbah : خَاطَبَ
    berperang : قَاتَلَ
    menemui, bertemu : قَابَلَ – يُقَابِلُ
    menyetujui, cocok : وَافَقَ – يُوَافِقُ
    berjihad, bersungguh-sungguh : جَاهَدَ – يُجَاهِدُ
    bermusyawarah, berunding : شَاوَرَ – يُشَاوِرُ
    bepergian: سَافَرَ – يُسَافِرُ – سَافِرْ – مُسَافَرَةٌ – مُسَافِرٌ – مُسَافَرٌ – لَا تُسَافِرْ
    dijadikan pergi : سُوفِرَ – يُسَافَرُ ↩︎
  16. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎

Responses

  1. Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-4) – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) […]

    Like

  2. Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) […]

    Like

Leave a Reply