Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Orang-Orang Yang Dicintai Allah (Seri-3) …draft…

Orang-Orang Yang Dicintai Allah
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-3)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.

Kajian ini dilakukan berdasarkan Tool (alat bantu) Kajian berupa Tabel Rangkuman Nahwu Shorof untuk memudahkan dalam mengindentifikasi struktur kalimat, dan susunan kalimat berupa kata/huruf apa saja, baik peran/kedudukan kata maupun bentuk kata dan kelompok kata yang dipilih untuk memainkan peran/kedudukan tersebut. Tool (alat bantu) Kajian yang dimaksud dapat disimak terlebih dahulu di postingan tersendiri:

"Tool Kajian [Tabel Rangkuman Nahwu Shorof]".

#3) Allah menyayangi mereka yang tidak diperhatikan siapa pun. Allah menyayangi mereka yang tidak dikenal. Allah menyayangi mereka yang tersembunyi. Allah menyayangi orang-orang yang hampir tidak diperhatikan dalam majlis/ forum pertemuan.

اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ. اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الْمَغْمُورِينَ. اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الْخَفِيِّينَ. اللَّهُ يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ.

#4) Siapakah orang-orang ini? Anda mungkin ingat sebuah hadits yang kurang lebih seperti ini: Allah mencintai hamba yang saleh, kaya hati (tidak meminta-minta), dan menghindari ketenaran—mereka yang tidak menarik perhatian, menghindari sorotan, dan menjauhi ketenaran apa pun. Tentu saja, (karena) ada banyak cara untuk menarik perhatian.

مَنْ هَؤُلَاءِ النَّاسُ؟ قَدْ تَتَذَكَّرُونَ حَدِيثًا يَقُولُ مَا يَلِي. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ. الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ, الَّذِينَ يَتَجَنَّبُونَ الْأَضْوَاءَ, وَيَتَجَنَّبُونَ أَيَّ شُهْرَةٍ. بِالطَّبْعِ, هُنَاكَ طُرُقٌ مُخْتَلِفَةٌ لِيَكُونَ الْمَرْءُ مَلْحُوظًا.


a. Kajian Kalimat… اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ. اللَّهُ يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ.

اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ... اللَّهُ يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ.

Allah menyayangi mereka yang tidak diperhatikan siapa pun… Allah menyayangi orang-orang yang hampir tidak diperhatikan dalam majlis/ forum pertemuan.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Ini adalah 2 kalimat sempurna.
    • Kalimat pertama اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ dengan struktur jumlah ismiyyah 1 (kalimat nominal), dan tersusun dari kata-kata dengan peran/ kedudukan secara berurutan yaitu; mubtada‘ اللَّهُ dalam bentuk isim makrifah marfu’, dan khabar يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ dalam bentuk jumlah fi’liyyah .
    • Kalimat kedua اللَّهُ يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ dengan struktur jumlah ismiyyah dengan mubtada’ اللَّهُ dan khabar dalam bentuk jumlah fi’liyyah 2 يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ
    • Sekarang mari kita rinci tiap kata/lafadz satu per satu (kalimat ke-1) اللَّهُ يُحِبُّ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ :
      • Lafadz اللَّهُ adalah mubtada’ dalam bentuk isim makrifah dengan i’rab marfu’/dhammah
      • Lafadz يُحِبُّ adalah fi’il mudhari 3‘ dengan fa’il berupa isim dhamir mustatir 4 هُوَ – يُ , yang tersambung langsung dengan fi’il.
      • Lafadz أُولَئِكَ (mereka, jauh) adalah maf’ul bih/obyek dalam bentuk isim dhamir (i’rab mabni).
      • Lafadz الَّذِينَ adalah badal dari kata sebelumnya (maf’ul bih) أُولَئِكَ . Dan sebagai badal, maka sama kelompoknya yaitu isim jamak orang ketiga. Lafadz ini dalam bentuk isim maushul, dan tentunya akan diikuti oleh shilah maushul.
      • Shilah maushul dalam bentuk jumlah fi’liyyah لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمْ أَحَدٌ , yang terdiri dari :
        • Huruf laa nafiyah لَا (tidak)
        • fiíl lazim اِلْتَفَتَ – يَلْتَفِتُ (memalingkan muka, memutar, melihat sekeliling)
        • Lafadz إِلَيْهِمْ adalah obyek tak langsung dari fi’il lazim dalam bentuk muta’alliq bil fi’li 5 dengan huruf ta’alluq إِلَى (kepada), dan isim majrur-nya dalam bentuk isim dhamir jar muttasil هُمْ – هِمْ . 6
        • Lafadz أَحَدٌ adalah fa’il (subyek) dari jumlah fi’liyah dimaksud, dalam bentuk isim mufrad mudzakkar naqirah 7, i’rab marfu‘.
    • Selanjutnya mari kita rinci tiap kata/lafadz untuk kalimat ke-2 اللَّهُ يُحِبُّ هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ الَّذِينَ بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ yang merupakan jumlah ismiyyah, terdiri dari :
      • Lafadz اللَّهُ adalah mubtada’ dalam bentuk isim makrifah dengan i’rab marfu’/dhammah
      • Lafadz يُحِبُّ adalah fi’il mudhari‘ dengan fa’il berupa isim dhamir mustatir هُوَ – يُ yang tersambung langsung dengan fi’il.
      • Lafadz هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ (orang-orang, dekat) adalah maf’ul bih/obyek dalam bentuk isim jamak mudzakar dengan i’rab manshub.
      • Lafadz الَّذِينَ adalah badal 8 dari kata sebelumnya (maf’ul bih) هَؤُلَاءِ الْأَشْخَاصَ. Dan sebagai badal, maka sama kelompoknya yaitu isim jamak orang ketiga. Lafadz ini dalam bentuk isim maushul 9 , dan tentunya akan diikuti oleh shilah maushul.
      • Shilah maushul dalam bentuk jumlah fi’liyyah بِالْكَادِ يَلْحَظُهُمْ أَحَدٌ فِي الْمَجَالِسِ , yang terdiri dari :
        • haal 10 (kata keadaan) dalam bentuk jar بِ dan isim masdar majrur الْكَادِ (hampir tidak, nyaris tidak, dengan susah payah)
        • fi’il mudhari‘ يَلْحَظُهُمْ (memperhatikan) dengan obyek dalam bentuk isim dhamir nashab muttasil هُمْ .
        • fa’il أَحَدٌ berupa isim mufrad naqirah dengan i’rab marfu‘.
        • zharf makan 11 (keterangan tempat) dan isim majrur فِي الْمَجَالِسِ . Lafadz الْمَجَالِسِ dalam bentuk isim jamak taktsir dan dari bentuknya masuk juga dalam kelompok isim ghoir munsharif 12, dari kata tunggal-nya isim mufrad الْمَجَلِسُ (majelis, forum, dewan, organisasi).
  2. Lafadz الْأَشْخَاصَ adalah bentuk jamak dari isim mufrad شَخْصٌ (orang, individu, manusia).

b. Kajian kalimat…. مَنْ هَؤُلَاءِ النَّاسُ؟ قَدْ تَتَذَكَّرُونَ حَدِيثًا يَقُولُ مَا يَلِي. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ. الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ, الَّذِينَ يَتَجَنَّبُونَ الْأَضْوَاءَ, وَيَتَجَنَّبُونَ أَيَّ شُهْرَةٍ. بِالطَّبْعِ, هُنَاكَ طُرُقٌ مُخْتَلِفَةٌ لِيَكُونَ الْمَرْءُ مَلْحُوظًا.

مَنْ هَؤُلَاءِ النَّاسُ؟ قَدْ تَتَذَكَّرُونَ حَدِيثًا يَقُولُ مَا يَلِي. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ. الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ, الَّذِينَ يَتَجَنَّبُونَ الْأَضْوَاءَ, وَيَتَجَنَّبُونَ أَيَّ شُهْرَةٍ. بِالطَّبْعِ, هُنَاكَ طُرُقٌ مُخْتَلِفَةٌ لِيَكُونَ الْمَرْءُ مَلْحُوظًا.

Siapakah orang-orang ini? Anda mungkin ingat sebuah hadits yang kurang lebih seperti ini: Allah mencintai hamba yang saleh, kaya hati (tidak meminta-minta), dan menghindari ketenaran—mereka yang tidak menarik perhatian, menghindari sorotan, dan menjauhi ketenaran apa pun. Tentu saja, (karena) ada banyak cara untuk menarik perhatian.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Struktur kalimat pertama مَنْ هَؤُلَاءِ النَّاسُ؟ adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal), terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
      • isim istifham (kata tanya) مَنْ (siapa, siapakah), berperan sebagai khabar dalam bentuk kata tanya.
      • lafadz هَؤُلَاءِ (mereka ini) adalah mubtada‘ dalam bentuk isim isyarat (kata tunjuk) jamak dekat.
      • lafadz النَّاسُ (manusia seluruhnya keturunan bani Adam) adalah badal dari mubtada’, dalam bentuk isim jamak dengan i’rab marfu‘. Isim tunggalnya adalah إِنْسَانٌ.
    • Struktur kalimat kedua قَدْ تَتَذَكَّرُونَ حَدِيثًا يَقُولُ مَا يَلِي. adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal), terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
      • huruf taqlil/pengurang qad قَدْ 13
      • fi’il تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ (ingat, mengingat, mengingat kembali)
      • fa’il أَنْتُمْ (kalian) yang tersambung ke fi’il mudhari’ يَتَذَكَّرُ dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil 14 menjadi تَتَذَكَّرُونَ (kalian mengingat)
      • maf’ul bih حَدِيثًا dalam bentuk isim mufrad (tunggal) naqirah (tanpa alim lam), dengan i’rab manshub, sekaligus berperan sebagai man’ut (kata yang diterangkan oleh kata/kalimat sesudahnya).
      • frase kalimat يَقُولُ مَا يَلِي adalah jumlah fi’liyah yang berperan sebagai na’at/sifat 15 yang menjelaskan man’ut/ kata sebelumnya حَدِيثًا , dimana kalimat ini terdiri dari :
        • fi’il mudhari’ يَقُولُ
        • maf’ul bih (obyek) مَا يَلِي dalam bentuk isim maushul 16 مَا (apa yang, sesuatu yang) , dan karena sebagai obyek maka disebut fi mahalli nashbin maf’ul bih (menempati posisi obyek i’rab nashab). Dimana, rinciannya adalah:
          • isim maushul مَا
          • shilah maushul dalam bentuk fi’il mudhari’ وَلَى – يَلِي (dekat dengan, mengikuti, datang setelahnya)
    • Struktur kalimat ketiga إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ. الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ, الَّذِينَ يَتَجَنَّبُونَ الْأَضْوَاءَ, وَيَتَجَنَّبُونَ أَيَّ شُهْرَةٍ. adalah jumlah inna 17, terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
      • harf taukid إِنَّ (sesungguhnya)
      • isim inna اللهَ dalam bentuk isim mufrad makrifah dengan i’rab manshub
      • khabar inna dalam bentuk jumlah fi’liyyah dengan fi’il أَحَبَّ – يُحِبُّ (menyukai, mencintai)
      • kata-kata sesudahnya adalah maf’ul bih dari fi’il يُحِبُّ yaitu الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ. الَّذِينَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِمُ النَّاسُ, الَّذِينَ يَتَجَنَّبُونَ الْأَضْوَاءَ, وَيَتَجَنَّبُونَ أَيَّ شُهْرَةٍ , yang terdiri dari:
        • maf’ul bih الْعَبْدَ (hamba) dengan i’rab manshub/fathah, sekaligus berperan sebagai man’ut dari murrakab idhafiy 18 dengan na’at/sifat yang lebih dari satu yang dipisahkan dengan tanda ‘koma’. Tentunya setiap na’at sepenuhnya mengikuti bentuk, jenis dan i’rab dari man’ut. Man’ut الْعَبْدَ bentuknya isim mufrad/tunggal.
        • na’at ke-1: التَّقِيَّ (bertakwa, saleh), dengan bentuk, jenis dan i’rab yang sama dengan man’ut yaitu isim mufrad manshub
        • na’at ke-2: الْغَنِيَّ
        • na’at ke-3: الْخَفِيَّ
  2. Ada yang unik pada lafadz اللهَ (Allah). Dalam kaidah bahasa Arab, isim yang memakai alif lam maka ia sudah pasti makrifah (diketahui, dikenal). Dan lafadz ini sudah bawaannya (default) dalam bentuk isim makrifah (dikenal, tertentu) (dan tidak ada bentuk naqirah-nya), berbeda dengan isim lain manapun yang default-nya adalah isim naqirah (tidak dikenal, tidak tertentu). Tentu saja, karena Dia-lah Allah, hanya Dia yang ada/ dikenal/ tertentu/ maujud, yang kepada-Nya semua berasal.
  3. Masih dalam bahasan lafadz اللهَ (Allah), kalaupun kita lepas alif lam-nya, dan tersisa lafadz لَهُ maka artinya: ‘milik-Nya‘, tetap menunjuk kepada Dia…yang adalah Sang Pemilik Segala Yang Ada.
  4. Masih dalam bahasan lafadz اللهَ (Allah), kalaupun kita kupas lagi lafadz لَهُ yang adalah dalam bentuk jar wa majrur dengan huruf jar لِ (bagi, milik), dan tersisa tinggal huruf هُ (Dia), maka yang tersisa ini adalah Dzat-Nya… hanya Dia yang ada/ maujud…
  5. Subhanallah… wallahu a’lam (Allah-lah Yang Paling Tahu)…
  6. Lafadz تَتَذَكَّرُونَ adalah fi’il mudhari’ dengan wazan تَفَعَّلَ yang tergolong kedalam pola tashrif no. 12 pada tabel tashrif.

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:

A. Buku Tentang “Yang Dicintai Allah” Yang Menukil Hadits Nabi Mengenai Orang Yang ‘Menghindar’ dari Pujian dan Keterkenalan.

B. Kriteria Orang-orang Yang Dicintai Allah. Perbandingan Orang Yang Terkenal Di Mata Masyarakat dan Orang Yang Menghindar Dari Keterkenalan, Manakah Yang Dicintai Allah?

C. Majlis/Pertemuan Apa Yang Sebaiknya Dihindari Oleh Kita Dari Menonjolkan Diri

D. Perilaku Tauladan Ke-Tawadhu’-an Yang Dicontohkan Oleh Rasulullah Dan Sahabat Utsman Bin Affan

E. Kisah Seorang Ibu Petugas Kebersihan Masjid Yang Dicari Nabi untuk di-shalatkan Lagi Oleh Beliau Meskipun sudah Dikuburkan oleh Para Sahabat Tanpa Memberitahukannya Kepada Beliau Karena Dianggap Orang Biasa/Tidak Penting.

F. Hikmah Yang Bisa Diambil Dari Hadits Nabi Dan Kisah Ibu Petugas Kebersihan Masjid

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Orang-Orang Yang Dicintai Allah (The Story – Full 6 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Blogging Theology

Judul: “Allah Loves Those the World Overlooks” https://youtu.be/tqdMFbq3hs4?si=xc69zfK7xblcYyB-


Baca juga Seri kajian sebelumnya… Orang-orang Yang Dicintai Allah (Kajian-2) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


  1. _
    Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran dhammah ـُ). Contoh:
    a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎
  2. _
    Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  3. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت).
    Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
    Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
    Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
    Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎
  4. Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).
    Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
    Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) . ↩︎
  5. Muta’alliq bil fi’li:
    Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
    Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
    Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
    huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
    contoh fi’il lazim + muta’alliq bil fi’li : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
    huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
    huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
    huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
    huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
    huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
    huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
    Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
    Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
    Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎
  6. Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek/fa’il atau obyek/maf’ul bih yang menyatu satu kata dengan fi’il. Untuk fa’il yang kaidah i’rab-nya marfu’, maka isim dhamir nya disebut sebagai dhamir rafa’, dan untuk maf’ul bih yang kaidah i’rab-nya manshub maka isim dhamir nya disebut dhamir nashab.
    a. Dhamir Rafa’ (sebagai fa’il)
    _Rincian:
    Dhamir Rafa’.
    Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
    Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
    ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
    ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
    Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
    Dhamir rafa’ ghoib
    ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
    ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi ↩︎
  7. 1. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
    2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
    3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
    4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
    5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena). ↩︎
  8. Badal adalah isim yang mengikuti isim lain dan berfungsi untuk menggantikannya. Contoh:
    قالَ الإمامُ مالِكُ. Telah berkata Imam Malik
    مالك adalah badal dari الإمام،. Sekalipun salah satunya dibuang, tidak akan menghilangkan arti.
    Ada 4 kategori badal:
    a. Badal sesuatu menggantikan sesuatu.
    b. Badal sebagian menggantikan keseluruhan.
    أَكَلْتُ الْخُبْزَ نِصْفَهُ.. Aku memakan roti setengahnya
    c. Badal sesuatu mencakup yang lainnya.
    نَفَعَنِي مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ. Telah bermanfaat bagiku Muhammad yaitu ilmunya.
    d. Badal yang salah dalam penyebutan. ↩︎
  9. Isim Maushul (& shilah maushul): الَّذِي, الَّتِي, اللَّاتِى, الَّذِينَ, اللَّذَانِ, اللَّتَانِ Isim Maushul/ kata sambung/penghubung, artinya “yang”, seperti: Untuk benda tunggal: الَّتِي (pr.)، الَّذِي, (lk.)
    Untuk benda ganda: اللَّذَانِ (lk.), اللَّتَانِ (pr.)
    Untuk benda jamak: الَّذِينَ (lk.), اللَّاتِى (pr.)
    Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab. Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
    Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar) ↩︎
  10. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat.
    Ciri-ciri Haal:
    Berfungsi menjelaskan kondisi, atau menjawab pertanyaan ‘bagaimana’ kata kerja dilakukan/terjadi oleh subyek atau obyek.
    Berupa isim naqirah (tanpa alim lam), dan manshub
    menjelaskan shahiibul haal (kata yang dijelaskan) yang diketahui (makrifah). Kalau yang dijelaskan isim naqirah maka bukan haal, melainkan kata sifat.
    Bisa juga haal berupa kalimat (jumlah ismiyyah atau fi’liyyah).
    Bisa juga haal berupa sybhul jumlah (jar wa majrur atau zharf wa majrur)
    Contoh:
    a. Menjelaskan kondisi: صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ]
    b. Menjelaskan kondisi: جَاءَتْ مَرْيَمُ ضَاحِكًا . Maryam datang [sambil tertawa]
    c. Menjelaskan kondisi: رَجَعَ الطَّالِبُ مَسْرُوْرًا . Siswa itu datang [dalam keadaan gembira]
    d. Berupa jumlah ismiyyah: جَاءَتْ مَرْيَمُ وَهِيَ تَبْكِيْ. Maryam datang dan/dalam keadaan dia sedang menangis.
    e. Berupa jumlah fi’liyyah: رَأَيْتُ الْمَرْأَةَ تَنْصَحُ طِفْلَهَا Saya melihat wanita itu sedang menasehati anaknya
    f. Sebagai Zharf: رَأَيْتُهُ عَلَى الْجَبَلِ. Saya melihat dia diatas gunung
    g. Sebagai Jar wa Majrur: خَرَجَ الْمَلَكُ فِي زِيْنَتِهِ . Raja itu keluar dalam pakaian kebesarannya. ↩︎
  11. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):
    Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf Zaman (baina, bainama, al-aana, nahaaron, masaa’an, ghodan, shobaahan, laylan)
    Contoh Zharf Zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu):
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang)
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang). ↩︎
  12. Isim Ghoir Musharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin (tidak bisa berharakat dhommatain, fathatain, kasrotain) dan tidak bisa berharakat kasrah saat berada dalam posisi jar, dan menjadi fathah sebagai gantinya.
    Contoh: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ …(padahal harusnya دِ ).
    Kecuali diawali dengan al الْ، atau menjadi mudhaf, maka baru bisa kasrah.
    Penyebab suatu kata dikategorikan sebagai isim Ghoir munsharif, yaitu:
    a. Kata sifat tertentu
    b. Nama orang tertentu
    c. Jika isim memiliki salah satu dari 3 kriteria berikut:
    Berikut kriterianya:
    1) Kata jamak taksir yang ditengahnya ada huruf Alif, contoh: مَسَاجِدُ masjid-masjid
    مَدَارِسُ sekolah-sekolah
    مَصَابِيْحُ lampu-lampu
    2) Diakhiri Alif ta’nis maqsuroh (diakhiri ا atau ى). Contoh: حُبْلَى wanita hamil
    مَرْضَى orang-orang yang sakit
    3) Diakhiri Alif ta’nis mamdudah, yaitu Alif panjang dan Hamzah (اء) , contoh: عُلَمَاءُ para ulama
    حَضْرَاءُ hijau ↩︎
  13. Huruf qad (taqlil, taktsir, dan tahqiq) قَدْ Huruf qad قَدْ (terkadang, jarang) : berfungsi sebagai huruf taqlil hanya jika masuk kedalam kata kerja bentuk sekarang / fi’il mudhari’. Contoh: قَدْ يَكُونُ الكُسَالَى مُجْتَهِدُينَ artinya: orang malas terkadang bisa menjadi pekerja keras.
    Namun, apabila masuk ke dalam fi’il madhi/ kata kerja lampu, maknanya berubah menjadi penegas/kepastian (tahqiq). Contoh: قَدْ عَثَرْتُ كِتَابً رَائعًا
    artinya: sungguh aku menemukan buku yang luar biasa. ↩︎
  14. Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek/fa’il atau obyek/maf’ul bih yang menyatu satu kata dengan fi’il. Untuk fa’il yang kaidah i’rab-nya marfu’, maka isim dhamir nya disebut sebagai dhamir rafa’, dan untuk maf’ul bih yang kaidah i’rab-nya manshub maka isim dhamir nya disebut dhamir nashab.
    a. Dhamir Rafa’ (sebagai fa’il)
    _Rincian:
    Dhamir Rafa’.
    Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
    Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
    ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
    ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
    Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
    Dhamir rafa’ ghoib
    ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
    ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi
    b. Dhamir nashab (sebagai maf’ul bih)

    Cara penulisan (madhi – mudhari‘) :
    Dhamir nashab mutakallim (orang kesatu): Saya: [ أَمَرَنِي – يَأْمُرُنِي ] dia menyuruh saya
    Kami: [ أَمَرَنَا – يَأْمُرُنَا ] dia menyuruh kami
    Dhamir nashab mukhatab (orang kedua): Kamu lk.: [ أَمَرْتُكَ – آمُرُكَ ] saya menyuruh kamu lk.
    Kamu pr.: [ أَمَرْتُكِ – آمُرُكِ ] saya menyuruh kamu pr.
    Kalian: [ أَمَرْتُكُمْ – آمُرُكُمْ ] saya menyuruh kalian
    Kalian berdua: [ أَمَرْتُكُمَا – آمُرُكُمَا ] saya menyuruh kalian berdua
    Dhamir nashab ghoib (orang ketiga): Dia lk.: [ أَمَرْتُهُ – آمُرُهُ ] saya menyuruh dia lk.
    Dia pr.: [ أَمَرْتُهَا – آمُرُهَا ] saya menyuruh dia pr.
    Mereka lk.: [ أَمَرْتُهُمْ – آمُرُهُمْ ] saya menyuruh mereka lk.
    Mereka pr.: [ أَمَرْتُهُنَّ – آمُرُهُنَّ ] saya menyuruh mereka pr.
    Mereka berdua: [ أَمَرْتُهُمَا – آمُرُهُمَا ] saya menyuruh mereka berdua
    c. Dhamir majrur (sebagai mudhaf)

    Isim dhamir majrur muttasil adalah isim dhamir yang kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi yang irab-nya majrur/kasrah (fi mahalli jarrin mudhaf ilaih), dan dituliskan menempel di akhir kata benda/isim yang menjadi mudhaf-nya. Kedudukan ini menunjukkan kepemilikan (posesif) seperti “rumahku“, “kemejamu“, “mobil dia“.
    Berikut cara penulisan dhamir majrur:
    Orang pertama (mutakallim/pembicara): Saya: كِتَابِي – buku saya
    Kami: كِتَابُنَا – buku kami
    Orang kedua (mukhatab/orang yang diajak bicara): Kamu lk.: كِتَابُكَ – buku kamu lk.
    Kamu pr.: كِتَابُكِ – buku kamu pr.
    Kalian lk.: كِتَابُكُمْ – buku kalian lk.
    Kalian pr.: كِتَابُكُنَّ – buku kalian pr.
    Kalian berdua: كِتَابُكُمَا – buku kalian berdua
    Orang ketiga (ghoib/orang yang dibicarakan): Dia lk.: كِتَابُهُ – buku dia lk.
    Dia pr.: كِتَابُهَا – buku dia pr.
    Mereka lk.: كِتَابُهُمْ – buku mereka lk.
    Mereka pr.: كِتَابُهُنَّ – buku mereka pr.
    Mereka berdua: كِتَابُهُمَا – buku mereka berdua
    Catatan penting:
    Untuk dhamir orang ketiga yang diawali huruf Ha (ـهُ / ـهُمَا / ـهُمْ / ـهُنَّ), harakatnya akan berubah menjadi kasrah (ـهِ / ـهِمَا / ـهِمْ / ـهِنَّ) jika isim (mudhaf) di depannya diakhiri dengan harakat kasrah atau huruf Ya sukun (يْ).
    Contoh normal: بَيْتُهُ (rumah dia lk.)
    Contoh perubahan-1: فِي بَيْتِهِ (di rumah dia lk.) << harakatnya ikut berubah menjadi kasrah. ↩︎
  15. Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎
  16. Isim Maushul (& shilah maushul): الَّذِي, الَّتِي, اللَّاتِى, الَّذِينَ, اللَّذَانِ, اللَّتَانِ Isim Maushul/ kata sambung/penghubung, artinya “yang”, seperti: Untuk benda tunggal: الَّتِي (pr.)، الَّذِي, (lk.)
    Untuk benda ganda: اللَّذَانِ (lk.), اللَّتَانِ (pr.)
    Untuk benda jamak: الَّذِينَ (lk.), اللَّاتِى (pr.)
    Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab. Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
    Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar) ↩︎
  17. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada‘ menjadi manshub (disebut isim inna), dan membuat khabar menjadi marfu‘ (disebut khabar inna).
    Contoh: Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    Saudara-saudara inna: لَكِنَّ, أَنَّ, كَأنَّ, لَعَلَّ, لَيْتَ, لَا 1) لَكِنَّ، tetapi
    2) Sesungguhnya أَنَّ
    3) كَأنَّ. Seolah-olah
    4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    5) لَيْتَ. Ingin sekali
    لَا 6 . tidak, tidak ada, contoh: لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎
  18. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini). Terdiri dari isim isyarah (seperti هَذَا ), dan musyar ilaih (seperti القَلَمُ ). Musyar ilaih berbentuk isim makrifah (didahului alim lam الْ )
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎

Response

Leave a Reply