Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-5)

Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-5)

DAFTAR ISI:

|

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Kalaamul-Hadi كَلامُ الهادِي


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-5)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#4) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.

تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.

Cuplikan Kalimat…

a.

تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ..

Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya.

  1. Kalimat تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ adalah kalimat kompleks berupa jumlah fi’liyyah* 1(kalimat verbal) dengan kata kerja تَخَيَّلْ (bayangkan!) berbentuk fi’il amr’ (kata kerja perintah). Kata kerja ini masuk dalam kelompok pola tashrif no.12 2. Fa’il dari kalimat ini adalah تَ (anda).
  2. Adapun obyeknya adalah frase kalimat berikutnya أَنَّكَ … disebut fi mahalli nashbin maf’ul bih (dalam posisi nashab menggantikan obyek), berbentuk isim masdar muawwal 3. Frase kalimat ini termasuk kelompok isim-isim manshub kategori isim inna dan saudara-saudaranya, dengan kaidah isim (lafadz sesudahnya) كَ harus manshub/fathah (kecuali dalam kasus ini, isim dhamir maka tetap mabni).
  3. Khabar dari inna yaitu frase kalimat تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ berupa jumlah fi’liyyah dengan kata kerja تَقُودُ ‘anda mengendarai’). Dalam ilmu sharaf, kata ini masuk kategori fi’il mu’tal 4 berjenis fi’il ajwaf.
  4. Frase kalimat di belakangnya عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ dalam ilmu nahwu disebut tarkib/murakkab 5 kelompok murakkab jar wa majrur.
  5. Lafadz مَأْلُوفٍ (yang dikenal) adalah naat/kata sifat 6 dari lafadz yang mendahuluinya طَرِيقٍ (jalan), dengan kaidah i’rab nya mengikuti naat-nya yaitu majrur/kasrah. Perlu diperhatikan bahwa kebanyakan kata sifat mengambil bentuk isim maf’ul atau isim fa’il dari suatu kata kerja, dalam hal ini sebagai isim maf’ul dari kata kerja أَلِفَ (menjadi biasa).
  6. Kalimat أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ adalah jumlah fi’liyyah yang diawali oleh zharf zaman 7 (kata keterangan waktu) أَحْيَانًا (terkadang). Potongan kalimat تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ (anda sampai di tujuan anda) adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) dengan fi’il lazim 8 (kata kerja tanpa obyek) تَ + (وَصَلَ – يَصِلُ) . Murakkab إِلَى وُجْهَتِكَ termasuk murakkab jar wa majrur, dan isim majrurnya وُجْهَتِكَ berbentuk murakkab idhafiy, dengan mudhaf ilaihi-nya adalah isim dhamir كَ (kamu).
  7. Frase kalimat وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ (nyaris saja/hampir tidak, anda mengingat perjalanannya). Ini adalah jumlah fi’liyyah yang diawali oleh lafadz وَبِالْكَادِ 9 yang berperan dalam kalimat ini sebagai haal (kata keadaan) 10 .
  8. Lafadz تَتَذَكَّرُ (anda mengingat kembali) adalah fi’il mudhari’ dengan isim dhamir muttasil تَ (anda), dan mengikuti pola tashrif no. 12. 11

Cuplikan Kalimat…

b.

يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ.  

Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain.

يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا.

  1. Pada kalimat يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. (untuk menjadinya ibadah seperti itu, mungkin demikian juga) ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan, karena ada mengandung anak kalimat dengan kata kerja fi’il naqish 12 (tidak memerlukan subyek, tapi merubah i’rab isim dan khabar sesudahnya) yaitu lafadz تُصْبِحَ tergolong fi’il naqish kaana 13, dan juga huruf masdariyyah أَنْ 14.
  2. Secara keseluruhan kalimat, ini jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) dengan fi’il lazim (kata kerja tidak membutuhkan obyek) يُمْكِنُ (dimungkinkan, layak), dan fa il (subyek) nya adalah masdar muawwal yang terdiri dari huruf masdar أَنْ dan dan fi’il mudhari’ تُصْبِحَ (untuk menjadi). Kedudukan masdar ini adalah fi mahalli raf’in fa’il (dalam kedudukan sebagai fa’il yang rafa’).
  3. Kata kerja تُصْبِحَ adalah keluarga kaana , yang tidak membutuhkan fa’il (pelaku), namun membutuhkan isim kaana/tushbihu ( الْعِبَادَةُ ) dan khabar kaana/tushbihu ( كَذَلِكَ ). Kaidah keluarga kaana adalah menjadikan isimnya marfu/dammah, dan menjadikan khabarnya manshub/fathah.
  4. Lafadz أَيْضًا (juga) berperan sebagai isim taukid (penguat) 15, yang menguatkan arti lafadz juga كَذَلِكَ .
  5. Kata kerja نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، (kita berdiri, kita membungkuk, kita sujud) ketiganya fi’il mudhari’.
  6. Kalimat لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، memiliki struktur keluarga inna لَكِنَّ (akan tetapi) diikuti isim inna yang manshub/fathah عُقُولَ dan khabar inna yang marfu’ berupa sybhul jumlah (menyerupai kalimat) تُخَطِّطُ لِلْغَدِ (merencanakan untuk besok). Disini fa’ilnya adalah muannats تَ mewakili lafadz jamak taksir (plural tidak beraturan) عُقُولَ .
  7. Murakkab عُقُولَنَا berbentuk mudhaf dan isim majrur (mudhaf ilaihi نَا ).
  8. Murakkab لِلْغَدِ berbentuk huruf jar لِ dan isim majrur الْغَدِ.

Cuplikan Kalimat…

c.

الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.

Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.

  1. Kalimat الْجَسَدُ يُصَلِّي adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dengan mubtada’/predikat الْجَسَدُ (tubuh) dan khabar/predikat يُصَلِّي (melakukan shalat) berupa fi’il mudhari’.
  2. Frase kalimat لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ masuk jumlah ismiyyah yang diawali huruf inna dan keluarganya لَكِنَّ (tetapi) 16 yang diikuti isim lakinna dengan i’rab manshub الْقَلْبَ dan khabar lakinna berupa sybhul jumlah (yang menyerupai kalimat) bentuk jar wa majrur terdiri dari huruf jar فِ dan isim majrur مَكَانٍ .
  3. Lafadz آخَرَ (yang lain, lk.). adalah naat/ kata sifat dari kata sebelumnya مَكَانٍ (suatu tempat). Harakatnya fathah dan bukan kasrah sebagaimana kata sifat mengikuti kata sebelumnya yang disifati, karena dia adalah isim ghoiru munshorif 17(kata benda yang tidak boleh ber-tanwin) karena mengikuti wazan أفْعلُ .

III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC)

Berikut artikel bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,

A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat

#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’

هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟

#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.

#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?

لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”

Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.

أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.

B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran

#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).

أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.

#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.

تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.

#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).

مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ

#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.

نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ

C. 3 Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali

#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.

هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ

#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.

النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.

#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.

النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.

#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.

فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.

#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?

قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟

#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.

لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.

#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?

إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟

#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!

يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا

D. Kesimpulan 

Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Noordiaryframes

Judul: Are You Worshipping Allah…  Or Just Following a Routine?

Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-5) … terbit segera …

Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3)

Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1)

Baca juga … Ilmu Nahwu

Baca juga … Ilmu Shorof


Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Pola tashrif no.12:
    تَفَعَّلَ– يَتَفَعَّل
    تَفَعُّلًا؛ تَفَعَّلْ
    مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ
    تُفُعِّلَ- يُتَفَعَّلُ
    dengan variasi faidah/arti:
    1.Ter-/ber-/Menjadi pecah. تَكَسَّرَ
    2.Memaksakan melihat. تَبَصَّرَ
    3.Aku menjadikan Yusuf sbg anak. تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
    4.Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ):  menjadi تَذَمَّمْتُ
    5.Membuat menjadi janda  تَأَيَّمَتْ
    6.Me-neguk beberapa kali. تَجَرَّعَ
    7.Meminta memper-jelaskan. تَبَيَّنَ ↩︎
  3. Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
    Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
     قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
    Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
    Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
    Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ  (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎
  4. Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
    a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
    b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
    c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
    d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
    e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
    Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎
  5. Frase Kalimat:
    Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya Kitabun Muhammadin(Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Mausuf / Na’t dan Man’ut), contohnya Al-Manjilu Kabir (Rumah yang besar).
    Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya Fil baiti (Di dalam rumah).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya Hazal kalamu (pulpen ini). ↩︎
  6. Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎
  7. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  8. Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh:
    o a) جَلَسَ duduk
    o b) قامَ berdiri
    ↩︎
  9. Lafadz بِالْكَادِ adalah haal/ kata keadaan yang menerangkan kondisi atau cara terjadinya suatu perbuatan bahwa perbuatan tersebut nyaris tidak terjadi atau dilakukan dengan susah payah. Lafadz ini berbentuk jar wa majrur dengan isim majrurnya berupa isim masdar الْكَادُ yang berasal dari kata kerja ( كَادَ – يَكَادُ ) yang termasuk kelompok af’alul muqarabah (kata kerja yang menunjukkan kedekatan suatu peristiwa akan terjadi). ↩︎
  10. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎
  11. Pola tashrif ke 12 adalah sebagai berikut:
    تَفَعَّلَ– يَتَفَعَّل
    تَفَعُّلًا؛ تَفَعَّلْ
    مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ
    تُفُعِّلَ- يُتَفَعَّلُ
    dengan faidah/artinya sbb.:
    1.Ter-/ber-/Menjadi pecah. تَكَسَّرَ
    2.Memaksakan melihat. تَبَصَّرَ
    3.Aku menjadikan Yusuf sbg anak. تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
    4.Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
    5.Membuat menjadi janda تَأَيَّمَتْ
    6.Me-neguk beberapa kali. تَجَرَّعَ
    7.Meminta memper-jelaskan. تَبَيَّنَ
    ↩︎
  12. Fi’il Naqish (الفِعْلُ النَّاقِصُ) adalah kata kerja yang tidak menunjukkan suatu tindakan/perbuatan dan tidak membutuhkan subjek (fa’il) maupun objek (maf’ul bih). Fi’il ini disebut naqish (kurang) karena ia hanya menunjukkan keterangan waktu dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya struktur kalimat Mubtada’ dan Khobar. Tugas fi’il naqish umumnya sama dengan kelompok Kana, yaitu merafa’kan isim dan menashobkan khobar.
    Selain keluarga Kaana (lihat pembahasan tersendiri), ada dua kelompok fi’il naqish lain dalam tata bahasa Arab yang memiliki fungsi serupa dalam merubah tatanan Mubtada-Khobar:
    1. Keluarga كَادَ وأَخَوَاتُهَا (Kaada wa Akhowatuha)
    Kelompok ini tugasnya sama seperti Kana (merafa’kan isim dan menashobkan khobar), namun dengan syarat khusus: Khobar-nya harus berupa kalimat kerja (Fi’il Mudhori’).
    Kelompok ini dibagi menjadi 3 bagian:
    Af’alul Muqorobah (Menunjukkan makna “hampir”): كَادَ (Kaada) = Hampir
    كَرَبَ (Karaba) = Hampir
    أَوْشَكَ (Awsyaka) = Hampir
    Af’alul Roja’ (Menunjukkan makna “harapan/semoga”): عَسَى (‘Asaa) = Semoga / Mudah-mudahan
    حَرَى (Haraa) = Semoga
    اِخْلَوْلَقَ (Ikhlawlaqa) = Semoga
    Af’alul Syuru’ (Menunjukkan makna “mulai melakukan”): شَرَعَ (Syara’a) = Mulai
    أَخَذَ (Akhadza) = Mulai
    جَعَلَ (Ja’ala) = Mulai
    طَفِقَ (Thafiqa) = Mulai
    هَبَّ (Habba) = Mulai
    2. Keluarga ظَنَّ وأَخَوَاتُهَا (Dzonna wa Akhowatuha)
    Kelompok ini disebut sebagai Af’alul Qulub wal-Tahwil. Berbeda dengan Kana dan Kaada, kelompok Dzonna menashobkan mubtada dan khobar sekaligus, dan mengubah keduanya menjadi objek pertama (Maf’ul bih 1) dan objek kedua (Maf’ul bih 2).
    Kelompok ini dibagi menjadi 2 bagian utama:
    Af’alul Qulub (Kata kerja hati/keyakinan/dugaan): ظَنَّ (Dzonna) = Menduga / Mengira
    حَسِبَ (Hasiba) = Mengira
    خَالَ (Khaala) = Membayangkan / Mengira
    زَعَمَ (Za’ama) = Mengklaim / Mengira
    رَأَى (Ro’aa) = Melihat (dengan keyakinan hati)
    عَلِمَ (‘Alima) = Mengetahui
    وَجَدَ (Wajada) = Menemukan / Mendapati
    سَمِعَ. (Samia) = mendengarkan
    Af’alul Tahwil (Kata kerja yang bermakna mengubah status/mengubah bentuk): صَيَّرَ (Shoyyara) = Mengubah / Menjadikan
    جَعَلَ (Ja’ala) = Menjadikan
    اتَّخَذَ (Ittakhadza) = Mengambil / Menjadikan ↩︎
  13. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh: Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana: a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    i) ↩︎
  14. Huruf masdariyah dalam tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) adalah huruf-huruf yang bersama dengan kata setelahnya dapat ditakwil (diubah maknanya) menjadi Masdar Muawwal (kata benda turunan). Yang populer adalah أَنْ (An) dan أَنَّ (Anna) .
    1. Penjelasan أَنْ (An)
    أَنْ (An) adalah huruf mashdariyah dan nashab. Artinya, huruf ini berfungsi untuk menashabkan (mengubah harakat akhir menjadi fathah) kata kerja mudhari’ setelahnya, dan mengubah makna rangkaian kata tersebut menjadi kata benda abstrak (masdar mu’awwal).
    Aturan: Harus diikuti oleh Fi’il (Kata Kerja).
    Arti biasa: “Untuk” atau “Bahwa”.
    Contoh Kalimat: أُرِيْدُ أَنْ أَقْرَأَ الكِتَابَ (Saya ingin untuk membaca buku itu).
    2. Penjelasan أَنَّ (Anna)
    أَنَّ (Anna) adalah bagian dari Inna wa Akhwatuha (saudara-saudara Inna). Huruf ini berfungsi sebagai penegas (taukid) di tengah kalimat.
    Aturan: Harus diikuti oleh Isim (Kata Benda) atau Dhamir (Kata Ganti). Isim setelahnya disebut Isim Anna dan harus berharakat Manshub (fathah).
    Arti biasa: “Bahwa” atau “Sesungguhnya”.
    Contoh Kalimat dengan Isim: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
    Contoh Kalimat dengan Dhamir (Kata Ganti): عَلِمْتُ أَنَّهُ مَرِيْضٌ
    Ada 4 huruf masdariyah lainnya dalam bahasa Arab:
    كَيْ (Kay) Fungsi: Biasanya masuk pada kata kerja mudhari’ (sekarang/akan datang) dan sering kali didahului oleh huruf jar Lam (لِكَيْ).
    Contoh: جِئْتُ لِكَيْ أَتَعَلَّمَ , Takwil Masdar: جِئْتُ لِلتَّعَلُّمِ
    مَا (Maa) Fungsi: Terbagi menjadi dua, yaitu Maa Masdariyah Mudhhafah (menunjukkan waktu/durasi) dan Ghairu Mudhhafah (tidak menunjukkan waktu). Bisa masuk ke kata kerja masa lalu (madhi) maupun sekarang (mudhari’).
    Contoh: ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ Takwil Masdar: بِرُحْبِهَا
    لَوْ (Law) Fungsi: Sering kali terletak setelah kata kerja yang bermakna “menginginkan” atau “menyukai”, seperti وَدَّ (wadda) atau يَوَدُّ (yawaddu).
    Contoh: يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ , Takwil Masdar: تَعْمِيرَ أَلْفِ سَنَةٍ ↩︎
  15. Isim Taukid:
    Adalah isim yang mengikuti isim lainnya, yang berfungsi menguatkan arti dan menghilangkan keraguan si pendengar.Contoh:
    قَابَلْتُ الْمَلِكَ نَفْسَهُ. Saya menemui raja itu sendiri.
    Keduanya Manshub karena isim yang diikuti sebagai obyek.Yang dimaksud penguat karena yang ditemui adalah raja itu sendiri, bukan wakil atau utusannya.Beberapa lafazh Taukid:
    النفس. Dia sendiri
    العَيْن. Dengan mata sendiri
    كُلُّ. Seluruhnya
    أجْمَعَ. Semuanya ↩︎
  16. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
    لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
    ↩︎
  17. Isim Ghoir Musharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin (tidak bisa berharakat dhommatain, fathatain, kasrotain) dan tidak bisa berharakat kasrah saat berada dalam posisi jar, menjadi fathah sebagai gantinya.
    Contoh: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ …(padahal harusnya دِ ).
    Kecuali diawali dengan al الْ، atau menjadi mudhaf, maka baru bisa kasrah.
    Penyebab suatu kata dikategorikan sebagai isim Ghoir munsharif, yaitu:
    a. Kata sifat tertentu
    b. Nama orang tertentu
    c. Jika isim memiliki salah satu dari 3 kriteria berikut:
    Berikut kriterianya:
    1) Kata jamak taksir yang ditengahnya ada huruf Alif, contoh: مَسَاجِدُ masjid-masjid
    مَدَارِسُ sekolah-sekolah
    مَصَابِيْحُ lampu-lampu
    2) Diakhiri Alif ta’nis maqsuroh (diakhiri ا atau ى). Contoh: حُبْلَى wanita hamil
    مَرْضَى orang-orang yang sakit
    3) Diakhiri Alif ta’nis mamdudah, yaitu Alif panjang dan Hamzah (اء) , contoh: عُلَمَاءُ para ulama
    حَضْرَاءُ hijau ↩︎

Leave a comment