
Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-5)
DAFTAR ISI:

|
I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-5)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.
تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
a. Kajian Kalimat… تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ..
تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ..
Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah fi’liyyah تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ , yang terdiri dari :
- fi’il ‘amr [majzum] تَخَيَّلْ dengan fa’il dhamir mustatir أَنْتَ – تَ
- maf’ul bih [fi mahalli nasbin] dalam bentuk kalimat inna أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ , yang terdiri dari :
- huruf taukid أَنَّ
- isim anna dalam bentuk dhamir nashab muttasil أَنْتَ – كَ
- khabar anna dalam bentuk jumlah fi’liyyah تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ , yang terdiri dari :
- fi’il mudhari’ تَقُودُ
- fa’il dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- maf’ul bih [manshub] سَيَّارَتَكَ dalam bentuk idhafiy dengan mudhaf ilaihi [majrur] أَنْتَ – كَ
- zharf makan dalam bentuk sybhul jumlah jar wa majrur عَلَى طَرِيقٍ
- murakkab washfiy [majrur] طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ dengan na’at/sifat مَأْلُوفٍ
- jumlah fi’liyyah (kedua) أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ , yang terdiri dari :
- zharf zaman [manshub] أَحْيَانًا
- fi’il mudhari’ lazim تَصِلُ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- muta’alliq bil fi’li إِلَى وُجْهَتِكَ yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq إِلَى
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq وُجْهَتِكَ berbentuk idhafiy dengan mudhaf ilaih أَنْتَ – كَ
- jumlah haaliyah (kalimat dalam posisi haal/keadaan – fi mahalli nashbin haal) وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ , yang terdiri dari :
- huruf athaf وَ
- jar wa majrur بِالْكَادِ
- fi’il mudhari’ تَتَذَكَّرُ dengan fa’il dalam bentuk dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- maf’ul bih [manshub] الرِّحْلَةَ
- jumlah fi’liyyah تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ , yang terdiri dari :
- Kalimat تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ adalah kalimat kompleks berupa jumlah fi’liyyah* 1(kalimat verbal) dengan kata kerja تَخَيَّلْ (bayangkan!) berbentuk fi’il amr’ (kata kerja perintah). Kata kerja ini masuk dalam kelompok pola tashrif no.12 2. Fa’il dari kalimat ini adalah تَ (anda).
- Adapun obyeknya adalah frase kalimat berikutnya أَنَّكَ … disebut fi mahalli nashbin maf’ul bih (dalam posisi nashab menggantikan obyek), berbentuk isim masdar muawwal 3. Frase kalimat ini termasuk kelompok isim-isim manshub kategori isim inna dan saudara-saudaranya, dengan kaidah isim (lafadz sesudahnya) كَ harus manshub/fathah (kecuali dalam kasus ini, isim dhamir maka tetap mabni).
- Khabar dari inna yaitu frase kalimat تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ berupa jumlah fi’liyyah dengan kata kerja تَقُودُ ‘anda mengendarai‘). Dalam ilmu sharaf, kata ini masuk kategori fi’il mu’tal 4 berjenis fi’il ajwaf.
- Frase kalimat di belakangnya عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ dalam ilmu nahwu disebut murakkab 5 jar wa majrur.
- Lafadz مَأْلُوفٍ (yang dikenal) adalah naat/kata sifat 6 dari lafadz yang mendahuluinya طَرِيقٍ (jalan), dengan kaidah i’rab nya mengikuti naat-nya yaitu rafa’/kasrah.
- Perlu diperhatikan bahwa kebanyakan kata sifat mengambil bentuk isim maf’ul atau isim fa’il dari suatu kata kerja, dalam hal ini sebagai isim maf’ul dari kata kerja أَلِفَ (menjadi biasa).
- Kalimat أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ adalah jumlah fi’liyyah yang diawali oleh zharf zaman 7 (kata keterangan waktu) أَحْيَانًا (terkadang).
- Potongan kalimat تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ (anda sampai di tujuan anda) adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) dengan fi’il lazim 8 (kata kerja tanpa obyek) تَ + (وَصَلَ – يَصِلُ) .
- Murakkab إِلَى وُجْهَتِكَ adalah muta’alliq bil fi’li 9 dengan huruf ta’alluq huruf jar إِلَى , dan isim majrurnya وُجْهَتِكَ berbentuk murakkab idhafiy, dengan mudhaf ilaihi-nya adalah isim dhamir كَ (kamu).
- Frase kalimat وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ (nyaris saja/hampir tidak, anda mengingat perjalanannya). Ini adalah jumlah fi’liyyah/haaliyah yang diawali oleh lafadz وَبِالْكَادِ 10 . Frase ini berperan sebagai haal (kata keadaan) 11 .
- Lafadz تَتَذَكَّرُ (anda mengingat kembali) adalah fi’il mudhari’ dengan isim dhamir muttasil تَ (anda), dan mengikuti pola tashrif no. 12.
b. Kajian Kalimat… يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ.
يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ.
Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain.
يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah fi’liyyah يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا , yang terdiri dari :
- fi’il mudhari’ lazim يُمْكِنُ
- fa’il dalam bentuk masdar muawwal أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا , yang terdiri dari :
- huruf masdariyyah pe-nashab أَنْ
- fi’il mudhari [manshub] berupa fi’il naqish ashbaha (keluarga kaana) تُصْبِحَ dengan dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تُ
- isim ashbaha [marfu‘] الْعِبَادَةُ
- khabar ashbaha [fi mahalli nasbin] كَذَلِكَ
- isim taukid [manshub] أَيْضًا
- jumlah fi’liyyah (ke-2,3,4) نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، dalam bentuk ketiganya fi’il mudhari’ lazim dengan dhamir rafa’ muttasil نَحْنُ – نَ
- kalimat inna لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. yang terdiri dari :
- huruf taukid [amil nashab] لَكِنَّ (keluarga inna)
- isim inna عُقُولَنَا dalam bentuk idhafiy dengan mudhaf ilaih dhamir jar نَحْنُ – نَ
- khabar inna dalam bentuk jumlah fi’liyyah تُخَطِّطُ لِلْغَدِ yang terdiri dari :
- fi’il mudhari lazim تُخَطِّطُ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- muta’alliq bil fi’li لِلْغَدِ dengan huruf ta’alluq لِ dan obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq الْغَدِ (zharf zaman)
- huruf athaf أَوْ
- jumlah fi’liyyah تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ , yang terdiri dari :
- fi’il mudhari‘ تُعِيدُ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- maf’ul bih [manshub] dalam bentuk idhafiy عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ yang terdiri dari :
- mudhaf عَرْضَ
- mudhaf ilaih [majrur] أَحْدَاثِ
- mudhaf ilaih [majrur] (kedua, idhafiy lanjutan) الْأَمْسِ
- huruf athaf أَوْ
- jumlah fi’liyyah تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ , yang terdiri dari :
- fi’il mudhari’ lazim تَقْلَقُ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتَ – تَ
- muta’alliq bil fi’li بِشَأْنِ dengan huruf ta’alluq بِ dan obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq شَأْنِ
- badal شَيْءٍ آخَرَ (dari isim sebelumnya شَأْنِ )
- jumlah fi’liyyah يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا , yang terdiri dari :
- Pada kalimat يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. (untuk menjadinya ibadah seperti itu, mungkin demikian juga) ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan, karena mengandung anak kalimat dengan kata kerja fi’il naqish 12 (tidak memerlukan subyek, tapi merubah i’rab isim dan khabar sesudahnya) yaitu lafadz تُصْبِحَ tergolong fi’il naqish kaana 13, dan juga huruf masdariyyah أَنْ 14.
- Secara keseluruhan kalimat, ini jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) dengan fi’il lazim (kata kerja tidak membutuhkan obyek) يُمْكِنُ (dimungkinkan, layak), dan fa‘ ‘il (subyek) nya adalah masdar muawwal yang terdiri dari huruf masdar أَنْ dan dan fi’il mudhari‘ تُصْبِحَ (untuk menjadi). Kedudukan masdar ini adalah fi mahalli raf’in fa’il (dalam kedudukan sebagai fa’il yang rafa’).
- Kata kerja تُصْبِحَ adalah keluarga kaana, yang tidak membutuhkan fa’il (pelaku), namun membutuhkan isim kaana/tushbihu ( الْعِبَادَةُ ) dan khabar kaana/tushbihu ( كَذَلِكَ ). Kaidah keluarga kaana adalah menjadikan isimnya marfu/dammah, dan menjadikan khabarnya manshub/fathah.
- Lafadz أَيْضًا (juga) berperan sebagai isim taukid (penguat) 15, yang menguatkan arti lafadz juga كَذَلِكَ .
- Kata kerja نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، (kita berdiri, kita membungkuk, kita sujud) ketiganya fi’il mudhari’.
- Kalimat لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، memiliki struktur keluarga inna لَكِنَّ (akan tetapi) diikuti isim inna yang manshub/fathah عُقُولَ dan khabar inna yang marfu’ berupa sybhul jumlah (menyerupai kalimat) تُخَطِّطُ لِلْغَدِ (merencanakan untuk besok). Disini fa’ilnya adalah muannats تَ mewakili lafadz jamak taksir (plural tidak beraturan) عُقُولَ .
- Murakkab عُقُولَنَا berbentuk mudhaf dan isim majrur (mudhaf ilaihi نَا ).
- Murakkab لِلْغَدِ berbentuk huruf jar لِ dan isim majrur الْغَدِ.
c. Kajian Kalimat… الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah ismiyyah الْجَسَدُ يُصَلِّي , yang terdiri dari :
- mubtada‘ [marfu‘] الْجَسَدُ
- khabar dalam bentuk jumlah fi’liyyah dengan fi’il يُصَلِّي dengan fa’il dalam bentuk dhamir rafa’ muttasil هُوَ – يُ
- jumlah inna لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ , yang terdiri dari :
- huruf taukid لَكِنَّ (keluarga inna)
- isim inna [manshub] الْقَلْبَ
- khabar inna [fi mahalli raf’in] berupa zharf makan dalam bentuk murakkab jar wa majrur فِي مَكَانٍ آخَرَ
- jumlah ismiyyah الْجَسَدُ يُصَلِّي , yang terdiri dari :
- Kalimat الْجَسَدُ يُصَلِّي adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dengan mubtada‘/predikat الْجَسَدُ (tubuh) dan khabar/predikat يُصَلِّي (melakukan shalat) berupa fi’il mudhari’.
- Frase kalimat لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ masuk jumlah inna yang diawali huruf inna dan keluarganya لَكِنَّ (tetapi) 16 yang diikuti isim lakinna dengan i’rab manshub الْقَلْبَ dan khabar lakinna berupa sybhul jumlah (yang menyerupai kalimat) bentuk jar wa majrur terdiri dari huruf jar فِ dan isim majrur مَكَانٍ .
- Lafadz آخَرَ (yang lain, lk.). adalah naat/ kata sifat dari kata sebelumnya مَكَانٍ (suatu tempat). Harakatnya fathah dan bukan kasrah sebagaimana kata sifat mengikuti kata sebelumnya yang disifati, karena dia adalah isim ghoiru munshorif 17(kata benda yang tidak boleh ber-tanwin dan tidak boleh kasrah dalam posisi jar) karena mengikuti wazan أفْعلُ .
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 4 EPISODE (LINK)
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 4 Episode sebagai berikut:
A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat
B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran
C. Tiga (3) Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali
D. Kesimpulan
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
YouTube By: Noordiaryframes
Judul: Are You Worshipping Allah… Or Just Following a Routine? https://youtu.be/d3-TECxXh1E?si=T5MjxJJYJ6PtLP6R
Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-5) … terbit segera …
Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) …
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Pola tashrif 12: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ – تَفَعَّلْ – تَفَعُّلًا – مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ – تُفُعِّلَ – يُتَفَعَّلُ
Wazan ini merupakan bentuk mutawa’ah (hasil/dampak) dari wazan fa”ala, dan juga sering bermakna Takalluf (berusaha keras).
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَعَّلَ diantaranya :
1. Ter-/ber-/Menjadi pecah — تَكَسَّرَ
2. Memaksakan melihat — تَبَصَّرَ
3. Aku menjadikan Yusuf sbg anak — تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
4. Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
5. Membuat menjadi janda — تَأَيَّمَتْ
6. Me-neguk beberapa kali — تَجَرَّعَ
7. Meminta memper-jelaskan — تَبَيَّنَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
menjauhi : تَجَنَّبَ
mengganti : تَبَدَّلَ
mendekat : تَقَرَّبَ
maju, berkembang : تَقَدَّمَ – يَتَقَدَّمُ
berwudhu : تَوَضَّأَ
terpecah : تَكَسَّرَ
terlambat : تَأَخَّرَ – يَتَأَخَّرُ
berubah : تَغَيَّرَ – يَتَغَيَّرُ
bersengaja : تَعَمَّدَ
memikirkan, merenungkan : تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ
mengingat : تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ
berbicara : تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ
belajar, mempelajari : تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ – تَعَلَّمْ – تَعَلُّمًا – مُتَعَلِّمٌ – مُتَعَلَّمٌ – لَا تَتَعَلَّمْ – مُتَعَلَّمٌ
dipelajari : تُعُلِّمَ – يُتَعَلَّمُ ↩︎ - Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎ - Kata kerja yang mengandung huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎ - Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
Keterangan:
a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎ - Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎ - Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh:
o a) جَلَسَ duduk
o b) قامَ berdiri
↩︎ - Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎ - Lafadz بِالْكَادِ adalah haal/ kata keadaan yang menerangkan kondisi atau cara terjadinya suatu perbuatan bahwa perbuatan tersebut nyaris tidak terjadi atau dilakukan dengan susah payah. Lafadz ini berbentuk jar wa majrur dengan isim majrurnya berupa isim masdar الْكَادُ yang berasal dari kata kerja ( كَادَ – يَكَادُ ) yang termasuk kelompok af’alul muqarabah (kata kerja yang menunjukkan kedekatan suatu peristiwa akan terjadi). ↩︎
- Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
Contoh:
صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎ - Fi’il Naqish (الفِعْلُ النَّاقِصُ) adalah kata kerja yang tidak menunjukkan suatu tindakan/perbuatan dan tidak membutuhkan subjek (fa’il) maupun objek (maf’ul bih). Fi’il ini disebut naqish (kurang) karena ia hanya menunjukkan keterangan waktu dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya struktur kalimat Mubtada’ dan Khobar. Tugas fi’il naqish umumnya sama dengan kelompok Kana, yaitu merafa’kan isim dan menashobkan khobar.
Selain keluarga Kaana (lihat pembahasan tersendiri), ada dua kelompok fi’il naqish lain dalam tata bahasa Arab yang memiliki fungsi serupa dalam merubah tatanan Mubtada-Khobar:
1. Keluarga كَادَ وأَخَوَاتُهَا (Kaada wa Akhowatuha)
Kelompok ini tugasnya sama seperti Kana (merafa’kan isim dan menashobkan khobar), namun dengan syarat khusus: Khobar-nya harus berupa kalimat kerja (Fi’il Mudhori’).
Kelompok ini dibagi menjadi 3 bagian:
Af’alul Muqorobah (Menunjukkan makna “hampir”): كَادَ (Kaada) = Hampir
كَرَبَ (Karaba) = Hampir
أَوْشَكَ (Awsyaka) = Hampir
Af’alul Roja’ (Menunjukkan makna “harapan/semoga”): عَسَى (‘Asaa) = Semoga / Mudah-mudahan
حَرَى (Haraa) = Semoga
اِخْلَوْلَقَ (Ikhlawlaqa) = Semoga
Af’alul Syuru’ (Menunjukkan makna “mulai melakukan”): شَرَعَ (Syara’a) = Mulai
أَخَذَ (Akhadza) = Mulai
جَعَلَ (Ja’ala) = Mulai
طَفِقَ (Thafiqa) = Mulai
هَبَّ (Habba) = Mulai
2. Keluarga ظَنَّ وأَخَوَاتُهَا (Dzonna wa Akhowatuha)
Kelompok ini disebut sebagai Af’alul Qulub wal-Tahwil. Berbeda dengan Kana dan Kaada, kelompok Dzonna menashobkan mubtada dan khobar sekaligus, dan mengubah keduanya menjadi objek pertama (Maf’ul bih 1) dan objek kedua (Maf’ul bih 2).
Kelompok ini dibagi menjadi 2 bagian utama:
Af’alul Qulub (Kata kerja hati/keyakinan/dugaan): ظَنَّ (Dzonna) = Menduga / Mengira
حَسِبَ (Hasiba) = Mengira
خَالَ (Khaala) = Membayangkan / Mengira
زَعَمَ (Za’ama) = Mengklaim / Mengira
رَأَى (Ro’aa) = Melihat (dengan keyakinan hati)
عَلِمَ (‘Alima) = Mengetahui
وَجَدَ (Wajada) = Menemukan / Mendapati
سَمِعَ. (Samia) = mendengarkan
Af’alul Tahwil (Kata kerja yang bermakna mengubah status/mengubah bentuk): صَيَّرَ (Shoyyara) = Mengubah / Menjadikan
جَعَلَ (Ja’ala) = Menjadikan
اتَّخَذَ (Ittakhadza) = Mengambil / Menjadikan ↩︎ - Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
Contoh: Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
Saudara-saudara Kaana: a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
b) لَيْسَ. Bukan
c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
d) أمْسَى. Berada di waktu sore
e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
f) بَاتَ. Berada di waktu malam
g) صَارَ. Menjadi
h) ما زالَ. Senantiasa
i) ↩︎ - Huruf masdariyah dalam tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) adalah huruf-huruf yang bersama dengan kata setelahnya dapat ditakwil (diubah maknanya) menjadi Masdar Muawwal (kata benda turunan). Yang populer adalah أَنْ (An) dan أَنَّ (Anna) .
1. Penjelasan أَنْ (An)
أَنْ (An) adalah huruf mashdariyah dan nashab. Artinya, huruf ini berfungsi untuk menashabkan (mengubah harakat akhir menjadi fathah) kata kerja mudhari’ setelahnya, dan mengubah makna rangkaian kata tersebut menjadi kata benda abstrak (masdar mu’awwal).
Aturan: Harus diikuti oleh Fi’il (Kata Kerja).
Arti biasa: “Untuk” atau “Bahwa”.
Contoh Kalimat: أُرِيْدُ أَنْ أَقْرَأَ الكِتَابَ (Saya ingin untuk membaca buku itu).
2. Penjelasan أَنَّ (Anna)
أَنَّ (Anna) adalah bagian dari Inna wa Akhwatuha (saudara-saudara Inna). Huruf ini berfungsi sebagai penegas (taukid) di tengah kalimat.
Aturan: Harus diikuti oleh Isim (Kata Benda) atau Dhamir (Kata Ganti). Isim setelahnya disebut Isim Anna dan harus berharakat Manshub (fathah).
Arti biasa: “Bahwa” atau “Sesungguhnya”.
Contoh Kalimat dengan Isim: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Contoh Kalimat dengan Dhamir (Kata Ganti): عَلِمْتُ أَنَّهُ مَرِيْضٌ
Ada 4 huruf masdariyah lainnya dalam bahasa Arab:
كَيْ (Kay) Fungsi: Biasanya masuk pada kata kerja mudhari’ (sekarang/akan datang) dan sering kali didahului oleh huruf jar Lam (لِكَيْ).
Contoh: جِئْتُ لِكَيْ أَتَعَلَّمَ , Takwil Masdar: جِئْتُ لِلتَّعَلُّمِ
مَا (Maa) Fungsi: Terbagi menjadi dua, yaitu Maa Masdariyah Mudhhafah (menunjukkan waktu/durasi) dan Ghairu Mudhhafah (tidak menunjukkan waktu). Bisa masuk ke kata kerja masa lalu (madhi) maupun sekarang (mudhari’).
Contoh: ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ Takwil Masdar: بِرُحْبِهَا
لَوْ (Law) Fungsi: Sering kali terletak setelah kata kerja yang bermakna “menginginkan” atau “menyukai”, seperti وَدَّ (wadda) atau يَوَدُّ (yawaddu).
Contoh: يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ , Takwil Masdar: تَعْمِيرَ أَلْفِ سَنَةٍ ↩︎ - Isim Taukid:
Adalah isim yang mengikuti isim lainnya, yang berfungsi menguatkan arti dan menghilangkan keraguan si pendengar.Contoh:
قَابَلْتُ الْمَلِكَ نَفْسَهُ. Saya menemui raja itu sendiri.
Keduanya Manshub karena isim yang diikuti sebagai obyek.Yang dimaksud penguat karena yang ditemui adalah raja itu sendiri, bukan wakil atau utusannya.Beberapa lafazh Taukid:
النفس. Dia sendiri
العَيْن. Dengan mata sendiri
كُلُّ. Seluruhnya
أجْمَعَ. Semuanya ↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
↩︎ - Isim Ghoir Musharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin (tidak bisa berharakat dhommatain, fathatain, kasrotain) dan tidak bisa berharakat kasrah saat berada dalam posisi jar, menjadi fathah sebagai gantinya.
Contoh: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ …(padahal harusnya دِ ).
Kecuali diawali dengan al الْ، atau menjadi mudhaf, maka baru bisa kasrah.
Penyebab suatu kata dikategorikan sebagai isim Ghoir munsharif, yaitu:
a. Kata sifat tertentu
b. Nama orang tertentu
c. Jika isim memiliki salah satu dari 3 kriteria berikut:
Berikut kriterianya:
1) Kata jamak taksir yang ditengahnya ada huruf Alif, contoh: مَسَاجِدُ masjid-masjid
مَدَارِسُ sekolah-sekolah
مَصَابِيْحُ lampu-lampu
2) Diakhiri Alif ta’nis maqsuroh (diakhiri ا atau ى). Contoh: حُبْلَى wanita hamil
مَرْضَى orang-orang yang sakit
3) Diakhiri Alif ta’nis mamdudah, yaitu Alif panjang dan Hamzah (اء) , contoh: عُلَمَاءُ para ulama
حَضْرَاءُ hijau ↩︎
Leave a Reply