Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2)

Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-2)

DAFTAR ISI:

|

|

I. lmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-2)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.


a. Kajian Kalimat… رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ

Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf taqlil wa taktsir رُبَّمَا
    • fi’il madhi قَرَأْتَ dengan dhamir rafa’ muttasil 1 تَ (anda)
    • maf’ul bih [manshub] الْقُرْآنَ
    • kalimat inna لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ, yang terdiri dari:
      • huruf taukid [amil nashab] لَكِنَّ
      • isim inna [manshub] ذِهْنَكَ
      • khabar inna كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ dalam bentuk kalimat kaana, yang terdiri dari:
        • fi’il naqish كَانَ
        • isim kaana berupa isim dhamir mustatir هُوَ (dia)
        • khabar kaana berupa zharf makan, dalam bentuk :
          • jar wa majrur فِي مَكَانٍ
          • murrakab washfiy [majrur] 2 مَكَانٍ آخَرَ
  2. Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) 3 dengan fi’il قَرَأَ (membaca) yang diawali huruf taqlil wa taktsir رُبَّمَا 4 (mungkin).
  3. Kata/Lafadz 5 قَرَأَ dalam Tashrif adalah fi’il dengan pola فَعَلَ yaitu no.3 pada tabel Tashrif 6. Huruf ـتَ (kamu) yang menempel disebut subyek dari قَرَأَ dan atributnya adalah dhamir rafa’ muttasil 7 (kata ganti orang tersambung ke kata kerja, dan I’rabnya rafa’).
  4. Lafadz الْقُرْآنَ (al-qur’an) adalah obyek (Maf’ul bih) 8. Uniknya, kata ini adalah isim Masdar 9 dari kata fi’il قَرَأَ itu juga, artinya ‘bacaan’. Makanya Al-Quran adalah default bacaan yang perlu dibaca.
  5. Lafadz لَكِنَّ (tetapi) adalah salah satu dari keluarga Isim Inna 10 (amil nashab إنَّ ), artinya kata yang mengikutinya harus di-I’rab Manshub (di-fathah), dan disebut isim Inna ذِهْنَ (bukan ذِهْنُ atau ذِهْنِ ).
  6. Sesudah isim anna , kata yang mengikutinya dinamakan Khabar Anna, dan harus Marfu’ (di-rafa’), kecuali kata yang mabni seperti dalam kalimat ini كَانَ.
  7. Lafadz كَانَ disisipkan disini karena untuk keberadaan di masa lampau (it was). Kalau masa sekarang (it is) menggunakan bentuk Mudhari’ nya yaitu يَكُوْنُ.
  8. Frase/tarkib/murakkab 11 فِي مَكَانٍ (di suatu tempat) adalah jar Majrur 12, berperan sebagai Zharf makan 13 (keterangan tempat).
  9. Lafadz آخَرَ (yang lain) berperan sebagai tamyiz 14, penguat kesamaran dari kata مَكَانٍ. Keduanya dalam  bentuk yang sama yaitu mudzakar (lk.), mengikuti kata yang di-tamyiz. Untuk kata yang muannats atau jamak ta’nis (misal فِي غُرْفَةٍ), maka digunakan bentuk muannats nya dari آخَرَ yaitu أُخْرَى.

b. Kajian Kalimat… رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ.

رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ.

Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf taqlil wa taktsir رُبَّمَا
    • fi’il naqish mudhari’ تَكُونُ dengan isim kaana berupa dhamir rafa’ muttasil تَ (anda).
    • khabar kaana dalam bentuk jumlah fi’liyyah قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ, yang terdiri dari:
      • huruf penegas fi’il قَدْ
      • fi’il madhi أَدَّيْتَ dengan dhamir rafa’ muttasil تَ (anda)
      • maf’ul bih [manshub] الصَّلَاةَ
    • huruf athaf وَ yang menghubungkan dua kalimat.
    • jumlah ismiyyah أَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ, yang terdiri dari:
      • mubtada‘ dalam bentuk isim dhamir munfasil أَنْتَ
      • khabar berupa jumlah fi’liyyah تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ, yang terdiri dari:
        • fi’il mudhari’ تُفَكِّرُ dengan fa’il dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil تَ
        • maf’ul bih dalam bentuk sybhul jumlah jar wa majrur فِي الْعَمَلِ، الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ dengan 3 (tiga) isim majrur الْعَمَلِ, الْعَشَاءِ, هَاتِفِكَ .
  2. Lafadz تَكُونُ ini bentuk Mudhari’ dari كان sebagaimana disinggung sebelumnya. Frase تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ , artinya ‘anda saat sekarang telah melaksanakan shalat’, sebagai penegasan bahwa waktunya bukan di masa lampau. Kalau di masa lampau, tidak perlu ada tambahan تكون.
  3. Lafadz أَدَّيْتَ (engkau telah melaksanakan) adalah fi’il madhi أَدَّى – يُؤَدِّي (tashrif pola no.8 dengan Wazan فَعَّلَ- يُفَعِّلُ) 15. Fiil ini masuk kategori fi’il mu’tal 16 yaitu yang salah satu atau dua hurufnya adalah ا، و، ي . Dimana أدَّى memiliki huruf ا / ى di huruf terakhirnya (dan disebut mu’tal naqis).
  4. Lafadz قَدْ (sungguh) sebagai penegasan ‘sungguh mengerjakan’ terhadap kata sesudahnya أدَّى (melaksanakan).
  5. Lafadz الصَّلَاةَ (shalat) sebagai obyek/maf’ul bih. Isim ini juga isim Masdar yang dibentuk dari kata kerja صَلَّى-يُصَلِّي (pola tashrif no.8). Perhatikan I’rabnya manshub/fathah ةَ.
  6. Lafadz تُفَكِّرُ (engkau sedang memikirkan) adalah fi’il Mudhari’ 17 pola tashrif no.8 juga فَكَّرَ dengan faidah arti ‘me-mikir-kan (faidah no.1 di tabel tashrif).
  7. Tarkib فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. (tentang pekerjaan, makan malam, atau handphone) Ini jar Majrur dengan majrurnya lebih dari satu (pekerjaan, makan malam, atau hape), ketiganya di-kasrah ـلِ، ءِ، ـفِ.

c. Kajian Kalimat… إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ

إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ

Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Kalimat pengandai 18, yang terdiri dari:
      • huruf pengandai إِذَا
      • jumlah syarat حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ, dalam bentuk jumlah fi’liyyah yang terdiri dari:
        • fi’il madhi lazim حَدَثَ
        • muta’alliq bil fi’li لَكَ dengan huruf ta’alluq/jar لِ dan obyek dalam bentuk isim dhamir jar muttasil أَنْتَ – كَ
        • fa’il muakhkhar (diakhirkan) ذٰلِكَ
      • jumlah jawab syarat أَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ yang ditandai/diawali dengan huruf athaf فَ, yang berbentuk jumlah ismiyyah, yang terdiri dari:
        • mubtada‘ أَنْتَ
        • khabar dalam bentuk kalimat laisa لَيْسَ (kaana wa akhawatuha) لَسْتَ وَحْدَكَ, yang terdiri dari:
          • fi’il naqish laisa لَيْسَ + أَنْتَ = لَسْتَ
          • isim laisa berupa isim dhamir rafa’ muttasil تَ (anda)
          • khabar laisa [manshub] وَحْدَكَ berupa haal وَحْدَ dan dhamir majrur كَ (anda)
  2. Lafadz إِذَا (jika, apabila) adalah zharf zaman (kata keterangan waktu)
  3. Ini jumlah fi’liyah dengan fi’il حَدَثَ – يَحْدُثُ (pola tashrif no.2 19)
  4. Fa’il /subyeknya apa? Bukan لك، tapi ذٰلِكَ . Adapun لك adalah muta’alliq bil fi’li 20berbentuk jar wa Majrur.
  5. Huruf فَ (maka) adalah huruf athaf (kata hubung) 21 menyambung dua kalimat.
  6. Frase لَسْتَ وَحْدَكَ. (engkau tidaklah sendirian) ini saudara كان 22. Strukturnya : لَيْسَ + isim laisa أَنْتَ + Khabar laisa وَحْدَكَ. Isim laisa harus di-rafa’ kecuali untuk isim mabni seperti dhomir أنت ini tetap tidak berubah harakat huruf akhirnya, tetap ـتَ.
  7. Lafadz وَحْدَكَ adalah dua kata وَحْدٌ + كَ. Kata وَحْدٌ adalah isim Masdar dari fi’il lazim وَحَدَ (artinya sendirian, tidak memerlukan obyek). Adapun ـكَ disini adalah mudhaf ilaihi dari isim وَحْدٌ tapi karena sifatnya mabni maka tidak bisa di-jar.

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 4 Episode sebagai berikut:

A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat

B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran

C. Tiga (3) Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali

D. Kesimpulan 

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 4 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Noordiaryframes

Judul: Are You Worshipping Allah…  Or Just Following a Routine? https://youtu.be/d3-TECxXh1E?si=T5MjxJJYJ6PtLP6R


Bagi yang berminat membaca artikel/risalah islami, silahkan klik tautan berikut (Google Drive):

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan”

Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) …

Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …

Catatan Kaki/ Note:

  1. Dhamir Rafa’.
    Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
    Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
    ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
    ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
    Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
    ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
    ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
    Dhamir rafa’ ghoib
    ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
    ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
    ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
    ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi ↩︎
  2. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎
  3. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  4. Secara istilah ilmu nahwu, rubbama adalah huruf taqlil wa taktsir (menyatakan kadang-kadang atau sering), dan kedudukan rubbama di dalam kalimat dinamakan kaffah wa makfufah.
    Disebut mukaffah (huruf tambahan yang tugasnya menghentikan atau menghalangi rubba agar tidak menge-jar-kan/mengahirkan kata setelahnya).
    Karena sifatnya yang sudah diblokir fungsinya oleh ma, maka ia bisa masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyah) maupun kalimat verbal (jumlah fi’liyah) tanpa mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi kasrah/jar. ↩︎
  5. Kata/ Lafadz:
    Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
    Isim اِسْمٌ (kata benda)
    Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
    Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
    Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
    Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
    Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
    Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
    ↩︎
  6. Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
    membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
    mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
    menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
    meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
    dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ ↩︎
  7. Adalah fi’il yang menempelkan pelaku/ subyek menyatu satu kata padanya (sesudahnya). Bahkan sekaligus maf’ul bihi juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil.
    • a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
    • b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
    • c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
    • d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا. ↩︎
  8. Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.
    • Contoh:
    o خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
    • Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub.
    ↩︎
  9. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ
    ↩︎
  10. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
    لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
    ↩︎
  11. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih
    2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
    Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
    Dua jenis utama sybhul jumlah:
    Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
    Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
    Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
    Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
    Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎
  12. • Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    • Daftar Huruf jarr:
    o مِنْ. Dari
    o إلَى. Ke
    o عَنْ. Dari, tentang
    o لِ. Kepunyaan, untuk
    o مُنْدُ. Semenjak
    o عَلَى. Atas
    o حَتَّى. Sehingga
    o فِي. Didalam
    o بِ dengan
    o كَ. Seperti
    • Contoh:
    o a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    o b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir
    ↩︎
  13. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  14. Isim tamyiz adalah isim yang disebut setelah isim/ keadaan samar, untuk memperjelas.
    Contoh:
    اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كِتابًا. Saya membeli 5 bukuخمسة belum jelas 5 apa.
    Maka كِتابًا menjadi penjelas (Tamyiz) ↩︎
  15. Pola tashrif 8: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – فَعِّلْ – تَفْعِيلًا – مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ – فُعِّلَ – يُفَعَّلُ
    Fungsi wazan ini untuk mengubah kata kerja intransitif menjadi transitif, atau menunjukkan bahwa suatu perbuatan dilakukan berkali-kali, berulang-ulang, atau dilakukan secara masif.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعَّلَ diantaranya :
    1. Me-ngeluar-kan — خَرَّجَ
    2. Sering me-nutup — غَلَّقَ
    3. Banyak yang mati — مَوَّتَ
    4. Menuju ke arah timur — شَرَّقَ
    5. Melabelinya sbg kafir — كَفَّرَ
    6. Mengucapkan Allahuakbar — كَبَّرَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    mendekatkan : قَرَّبَ
    memperbanyak : كَثَّرَ
    mengharamkan : حَرَّمَ
    mendustakan : كَذَّبَ
    memahasucikan : سَبَّحَ
    memuji dengan baik : حَمَّدَ
    membesarkan : كَبَّرَ
    menggerakkan : حَرَّكَ
    menyerahkan : سَلَّمَ
    memasukkan : دَخَّلَ – يُذَخِّلُ
    memelihara, mendidik : رَبَّى – يُرَبِّي
    mengulangi : كَرَّرَ – يُكَرِّرُ
    meng-esa-kan : وَحَّدَ – يُوَحِّدُ
    menggembirakan : فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – فَرَِحْ – تَفْرِيْحًا – مُفَرِّحٌ – مُفَرَّحٌ – لَا تُفَرِّحْ
    digembirakan : فُرِّحَ – يُفَرَّحُ ↩︎
  16. Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
    a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
    b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
    c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
    d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
    e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
    Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎
  17. Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
    Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
    Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
    Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎
  18. 4. Isim Syarat (diikuti kalimat syarat & jawab syarat): _ إَذَا jika, apabila
    _ مَنْ siapa saja/ barang siapa
    _ مَتَى kapan saja
    _ مَا apa saja
    _ مَهْمَا bagaimana saja ↩︎
  19. Pola tashrif 2: فَعَلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    duduk : قَعَدَ – يَقْعُدُ
    menutupi : سَتَرَ – يَسْتُرُ
    melihat : نَظَرَ – يَنْظُرُ
    bersujud : سَجَدَ – يَسْجُدُ
    menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ – اُنْصُرْ – نَصْرًا – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ – لَا تَنْصُرْ
    ditolong : نُصِرَ – يُنْصَرُ ↩︎
  20. Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
    Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
    Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
    huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
    contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
    huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
    huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
    huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
    huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
    huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
    huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
    Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
    Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
    Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎
  21. Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
    Daftar huruf Athaf:
    a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
    b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
    c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
    Contoh:
    جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ ↩︎
  22. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh:
    Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana:
    a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    ↩︎

Responses

  1. Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) … Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) […]

    Like

  2. Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) […]

    Like

Leave a Reply