Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Orang-Orang Yang Dicintai Allah (Seri-4) …draft…

Orang-Orang Yang Dicintai Allah
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-4)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-4)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.

Kajian ini dilakukan berdasarkan Tool (alat bantu) Kajian berupa Tabel Rangkuman Nahwu Shorof untuk memudahkan dalam mengindentifikasi struktur kalimat, dan susunan kalimat berupa kata/huruf apa saja, baik peran/kedudukan kata maupun bentuk kata dan kelompok kata yang dipilih untuk memainkan peran/kedudukan tersebut. Tool (alat bantu) Kajian yang dimaksud dapat disimak terlebih dahulu di postingan tersendiri:

"Tool Kajian [Tabel Rangkuman Nahwu Shorof]".

#5) Memang baik (jika kita) dikenal karena perbuatan baik, tetapi jelas suatu perbuatan riya’ jika kita berusaha dikenal karena perbuatan baik kita. Toh, jika seseorang melakukan perbuatan baik, sudah pasti beberapa di antaranya akan menjadi diketahui banyak orang pada waktu-waktu tertentu.

مِنَ الْجَيْدِ أَنْ يُعْرَفَ الْمَرْءُ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الصَّالِحَةِ, وَلَكِنْ مِنَ الرِّيَاءِ بِوُضُوحٍ أَنْ نَسْعَى لِأَنْ نُعْرَفَ بِأَعْمَالِنَا الصَّالِحَةِ. إِذَا كَانَ شَخْصٌ بِأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ, فَمِنَ الْوَاضِحِ أَنَّ هُنَاكَ قَدْرًا مِنْهَا سَيَظْهَرُ الْعَلَنَ فِي أَوْقَاتٍ مُعَيَّنَةٍ.


a. Kajian Kalimat… مِنَ الْجَيْدِ أَنْ يُعْرَفَ الْمَرْءُ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الصَّالِحَةِ, وَلَكِنْ مِنَ الرِّيَاءِ بِوُضُوحٍ أَنْ نَسْعَى لِأَنْ نُعْرَفَ بِأَعْمَالِنَا الصَّالِحَةِ.

مِنَ الْجَيْدِ أَنْ يُعْرَفَ الْمَرْءُ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الصَّالِحَةِ, وَلَكِنْ مِنَ الرِّيَاءِ بِوُضُوحٍ أَنْ نَسْعَى لِأَنْ نُعْرَفَ بِأَعْمَالِنَا الصَّالِحَةِ.

Memang baik (jika kita) dikenal karena perbuatan baik, tetapi jelas suatu perbuatan riya’ jika kita berusaha dikenal karena perbuatan baik kita.

  1. Struktur kalimat pertama diatas مِنَ الْجَيْدِ أَنْ يُعْرَفَ الْمَرْءُ بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الصَّالِحَةِ dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Ini adalah jumlah ismiyyah dengan khabar muqoddam (predikat yang didahulukan) dan mubtada’ muakhkhar (subyek yang diakhirkan), dengan rincian sebagai berikut:
      • khabar مِنَ الْجَيْدِ (dari/termasuk hal yang baik, adalah baik) dalam bentuk sybhul jumlah jar wa majrur dengan huruf jar مِنْ dan isim majrur الْجَيْدِ
      • mubtada‘ dalam bentuk masdar muawwal أَنْ يُعْرَفَ الْمَرْءُ (dikenalnya seseorang)
      • muta’alliq bil masdar بِسَبَبِ أَعْمَالِهِ الصَّالِحَةِ
  2. Lafadz الْجَيْدِ adalah dalam bentuk sifat musyabbahah 1 dengan wazan mirip isim fa’il yang menunjukkan suatu sifat yang tetap/permanen pada pelakunya sepanjang waktu, berasal dari fi’il lazim جَادَ – يَجِيْدُ (memberi dengan baik hati), dan biasanya

b. Kajian kalimat…. إِذَا كَانَ شَخْصٌ بِأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ, فَمِنَ الْوَاضِحِ أَنَّ هُنَاكَ قَدْرًا مِنْهَا سَيَظْهَرُ الْعَلَنَ فِي أَوْقَاتٍ مُعَيَّنَةٍ.

إِذَا كَانَ شَخْصٌ بِأَعْمَالٍ صَالِحَةٍ, فَمِنَ الْوَاضِحِ أَنَّ هُنَاكَ قَدْرًا مِنْهَا سَيَظْهَرُ الْعَلَنَ فِي أَوْقَاتٍ مُعَيَّنَةٍ.

Toh, jika seseorang melakukan perbuatan baik, sudah pasti beberapa di antaranya akan menjadi diketahui banyak orang pada waktu-waktu tertentu.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Struktur kalimat pertama مَنْ هَؤُلَاءِ النَّاسُ؟ adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal), terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
  2. Ada

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:

A. Buku Tentang “Yang Dicintai Allah” Yang Menukil Hadits Nabi Mengenai Orang Yang ‘Menghindar’ dari Pujian dan Keterkenalan.

B. Kriteria Orang-orang Yang Dicintai Allah. Perbandingan Orang Yang Terkenal Di Mata Masyarakat dan Orang Yang Menghindar Dari Keterkenalan, Manakah Yang Dicintai Allah?

C. Majlis/Pertemuan Apa Yang Sebaiknya Dihindari Oleh Kita Dari Menonjolkan Diri

D. Perilaku Tauladan Ke-Tawadhu’-an Yang Dicontohkan Oleh Rasulullah Dan Sahabat Utsman Bin Affan

E. Kisah Seorang Ibu Petugas Kebersihan Masjid Yang Dicari Nabi untuk di-shalatkan Lagi Oleh Beliau Meskipun sudah Dikuburkan oleh Para Sahabat Tanpa Memberitahukannya Kepada Beliau Karena Dianggap Orang Biasa/Tidak Penting.

F. Hikmah Yang Bisa Diambil Dari Hadits Nabi Dan Kisah Ibu Petugas Kebersihan Masjid

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Orang-Orang Yang Dicintai Allah (The Story – Full 6 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Blogging Theology

Judul: “Allah Loves Those the World Overlooks” https://youtu.be/tqdMFbq3hs4?si=xc69zfK7xblcYyB-


Baca juga Seri kajian sebelumnya… Orang-orang Yang Dicintai Allah (Kajian-3) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


  1. Sifat Musyabbahah (sifat yang menyerupai) adalah kata sifat yang dibentuk dari fi’il lazim (kata kerja intransitif) untuk menunjukkan suatu sifat yang tetap/permanen atau melekat pada pelakunya sepanjang waktu. Sifat musyabbahah menyerupai isim fa’il dalam hal fungsinya sebagai sifat, tetapi memiliki perbedaan mendasar.
    Perbedaan utama dengan isim fa’il:
    Asal kata dari sifat musyabbahah adalah shorof (perubahan kata) dari fi’il lazim (dan khusus fi’il tsulatsi mujarrad, kata kerja 3 huruf), adapun untuk isim fa’il bisa berasal dari fi’il lazim maupun fi’il muta’addi.
    Dari sisi sifat waktu, sifat musyabbahah bersifat permanen/melekat, adapun isim fa’il bersifat temporer atau baru terjadi.
    Pola wazan dari sifat musyabbahah tidak hanya wazan فَاعِلٌ , namun juga dari beragam wazan lainnya seperti: فَعَلٌ, أَفْعَلُ, فَعْلَانُ
    Contoh kata:
    جَيْدٌ (yang baik perbuatan), حَسَنٌ (yang bagus, indah),
    شَجَاعٌ (yang pemberani), أَبْيَضُ (yang berwarna putih) ↩︎

Leave a Reply