
Orang-Orang Yang Dicintai Allah
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-2)
DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-2)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
Kajian ini dilakukan berdasarkan Tool (alat bantu) Kajian berupa Tabel Rangkuman Nahwu Shorof untuk memudahkan dalam mengindentifikasi struktur kalimat, dan susunan kalimat berupa kata/huruf apa saja, baik peran/kedudukan kata maupun bentuk kata dan kelompok kata yang dipilih untuk memainkan peran/kedudukan tersebut. Tool (alat bantu) Kajian yang dimaksud dapat disimak terlebih dahulu di postingan tersendiri:
"Tool Kajian [Tabel Rangkuman Nahwu Shorof]".
#2) Allah mencintai orang-orang yang tidak terkenal. Ini adalah bab yang luar biasa. Saya ingin membagikannya kepada Anda. Bab ini menyebutkan hadits-hadits dan pengajaran lain. Buku itu mengatakan hal-hal berikut.
اللَّهُ يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ. إِنَّهُ فَصْلٌ رَائِعٌ. أُرِيدُ أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ. يَذْكُرُ أَحَادِيثَ وَتَعَالِيمَ أُخْرَى. يَقُولُ الْكِتَابُ مَا يَلِي.
a. Kajian Kalimat… اللَّهُ يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ. إِنَّهُ فَصْلٌ رَائِعٌ. أُرِيدُ أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ.
اللَّهُ يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ. إِنَّهُ فَصْلٌ رَائِعٌ. أُرِيدُ أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ.
Allah mencintai orang-orang yang tidak terkenal. Ini adalah bab yang luar biasa. Saya ingin membagikannya kepada Anda. Saya ingin membagikannya kepada Anda.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- Ini adalah 3 kalimat sempurna yang dipisahkan oleh tanda ‘titik’.
- Kalimat pertama اللَّهُ يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ dengan struktur jumlah ismiyyah 1 (kalimat nominal), dan tersusun dari kata-kata dengan peran/ kedudukan secara berurutan yaitu; mubtada‘ اللَّهُ dalam bentuk isim makrifah marfu’, dan khabar يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ dalam bentuk jumlah fi’liyyah .
- Kalimat ketiga أُرِيدُ أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ dengan struktur jumlah fi’liyyah 2 dengan fi’il lazim أُرِيدُ dan obyek tak langsung dalam bentuk masdar muawwal أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ
- Kalimat kedua إِنَّهُ فَصْلٌ رَائِعٌ dengan struktur jumlah inna 3 tersusun dari kata-kata yang berperan/kedudukan sebagai harf taukid إِنَّ , isim inna هُ , dan khabar inna فَصْلٌ رَائِعٌ
- Sekarang mari kita rinci tiap kata/lafadz satu per satu (kalimat ke-1) اللَّهُ يُحِبُّ غَيْرَ الْمَشْهُورِينَ :
- Lafadz اللَّهُ adalah mubtada’ dalam bentuk isim makrifah dengan i’rab marfu’/dhammah
- Lafadz يُحِبُّ adalah fi’il mudhari lazim 4‘ dengan fa’il berupa isim dhamir mustatir 5 هُوَ – يُ , yang tersambung langsung dengan fi’il.
- Lafadz غَيْرَ (yang bukan/tidak, selain) adalah maf’ul bih/obyek dengan i’rab manshub/fathah, dalam bentuk murakkab idhafiy 6 sebagai mudhaf, dan diikuti oleh kata sesudahnya sebagai mudhaf ilaih.
- Lafadz الْمَشْهُورِينَ adalah mudhaf ilaih-nya dengan i’rab majrur/kasrah. Lafadz ini dalam bentuk isim fa’il 7 (dengan makna sifat) dari kata dasar fi’il شَهَرَ (membuat terkenal), dan masuk kelompok isim jamak mudzakkar salim 8 .
- Selanjutnya mari kita rinci tiap kata/lafadz untuk kalimat ke-2 إِنَّهُ فَصْلٌ رَائِعٌ yang diawali oleh harf taukid إِنَّ , dan :
- Isim Inna هُ dalam bentuk isim dhamir muttasil هُوَ – هُ 9 , dan
- khabar inna فَصْلٌ رَائِعٌ dengan i’rab marfu‘ , dalam bentuk murakkab washfiy 10 yang terdiri dari:
- man’ut فَصْلٌ dalam bentuk isim naqirah dengan i’rab marfu‘/dhammatain.
- na’at/sifat رَائِعٌ dalam bentuk kata sifat dengan bentuk dan i’rab mengikuti man’ut yaitu isim naqirah marfu‘/ dhammatain.
- Selanjutnya mari kita rinci tiap kata/lafadz untuk kalimat ke-3 أُرِيدُ أَنْ أُشَارِكَهُ مَعَكُمْ :
- fi’il lazim أَرَادَ – يُرِيْدُ (mau, ingin, hendak, rela, mencari, berniat)
- fa’il أَنَا – أَ berupa isim dhamir rafa’ muttasil yang tersambung langsung ke fi’il, sehingga menjadi أُرِيدُ (saya ingin).
- obyek tak langsung dalam bentuk masdar muawwal 11 أَنْ أُشَارِكَهُ , yang diawali oleh huruf masdariyyah 12 أَنْ (penashab/ pembuat i’rab manshub), dan fi’il mudhari’ manshub أُشَارِكَ , dan obyek dalam bentuk isim dhamir nashab muttasil هُوَ – هُ.
- Lafadz رَائِعٌ (sangat bagus, elok, hebat, mengagumkan, sempurna) sebagai kata sifat, adalah dalam bentuk isim fa’il dari kata kerja/fi’il رَاعَ – يَرُوعُ (menyenangkan).
b. Kajian kalimat…. يَذْكُرُ أَحَادِيثَ وَتَعَالِيمَ أُخْرَى. يَقُولُ الْكِتَابُ مَا يَلِي.
. يَذْكُرُ أَحَادِيثَ وَتَعَالِيمَ أُخْرَى. يَقُولُ الْكِتَابُ مَا يَلِي.
Bab ini menyebutkan hadits-hadits dan pengajaran lain. Buku itu mengatakan hal-hal berikut.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- Struktur kalimat pertama يَذْكُرُ أَحَادِيثَ وَتَعَالِيمَ أُخْرَى adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal), terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
- fi’il mudhari’ ذَكَرَ – يَذْكُرُ (menyebut, mengingat, mengacu pada, menunjukkan) dengan fa’il dalam bentuk isim dhamir mustatir هُوَ – يَ .
- maf’ul bih/obyek تَعَالِيمَ dalam bentuk isim jamak taktsir 13 dan dari bentuknya masuk juga dalam kelompok isim ghoir munsharif 14 , dari kata tunggal-nya isim mufrad حَدِيْثٌ .
- huruf athaf وَ (dan)
- maf’ul bih/obyek (kedua) أَحَادِيثَ dalam bentuk isim jamak taktsir dan dari bentuknya masuk juga dalam kelompok isim ghoir munsharif , dari kata tunggal-nya isim mufrad تَعْلِيمٌ .
- lafadz أُخْرَى adalah na’at/ kata sifat dari man’ut تَعَالِيمَ , dan i’rabnya manshub. Lafadz ini dalam bentuk muannats karena mengikuti man’ut yang juga muannats (jamak).
- Struktur kalimat kedua يَقُولُ الْكِتَابُ مَا يَلِي adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal), terdiri dari kata-kata penyusun dengan peran/kedudukan sebagai berikut:
- fi’il mudhari‘ قَالَ – يَقُولُ (berkata, mengatakan)
- fa’il الْكِتَابُ dalam bentuk isim mufrad dengan i’rab marfu’/dhammah.
- maf’ul bih/obyek مَا يَلِي dalam bentuk isim maushul 15 مَا (apa yang, sesuatu yang) , dan karena sebagai obyek maka disebut fi mahalli nashbin maf’ul bih (menempati posisi obyek i’rab nashab). Jadi, rinciannya adalah:
- isim maushul مَا
- shilah maushul dalam bentuk fi’il mudhari’ وَلَى – يَلِي (dekat dengan, mengikuti, datang setelahnya)
- Struktur kalimat pertama يَذْكُرُ أَحَادِيثَ وَتَعَالِيمَ أُخْرَى adalah jumlah fi’liyyah (kalimat verbal), terdiri dari kata-kata dengan peran/kedudukan:
- Lafadz يَقُولُ adalah masuk kategori fi’il mu’tal 16 karena mengandung salah satu huruf illat didalamnya, yaitu dari bentuk fi’il madhi قَالَ .
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 6 EPISODE (LINK)
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:
A. Buku Tentang “Yang Dicintai Allah” Yang Menukil Hadits Nabi Mengenai Orang Yang ‘Menghindar’ dari Pujian dan Keterkenalan.
B. Kriteria Orang-orang Yang Dicintai Allah. Perbandingan Orang Yang Terkenal Di Mata Masyarakat dan Orang Yang Menghindar Dari Keterkenalan, Manakah Yang Dicintai Allah?
C. Majlis/Pertemuan Apa Yang Sebaiknya Dihindari Oleh Kita Dari Menonjolkan Diri
D. Perilaku Tauladan Ke-Tawadhu’-an Yang Dicontohkan Oleh Rasulullah Dan Sahabat Utsman Bin Affan
E. Kisah Seorang Ibu Petugas Kebersihan Masjid Yang Dicari Nabi untuk di-shalatkan Lagi Oleh Beliau Meskipun sudah Dikuburkan oleh Para Sahabat Tanpa Memberitahukannya Kepada Beliau Karena Dianggap Orang Biasa/Tidak Penting.
F. Hikmah Yang Bisa Diambil Dari Hadits Nabi Dan Kisah Ibu Petugas Kebersihan Masjid
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
…Orang-Orang Yang Dicintai Allah (The Story – Full 6 Episodes)…
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
YouTube By: Blogging Theology
Judul: “Allah Loves Those the World Overlooks” https://youtu.be/tqdMFbq3hs4?si=xc69zfK7xblcYyB-
Baca juga Seri kajian sebelumnya… Orang-orang Yang Dicintai Allah (Kajian-1) …
Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
- Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran dhammah ـُ). Contoh:
a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎ - Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada‘ menjadi manshub (disebut isim inna), dan membuat khabar menjadi marfu‘ (disebut khabar inna).
Contoh: Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
Saudara-saudara inna: لَكِنَّ, أَنَّ, كَأنَّ, لَعَلَّ, لَيْتَ, لَا 1) لَكِنَّ، tetapi
2) Sesungguhnya أَنَّ
3) كَأنَّ. Seolah-olah
4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
5) لَيْتَ. Ingin sekali
لَا 6 . tidak, tidak ada, contoh: لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎ - Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت).
Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎ - Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).
Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) . ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini). Terdiri dari isim isyarah (seperti هَذَا ), dan musyar ilaih (seperti القَلَمُ ). Musyar ilaih berbentuk isim makrifah (didahului alim lam الْ )
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎ - Isim Fa’il dan Isim Maf’ul, keduanya mempelajari pola kata untuk menentukan pelaku (subjek) yang melakukan pekerjaan dan objek yang dikenai pekerjaan.
Keduanya merupakan bentuk kata turunan/mushtaq (الكَلِمَة المُشْتَقَة) dari kata dasar/akar kata (الجَدْر).
Isim Fa’il:
_Rincian:
Isim fa’il adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ, contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan). ↩︎ - _
1. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena). ↩︎ - Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek/fa’il atau obyek/maf’ul bih yang menyatu satu kata dengan fi’il. Untuk fa’il yang kaidah i’rab-nya marfu’, maka isim dhamir nya disebut sebagai dhamir rafa’, dan untuk maf’ul bih yang kaidah i’rab-nya manshub maka isim dhamir nya disebut dhamir nashab.
a. Dhamir Rafa’ (sebagai fa’il)
_Rincian:
Dhamir Rafa’.
Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
Dhamir rafa’ ghoib
ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini). Terdiri dari isim isyarah (seperti هَذَا ), dan musyar ilaih (seperti القَلَمُ ). Musyar ilaih berbentuk isim makrifah (didahului alim lam الْ )
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎ - Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih, perbedaan utama keduanya terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
1. Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
2. Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎ - Huruf masdariyah dalam tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) adalah huruf-huruf yang bersama dengan kata setelahnya dapat ditakwil (diubah maknanya) menjadi Masdar Muawwal (kata benda turunan). Yang populer adalah أَنْ (An) dan أَنَّ (Anna) .
1. Penjelasan أَنْ (An)
أَنْ (An) adalah huruf mashdariyah dan nashab. Artinya, huruf ini berfungsi untuk menashabkan (mengubah harakat akhir menjadi fathah) kata kerja setelahnya, dan mengubah makna rangkaian kata tersebut menjadi kata benda abstrak (masdar mu’awwal).
Aturan: Harus diikuti oleh Fi’il (Kata Kerja).
Arti biasa: “Untuk” atau “Bahwa“.
Contoh Kalimat: أُرِيْدُ أَنْ أَقْرَأَ الكِتَابَ (Saya ingin untuk membaca buku itu). ↩︎ - 1. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena). ↩︎ - Isim Ghoir Musharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin (tidak bisa berharakat dhommatain, fathatain, kasrotain) dan tidak bisa berharakat kasrah saat berada dalam posisi jar, dan menjadi fathah sebagai gantinya.
Contoh: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ …(padahal harusnya دِ ).
Kecuali diawali dengan al الْ، atau menjadi mudhaf, maka baru bisa kasrah.
Penyebab suatu kata dikategorikan sebagai isim Ghoir munsharif, yaitu:
a. Kata sifat tertentu
b. Nama orang tertentu
c. Jika isim memiliki salah satu dari 3 kriteria berikut:
Berikut kriterianya:
1) Kata jamak taksir yang ditengahnya ada huruf Alif, contoh: مَسَاجِدُ masjid-masjid
مَدَارِسُ sekolah-sekolah
مَصَابِيْحُ lampu-lampu
2) Diakhiri Alif ta’nis maqsuroh (diakhiri ا atau ى). Contoh: حُبْلَى wanita hamil
مَرْضَى orang-orang yang sakit
3) Diakhiri Alif ta’nis mamdudah, yaitu Alif panjang dan Hamzah (اء) , contoh: عُلَمَاءُ para ulama
حَضْرَاءُ hijau ↩︎ - 5. Isim Maushul (& shilah maushul): الَّذِي, الَّتِي, اللَّاتِى, الَّذِينَ, اللَّذَانِ, اللَّتَانِ Isim Maushul/ kata sambung/penghubung, artinya “yang”, seperti: Untuk benda tunggal: الَّتِي (pr.)، الَّذِي, (lk.)
Untuk benda ganda: اللَّذَانِ (lk.), اللَّتَانِ (pr.)
Untuk benda jamak: الَّذِينَ (lk.), اللَّاتِى (pr.)
Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab. Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar) ↩︎ - Huruf Illat:
Huruf Illat membedakan huruf asal yang normal (shahih) dengan huruf lemah (penyakit) seperti alif, wau, dan ya yang sering mengubah cara baca atau tulisan suatu kata.
Merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah).
Perbedaan Alif ا dan Hamzah أ ء :
Keduanya berbeda sama sekali.
Alif ا merupakan huruf illat. Alif tidak pernah menerima harakat kecuali sukun اْ، dan hanya berfungsi memanjangkan ketukan suara.
Hamzah (أ، ء) bukan huruf Illat melainkan huruf shahih (sehat) yang bisa menerima harakat.
Huruf Hamzah bisa berubah-ubah bentuk tergantung posisi dalam kata (didepan, di tengah, di belakang), dan berubahnya tergantung juga dari harakat huruf sebelumnya، atau huruf sesudahnya (ي atau و ، atau ا). Sebagai contoh, untuk kata سُؤَالٍ kita tidak bisa menuliskan سُءَالٍ karena kalau ditengah kata harus ‘digendong’ menjadi ؤ atau ئ atau أ، namun karena harakat huruf sebelumnya adalah rafa’ ( سُ ), maka ء harus menjadi ؤ .
Fi’il Mu’tal [Fi’il Mitsal, Fi’il Ajwaf, Fi’il Naqish, Lafif Maqrun, Lafif Mafruq]:
Fi’il Mu’tal ( فعل معتل ) adalah kata kerja yang mengandung huruf illat, sebagai lawannya fi’il shahih, terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat):
a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
c) Fi’il naqish (akhir): دعا، رمى
d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ ↩︎
Leave a Reply