Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Seri-3)

Mengapa Al-Qur'an Sulit Diterjemahkan? (Secara Lengkap/Utuh)
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-3)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#3) Selamat datang kembali di “Jalan Islam”. Saya Muhammad. Jika Anda baru di sini, kanal ini menjelaskan Islam melalui sejarah, sains, dan bahasa.

أَهْلًا بِكُمْ مُجَدَّدًا فِي “طَرِيقِ الْإِسْلَامِ”. أَنَا مُحَمَّدٌ. إِذَا كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا، فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ مِنْ خِلَالِ التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ


a. Kajian Kalimat…أَهْلًا بِكُمْ مُجَدَّدًا فِي “طَرِيقِ الْإِسْلَامِ”. أَنَا مُحَمَّدٌ.

أَهْلًا بِكُمْ مُجَدَّدًا فِي “طَرِيقِ الْإِسْلَامِ”. أَنَا مُحَمَّدٌ.

Selamat datang kembali di “Jalan Islam”. Saya Muhammad.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah fi’liyyah dengan fi’il mahdzuf (disembunyikan)
    • maf’ul bih [manshub] أَهْلًا
    • jar wa majrur بِكُمْ
    • Haal dalam bentuk zharf zaman [manshub] مُجَدَّدًا
    • zharf makan فِي “طَرِيقِ الْإِسْلَامِ” dalam bentuk/terdiri dari :
      • jar wa majrur فِي طَرِيقِ
      • idhafiy [majrur] طَرِيقِ الْإِسْلَامِ
    • Kalimat ke-2: jumlah ismiyyah أَنَا مُحَمَّدٌ , yang terdiri dari:
      • mubtada‘ أَنَا dalam bentuk isim dhamir munfasil
      • khabar [marfu‘] مُحَمَّدٌ dalam bentuk isim alam
  2. Dalam ilmu nahwu, أَهْلًا بِكُمْ sebetulnya adalah kalimat verbal (jumlah fi’liyyah)1 . Namun muncul pertanyaan: Dimana kata kerja/fi’il nya ?, karena أَهْلًا tanda harakatnya nashab (fathatain) 2, dan jelas bukan fi’il yang tidak pernah menerima tanwin, dan apapun yang ber-i’rab tanwin adalah isim.
  3. Betul, lafadz أَهْلًا memang isim (kata benda) yang artinya “keluarga/kerabat” yang berasal dari kata dasar isim-nya أَهْلٌ , dan memang sering dimaknai/diartikan dengan “Selamat Datang“.
  4. Isim yang ber-i’rab manshub ini أَهْلًا tentunya dalam kedudukan maf’ul bih (obyek) – dari kata kerja yang tidak disebutkan/ fi’il mahdzuf (disembunyikan), untuk menyingkat ungkapan kehangatan.
  5. Kalimat lengkap yang tersirat di balik ucapan tersebut (أَهْلًا بِكُمْ) adalah: جِئْتَ أَهْلً yang artinya “Anda telah mendatangi/singgah di (lingkungan) keluarga (sendiri)“. Ada juga yang memaknainya sebagai kalimat حَلَلْتَ أَهْلًا yang artinya “Anda telah singgah/berdiam حَلَّ di (lingkungan) keluarga (sendiri)“. Maka, makna tersirat dari هْلًا بِكُمْ bisa juga berarti “Anda telah datang ke tengah-tengah keluarga sendiri, maka anggaplah kami seperti keluarga Anda.”
  6. Lafadz مُجَدَّدًا (lagi, sekali lagi) adalah isim maf’ul (isim turunan) dari kata kerja جَدَّدَ – يُجَدِّدُ (memperbaharui).
  7. Sebagai isim maf’ul maka arti harfiyah dari kata مُجَدَّدًا adalah “yang diperbaharui“, dan diartikan secara umum “sekali lagi“.
  8. Dalam ilmu shorof, kata ini masuk kategori pola no. 8 3 pada tabel tashrif.
  9. Adapun kedudukan kata مُجَدَّدًا disini sebagai haal 4 (kata keadaan) dari perbuatan subyeknya.
  10. Frase kalimat “طَرِيقِ الْإِسْلَامِ” (jalan Islam, jalannya islam) adalah bentuk murakkab idhafiy 5 , dengan mudhaf طَرِيقِ 6 dan mudhaf ilaih-nya الْإِسْلَامِ. Kaidah untuk mudhaf ilaih adalah isim makrifah i’rab majrur/kasrah 7 , adapun i’rab dari mudhaf طَرِيقِ tergantung posisinya dalam kalimat, disini majrur karena sebagai isim majrur dari murakkab jar wa majrur فِي طَرِيقِ dengan huruf jar فِي (di). Sebagai mudhaf maka tidak boleh didahului huruf al (الطريق ) karena sebagai mudhaf yang disandarkan ke mudhaf ilaih sudah pasti menjadi makrifah.
  11. Lafadz الْإِسْلَامِ (Islam, ketundukan, penyerahan diri) adalah isim masdar 8 dari kata kerja أَسْلَمَ – يُسْلِمُ (tunduk, patuh, menyerah). Ada yang unik dari arti asal kata kerjanya ini, yaitu “tunduk, patuh, menyerah“. Ini dalam tabel tashrif masuk kategori Pola no.7. 9
  12. Lafadz أَسْلَمَ sendiri sebenarnya adalah shorof (perubahan kata) dalam ilmu shorof dari kata dasar سَلِمَ – يَسْلَمُ yang artinya “terlepas dari bahaya, lolos, aman, tetap utuh“. Itulah mungkin yang mendasari bahwa masuk Islam adalah pada hakikatnya terlepas dari bahaya. Masyaallah…
  13. Kalimat أَنَا مُحَمَّدٌ adalah kalimat nominal (jumlah ismiyyah) 10 sederhana, yang terdiri dari mubtada’/subyek أَنَا (saya) dan khabar/predikat مُحَمَّدٌ dengan kaidah keduanya i’rab marfu’/dhammah.
  14. Kata مُحَمَّدٌ adalah isim alam (nama diri) yaitu salah satu dari kelompok isim makrifah.

b. Kajian kalimat… إِذَا كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا، فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ مِنْ خِلَالِ التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ

إِذَا كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا، فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ مِنْ خِلَالِ التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ

Jika Anda baru di sini, kanal ini menjelaskan Islam melalui sejarah, sains, dan bahasa.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf pengandai إَذَا
    • jumlah syarat كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا, dalam bentuk kalimat kaana, yang terdiri dari:
      • Fi’il naqish kaana, dengan isim kaana berupa dhamir rafa‘ أَنْتَ – تَ
      • khabar kaana berupa zharf zaman [manshub] جَدِيدًا
      • zharf makan هُنَا
    • jumlah jawab syarat فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ مِنْ خِلَالِ التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ berupa jumlah ismiyyah dalam bentuk kalimat inna , yang terdiri dari:
      • huruf taukid/penegas أِنَّ yang diawali فَ sebagai huruf sambung/athaf ke jumlah syarat.
      • isim inna [manshub] هَذِهِ الْقَنَاةَ dengan isim isyarah muannats هَذِهِ
      • khabar kaana [fi mahalli raf’in] تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ مِنْ خِلَالِ التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ, berupa jumlah fi’liyyah yang terdiri dari:
        • fi’il mudhari‘ تَشْرَحُ dengan dhamir rafa’ تَ muannats (هِيَ )
        • maf’ul bih [manshub] الْإِسْلَامَ
        • murakkab jar wa majrur مِنْ خِلَالِ
        • sybhul jumlah, yang terdiri dari:
          • zharf makan خِلَالِ +
          • 3 (tiga) mudhaf ilaihi [majrur] التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ , yang disambung huruf athaf wa وَ
  2. Ini adalah kalimat pengandaian dengan huruf pengandai إَذَا (andai) 11 , diikuti oleh kalimat syarat (jumlah syarat) كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا dan diakhiri dengan kalimat jawab (jumlah jawab syarat) فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ.
  3. Jumlah syarat disebut juga sebagai Fi mahalli jarrin mudhaf ilaih, karena didahului oleh إَذَا yang berkedudukan sebagai mudhaf 12.
  4. Adapun jumlah jawab syarat tidak memiliki kedudukan i’rab.
  5. Kedudukan i’rab lafadz إَذَا adalah fi mahalli nasbin (dalam kedudukan i’rab nashab) karena ia adalah zharf zaman 13 (kata keterangan waktu).
  6. Frase kalimat إِذَا كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا, ini artinya “jika anda ‘dalam keadaan’ baru disini“, Kata كُنْتَ adalah bentuk past present tense dalam bahasa inggris ‘was/were‘ (if you were new here) dalam bentuk lampau dari أَنْتَ + يَكُوْنُ (anda ada/menjadi).
  7. Dari sisi ilmu nahwu, maka كُنْتَ جَدِيدًا هُنَا adalah bentuk kalimat kaana 14 dengan isim kaana berupa isim dhamir mustatir 15 أَنْتَ – تَ yang menyatu dengan kata kerjanya كَانَ menjadi كُنْتَ , dan khabar kaana جَدِيدًا kaidahnya manshub/fathah. Disini harakatnya menjadi fathatain karena sebagai isim (sifat) naqirah.
  8. Lafadz هُنَا (disini) adalah zharf makan (keterangan tempat).
  9. Kalimat فَإِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ adalah jumlah jawab syarat dari kalimat pengandaian إَذَا sebelumnya, yang mana ia didahului oleh huruf penegas فَ (maka, dalam waktu segera/langsung).
  10. Frase kalimat إِنَّ هَذِهِ الْقَنَاةَ تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ adalah kalimat inna 16 dengan kaidah isim inna berharakat manshub/fathah هَذِهِ الْقَنَاةَ, dan khabar inna berharakat marfu‘/dhammah تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ (fi mahalli raf’in khabar inna).
  11. Frase هَذِهِ الْقَنَاةَ (kanal ‘youtube’ ini) adalah isim mufrad muannats 17 18 (kata benda tunggal feminin).
  12. Kalimat تَشْرَحُ الْإِسْلَامَ (menjelaskan Islam) adalah jumlah fi’liyyah dengan fi’il mudhari’ 19 يَشْرَحُ yang menggandeng fa’il berupa isim dhamir mustatir (kata ganti orang tersembunyi) هِيَ , dalam hal ini menunjuk ke isim kaana هَذِهِ الْقَنَاةَ yang juga feminin/muannats.
  13. Lafadz الْإِسْلَامَ adalah obyeknya (maf’ul bih) 20 dengan kaidah i’rab manshub/fathah.
  14. Frase kalimat مِنْ خِلَالِ (melalui, keluar dari, dari) adalah dalam bentuk murakkab jar wa majrur dengan huruf jar مِنْ (dari) dan isim majrur-nya خِلَالِ.
  15. Lafadz التَّارِيخِ وَالْعُلُومِ وَاللُّغَةِ (sejarah, ilmu-ilmu, dan bahasa) adalah tiga (3) isim dengan kedudukan sebagai mudhaf ilahi dari mudhaf خِلَالُ dan kaidahnya sebagai mudhaf ilaih adalah majrur ketiga-tiganya. Dan ketiga isim tersebut disambung oleh huruf sambung (huruf athaf) 21 wawu وَ (dan).
  16. Lafadz الْعُلُومُ adalah isim jamak, adapun isim mufrad (tunggal) nya adalah الْعِلْمُ .

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 5 Episode sebagai berikut:

A. Kekayaan Makna – Tantangan Dalam Menerjemah Al-Qur’an

B. Kedalaman Bahasa Arab dan Sistem Orientasi Akar Kata

C. Pilihan Susunan Kata Dalam Setiap Ayat dan Pengaruh dalam Penekanan Makna

D. Suara & Irama Keselarasan Ayat Yang Tidak Bisa Diterjemahkan

E. Jalan Menuju Pemahaman

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (The Story – Full 5 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: StartIslamPath

Judul: Why the Quran is Impossible to Translate (The Science of Arabic) https://youtu.be/SmN1VjqbJM0?si=vonQ3QeIWgX03uZi


Baca kajian sesudahnya … Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-4) …

Baca kajian sebelumnya … Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-2) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Harakat adalah tanda baca atau diakritik yang diletakkan di atas atau di bawah huruf hijaiyah untuk memperjelas gerak, pengucapan, dan bunyi vokal suatu huruf Arab.
    Macam-Macam Harakat Utama:
    Fathah: Garis horizontal kecil di atas huruf ( َ ) yang melambangkan bunyi “a”.
    Kasrah: Garis horizontal kecil di bawah huruf ( ِ ) yang melambangkan bunyi “i”.
    Dhammah: Tanda kecil di atas huruf yang menyerupai bentuk koma atau angka sembilan kecil ( ُِ ) yang melambangkan bunyi “u”.
    Sukun: Tanda bulat atau menyerupai huruf ‘ha’ kecil di atas huruf ( ْ ) yang menandakan huruf mati atau tidak berbunyi vokal.
    Tasydid (Syaddah): Tanda berbentuk seperti huruf ‘w’ kecil di atas huruf ( ّ ) yang menunjukkan penekanan atau penggąndaan huruf.
    Tanwin: Tanda baca untuk bunyi nun mati di akhir kata, terdiri dari Fathatain ( ً-an), Kasratain ( ٍ-in), dan Dhammatain ( ٌ -un). ↩︎
  3. Pola tashrif 8: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – فَعِّلْ – تَفْعِيلًا – مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ – فُعِّلَ – يُفَعَّلُ
    Fungsi wazan ini untuk mengubah kata kerja intransitif menjadi transitif, atau menunjukkan bahwa suatu perbuatan dilakukan berkali-kali, berulang-ulang, atau dilakukan secara masif.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعَّلَ diantaranya :
    1. Me-ngeluar-kan — خَرَّجَ
    2. Sering me-nutup — غَلَّقَ
    3. Banyak yang mati — مَوَّتَ
    4. Menuju ke arah timur — شَرَّقَ
    5. Melabelinya sbg kafir — كَفَّرَ
    6. Mengucapkan Allahuakbar — كَبَّرَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    mendekatkan : قَرَّبَ
    memperbanyak : كَثَّرَ
    mengharamkan : حَرَّمَ
    mendustakan : كَذَّبَ
    memahasucikan : سَبَّحَ
    memuji dengan baik : حَمَّدَ
    membesarkan : كَبَّرَ
    menggerakkan : حَرَّكَ
    menyerahkan : سَلَّمَ
    memasukkan : دَخَّلَ – يُذَخِّلُ
    memelihara, mendidik : رَبَّى – يُرَبِّي
    mengulangi : كَرَّرَ – يُكَرِّرُ
    meng-esa-kan : وَحَّدَ – يُوَحِّدُ
    menggembirakan : فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – فَرَِحْ – تَفْرِيْحًا – مُفَرِّحٌ – مُفَرَّحٌ – لَا تُفَرِّحْ
    digembirakan : فُرِّحَ – يُفَرَّحُ ↩︎
  4. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎
  5. Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya Kitabun Muhammadin(Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Mausuf / Na’t dan Man’ut), contohnya Al-Manjilu Kabir (Rumah yang besar).
    Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya Fil baiti (Di dalam rumah).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya Hazal kalamu (pulpen ini). ↩︎
  6. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
  7. Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.
    Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
    Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku).
    ↩︎
  8. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ  ↩︎
  9. Pola tashrif 7: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ – أَفْعِلْ – إِفْعَالًا – مُفْعِلٌ، مُفْعَلٌ – أُفْعِلَ – يُفْعَلُ
    Fungsi utamanya adalah menjadikan transitif. Wazan ini mengubah kata kerja yang tadinya tidak butuh objek (intransitif) menjadi butuh objek (transitif), atau menambah jumlah objeknya. Kadang juga menunjukkan waktu/tempat.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan أَفْعَلَ diantaranya :
    1. Me-nurun-kan — أَنْزَلَ
    2. Menjadi berbuah — أَثْمَرَ
    3. Mendapatinya lalai — أَغْفَلَ
    4. Masuk waktu subuh — أَصْبَحَ
    5. Waktunya panen — أَحْصَدَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    memberitahu : أَعْلَمَ
    menginfaqkan : أَنْفَقَ
    membereskan : أَصْلَحَ
    memasukkan : أَذْخَلَ
    menetapkan : أَثْبَتَ
    menurunkan : أَنْزَلَ
    berbuat baik : أَحْسَنَ – يُحْسِنُ
    berserah diri, masuk islam : أَسْلَمَ – يُسْلِمُ
    memuliakan : أَكْرَمَ
    memahami : أَفْهَمَ
    mengenakan (pakaian) : أَلْبَسَ
    mengeluarkan : أَخْرَجَ – يُخْرِجُ
    menyiapkan: أَعَدَّ – يُعِدּُ
    mengadakan, mewujudkan : أَوْجَدَ – يُوجِدُ
    menyampaikan, menghubungkan : أَوْصَلَ – يُوصِلُ
    menginginkan, menghendaki : أَرَادَ – يُرِيدُ
    memberi : أَعْطَى – يُعْطِي
    melempar, menyampaikan : أَلْقَى – يُلْقِي
    menjadi berbuah : أَثْمَرَ
    menjadi berdaun : أَوْرَقَ
    mendirikan, menegakkan : أَقَامَ – يُقِيمُ – أَقِمْ – إَقَامَةٌ – مُقِيْمٌ – مُقَامٌ – لَا تَقِمْ
    didirikan, ditegakkan: أُقِيْمَ – يُقِيْمُ ↩︎
  10. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎
  11. Isim Syarat (diikuti kalimat syarat & jawab syarat): _ إَذَا jika, apabila
    _ مَنْ siapa saja/ barang siapa
    _ مَتَى kapan saja
    _ مَا apa saja
    _ مَهْمَا bagaimana saja ↩︎
  12. Idhafah terjadi pada mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
  13. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):
    Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf Zaman (baina, bainama, al-aana, nahaaron, masaa’an, ghodan, shobaahan, laylan)
    Contoh Zharf Zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu):
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang)
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang). ↩︎
  14. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh: Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana: a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    i)  ↩︎
  15. Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).
    Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
    Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) . ↩︎
  16. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
    لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎
  17. 1. Isim mudzakkar: kata benda laki-laki atau yang dianggap laki-laki. Isim ini tidak pernah diakhiri dengan ta’ marbutoh (ة), Contoh: رَجُلٌ (seorang pria)
    2. Isim muannats: kata benda perempuan, biasanya ditandai ta’ marbutoh (ة) di akhir. Contoh: فَتاةٌ (seorang gadis), فاتِمَةٌ (Fatimah) ↩︎
  18. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
    2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
    3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
    4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
    5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena). ↩︎
  19. Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
    Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
    Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
    Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎
  20. Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.
    Contoh: خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
    Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub. ↩︎
  21. Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
    Daftar huruf Athaf:
    a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
    b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
    c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah ↩︎

Responses

  1. Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Seri-2) – كَلامُ الهادِي Khazanah Kalaamul-Hadi Avatar

    […] kajian sesudahnya… Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-3) […]

    Like

Leave a Reply