Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2)

Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-2)

DAFTAR ISI:

|

|

I._PENGANTAR ARTIKEL

_klik disini…

Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas  berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.

Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.

Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.

Penyusun…:


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-2)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.

Cuplikan Kalimat…

a.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ

Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana.

  1. Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) 1 dengan fi’il  قَرَأَ yang diawali kata رُبَّمَا 2.  
  2. Kata قَرَأَ dalam Tashrif adalah fi’il dengan pola فَعَلَ yaitu no.3 pada tabel Tashrif 3. ـتَ (kamu) yang menempel disebut subyek dari قَرَأَ dan atributnya adalah dhamir rafa’ muttasil 4 (kata ganti orang tersambung ke kata kerja, dan I’rabnya rafa’).
  3. Kata الْقُرْآنَ adalah obyek (Maf’ul bih) 5. Uniknya, kata ini adalah isim Masdar 6 dari kata fi’il قَرَأَ itu juga, artinya ‘bacaan’. Makanya Al-Quran adalah default bacaan yang perlu dibaca.
  4. Kata لَكِنَّ adalah salah satu dari keluarga Isim Inna 7 (huruf pembikin nashab إنَّ ), artinya kata yang mengikutinya harus di-I’rab Manshub (di-fathah), dan disebut isim Inna ذِهْنَ (bukan ذِهْنُ atau ذِهْنِ ).
  5. Sesudah isim anna , kata yang mengikutinya dinamakan Khabar Anna, dan harus Marfu’ (di-rafa’), kecuali kata yang mabni seperti dalam kalimat ini كَانَ.
  6. Kata كَانَ disisipkan disini karena untuk keberadaan di masa lampau (it was). Kalau masa sekarang (it is) menggunakan bentuk Mudhari’ nya yaitu يَكُوْنُ.
  7. Kata فِي مَكَانٍ adalah jar Majrur 8, berperan sebagai Zharf makan 9terangan tempat).
  8. Kata آخَرَ berperan sebagai tamyiz 10, penguat kesamaran dari kata مَكَانٍ. Keduanya dalam  bentuk yang sama yaitu mudzakar (lk.), mengikuti kata yang di-tamyiz. Untuk kata yang muannats atau jamak ta’nis (misal فِي غُرْفَةٍ), maka digunakan bentuk muannats nya dari    آخَرَ yaitu أُخْرَى.

Cuplikan Kalimat…

b.

رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ.

Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda.

  1. Kata تَكُونُ ini bentuk Mudhari’ dari كان sebagaimana disinggung sebelumnya. Artinya ‘anda saat sekarang telah melaksanakan shalat’, sebagai penegasan bahwa waktunya bukan di masa lampau. Kalau di masa lampau, tidak perlu ada tambahan تكون.
  2. Kata أَدَّيْتَ adalah fi’il madhi أَدَّى – يُؤَدِّي (tashrif pola no.8 dengan Wazan فَعَّلَ- يُفَعِّلُ) 11. Fiil ini masuk kategori fi’il mu’tal 12 yaitu yang salah satu atau dua hurufnya adalah ا، و، ي . Dimana أدَّى memiliki huruf ا / ى  di huruf terakhirnya (dan disebut mu’tal naqis).
  3. Kata قَدْ sebagai penegasan sungguh mengerjakan’ terhadap kata sesudahnya أدَّى (melaksanakan).
  4. Kata الصَّلَاةَ sebagai obyek/maf’ul bih artinya shalat. Isim ini juga isim Masdar yang dibentuk dari kata kerja صَلَّى-يُصَلِّي (pola tashrif no.8). Perhatikan I’rabnya Manshub/fathah ةَ.
  5. Kata تُفَكِّرُ  adalah fi’il Mudhari’ 13 pola tashrif no.8 juga فَكَّرَ dengan faidah arti ‘me-mikir-kan (faidah no.1 di tabel tashrif).
  6. Frase فِي الْعَمَلِ،  الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. Ini jar Majrur dengan majrurnya lebih dari satu (pekerjaan, makan malam, atau hape), ketiganya di-kasrah ـلِ، ءِ، ـفِ.

Cuplikan Kalimat…

c.

إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ

Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

  1. Kata إِذَا adalah zharf zaman (kata keterangan waktu)
  2. Ini jumlah fi’liyah dengan fi’il حَدَثَ – يَحْدُثُ (pola tashrif no.2 14)
  3. Fa’il /subyeknya apa? Bukan لك، tapi  ذٰلِكَ . Adapun لك adalah Haal/keterangan.
  4. Kata فَ adalah huruf athaf (kata hubung) 15 menyambung dua kalimat.
  5. Kata لَسْتَ وَحْدَكَ. ini saudara  كان 16. Strukturnya : لَيْسَ + isim laisa أَنْتَ + Khabar laisa وَحْدَكَ. Isim laisa harus di-rafa’ kecuali untuk isim mabni seperti dhomir أنت ini tetap tidak berubah harakat huruf akhirnya, tetap ـتَ.
  6. Kata وَحْدَكَ adalah dua kata وَحْدٌ + كَ. Kata وَحْدٌ adalah isim Masdar dari fi’il lazim وَحَدَ (artinya sendirian, tidak memerlukan obyek). Adapun ـكَ disini adalah mudhaf ilaihi dari isim وَحْدٌ tapi karena sifatnya mabni maka tidak bisa di-jar.

III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC)

Berikut artikel bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,


A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat

#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’

هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟

#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.

رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.

#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?

لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”

Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.

أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.

B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran

#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).

أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.

#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.

تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.

#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).

مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ

#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.

نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ

C. 3 Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali

#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.

هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ

#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.

النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.

#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.

النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.

#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.

فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.

#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?

قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟

#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.

لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.

#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?

إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟

#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!

يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا

D. Kesimpulan 

Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>


Referensi/ Sumber :

YouTube By: Noordiaryframes

Judul: Are You Worshipping Allah…  Or Just Following a Routine?

Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-3) …

Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga Seri lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga… Ilmu Nahwu …

Baca juga… Ilmu Shorof …

Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Secara istilah ilmu nahwu, kedudukan rubbama di dalam kalimat dinamakan kaffah wa makfufah.
    Disebut mukaffah (huruf tambahan yang tugasnya menghentikan atau menghalangi rubba agar tidak menge-jar-kan/mengahirkan kata setelahnya).
    Karena sifatnya yang sudah diblokir fungsinya oleh ma, maka ia bisa masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyah) maupun kalimat verbal (jumlah fi’liyah) tanpa mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi kasrah/jar. ↩︎
  3. Pola tashrif no.3 yaitu:
    فَعَلَيَفْعَلُ
    ؟…؛ اِفْعَلْ
    فاعِلٌ، مَفْعُولٌ
    فُعِلَ- يُفْعَلُ ↩︎
  4. Adalah fi’il yang menempelkan pelaku/ subyek menyatu satu kata padanya (sesudahnya). Bahkan sekaligus maf’ul bihi juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil.
    • a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
    • b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
    • c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
    • d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا. ↩︎
  5. Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.
    • Contoh:
    o خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
    • Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub.
    ↩︎
  6. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ
    ↩︎
  7. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
     لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
    ↩︎
  8. • Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    • Daftar Huruf jarr:
    o مِنْ. Dari
    o إلَى. Ke
    o عَنْ. Dari, tentang
    o لِ. Kepunyaan, untuk
    o مُنْدُ. Semenjak
    o عَلَى. Atas
    o حَتَّى. Sehingga
    o فِي. Didalam
    o بِ dengan
    o كَ. Seperti
    • Contoh:
    o a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    o b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir
    ↩︎
  9. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  10. Adalah isim yang disebut setelah isim/ keadaan samar, untuk memperjelas.
    Contoh:
    اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كِتابًا. Saya membeli 5 bukuخمسة belum jelas 5 apa.
    Maka كِتابًا menjadi penjelas (Tamyiz) ↩︎
  11. Pola tashrif no.8 :
    فَعَّلَ- يُفَعِّلُ
    تَفْعِيلاً؛ فَعِّل
    مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ
    فُعِّلَ- يُفَعَّلُ
    Adapun variasi faidah/artinya:
    1.Me-ngeluar-kan. خَرَّجَ
    2.Sering me-nutup. غَلَّقَ
    3.Banyak yang mati. مَوَّتَ
    4.Menuju kearah timur. شَرَّقَ
    5.Melabelinya sbg kafir. كَفَّرَ
    6.Mengucapkan Allahuakbar كَبَرَ ↩︎
  12. Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
    a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
    b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
    c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
    d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
    e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
    Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎
  13. Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت).
    Contoh: يَكْتُبُ (dia, lk. Sedang/akan menulis). ↩︎
  14. Pola tashrif no.2:
    فَعَلَ- يَفْعُلُ
    ؟…؛ اِفْعَلْ
    فاعِلٌ، مَفْعُولٌ
    فُعِلَ- يُفْعَلُ ↩︎
  15. Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
    Daftar huruf Athaf:
    a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
    b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
    c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
    Contoh:
    جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ ↩︎
  16. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh:
    Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana:
    a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    ↩︎

Responses

  1. […] Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) … Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) […]

    Like

  2. […] Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) […]

    Like

Leave a comment