Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-3)
DAFTAR ISI:

|
I._PENGANTAR ARTIKEL
_klik disini…
Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.
Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.
Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.
Penyusun…:

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-3)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?
لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”
Cuplikan Kalimat…
a.
لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ،
Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat,
- Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) dengan fi’il يَتَعَلَّقُ yang diawali huruf laa nafiyah لَا 1 yang menafikan kata kerja.
- Kata يَتَعَلَّقُ adalah fi’il tsulatsi Majid dengan pola tashrif urutan ke-12 2 di tabel tashrif dengan pola wazan تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ dengan ain ع di-tasydid عّ. Ada 7 macam faidah/arti dari tashrif ini (lihat Tabel Tashrif), dan kata ini masuk di kelompok faidah pertama yaitu ‘ter/ber-…kaitan’.
- Kata الْأَمْرُ artinya ‘hal’, adalah fa’il / subyeknya, dalam bentuk isim Makrifah 3 (didahului oleh الْ), dalam kalimat ini, karena ‘hal’ nya sudah diketahui, yaitu merujuk pada hal sebelumnya. Bentuk jamaknya adalah الْاُمُوْرُ.
- Kata الْيَوْمَ adalah zharf zaman 4(keterangan waktu).Kata بِإِكْثَارٍ terdiri dari dua frase بِ dan إِكْثَارٍ . Jar Majrur. Huruf بِ fungsinya disini untuk melengkapi makna (التعدية ) kata kerja menjadi artinya ‘berkaitan pada/dengan’. Istilahnya dalam nahwu disebut sebagai huruf jar asli. Catatan: kata kerja يتعلق membutuhkan jar بِ agar bisa tersambung dengan obyek yang dalam hal ini إِكْثَارٍ.
- Kata بِإِكْثَارٍ terdiri dari dua frase بِ dan إِكْثَارٍ . Jar Majrur. Huruf بِ fungsinya disini untuk melengkapi makna (التعدية ) kata kerja menjadi artinya ‘berkaitan pada/dengan’. Istilahnya dalam nahwu disebut sebagai huruf jar asli. Catatan: kata kerja يتعلق membutuhkan jar بِ agar bisa tersambung dengan obyek yang dalam hal ini إِكْثَارٍ.
- Obyek إِكْثَارٍ adalah isim dalam bentuk Masdar 5 dari fi’il أَكْثَرَ ‘memperbanyak’ (bukan isim أَكْثَرُ ya). Fi’il ini berpola tashrif no.7 6 أَفْعَلَ- يُفْعِلُ dengan faidah arti ke-1 ‘mem…’
- Arti masdar ini menjadi ‘tindakan memperbanyak segala sesuatunya’… dari shalat مِنَ الصَّلَاةِ.
Cuplikan Kalimat…
b.
بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “.
…, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda.
- Kata بِطَرْحِ سُؤَالٍ ini bentuknya sama dengan yang diatas tadi. طَرْحِ adalah isim masdar dari fi’il طَرَحَ- يَطْرَحُ pola tashrif no.3 7 artinya: melemparkan/ mengajukan.
- Sebagian besar isim memang bentuk masdar dari kata kerja/fiil. Termasuk juga kata سُؤَالٍ adalah Masdar dari fi’il سَأَلَ (bertanya, menanyakan).
- Huruf Hamzah memang bisa berubah-ubah bentuk tergantung posisi dalam kata (didepan, di tengah, di belakang), dan berubahnya tergantung juga dari harakat huruf sebelumnya، atau huruf sesudahnya (ي atau و ، atau ا). Dalam hal kata سُؤَالٍ kita tidak bisa menuliskan سُءَالٍ karena kalau ditengah kata harus ‘digendong’ menjadi ؤ atau ئ atau أ، namun karena harakat huruf sebelumnya adalah rafa’ ( سُ ), maka ء harus menjadi ؤ .
- Kata مُخْتَلِفٍ adalah naat (sifat yang menjelaskan)8 kata sebelumnya سُؤَالٍ. Naat ini berbentuk isim fail dari kata اِخْتَلَفَ dengan pola tashrif no.10 9 اِفْتَعَلَ- يَفْتَعِلُ dengan faidah/arti no.1 ‘menjadi ber-beda’.
- Catatan: harap diperhatikan agar tidak mem-fathah-kan huruf sebelum terakhir ( ـلَ ) karena مُخْتَلَفٍ adalah isim maf’ul. Sedangkan isim fail maka huruf sebelum terakhir di-kasrah (untuk fi’il Majid).
Cuplikan Kalimat…
c.
هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟
Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?
- Kata أَصْبَحَتْ adalah saudara dari كَانَ 10 , yang membikin Marfu’ isim sesudahnya (dalam hal ini عِبَادَتِي ), dan me-nashab-kan khabar مُجَرَّدَ.
- Kata عِبَادَتِي adalah jar majrur dengan I’rab عِبَادَةٌ Marfu’ (isim أَصْبَحَ ).
- Kata مُجَرَّدَ artinya ‘semata-mata sudah menjadi kata umum yang sering dipakai. Ini bentuk isim maf’ul dari kata جَرَّدَ.
- Kata رُوتِينًا adalah Khabar أصبح dan I’rabnya Manshub.
- Kata بَدَلًا مِنْ artinya pengganti atau bukan lagi.
- Kata أَنْ تَكُونَ artinya ‘adalah menjadi’, dan merupakan Masdar mu’awwal 11 (diawali huruf أنْ). Bentuk ekuivalen Masdar Sharihnya adalah: كَوْنٌ ‘ada/keberadaan’.
- Kata مُحَادَثَةً adalah isim Masdar dari fi’il حَادَثَ ‘berbicara dengan’ dengan pola tashrif no.9 12 . Arti Masdar menjadi ‘percakapan’.
- Kata مَعَ اللهِ adalah jar majrur 13 .
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC)
Berikut artikel bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,
A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat
#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’
هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟
#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.
رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.
#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?
لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”
Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.
أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.
B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran
#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).
أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.
تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).
مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ
#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.
نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ
C. 3 Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali
#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.
هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ
#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.
النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.
#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.
النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.
#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.
فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.
#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?
قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟
#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.
لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.
#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?
إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟
#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!
يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا
D. Kesimpulan
Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

Referensi/ Sumber :
YouTube By: Noordiaryframes
Judul: Are You Worshipping Allah… Or Just Following a Routine?
Baca selanjutnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-4) …
Baca sebelumnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-2) …
Baca juga Seri lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga… Ilmu Nahwu …
Baca juga… Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Laa Nafiyah adalah huruf ‘laa’ dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menolak, meniadakan, atau menyangkal suatu perbuatan, kejadian, atau sifat.Penjelasan SingkatFungsi: Menyatakan arti “tidak” atau “bukan”.Pengaruh I’rab: Berbeda dengan Laa Nahiyah (huruf larangan yang membuat kata kerja/fi’il mudhari’ ber-i’rab jazm atau sukun), Laa Nafiyah tidak mengubah i’rab kata kerja yang ada di belakangnya (tetap marfa’/rafa’) ↩︎
- Pola tashrif ke 12 adalah sebagai berikut:
تَفَعَّلَ– يَتَفَعَّل
تَفَعُّلًا؛ تَفَعَّلْ
مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ
تُفُعِّلَ- يُتَفَعَّلُ
dengan faidah/artinya sbb.:
1.Ter-/ber-/Menjadi pecah. تَكَسَّرَ
2.Memaksakan melihat. تَبَصَّرَ
3.Aku menjadikan Yusuf sbg anak. تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
4.Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
5.Membuat menjadi janda تَأَيَّمَتْ
6.Me-neguk beberapa kali. تَجَرَّعَ
7.Meminta memper-jelaskan. تَبَيَّنَ
↩︎ - Isim Makrifah/ khusus/ tertentu (الاسم المَعْرِفَة): yang diawali dengan alif-lam (الكتابُ، السَماءُ). ↩︎
- Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎ - Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
• Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
• Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎ - Pola tashrif no.7 adalah sebagai berikut:
أفْعَلَ- يُفْعِلُ
إفْعالًا؛ أَفْعِل
مُفْعِل، مُفْعَلٌ
أُفْعِلَ- يُفْعَلُ
Adapun variasi faidah/artinya:
1.Me-nurun-kan أَنْزَلَ
2.Menjadi berbuah أَثْمَرَ
3.Mendapatinya lalai. أَغْفَلَ
4.Masuk waktu subuh. أَصْبَحَ
5.Waktunya panen. أَحْصَدَ ↩︎ - Pola tashrif no.3 adalah sebagai berikut:
فَعَلَ- يَفْعَلُ
؟…؛ اِفْعَلْ
فاعِلٌ، مَفْعُولٌ
فُعِلَ- يُفْعَلُ
↩︎ - Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
Keterangan:
a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎ - Pola tashrif no.10 adalah sebagai berikut:
اِفْتَعَلَ- يَفْتَعِل
اِفْتِعالً؛ اِفْتَعِلْ
مُفْتَعِلٌ، مُفْتَعَلٌ
أُفْتُعِلَ- يُفْتَعَلُ
Dengan variasi faidah/artinya:
1.Maka menjadi ter-kumpul. فَاِجْتَمَعَ
2.Membikin roti. اِخْتَبَزَ
3.Telah sungguh2 me-ndengarkan. اْسْتَمَعَ
4.Sama2 ber-debat. اْخْتَصَمَ
5. =mujarrad، menarik اِرْتَقَى = رَقَى
6.Menuntut agar bekerja keras اِكْتَدَّ ↩︎ - Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
Contoh:
Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
Saudara-saudara Kaana:
a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
b) لَيْسَ. Bukan
c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
d) أمْسَى. Berada di waktu sore
e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
f) بَاتَ. Berada di waktu malam
g) صَارَ. Menjadi
h) ما زالَ. Senantiasa ↩︎ - Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎ - Pola tashrif no.9 adalah sebagai berikut:
فاعَلَ- يُفاعِل
مُفاعَلَةً؛ فاعِلْ
مُفاعِلٌ، مُفاعَلٌ
فُوعِلَ- يُفاعَلُ
Dengan variasi faidah/artinya:
1.Saling me-mukul. ضَارَبَ
2.Memperbanyak pahala يُضَاعِفُ
3.=Fi’il mujarrad, memberkahi بَارَكَ
4.=أَفْعَلَ, menjauhkan بَاعَدَ = أَبْعَدَ
5.Terus-menerus membaca. طَالَعَ ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎

Leave a comment