Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-1)
DAFTAR ISI:

I._PENGANTAR ARTIKEL
_klik disini…
Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.
Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.
Untuk referensi, Materi Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, dapat dilihat di konten tersendiri dengan judul “Ilmu Nahwu” dan “Ilmu Shorof” (Uraian Ringkas) di Blog ini . Dan juga untuk Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum mayoritas materi shorof khusus Tashrif berisi 20 Pola Wazan, ada di konten tersendiri.
Penyusun…:

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-1)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’
هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟
Cuplikan Kalimat..
a.
هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَك
Pernahkah Anda selesai shalat… dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’
- Ini kalimat verbal (jumlah fi’liyah) 1 dalam bentuk kalimat tanya (didahului huruf tanya هَلْ ،apakah), dengan kata kerjanya (fi’il) سَبَقَ (pernah, mendahului), dan لك adalah jar Majrur 2.
- Huruf tanya bukan sebagai isim, sehingga tidak mempengaruhi struktur kalimat.
- Frase هَلْ سَبَقَ لَكَ adalah ungkapan umum dalam percakapan.
- Susunan kalimat:
- Fiil madhi سبق + fail (أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَك)
- Fail/subyek tersebut berupa Masdar mu’awwal 3 (diawali huruf أنْ), artinya ‘selesainya anda (shalat)’. Bentuk ekuivalen Masdar Sharihnya adalah: إِنْهَاءك الصَلَاةِ. Lengkapnya:
Cuplikan kalimat…
b.
هَلْ سَبَقَ لَكَ إِنْهَاءك الصَلَاةِ
ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً
Lalu tiba-tiba bertanya-tanya,
- Kata ثُمَّ adalah huruf hubung, tidak mempengaruhi struktur kalimat.
- Ini jumlah fi’liyah dengan fi’il تَسَاءَلَ dengan dhomir/pelaku أنت. Fi’il ini bentuk madhi, mengikuti wazan تفاَعَلَ (pola no.13 pada tabel Tashrif 4), dengan faidah arti no.1 (saling ber-…).
- Kata فَجْأَةً adalah Masdar dari فَجَأ، bertindak sebagai maf’ul Mutlaq (penegas kalimat, I’rab Manshub).
Cuplikan Kalimat…
c.
انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟
‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’
- Kata انْتَظِرْ adalah fi’il Amr dengan pola wazan no.10 اِفْتَعَلَ
- Kata مَاذَا adalah isim istifham, bisa berfungsi/ menggantikan subyek atau obyek. Dalam kalimat ini, menggantikan obyek, yaitu yang dibaca.
- Kata قَرَأْتُ adalah fi’il masih dengan pola wazan no.3 فَعَلَ- يَفْعَلُ (tsulatsi mujarrad muta’addi), dengan dhomir/pelaku أنتَ.
- Kata بِالْفِعْلِ adalah kata keterangan هَالٌ atau syibhul jumlah.
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC)
Berikut artikel bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,
A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat
#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’
هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟
#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.
رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.
#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?
لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”
Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.
أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.
B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran
#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).
أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.
تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).
مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ
#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.
نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ
C. 3 Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali
#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.
هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ
#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.
النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.
#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.
النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.
#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.
فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.
#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?
قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟
#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.
لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.
#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?
إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟
#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!
يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا
D. Kesimpulan
Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.
|
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

Referensi/ Sumber :
YouTube By: Noordiaryframes
Judul: Are You Worshipping Allah… Or Just Following a Routine?
Baca juga Seri lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga… Ilmu Nahwu …
Baca juga… Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
• a. Fi’il (kata kerja)
• b. fa’il (pelaku/subjek)
• c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
• a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
1. Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong. Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
2. Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’). Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu). ↩︎ - Beberapa arti dari pola tashrif ke-13, yaitu:
Saling ber-damai — تَصَالَحَ
Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
= mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Adapun pola tashrifnya adalah:
تَفَاعَلَ - يَتَفَاعَلُ
تَفَاعُلًا؛ تَفَاعَلْ
مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ
تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
↩︎

Leave a comment