_Ilmu Shorof

DAFTAR ISI:

PENGANTAR KONTEN BLOG

_

Blog ini berisi konten-konten pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjutan, namun dengan sajian yang khas berupa penyajian kisah, renungan, tips atau motivasi dalam bahasa Indonesia yang tiap paragraf artikelnya disandingkan dengan terjemahan bahasa Arab bakunya (Arabic fusha, الفصحى), dengan harakat lengkap.

Bagi anda pembelajar yang sudah mempelajari pelajaran dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu dan shorof), dan ingin melatih penerapannya yang tepat dalam menyusun atau membaca kalimat dalam bahasa arab, serta ingin memperkaya kosakata (المُفْرادات) dalam percakapan sehari-hari, maka konten-konten dalam blog ini sangat cocok buat anda.

Penyusun…:


A. TASHRIF (PERUBAHAN KATA)

Mengubah kata asal menjadi berbagai bentuk seperti kata kerja masa lalu, masa sekarang/ akan datang, bentuk perintah dan larangan. Tabel Shorof/ Tashrif terlampir, memetakan berbagai perubahan kata/ Tashrif dan variasi faidah/arti dari masing-masing Tashrif.

B. ISIM FA’IL & ISIM MAF’UL (اسم فاعِل، اسم مَفْعُول)

_

Mempelajari pola kata untuk menentukan pelaku (subjek) yang melakukan pekerjaan dan objek yang dikenai pekerjaan.

Keduanya merupakan bentuk kata turunan/mushtaq (الكَلِمَة المُشْتَقَة) dari kata dasar/akar kata (الجَدْر).

  • 1. Isim Fa’il:
    • Adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
    • Pola kata/wazan (الوَزْن):
    • Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ,
      • contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
      • جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
    • Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh:
      •  أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan).
  • 2. Isim Maf’ul:
    • Adalah kata benda yang menunjukkan objek atau yang dikenai perbuatan
    • Pola kata/wazan (الوَزْن):
    • Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola مَفْعُوْلٌ (maf’ulun),
      • contoh: مَكْتُوْبٌ (yang ditulis, surat).
      • رَأَيْتُ الرَّجُلَ الْمَقْتُوْلَ Artinya: “Saya melihat laki-laki yang dibunuh (korban pembunuhan) itu.”
    • Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan fathah pada huruf sebelum akhir. Contoh:
      •  أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرَمٌ (yang dimuliakan).

C. ISYTIQAQ & MASDAR

1. Isytiqaq:

_

Menelusuri huruf asli pembentuk kata dan huruf tambahannya agar tidak keliru saat mencari arti di dalam kamus bahasa Arab.

2. Masdar

_

Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.

  • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
  • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ

Jenis Masdar:

a. Masdar Qiyasi.

_

Masdar Qiyasi memiliki pola/rumus baku. Biasanya untuk kata kerja lebih dari 3 huruf (fi’il ruba’i, khumasi, sudasi).

Ada 3 pola/rumus utama mengikuti wazan fi’il-nya (af’ala, fa’ala, istaf’ala).

  • 1). Pola af’ala أَفْعَلَ. Masdarnya إِفْعَالٌ. 
    • Contoh: kata kerja أَحْسَنَ (berbuat baik, melakukan dengan baik), maka berubah menjadi Masdar إِحْسَانٌ (perbuatan baik).
  • 2). Pola fa’ala فَعَّلَ. Masdarnya تَفْعِيلٌ.
    • Contoh: kata kerja عَلَّمَ (mengajar, mendidik), maka berubah menjadi Masdar تَعْلِيْمٌ (pengajaran, pendidikan).
  • 3). Pola istaf’ala اِسْتَفْعَلَ. Masdarnya اِسْتِفْعَالٌ.
    • Contoh: kata kerja اِسْتَغْفَرَ (memohon ampun), maka berubah menjadi Masdar اِسْتِغْفَارٌ (permohonan ampun).

b. Masdar Sama’i.

_

Masdar ini berdasarkan pendengaran/ kamus) karena tidak baku. Umumnya berlaku untuk fi’il tsulatsi (kata kerja 3huruf). Namun ada beberapa pola kecenderungan, contoh:

  • 1). Menunjukkan profesi, pola fi’alah  فِعَلَةٌ.
    • Contoh: كَتَبَ (menulis) menjadi masdar كِتَبَةٌ (penulisan).
  • 2). Menunjukkan gerakan/ guncangan.
    • Contoh: دَارَ (berputar) menjadi Masdar دَوْرٌ (perputaran).
  • 3). Menunjukkan suara.
    • Contoh: صَاحَ (berteriak) menjadi Masdar صِيَاحٌ (teriakan).

Contoh pemakaian Masdar dalam kalimat:

  • a) Sebagai subyek مُبْتَدَأ (mubtada):
    • القِرَاءَةُ مُفِيدَةٌ (Membaca itu bermanfaat)
  • b) Sebagai obyek مَفْعُولٌ بِهِ (maf’ulun bihi):
    • أُحِبُّ التَّعْلِيمَ (saya menyukai pengajaran)
  • c) Sebagai penegas kalimat (maf’ul mutlaq):
    • Kalimat: فَهِمْتُ الدَّرْسَ فَهْمًا (saya telah memahami pelajaran itu sebenar-benar paham).
    • Ada 2 Masdar disini: sebagai obyek الدرس، dan sebagai maf’ul mutlaq فهما.

c. Masdar Shina’i:

adalah Masdar yang bersambung dengan YA Nisbat ي dan diakhiri dengan TA marbutoh ة untuk menunjukkan sifat padanya.

Contoh:

  • إِنْسَامٌ jadi إِنْسَانِيَّةٌ : kemanusiaan
  • يَوْمٌ jadi يَوْمِيَّةٌ : harian

d. Masdar Sharih dan Masdar Mu’awwal.

Perbedaan utama antara Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.

  • 1. Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong.
    • Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
    •  قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
  • 2. Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’).
    • Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
    • Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).

Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ  (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).

D. Huruf Illat

_

Membedakan huruf asal yang normal (shahih) dengan huruf lemah (penyakit) seperti alif, wau, dan ya yang sering mengubah cara baca atau tulisan suatu kata.

Merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah).

Perbedaan Alif ا dan Hamzah أ ء :

Keduanya berbeda sama sekali.

  • Alif ا merupakan huruf illat. Alif tidak pernah menerima harakat kecuali sukun اْ، dan hanya berfungsi memanjangkan ketukan suara.
  • Hamzah (أ، ء) bukan huruf Illat melainkan huruf shahih (sehat) yang bisa menerima harakat.

Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:

  • a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
  • b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
  • c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
  • d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
  • e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ

E. Wazan (Timbangan/ Pola kata):

Mempelajari rumus standar pembentukan kata (seperti fa’ala, yaf’alu) untuk mengenali jenis dan kelompok kata dalam bahasa Arab. (Lihat Tabel Tashrif untuk berbagai jenis Wazan).


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica(Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]

Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

“Buku Saku Risalah, Do’a & Amalan” >>>

Baca juga Artikel lainnya… Tabel Tashrif …

Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Nahwu …

Baca juga Serial… Kisah Ahmad (Seri-1) …