
Apakah kita sedang shalat, atau sekadar mengikuti Rutinitas?
(The Story - Full 4 Episodes)
DAFTAR ISI:

|
Blogger Kalaamul-Hadi كَلامُ الهادِي

ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 4 EPISODE
Berikut artikel bacaan lengkapnya yang kalimat-kalimatnya dibahas pada Serial Kajian pembahasan dalam seri berurutan, sesuai kaidah-kaidah tata bahasa Arab pada Ilmu Nahwu & Shorof,
A. Muncul kesangsian di benak ba’da shalat
#1) Pernahkah Anda selesai shalat dan mengucapkan, ‘Assalamualaikum warahmatullah,’ lalu tiba-tiba bertanya-tanya, ‘Sebentar, apa yang saya baca tadi sebenarnya?’
هَلْ سَبَقَ لَكَ أَنْ أَنْهَيْتَ صَلَاتَكَ وَقُلْتَ: ‘السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ’، ثُمَّ تَسَاءَلْتَ فَجْأَةً، “انْتَظِرْ، مَاذَا قَرَأْتُ بِالْفِعْلِ؟
#2) Mungkin saja Anda membaca ayat Al-Quran, tetapi pikiran Anda melayang entah kemana. Mungkin saja Anda melaksanakan salat, tapi pikiran anda sedang memikirkan pekerjaan, makan malam, atau ponsel Anda. Jika ini terjadi pada Anda, Anda tidaklah sendirian.
رُبَّمَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ لَكِنَّ ذِهْنَكَ كَانَ فِي مَكَانٍ آخَرَ. رُبَّمَا تَكُونُ قَدْ أَدَّيْتَ الصَّلَاةَ، وَأَنْتَ تُفَكِّرُ فِي الْعَمَلِ، أَوْ الْعَشَاءِ أَوْ هَاتِفِكَ. إِذَا حَدَثَ لَكَ ذٰلِكَ، فَأَنْتَ لَسْتَ وَحْدَكَ.
#3) Artikel hari ini bukanlah mengenai hal-hal yang lebih banyak dari shalat, tetapi tentang mengajukan pertanyaan yang berbeda. Apakah shalat saya telah menjadi sekadar rutinitas, dan bukan lagi sebagai ‘percakapan’ dengan Allah?
لَا يَتَعَلَّقُ الْأَمْرُ الْيَوْمَ بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ، بَلْ يَتَعَلَّقُ بِطَرْحِ سُؤَالٍ مُخْتَلِفٍ. “هَلْ أَصْبَحَتْ عِبَادَتِي مُجَرَّدَ رُوتِينًا بَدَلًا مِنْ أَنْ تَكُونَ مُحَادَثَةً مَعَ اللهِ؟”
Selamat datang di “Noor Dairy Frames”. Hari ini kita akan merenungkan sesuatu yang dialami banyak Muslim yang ikhlas, namun jarang yang membicarakannya.
أَهْلًا بِكُمْ فِي “إِطَارَاتِ مُذَكِّرَةِ نُورٍ”. سَنَتَأَمَّلُ الْيَوْمَ فِي أَمْرٍ يَخْتَبِرُهُ الْعَدِيدُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْمُخْلِصِينَ، لَكِنَّهُمْ نَادِرًا مَا يَتَحَدَّثُونَ عَنْهُ.
B. Rutinitas Yang Melalaikan Kesadaran
#4) Terkadang kita bukannya berhenti beribadah. Namun sebenarnya kita hanya ‘tidak lagi’ hadir sepenuhnya di dalam ibadah tersebut. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan membuat hidup lebih mudah. Kebiasaan membantu kita menjaga konsistensi. Tetapi ada bahaya tersembunyi. Ketika sesuatu ‘aktivitas’ menjadi otomatis, hati/kesadaran kita mungkin perlahan menjadi absen (tidak terjaga).
أَحْيَانًا لَا نَتَوَقَّفُ عَنِ الْعِبَادَةِ. بِبَسَاطَةٍ نَتَوَقَّفُ عَنِ التَّوَاجُدِ فِيهِ. الْبَشَرُ مَخْلُوقَاتُ عَادَاتٍ. الْعَادَاتُ تَجْعَلُ الْحَيَاةَ أَسْهَلَ. إِنَّهَا تُسَاعِدُنَا عَلَى الْحِفَاظِ عَلَى الِاتِّسَاقِ. وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ. عِنْدَمَا يُصْبِحُ شَيْءٌ مَا تِلْقَائِيًّا، قَدْ تَغِيبُ قُلُوبُنَا تَدْرِيجِيًّا.
#5) Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan yang sudah Anda kenal. Terkadang Anda sampai di tujuan namun hampir tidak ingat perjalanannya. Ibadah pun bisa seperti itu. Kita berdiri, membungkuk, bersujud, tetapi pikiran kita merencanakan hari esok, memutar ulang kejadian kemarin, atau mengkhawatirkan hal lain. Tubuh melakukan shalat, tetapi hati berada di tempat lain.
تَخَيَّلْ أَنَّكَ تَقُودُ سَيَّارَتَكَ عَلَى طَرِيقٍ مَأْلُوفٍ. أَحْيَانًا تَصِلُ إِلَى وُجْهَتِكَ وَبِالْكَادِ تَتَذَكَّرُ الرِّحْلَةَ. يُمْكِنُ أَنْ تُصْبِحَ الْعِبَادَةُ كَذَلِكَ أَيْضًا. نَقِفُ، نَنْحَنِي، نَسْجُدُ، لَكِنَّ عُقُولَنَا تُخَطِّطُ لِلْغَدِ، أَوْ تُعِيدُ عَرْضَ أَحْدَاثِ الْأَمْسِ، أَوْ تَقْلَقُ بِشَأْنِ شَيْءٍ آخَرَ. الْجَسَدُ يُصَلِّي، لَكِنَّ الْقَلْبَ فِي مَكَانٍ آخَرَ.
#6) Sangat mudah untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi seringkali bukan karena kita tidak mengasihi Tuhan. Melainkan karena hidup kita telah menjadi terlalu berisik. Notifikasi (yang datang tanpa henti), tenggat waktu (yang harus dipenuhi), terus-menerus (keasyikan) menggulir layar (hape), gangguan terus-menerus (yang membuyarkan konsentrasi).
مِنَ السَّهْلِ أَنْ نَلُومَ أَنْفُسَنَا، وَلَكِنْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ لِأَنَّنَا لَا نُحِبُّ اللهَ. ذَلِكَ لِأَنَّا حَيَاتَنَا أَصْبَحَتْ صَاخِبَةً. الْإِشْعَارَاتُ، الْمَوَاعِيدُ النِّهَائِيَّةُ، التَّمْرِيرُاللانِهائِيُّ، المُشَتَّتاتُ الْمُسَتِّمَرةُ
#7) Kita begitu cepat berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya sehingga pikiran kita kesulitan untuk melambat (agar bisa konsentrasi), bahkan dalam ibadah. Karena alasan inilah, ‘menghadirkan’ pikiran/kesadaran dalam ibadah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. ‘Menghadirkan pikiran/kesadaran ‘ adalah sesuatu yang (perlu) kita kembangkan secara sengaja.
نَنْتَقِلُ بِسُرْعَةٍ كَبِيرَةٍ مِنْ مُهِمَّةٍ إِلَى الْأُخْرَى لِدَرَجَةِ أَنَّ عُقُولَنَا تُكَافِحُ مِنْ أَجْلِ التَّبَاطُؤِ حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ. وَلِهَذَا السَّبَبِ فَإِنَّ الْحُضُورَ فِي الْعِبَادَةِ لَيْسَ شَيْئًا يَحْدُثُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ. إِنَّهُ شَيْءٌ نَرْعَاهُ عَنْ قَصْدٍ
C. Tiga (3) Tips Ringan Untuk Terhubung Kembali
#8) Ada tiga saran/kiat ringan untuk terhubung kembali (dengan Tuhan saat shalat). Kiat pertama: sebelum Anda mulai shalat (takbiratul ihram), berhentilah sejenak selama 10 detik dan ingatkan diri Anda, “Saya akan berdiri di hadapan Allah.” Jangan terburu-buru dalam shalat saat Anda (terbiasa) bergerak dengan kecepatan (kesibukan) dunia.
هُنَاكَ ثَلَاثُ طُرُقٍ لَطِيفَةٍ لِإِعَادَةِ التَّوَاصُلِ. النَّصِيحَةُ الْأُولَى، قَبْلَ أَنْ تَبْدَأَ الصَّلَاةَ، تَوَقَّفْ لِمُدَّةِ 10 ثَوَانٍ فَقَطْ، ذَكِّرْ نَفْسَكَ، “أَنَا عَلَى وَشْكِ الْوُقُوفِ أَمَامَ اللهِ”. لَا تَتَسَرَّعْ فِي الصَّلَاةِ وَأَنْتَ تَسِيرُ بِسُرْعَةِ الْعَالَمِ
#9) Kiat kedua adalah mempelajari arti sebuah surah pendek atau satu ruku’/maqra’ dan mengulanginya secara teratur. Ketika hatimu memahami kata-katamu, akan mudah untuk tetap hadir di saat ini.
النَّصِيحَةُ الثَّانِيَةُ، تَعَلَّمْ مَعْنَى سُورَةٍ قَصِيرَةٍ أَوْ عِبَارَةٍ وَاحِدَةٍ تُرَدِّدُهَا بِانْتِظَامٍ. عِنْدَمَا يَفْهَمُ قَلْبُكَ كَلِمَاتِكَ، يُصْبِحُ مِنَ الْأَسْهَالِ الْبَقَاءُ حَاضِرًا.
#10) Kiat ketiga: Setelah berdoa, jangan terburu-buru untuk segera pergi. Duduklah barang semenit. Panjatkan doa sederhana. Biarkan hatimu tetap terhubung selang waktu sedikit lebih lama.
النَّصِيحَةُ الثَّالِثَةُ، بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا تُسْرِعْ فِي الْمُغَادَرَةِ فَوْرًا. اجْلِسْ لِمُدَّةِ دَقِيقَةٍ وَاحِدَةٍ. أَدِّ دُعَاءً بَسِيطًا. دَعْ قَلْبَكَ يَبْقَى مُتَّصِلًا لِفَتْرَةٍ أَطْوَلَ قَلِيلًا.
#11) Dalam beberapa hari terkadang Anda akan merasakan hubungan yang mendalam. Di hari lain, Anda akan merasa kesulitan. Hal ini adalah bagian dari kita sebagai manusia. Tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya fokus dalam setiap shalat. Tujuannya adalah untuk terus-menerus (berusaha) kembali (pada kesadaran sedang shalat). Setiap upaya tulus untuk lebih bisa hadir adalah tindakan ibadah itu sendiri.
فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ سَتَشْعُرُ بِارْتِبَاطٍ عَمِيقٍ. وَفِي أَيَّامٍ أُخْرَى سَتُواجِهُ صُعُوبَةً. هَذَا جُزْءٌ مِنْ كَوْنِنَا بَشَرًا. لَيْسَ الْهَدَفُ هُوَ التَّرْكِيزَ التَّامَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ. الْهَدَفُ هُوَ الِاسْتِمْرَارُ فِي الْعَوْدَةِ. كُلُّ جُهْدٍ صَادِقٍ لِلتَّوَاجُدِ بِشَكْلٍ أَكْبَرَ هُوَ فِي حَدِّ ذَاتِهِ عَمَلُ عِبَادَةٍ.
#12) Sebelum shalat Anda berikutnya, jangan bertanya: Seberapa cepat saya akan selesai shalat? Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa hadirkah saya dalam shalat tersebut?
قَبْلَ صَلَاتِكَ الْقَادِمَةِ، لَا تَسْأَلْ: مَا مَدَى سُرْعَةِ انْتِهَائِي؟. اسْأَلْ نَفْسَكَ: إِلَى أَيِّ مَدَى يُمْكِنُنِي أَنْ أَكُونَ حَاضِرًا؟
#13) Karena ibadah tidak terbatas pada menggerakkan tubuh kita saja; ibadah adalah tentang mendekatkan hati kita kepada Tuhan melalui do’a demi do’a.
لِأَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَقْتَصِرُ عَلَى تَحْرِيكِ أَجْسَادِنَا فَقَطْ. الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِتَقْرِيبِ قُلُوبِنَا إِلَى اللهِ دُعَاءً تِلْوَ الْآخَرِ.
#14) Jadi, apa yang membantu Anda merasa lebih hadir dalam shalat atau saat membaca Al-Quran?
إِذًا، مَا الَّذِي يُسَاعِدُكَ عَلَى الشُّعُورِ بِمَزِيدٍ مِنَ الْحُضُورِ فِي صَلَاتِكَ أَوْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟
#15) Saya ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar. Pengingat Anda mungkin bisa membantu orang lain. Sampai jumpa di video selanjutnya. Selamat tinggal!
يُسْعِدُنِي أَنْ أَسْمَعَ مِنْكَ. شَارِكْنَا أَفْكَارَكَ فِي التَّعْلِيقَاتِ. قَدْ يُسَاعِدُ تَذْكِيرُكَ شَخْصًا آخَرَ. نَلْتَقِي بِكُمْ فِي الْفِيدْيُو الْقَادِمِ. وَدَاعًا، وَدَاعًا
D. Kesimpulan
Perenungan terhadap rutinitas sangat penting terutama dalam aktivitas shalat, karena rutinitas dan kebiasaan bisa melalaikan kesadaran dan kendali diri disetir oleh pikiran. Usaha untuk selalu kembali pada kesadaran, itulah yang akan memperbaiki secara bertahap terhadap kualitas ibadah terutama shalat, agar sepenuhnya terhubung kesadaran dengan sang Pencipta minimal selama waktu shalat dari sejak takbiratul hingga mengucap salam. Tips ini terutama buat penulis pribadi yang masih sering lalai.
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

Referensi/ Sumber :
YouTube By: Noordiaryframes
Judul: Are You Worshipping Allah… Or Just Following a Routine?
Baca juga Serial lainnya… Mengasuh Anak (The Story – Full 6 Episodes) …
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Leave a comment