
Kajian Ayat-ayat Al-Qur'an dengan Nahwu & Shorof
DAFTAR ISI:
I. Pengantar Kajian
أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ … بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
Atas taufik & hidayah-Nya, penulis mencoba memberanikan diri untuk melakukan kajian tata bahasa Arab (Nahwu Shorof) terhadap Kalaamullah Kitab Suci al-Qur’anul Karim, serta mencoba memahami kedalaman makna ayat-ayat Nya. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua yang mencoba men-tadabburi ayat-ayatnya… aamiin…
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF
Berikut kajian ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof.
Kajian ini dilakukan berdasarkan Tool (alat bantu) Kajian berupa Tabel Rangkuman Nahwu Shorof untuk memudahkan dalam mengindentifikasi struktur kalimat, dan susunan kalimat berupa kata/huruf apa saja, baik peran/kedudukan kata maupun bentuk kata dan kelompok kata yang dipilih untuk memainkan peran/kedudukan tersebut. Tool (alat bantu) Kajian yang dimaksud dapat disimak terlebih dahulu di postingan tersendiri:
"Tool Kajian [Tabel Rangkuman Nahwu Shorof]".
#1) Demi masa
وَالْعَصْرِۙ ١
#2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
#3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Petikan ayat…
a. Kajian ayat… وَالْعَصْرِۙ
وَالْعَصْرِۙ
Demi masa.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah qasam وَالْعَصْرِ yang terdiri dari :
- huruf qasam وَ
- muqsam bih [majrur] العَصْرِ
- jumlah qasam وَالْعَصْرِ yang terdiri dari :
- Ini adalah lafadz bentuk sumpah, yang diawali dengan huruf qasam/yamin قَسَم / يَمِيْن waw وَ yang berarti ‘Demi…‘ 1
- Lafadz العَصْرِ (artinya: masa, waktu, sore hari) adalah isim makrifah 2 (kata benda tertentu) yang digunakan untuk bersumpah, disebut sebagai obyek sumpah/ muqsam bih ( مُقْسَمْ بِهِ )
- Dalam kaidah tata bahasa arab (nahwu), huruf qasam memiliki fungsi yang sama dengan huruf jar 3 , yaitu huruf yang membuat kata sesudahnya berharakat majrur/kasrah, dengan kata lain hukum i’rab nya 4 wajib majrur.
- Sesudah lafadz sumpah, pernyataan sesudahnya atau inti hal yang disumpahkan disebut muqsam alaihi (jawab qasam). Dalam hal ini adalah ayat sesudahnya… اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ…
Petikan ayat…
b. Kajian ayat… اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah inna اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ , yang terdiri dari :
- huruf taukid [amil nashab] اِنَّ
- isim inna [manshub] الْاِنْسَانَ
- khabar inna (fi mahalli raf’in] dalam bentuk jar wa majrur لَفِيْ خُسْرٍ , yang terdiri dari :
- huruf penegas لَ
- huruf jar فِي
- isim majrur خُسْرٍ
- jumlah inna اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ , yang terdiri dari :
- Ini adalah jumlah ismiyyah 5 (kalimat nominal) yang diawali oleh huruf penegas (harf taukid) اِنَّ .6
- Dalam kaidah nahwu, jumlah ismiyyah yang awalnya terdiri dari mubtada‘ dan khabar yang i’rab keduanya adalah marfu’/dhammah, maka sesudah dimasuki harf inna & saudaranya, mubtada’ berubah namanya menjadi isim inna dengan i’rab/ harakat huruf terakhirnya manshub/fathah menjadi الْاِنْسَانَ, bukan الْاِنْسَانُ, dan bukan الْاِنْسَانِ , adapun khabar-nya disebut khabar inna, i’rab nya tetap marfu’/dhammah.
- Namun khabarnya لَفِيْ خُسْرٍ dalam bentuk murakkab 7 , yaitu murakkab jar wa majrur, sehingga kaidah yang berlaku untuk isim sesudah huruf jar فِي adalah kaidah i’rab majrur خُسْرٍ .
- Lafadz ini berharakat kasratain 8 (dobel kasrah) karena sebagai isim naqirah 9 (tidak diawali alif lam).
- Kalau diperhatikan, huruf jar فِي didahului oleh huruf لَ (la). Ini adalah harf taukid (huruf penegas) yang artinya “benar-benar” , dan huruf ini tidak merubah i’rab apapun sesudahnya.
- Jadi ayat ini memiliki dua huruf penegas, sehingga arti dari muqsam alaihi, yaitu pernyataan/ inti yang disumpahkan “manusia dalam kerugian” mendapatkan penekanan yang sangat kuat disini.
Petikan Ayat…
c. Kajian ayat… اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah mus-tasna اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ , yang terdiri dari :
- adat/alat mus-tatsna اِلَّا
- mus-tatsna (yang dikecualikan) dalam bentuk maushul الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ , yang terdiri dari :
- isim maushul الَّذِيْنَ
- rangkaian 4 (empat) shilah maushul اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ , yang disambung dengan huruf athaf وَ
- jumlah mus-tasna اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ , yang terdiri dari :
- Ini adalah isim mus-tatsna 10 (yang dikecualikan) الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا (orang-orang yang beriman) , yang diawali oleh adat/alat pengecualian اِلَّا (kecuali).
- Isim mus-tatsna tersebut berbentuk isim maushul (kata sambung) untuk isim jamak mudzakar (orang ketiga jamak lk.) الَّذِيْنَ (orang-orang yang), dan shilah maushul اٰمَنُوْا dalam bentuk fi’il madhi tam (kata kerja lampau sempurna).
- Perhatikan wawul jama’ah ( وْا ) adalah fa’il (pelaku) jamak mudzakar (orang banyak), dalam bentuk fi’il madhi. Namun apabila untuk fa’il orang ketiga tunggal (dia, sendiri) maka menjadi اٰمَنَ .
- Shilah maushul اٰمَنُوْا diikuti oleh 3 shilah maushul lainnya menggunakan huruf athaf/sambung وَ (dan).
- Ketiganya adalah:
- الَّذِيْنَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ (orang-orang yang melakukan amalan-amalan saleh),
- الَّذِيْنَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ (orang-orang yang saling berwasiat untuk/dengan kebenaran), dan
- الَّذِيْنَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (orang-orang yang saling berwasiat untuk/dengan kesabaran)
- Isim maushul yang digunakan adalah bentuk jamak mudzakar الَّذِيْنَ karena mengikuti bentuk isim mus-tatsna minhu (yang dikecualikan darinya) sebelumnya yang juga isim jamak mudzakar yaitu الْاِنْسَانَ (manusia secara keseluruhan).
- Lafadz اٰمَنُوْا adalah fi’il lazim 11 (kata kerja tidak membutuhkan obyek), dan lafadz تَوَاصَوْا juga termasuk fi’il lazim.
- Lafadz عَمِلُوا (melakukan, jamak) adalah fi’il muta’addi 12 (kata kerja yang membutuhkan obyek).
- Dalam ilmu nahwu yang mempelajari kedudukan tiap kata dalam kalimat, maka obyek dalam kalimat ini adalah lafadz الصَّالِحٰتِ (amalan-amalan baik/saleh).
- Sekaligus dalam ilmu shorof yang mempelajari setiap perubahan kata, maka kata ini الصَّالِحٰتِ adalah dalam bentuk isim fa’il 13 dari akar kata صَلُحَ (menjadi benar/baik, berbudi luhur).
- Lafadz الصَّالِحٰتِ atau biasa juga ditulis dengan الصَّالِحَٰاتِ adalah bentuk jamak dari kata tunggalnya الصَّالِحَة .
- Lafadz بِالْحَقِّ dan بِالصَّبْرِ adalah bentuk murakkab jar wa majrur 14 dengan i’rab majrur/kasrah.
- Lafadz تَوَاصَوْا dalam ilmu shorof adalah berwazan تفاعل dari akar kata وَصَّى (mewariskan dengan wasiat) yaitu pola tashrif no.13 15 pada Tabel Tashrif.
- Sama seperti kata kerja sebelumnya اٰمَنُوْا , maka fa’il/pelaku kata kerja ini adalah jamak mudzakar, yang ditandai oleh akhiran wawul jama’ah ( وْا ) yang berlaku untuk fi’il madhi.
- Catatan: adapun apabila untuk fi’il mudhari’, maka akhirannya menggunakan wawu nun ( وْنَ ) seperti lafadz يُؤْمِنُوْنَ.
III. Qs.103 Al-‘Ashr : Teks Surah Lengkap (dan Terjemah)
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
#1) Demi masa
وَالْعَصْرِۙ ١
#2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
#3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
Teks Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Lengkap Terjemah, Link website: https://quran.nu.or.id/
Baca kajian berikutnya…Qs.108: Al-Kautsar…
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Huruf qasam/yamin قَسَم / يَمِيْن adalah huruf yang digunakan untuk menyatakan sumpah, dan biasa diterjemahkan ‘Demi…’. Huruf qasam diantaranya: وَ (wa), بِ (bi), تَ (ta’).
Kata benda yang digunakan untuk bersumpah, yaitu kata yang mengikuti huruf qasam disebut sebagai obyek sumpah/ muqsam bih ( مُقْسَمْ بِهِ ). Dalam kaidah tata bahasa arab (nahwu), huruf qasam memiliki fungsi yang sama dengan huruf jar, yaitu huruf yang membuat kata sesudahnya berharakat majrur/kasrah, dengan kata lain hukum i’rab nya wajib majrur.
Contoh: تَا للَّٰهِ , بِا اللَّٰهِ , وَاللَّٰهِ ,
artinya sama semua: “Demi Allah”.
Sesudah lafadz sumpah, pernyataan sesudahnya atau inti hal yang disumpahkan disebut muqsam alaihi (jawab qasam).
Contoh: وَاللَّٰ لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ
artinya: “Demi Allah, saya tidak melakukan itu“.
Dalam kalimat tersebut, maka muqsam bih nya adalah isim sesudah huruf qasam وَ yaitu اللَّٰهِ , dan muqsam alaihi nya adalah pernyataan inti sesudahnya yaitu لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ . ↩︎ - Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.↩︎
Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku). - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - I’rab adalah perubahan tanda akhir kata berdasarkan fungsinya dalam kalimat.
Ada 4 status i’rab utama:
a. Rafa’ (Marfu’): Kondisi dasar kata yang biasanya ditandai dengan harakat dhammah ـُـ
b. Nashab (Manshub): Ditandai dengan harakat fathah ـَ atau huruf Alif ا.
c. Jarr (Majrur):Kondisi khusus untuk kata benda yang biasanya ditandai dengan harakat kasrah atau huruf ya ي.
d. Jazem (Majzum): Kondisi khusus untuk kata kerja yang umumnya ditandai dengan harakat sukun atau penghilangan huruf. ↩︎ - Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
• a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
• b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid
↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎ - Huruf Hijaiyah dan Harakat:
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal huruf (a,b,c…z) dan vokal (a,i,u,e,o). Dalam bahasa Arab, ada 28 huruf hijaiyah, mulai dari huruf Alif أ ،ب ،ت ، hingga Ya ي.
Harakat adalah tanda baca atau diakritik yang diletakkan di atas atau di bawah huruf hijaiyah untuk memperjelas gerak, pengucapan, dan bunyi vokal suatu huruf Arab.
Macam-Macam Harakat Utama:
Fathah: Garis horizontal kecil di atas huruf ( َ ) yang melambangkan bunyi “a”.
Kasrah: Garis horizontal kecil di bawah huruf ( ِ ) yang melambangkan bunyi “i”.
Dhammah: Tanda kecil di atas huruf yang menyerupai bentuk koma atau angka sembilan kecil ( ُِ ) yang melambangkan bunyi “u”.
Sukun: Tanda bulat atau menyerupai huruf ‘ha’ kecil di atas huruf ( ْ ) yang menandakan huruf mati atau tidak berbunyi vokal.
Tasydid (Syaddah): Tanda berbentuk seperti huruf ‘w’ kecil di atas huruf ( ّ ) yang menunjukkan penekanan atau penggąndaan huruf.
Tanwin: Tanda baca untuk bunyi nun mati di akhir kata, terdiri dari Fathatain ( ً-an), Kasratain ( ٍ-in), dan Dhammatain ( ٌ -un). ↩︎ - Isim Naqirah adalah isim yang menunjukkan makna umum, belum tentu atau tidak spesifik.
Ciri-ciri isim naqirah: biasanya bertanda tanwin di akhir katanya, dan apabila dimasuki (diawali) huruf al (الْ ) maka isim naqirah berubah menjadi isim makrifah. Contoh:
_ رَجُلٌ رَجُلٍ رَجُلًا : seorang laki-laki (laki-laki mana saja, belum tentu siapa)
_ كِتابٌ، كتابٍ، كتاباً : sebuah buku (buku mana saja, belum jelas buku yang mana) ↩︎ - Penjelasan Isim Mus-tatsna:
Mus-tatsna adalah isim yang berada setelah adat/alat istitsna.
Contoh: نَجَحَ الْأوْلَادُ إلاَّ عَلِيًا.
Telah lulus anak-anak itu [kecuali إلاَّ ] Ali.
Peran masing-masing: a. مُسْتَثْنَى yang dikecualikan: عليًا
b. Adat/alat: إلاَّ
c. مُسْتَثْنَى مِنهُ yang dikecualikan darinya: الأولادُ
Yang termasuk adat/alat:
a) إلاَّ kecuali
b) سِوَى، غَيْرَ، عَدَا، خَلَا، حَاشَا. selain ↩︎ - Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja. Fi’il lazim dapat diketahui dengan melihat arti fi’il yang terbagi kedalam 7 macam:
Yang menunjukkan aktifitas tanpa obyek: _ جَلَسَ عَلِيٌ Ali duduk
_ قامَ أَحْمَدُ Ahmad berdiri
Yang menunjukan watak, bakat atau sifat, seperti: _ حَسُنَ bagus, قَبُحَ jelek
_ شَجُعَ berani, جَبُنَ pengecut
_ كَسَلَ malas, مَرِضَ sakit
_ فَرِحَ bergembira, شَبِعَ kenyang
Yang menunjukkan warna, seperti: _ اِحْمَرَّ memerah,
_ اِبْيَضَّ memutih
Yang menunjukkan cacat, seperti: _ عَمِشَتْ عَيْنُهُ lemah penglihatannya
Yang menunjukkan bersih atau kotor, seperti: _ طَهُرَ telah suci, نَظَفَ telah bersih, rapih
_ وَسِخَ telah kotor, قَذَرَ telah dekil, busuk, tidak bersih
Yang menunjukkan arti muthawa’ah (menjadi ter-…) akibat me-… _ اِنْكَسَرَ menjadi pecah
_ اِجْتَمَعَ menjadi terkumpul
Dengan melihat bentuk fi’il/pola wazan (note: pola wazan menjadi bahasa utama dalam ilmu shorof dan dibahas lengkap), ada beberapa macam: Pola فَعُلَ seperti: شَرَفَ mulia, جَمُلَ cantik, حَسُنَ bagus
Pola اِنْفَعَلَ seperti: اِنْقَسَمَ terbagi, اِنْكَسَرَ terpecah
Pola اِفْعَلَّ seperti: اِحْمَرَّ memerah
Pola اِفْعَالَّ seperti: اِحْمَارَّ menjadi sangat merah
Pola اِفْعَنْلَلَ seperti: اِقْعَنْسَسَ menolak taat, اِحْرَنْجَمَ berkumpul ↩︎ - Fi’il Muta’addi adalah fi’il yang kejadiannya memerlukan obyek (maf’ul bih).
Contoh dengan 1 (satu) obyek :
a) أَكَلَ الخُبْزَ memakan roti
b) ضَرَبَ الكَلْبَ memukul anjing
c) سَئَلَ عَلِيٌ أُسْتَاذًا Ali telah bertanya kepada guru
Contoh dengan 2 (dua) obyek : (kedua obyek dari fi’il ini, sesuai kaidah menjadi manshub)
a) أَعْطَى, سَأَلَ : memberi, menanyakan
b) ظَنَّ, وَجَدَ, جَعَلَ, حَسِبَ : menduga, mendapatkan, menjadikan, mengira
c) مَنَحَ, أَلْبَسَ, عَلَّمَ : meng-anugrahi, memakaikan, mengajarkan ↩︎ - Isim Fa’il dan Isim Maf’ul, keduanya mempelajari pola kata untuk menentukan pelaku (subjek) yang melakukan pekerjaan dan objek yang dikenai pekerjaan.
Keduanya merupakan bentuk kata turunan/mushtaq (الكَلِمَة المُشْتَقَة) dari kata dasar/akar kata (الجَدْر).
1. Isim Fa’il: Adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ, contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan).
2. Isim Maf’ul: Adalah kata benda yang menunjukkan objek atau yang dikenai perbuatan
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola مَفْعُوْلٌ (maf’ulun), contoh: مَكْتُوْبٌ (yang ditulis, surat).
رَأَيْتُ الرَّجُلَ الْمَقْتُوْلَ Artinya: “Saya melihat laki-laki yang dibunuh (korban pembunuhan) itu.”
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan fathah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرَمٌ (yang dimuliakan). ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih
2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
Dua jenis utama sybhul jumlah:
Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎ - Pola tashrif 13: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعَلْ- تَفَاعُلًا- مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ – تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
Pola wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ biasanya digunakan untuk menunjukkan makna saling melakukan (musyarakah) antara dua pihak atau lebih, atau berpura-pura.
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَاعَلَ diantaranya :
1. Saling ber-damai — تَصَالَحَ
2. Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
3. Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
4. = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
5. Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
saling menolong, bekerja sama: تَعَاوَنَ – يَتَعَاوَنُ
saling bersalaman : تَصَافَحَ – يَتَصَافَحُ
mengabaikan, pura-pura tidak tahu : تَجَاهَلَ – يَتَجَاهَلُ
pura-pura sakit : تَمَارَضَ – يَتَمَارَضُ
pura-pura tidur : تَنَاوَمَ – يَتَنَاوَمُ
pura-pura lalai : تَغَافَلَ
saling bertanya : تَسَاءَلَ
bercakap-cakap : تَحَادَثَ
saling menjauh : تَبَاعَدَ
berdekat-dekatan : تَقَارَبَ
bermain-main : تَلَاعَبَ
saling bertukar : تَبَادَلَ – يَتَبَادَلُ – تَبَادَلْ – تَبَادُلًا – مُتَبَادِلٌ – مُتَبَادَلٌ – لَا تَتَبَادَلْ – مُتَبَادَلٌ
saling dipertukarkan : تُبُودِلَ – يُتَبَادَلُ
↩︎
Leave a Reply