
Kajian Ayat-ayat Al-Qur'an dengan Nahwu & Shorof
(Surat al-'Ashr Qs.103, ayat 1-3)
DAFTAR ISI:
I. Pengantar Kajian
أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ … بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
Atas taufik & hidayah-Nya, penulis mencoba memberanikan diri untuk melakukan kajian tata bahasa Arab (Nahwu Shorof) terhadap Kalaamullah Kitab Suci al-Qur’anul Karim. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua yang mencoba men-tadabburi ayat-ayatnya… aamiin…
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF SURAH AL-‘ASHR (Ayat 1-3)
Berikut kajian ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun teks lengkap ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#1) Demi masa
وَالْعَصْرِۙ ١
#2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
#3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Cuplikan ayat…
a.
وَالْعَصْرِۙ
Demi masa.
- Ini adalah lafadz bentuk sumpah, yang diawali dengan huruf qasam/yamin قَسَم / يَمِيْن waw وَ yang berarti ‘Demi…’ 1
- Lafadz العَصْرِ (artinya: masa, waktu, sore hari) adalah isim makrifah 2 (kata benda tertentu) yang digunakan untuk bersumpah, disebut sebagai obyek sumpah/ muqsam bih ( مُقْسَمْ بِهِ )
- Dalam kaidah tata bahasa arab (nahwu), huruf qasam memiliki fungsi yang sama dengan huruf jar 3 , yaitu huruf yang membuat kata sesudahnya berharakat majrur/kasrah, dengan kata lain hukum i’rab nya 4 wajib majrur.
- Sesudah lafadz sumpah, pernyataan sesudahnya atau inti hal yang disumpahkan disebut muqsam alaihi (jawab qasam). Dalam hal ini adalah ayat sesudahnya… اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ…
Cuplikan Kalimat…
b.
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
- Ini adalah jumlah ismiyyah 5 (kalimat nominal) yang diawali oleh huruf penegas (harf taukid) اِنَّ .6
- Dalam kaidah nahwu, jumlah ismiyyah yang awalnya terdiri dari mubtada‘ dan khabar yang i’rab keduanya adalah marfu’/dhammah, maka sesudah dimasuki harf taukid, mubtada’ berubah namanya menjadi isim inna dengan i’rab/ harakat huruf terakhirnya manshub/fathah menjadi الْاِنْسَانَ, bukan الْاِنْسَانُ, dan bukan الْاِنْسَانِ , adapun khabar-nya disebut khabar inna, i’rab nya tetap marfu’/dhammah.
- Namun khabarnya لَفِيْ خُسْرٍ dalam bentuk tarkib/murakkab 7 , yaitu murakkab jar wa majrur, sehingga kaidah yang berlaku untuk isim sesudah huruf jar فِي adalah kaidah i’rab majrur خُسْرٍ . Lafadz ini berharakat kasratain 8 (dobel kasrah) karena sebagai isim naqirah 9 (tidak diawali alif lam).
- Kalau diperhatikan, huruf jar فِي didahului oleh huruf لَ (la). Ini adalah harf taukid (huruf penegas) yang artinya “benar-benar” , dan sebagai harf taukid, dia tidak merubah i’rab apapun sesudahnya. Jadi ayat ini memiliki dua huruf penegas, sehingga arti dari muqsam alaihi, yaitu pernyataan/ inti yang disumpahkan “manusia dalam kerugian” mendapatkan penekanan yang sangat kuat disini.
Cuplikan Kalimat…
c.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
- Ini adalah isim mus-tatsna 10 (yang dikecualikan) الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا (orang-orang yang beriman) , yang diawali oleh adat/alat pengecualian اِلَّا (kecuali).
- Isim mus-tatsna tersebut berbentuk isim maushul (kata sambung) untuk isim jamak mudzakar (orang ketiga jamak lk.) الَّذِيْنَ (orang-orang yang), dan shilah maushul اٰمَنُوْا dalam bentuk fi’il madhi tam (kata kerja lampau sempurna). Perhatikan wawul jama’ah ( وْا ) adalah fa’il (pelaku) jamak mudzakar (orang banyak), dalam bentuk fi’il madhi dengan fa’il orang ketiga tunggal (dia, sendiri) maka menjadi اٰمَنَ .
- Shilah maushul اٰمَنُوْا diikuti oleh 3 shilah maushul lainnya menggunakan huruf athaf/sambung وَ (dan). Ketiganya adalah:
- الَّذِيْنَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ (orang-orang yang melakukan amalan-amalan saleh),
- الَّذِيْنَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ (orang-orang yang saling berwasiat untuk/dengan kebenaran), dan
- الَّذِيْنَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (orang-orang yang saling berwasiat untuk/dengan kesabaran)
- Isim maushul yang digunakan adalah bentuk jamak mudzakar الَّذِيْنَ karena mengikuti bentuk isim mus-tatsna minhu (yang dikecualikan darinya) sebelumnya yang juga isim jamak mudzakar yaitu الْاِنْسَانَ (manusia secara keseluruhan).
- Lafadz اٰمَنُوْا adalah fi’il lazim 11 (kata kerja tidak membutuhkan obyek), termasuk juga lafadz تَوَاصَوْا)
- Lafadz عَمِلُوا (melakukan, jamak) adalah fi’il muta’addi 12 (kata kerja yang membutuhkan obyek). Obyeknya adalah lafadz الصَّالِحٰتِ (amalan-amalan baik/saleh) adalah isim fa’il 13 dari kata kerja صَلُحَ (menjadi benar/baik, berbudi luhur). Lafadz الصَّالِحٰتِ adalah bentuk jamak dari kata tunggalnya الصَّالِحَة .
- Lafadz بِالْحَقِّ dan بِالصَّبْرِ adalah bentuk murakkab jar wa majrur 14.
- Lafadz تَوَاصَوْا dalam ilmu shorof adalah berwazan تفاعل dari akar kata وَصَّى (mewariskan dengan wasiat) yaitu pola tashrif no.13 15 pada Tabel Tashrif.
III. Qs.103 Al-‘Ashr : Teks Surah Lengkap (dan Terjemah)
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
#1) Demi masa
وَالْعَصْرِۙ ١
#2) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
#3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Bagi yang berminat bacaan islami, silahkan klik tautan berikut:

Referensi/ Sumber :
Teks Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Lengkap Terjemah, Link: https://quran.nu.or.id/
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Huruf qasam/yamin قَسَم / يَمِيْن adalah huruf yang digunakan untuk menyatakan sumpah, dan biasa diterjemahkan ‘Demi…’. Huruf qasam diantaranya: وَ (wa), بِ (bi), تَ (ta’).
Kata benda yang digunakan untuk bersumpah, yaitu kata yang mengikuti huruf qasam disebut sebagai obyek sumpah/ muqsam bih ( مُقْسَمْ بِهِ ). Dalam kaidah tata bahasa arab (nahwu), huruf qasam memiliki fungsi yang sama dengan huruf jar, yaitu huruf yang membuat kata sesudahnya berharakat majrur/kasrah, dengan kata lain hukum i’rab nya wajib majrur.
Contoh: تَا للَّٰهِ , بِا اللَّٰهِ , وَاللَّٰهِ ,
artinya sama semua: “Demi Allah”.
Sesudah lafadz sumpah, pernyataan sesudahnya atau inti hal yang disumpahkan disebut muqsam alaihi (jawab qasam).
Contoh: وَاللَّٰ لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ
artinya: “Demi Allah, saya tidak melakukan itu“.
Dalam kalimat tersebut, maka muqsam bih nya adalah isim sesudah huruf qasam وَ yaitu اللَّٰهِ , dan muqsam alaihi nya adalah pernyataan inti sesudahnya yaitu لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ . ↩︎ - Isim Makrifah/ khusus/ tertentu (الاسم المَعْرِفَة): yang diawali dengan alif-lam (الكتابُ، السَماءُ). Selain ini adalah isim Makrifah tanpa alim-lam↩︎
- Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - I’rab adalah perubahan tanda akhir kata berdasarkan fungsinya dalam kalimat.
Ada 4 status i’rab utama:
a. Rafa’ (Marfu’): Kondisi dasar kata yang biasanya ditandai dengan harakat dhammah ـُـ
b. Nashab (Manshub): Ditandai dengan harakat fathah ـَ atau huruf Alif ا.
c. Jarr (Majrur):Kondisi khusus untuk kata benda yang biasanya ditandai dengan harakat kasrah atau huruf ya ي.
d. Jazem (Majzum): Kondisi khusus untuk kata kerja yang umumnya ditandai dengan harakat sukun atau penghilangan huruf. ↩︎ - Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
• a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
• b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid
↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ
↩︎ - Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya Kitabun Muhammadin(Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Mausuf / Na’t dan Man’ut), contohnya Al-Manjilu Kabir (Rumah yang besar).
Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya Fil baiti (Di dalam rumah).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya Hazal kalamu (pulpen ini). ↩︎ - Huruf Hijaiyah dan Harakat:
Dalam bahasa Indonesia kita mengenal huruf (a,b,c…z) dan vokal (a,i,u,e,o). Dalam bahasa Arab, ada 28 huruf hijaiyah, mulai dari huruf Alif أ ،ب ،ت ، hingga Ya ي.
Harakat adalah tanda baca atau diakritik yang diletakkan di atas atau di bawah huruf hijaiyah untuk memperjelas gerak, pengucapan, dan bunyi vokal suatu huruf Arab.
Macam-Macam Harakat Utama:
Fathah: Garis horizontal kecil di atas huruf ( َ ) yang melambangkan bunyi “a”.
Kasrah: Garis horizontal kecil di bawah huruf ( ِ ) yang melambangkan bunyi “i”.
Dhammah: Tanda kecil di atas huruf yang menyerupai bentuk koma atau angka sembilan kecil ( ُِ ) yang melambangkan bunyi “u”.
Sukun: Tanda bulat atau menyerupai huruf ‘ha’ kecil di atas huruf ( ْ ) yang menandakan huruf mati atau tidak berbunyi vokal.
Tasydid (Syaddah): Tanda berbentuk seperti huruf ‘w’ kecil di atas huruf ( ّ ) yang menunjukkan penekanan atau penggąndaan huruf.
Tanwin: Tanda baca untuk bunyi nun mati di akhir kata, terdiri dari Fathatain ( ً-an), Kasratain ( ٍ-in), dan Dhammatain ( ٌ -un). ↩︎ - Isim Naqirah/ umum/ belum jelas الاسم النَكِرَة، yang diakhiri dengan tanwin ( كِتابٌ، كتابٍ، كتاباً sebuah buku) ↩︎
- Penjelasan Isim Mus-tatsna:
Mus-tatsna adalah isim yang berada setelah adat/alat istitsna.
Contoh: نَجَحَ الْأوْلَادُ إلاَّ عَلِيًا.
Telah lulus anak-anak itu [kecuali إلاَّ ] Ali.
Peran masing-masing: a. مُسْتَثْنَى yang dikecualikan: عليًا
b. Adat/alat: إلاَّ
c. مُسْتَثْنَى مِنهُ yang dikecualikan darinya: الأولادُ
Yang termasuk adat/alat:
a) إلاَّ kecuali
b) سِوَى، غَيْرَ، عَدَا، خَلَا، حَاشَا. selain ↩︎ - Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh: a) جَلَسَ duduk
b) قامَ berdiri ↩︎ - Fi’il muta’adi فِعْلٌ مُتَعَدِّي :memerlukan obyek setelahnya, contoh:
a) أَكَلَ memakan
b) ضَرَبَ memukul ↩︎ - Isim Fa’il dan Isim Maf’ul, keduanya mempelajari pola kata untuk menentukan pelaku (subjek) yang melakukan pekerjaan dan objek yang dikenai pekerjaan.
Keduanya merupakan bentuk kata turunan/mushtaq (الكَلِمَة المُشْتَقَة) dari kata dasar/akar kata (الجَدْر).
1. Isim Fa’il: Adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ, contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan).
2. Isim Maf’ul: Adalah kata benda yang menunjukkan objek atau yang dikenai perbuatan
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola مَفْعُوْلٌ (maf’ulun), contoh: مَكْتُوْبٌ (yang ditulis, surat).
رَأَيْتُ الرَّجُلَ الْمَقْتُوْلَ Artinya: “Saya melihat laki-laki yang dibunuh (korban pembunuhan) itu.”
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan fathah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرَمٌ (yang dimuliakan). ↩︎ - Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya Kitabun Muhammadin(Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Mausuf / Na’t dan Man’ut), contohnya Al-Manjilu Kabir (Rumah yang besar).
Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya Fil baiti (Di dalam rumah).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya Hazal kalamu (pulpen ini). ↩︎ - Beberapa arti dari pola tashrif ke-13, yaitu:
Saling ber-damai — تَصَالَحَ
Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
= mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Adapun pola tashrifnya adalah:
تَفَاعَلَ - يَتَفَاعَلُ
تَفَاعُلًا؛ تَفَاعَلْ
مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ
تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
↩︎
Leave a comment