Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

_Ilmu Nahwu

DAFTAR ISI:


Blogger Hadi-Suro Arabica


Apa itu Ilmu Nahwu dan Shorof

Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari_

Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari kalam (struktur kalimat), hubungan antar kata dalam kalimat, jenis-jenis kata (kalimah), mu’rab dan mabni (perubahan atau ketetapan akhir kata) serta I’rab (penentuan aturan tanda baca/harakat di akhir kata).

Berikut kita bahas komponen pembentuk utama kalimat, yaitu:

  1. Huruf Hijaiyah dan Harakat
  2. Pengertian Mu’rab, Mabni & I’rab
  3. Kata (كَلِمَةٌ، kalimah)
  4. Kalimat (جُمْلَةٌ. Jumlah)
  5. Huruf Nashab dan Huruf Jazm
  6. Isim/ Kata Benda (الاِسْم)
  7. Isim Tawabi (Mengikuti)
  8. Isim-isim Marfu & Macamnya
  9. Isim-isim Manshub & Macamnya
  10. Isim-isim Majrur
  11. Fi’il/ Kata Kerja (الفِعُْل)
  12. Harf (Huruf bermakna)
  13. Zharf makan & zaman
  14. Isim Adad & Ma’dud

Ilmu Shorof:

_

Ilmu Shorof adalah ilmu tata bahasa arab yang khusus mempelajari perubahan bentuk atau pola suatu kata (morfologi) dari satu bentuk ke bentuk lain untuk menghasilkan makna yang berbeda.

Pokok bahasan dalam ilmu Shorof:

  • A. Tashrif
  • B. Isim Fa’il & Maf’ul
  • C. Isytiqaq (kata dasar), masdar
  • D. Huruf Illat dan huruf shahih
  • E. Wazan

Pembahasan Rinci Ilmu Nahwu:

I. HURUF HIJAIYAH DAN HARAKAT

Huruf Hijaiyah dan Harakat:

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal huruf (a,b,c…z) dan vokal (a,i,u,e,o). Dalam bahasa Arab, ada 28 huruf hijaiyah, mulai dari huruf Alif أ ،ب ،ت ، hingga Ya ي.

Harakat adalah tanda baca atau diakritik yang diletakkan di atas atau di bawah huruf hijaiyah untuk memperjelas gerak, pengucapan, dan bunyi vokal suatu huruf Arab.

Macam-Macam Harakat Utama:

  • Fathah: Garis horizontal kecil di atas huruf ( َ ) yang melambangkan bunyi “a”.
  • Kasrah: Garis horizontal kecil di bawah huruf ( ِ ) yang melambangkan bunyi “i”.
  • Dhammah: Tanda kecil di atas huruf yang menyerupai bentuk koma atau angka sembilan kecil ( ُِ ) yang melambangkan bunyi “u”.
  • Sukun: Tanda bulat atau menyerupai huruf ‘ha’ kecil di atas huruf ( ْ ) yang menandakan huruf mati atau tidak berbunyi vokal.
  • Tasydid (Syaddah): Tanda berbentuk seperti huruf ‘w’ kecil di atas huruf ( ّ ) yang menunjukkan penekanan atau penggąndaan huruf.
  • Tanwin: Tanda baca untuk bunyi nun mati di akhir kata, terdiri dari Fathatain ( ً-an), Kasratain ( ٍ-in), dan Dhammatain ( ٌ -un).

Huruf Asy-Syamsiyah & Al-Qomariyah:

Definisi:

Huruf Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.

Isim ma’rifah (kata benda yang sudah pasti) salah satunya ditandai dengan adanya alif lam ( ال ) di awal kata. Berdasarkan cara membaca alif lam tersebut saat bertemu huruf hijaiyah, hukumnya dibagi menjadi dua: Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.

Alif Lam Syamsiyah: terjai jika bertemu dengan 14 huruf syamsiyah, maka cara membacanya – huruf lam tidak dibaca alias melebur atau dianggap tidak ada, dan suara langsung masuk ke huruf berikutnya dengan memakai tanda tasydid ( ّ ). Berikut kelompok huruf syamsiyah: ش, ز, ظ, س, د, ن, ذ, ض, ت, ر, ص, ث, ط, ل. Contoh: الشَمْسَ

Alif Lam Qomariyah: terjadi jika bertemu dengan salah satu huruf qomariyah, maka cara membacanya yaitu huruf lam dibaca dengan jelas, eksplisit dan mati / tanda baca sukun ( ْ ). Berikut kelompok huruf qomariyah: ي, ه, و, م, ك, ق, ف, غ, ع, خ, ح, ج, ب, أ. Contoh: الْقَمَرُز

II. UNSUR PENYUSUN KALIMAT

A. Kata (كَلِمَةٌ، kalimah):

_Penjelasan:

Kata/ Lafadz:

Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:

  • 1. Isim اِسْمٌ (kata benda)
  • 2. Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
  • 3. Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
  • 4. Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
  • 5. Na’at/Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
  • 6. Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
  • 7. Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)

B. Fi’il/kata kerja (الفِعُْل)

Pembagian Fi’il :

Fiil atas waktu (Madhi, Mudhari’, Amr)

1. Fi’il Madhi (ماضِي) : untuk masa lampau atau sudah dikerjakan.
_Rincian:

Ada 14 pola fi’il madhi sesuai dhamir yang terikat dengannya, berikut contoh untuk kata dasar فَعَلَ (‘dia’ telah mengerjakan):

  • Mutakallim (orang kesatu): فَعَلْتُ, فَعَلْنَ – saya, kami
  • Mukhathabah (orang kedua): فَعَلْتَ, فَعَلْتِ, فَعَلْتُمَا, فَعَلْتُمْ, فَعَلْتُنَّ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr.
  • Ghoib (orang ketiga): فَعَلَ, فَعَلَتْ, فَعَلَا, فَعَلَتَا, فَعَلُوا, فَعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr.

Kata kerja dalam bahasa Arab selamanya pasti bersatu atau bersambung dengan dhamirnya (subyek), seperti:

  • Saya telah pergi: ditulis ذَهَبْتُ bukan أَنَا ذَهَبَ
  • Mereka telah pergi: ditulis ذَهَبُوا bukan هُمْ ذَهَبَ …dst…
2. Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang
_Rincian:

Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت).

Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):

  • Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
  • Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
  • Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan)
3. Fi’il Amr (فعل أَمْر): kata kerja bentuk perintah
_Rincian:

Cirinya huruf akhir biasanya berharakat sukun, atau membuang huruf ilat (و، أ، ي), atau nun (ن).

Contoh:

  • Contoh: اِفْتَحْ bukalah, اِجْلِسْ duduklah, اِقْرَأْ bacalah
  • Rincian fi’il amr, contoh untuk kata kerja dasar fi’il madhinya جَلَسَ (duduk):
    • Kamu tunggal: اِجْلِسْ, اِجْلِسِيْ kamu lk., kamu pr., (duduklah)
    • Kamu berdua: اِجْلِسَا kamu berdua (duduklah)
    • Kalian/kamu sekalian: اِجْلِسُوا, اِجْلِسْنَ kalian lk., kalian pr. (duduklah)
  • Ungkapan-ungkapan umum bentuk perintah/’amr’:
    • a) اُكْتُبْ (tulislah!)
    • b) صَهْ (Sah) = Diamlah!
    • c) آمِين (Aamiin) = Kabulkanlah!
    • d) حَيَّ (Hayya) = Kemarilah / mari! (seperti dalam azan).
    • e) هَيَّا (Hayyaa) = Ayo!
    • f) إِلَيْكَ عَنِّي (Ilaika ‘annii) = Menjauhlah dariku!

Fi’il Mudhari’ Af’alul Khamsah

_Definisi dan penjelan fi’il mudhari’ Af’alul Khamsah

Af’alul Khamsah adalah lima bentuk kata kerja sedang/akan (fi’il mudhari’) yang disambung dengan dhamir (kata ganti) tertentu.

Lima bentuk wazan tersebut adalah:

  1. يَفْعَلَانِ (Yaf’alani) – untuk subjek pelaku dua orang laki-laki (ghaib/ketiga). Artinya: (mereka berdua melakukan).
  2. تَفْعَلَانِ (Taf’alani) – untuk subjek pelaku dua orang perempuan atau dua orang lawan bicara (mukhatab/kedua). Artinya: (kamu berdua/mereka berdua perempuan melakukan).
  3. يَفْعَلُونَ (Yaf’aluna) – untuk subjek pelaku banyak laki-laki (ghaib/ketiga). Artinya: (mereka laki-laki melakukan).
  4. تَفْعَلُونَ (Taf’aluna) – untuk subjek pelaku banyak laki-laki lawan bicara (mukhatab/ketiga). Artinya: (kalian laki-laki melakukan).
  5. تَفْعَلِينَ (Taf’alina) – untuk subjek pelaku satu orang perempuan lawan bicara (mukhatab). Artinya: (kamu perempuan melakukan).

Tanda perubahan i’rab untuk af’alul khamsah:

  • I’rab Rafa‘/marfu’ : ditandai dengan tetap adanya huruf nun di akhir kata.
  • I’rab nashab/manshub : ditandai dengan dibuang atau dihilangkannya huruf nun di akhir kata. Biasanya karena kemasukan amil huruf nashab seperti أَنْ atau لَنْ. Contoh: لَنْ يَفْعَلُوا.
  • I’rab jazm/majzum : ditandai dengan dibuang atau dihilangkannya huruf nun di akhir kata. Biasanya karena kemasukan amil huruf jazm seperti لَمْ atau إِنْ. Contoh: إِنْ يَفْعَلُوا.

Fi’il Ma’lum dan Fi’il Majhul (Bentuk Aktif dan Pasif)

Fi’il ma’lum dan fi’il majhul:

Baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’, keduanya dibagi lagi menjadi bentuk kata kerja aktif (fi’il ma’lum) dan bentuk kata kerja pasif (fi’il majhul).

Fi’il ma’lum adalah kata kerja aktif yang pelakunya (subyek/fa’il) disebutkan di dalam kalimat, sedangkan fi’il majhul adalah kata kerja pasif yang pelakunya tidak disebutkan dan posisinya digantikan oleh obyek (maf’ul bih) yang disebut naibul fa’il. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja aktif biasanya yang mendapatkan awalan me– atau ber– (contoh: me-nyuruh, ber-henti), sedangkan kata kerja pasif biasanya dengan awalan di– (contoh: di-suruh, di-henti-kan).

Fi’il ma’lum dan majhul (Madhi):
  • Fi’il madhi ma’lum adalah yang berawalan fathah.
    • Contoh: كَتَبَ, سَأَلَ, فَهِمَ, فَهَّمَ, قَرَأَ, أَخْرَجَ
    • Artinya: telah me-nulis, telah ber-tanya, telah paham, telah me-maham-kan, telah mem-baca, telah me-ngeluar-kan.
  • Fi’il madhi majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris kasrah.
    • Contoh: كُتِبَ, سُئِلَ, فُهِمَ, فُهِّمَ, قُرِأَ, أُخْرِجَ
    • Artinya: telah di-tulis, telah di-tanya, telah di-pahami, telah di-paham-kan, telah di-baca, telah di-keluar-kan.
Fi’il ma’lum dan majhul (Mudhari’):
  • Fi’il mudhari’ ma’lum adalah yang berawalan fathah (atau dhammah).
    • Contoh: يَكْتُبُ, يَسْأَلُ, يَفْهَمُ, يُفَهِّمُ, يَقْرَأُ, يُخْرِجُ
    • Artinya: sedang/akan me-nulis, sedang/akan ber-tanya, sedang/akan paham, sedang/akan me-maham-kan, sedang/akan mem-baca, sedang/akan me-ngeluar-kan.
  • Fi’il mudhari’ majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris fathah.
    • Contoh: يُكْتَبُ, يُسْأَلُ, يُفْهَمُ, يُفَهَّمُ, يُقْرَأُ, يُخْرَجُ
    • Artinya: sedang/akan di-tulis, sedang/akan di-tanya, sedang/akan di-pahami, sedang/akan di-paham-kan, sedang/akan di-baca, sedang/akan di-keluar-kan.

Fi’il atas obyek (Lazim, Muta’addi)

a. Fi’il Lazim:
_Rincian:

Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja. Fi’il lazim dapat diketahui dengan melihat arti fi’il yang terbagi kedalam 7 macam:

  1. Yang menunjukkan aktifitas tanpa obyek:
    • _ جَلَسَ عَلِيٌ Ali duduk
    • _ قامَ أَحْمَدُ Ahmad berdiri
  2. Yang menunjukan watak, bakat atau sifat, seperti:
    • _ حَسُنَ bagus, قَبُحَ jelek
    • _ شَجُعَ berani, جَبُنَ pengecut
    • _ كَسَلَ malas, مَرِضَ sakit
    • _ فَرِحَ bergembira, شَبِعَ kenyang
  3. Yang menunjukkan warna, seperti:
    • _ اِحْمَرَّ memerah,
    • _ اِبْيَضَّ memutih
  4. Yang menunjukkan cacat, seperti:
    • _ عَمِشَتْ عَيْنُهُ lemah penglihatannya
  5. Yang menunjukkan bersih atau kotor, seperti:
    • _ طَهُرَ telah suci, نَظَفَ telah bersih, rapih
    • _ وَسِخَ telah kotor, قَذَرَ telah dekil, busuk, tidak bersih
  6. Yang menunjukkan arti muthawa’ah (menjadi ter-…) akibat me-…
    • _ اِنْكَسَرَ menjadi pecah
    • _ اِجْتَمَعَ menjadi terkumpul
  7. Dengan melihat bentuk fi’il/pola wazan (note: pola wazan menjadi bahasa utama dalam ilmu shorof dan dibahas lengkap), ada beberapa macam:
    1. Pola فَعُلَ seperti: شَرَفَ mulia, جَمُلَ cantik, حَسُنَ bagus
    2. Pola اِنْفَعَلَ seperti: اِنْقَسَمَ terbagi, اِنْكَسَرَ terpecah
    3. Pola اِفْعَلَّ seperti: اِحْمَرَّ memerah
    4. Pola اِفْعَالَّ seperti: اِحْمَارَّ menjadi sangat merah
    5. Pola اِفْعَنْلَلَ seperti: اِقْعَنْسَسَ menolak taat, اِحْرَنْجَمَ berkumpul
b. Fi’il lazim + huruf Ta’alluq (penghubung/transitif ke obyek) – بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ
_Rincian:

Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.

Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).

Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:

  • huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada)
    • contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
    • contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
  • huruf ilaa إِلَى (ke, kepada)
    • contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
  • huruf fi فِي (didalam, pada, tentang)
    • contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
  • huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari)
    • contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
  • huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada)
    • contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
  • huruf li لِ (untuk, bagi, kepada)
    • contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
  • huruf min مِنْ (dari, termasuk):
    • contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)

Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.

  • Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
  • Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak)
c. Fi’il Muta’addi
_Rincian:

Fi’il Muta’addi adalah fi’il yang kejadiannya memerlukan obyek (maf’ul bih).

Contoh dengan 1 (satu) obyek :

  • a) أَكَلَ الخُبْزَ memakan roti
  • b) ضَرَبَ الكَلْبَ memukul anjing
  • c) سَئَلَ عَلِيٌ أُسْتَاذًا Ali telah bertanya kepada guru

Contoh dengan 2 (dua) obyek : (kedua obyek dari fi’il ini, sesuai kaidah menjadi manshub)

  • a) أَعْطَى, سَأَلَ : memberi, menanyakan
  • b) ظَنَّ, وَجَدَ, جَعَلَ, حَسِبَ : menduga, mendapatkan, menjadikan, mengira
  • c) مَنَحَ, أَلْبَسَ, عَلَّمَ : meng-anugrahi, memakaikan, mengajarkan

Fi’il Naqish (tanpa subyek & obyek) – [Kaana, Kaada, dhonna]

_Definisi Fi’il Naqish:

Fi’il Naqish (الفِعْلُ النَّاقِصُ) adalah kata kerja yang tidak menunjukkan suatu tindakan/perbuatan dan tidak membutuhkan subjek (fa’il) maupun objek (maf’ul bih). Fi’il ini disebut naqish (kurang) karena ia hanya menunjukkan keterangan waktu dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya struktur kalimat Mubtada’ dan Khobar. Tugas fi’il naqish umumnya sama dengan kelompok Kaana, yaitu merafa’kan isim dan menashobkan khobar.

1. Keluarga كانَ وأَخَوَاتُهَا (Kaana)

Keluarga Kaana termasuk tidak sempurna maknanya: Kata ini tidak cukup hanya dengan isim marfu’ (fa’il/pelaku) saja untuk membentuk arti yang utuh.

Kaana memerlukan ismu kaana (isim yang marfu‘) dan khabar kaana (khabar yang manshub) untuk menyempurnakan makna kalimat.

Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).

  • Contoh:
    • Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    • Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
  • Saudara-saudara Kaana:
    • a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    • b) لَيْسَ. Bukan
    • c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    • d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    • e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    • f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    • g) صَارَ. Menjadi
    • h) ما زالَ. Senantiasa

Selain keluarga Kaana, ada dua kelompok fi’il naqish lain dalam tata bahasa Arab yang memiliki fungsi serupa dalam merubah tatanan Mubtada-Khobar:

2. Keluarga كَادَ وأَخَوَاتُهَا (Kaada)

Kelompok ini tugasnya sama seperti Kana (merafa’kan isim dan menashobkan khobar), namun dengan syarat khusus: Khobar-nya harus berupa kalimat kerja (Fi’il Mudhori’).

Kelompok ini dibagi menjadi 3 bagian:

  • Af’alul Muqorobah (Menunjukkan makna “hampir”):
    • كَادَ (Kaada) = Hampir
    • كَرَبَ (Karaba) = Hampir
    • أَوْشَكَ (Awsyaka) = Hampir
  • Af’alul Roja’ (Menunjukkan makna “harapan/semoga”):
    • عَسَى (‘Asaa) = Semoga / Mudah-mudahan
    • حَرَى (Haraa) = Semoga
    • اِخْلَوْلَقَ (Ikhlawlaqa) = Semoga
  • Af’alul Syuru’ (Menunjukkan makna “mulai melakukan”):
    • شَرَعَ (Syara’a) = Mulai
    • أَخَذَ (Akhadza) = Mulai
    • جَعَلَ (Ja’ala) = Mulai
    • طَفِقَ (Thafiqa) = Mulai
    • هَبَّ (Habba) = Mulai
3. Keluarga ظَنَّ وأَخَوَاتُهَا (Dzonna)

Kelompok ini disebut sebagai Af’alul Qulub wal-Tahwil. Berbeda dengan Kana dan Kaada, kelompok Dzonna menashobkan mubtada dan khobar sekaligus, dan mengubah keduanya menjadi objek pertama (Maf’ul bih 1) dan objek kedua (Maf’ul bih 2).

Kelompok ini dibagi menjadi 2 bagian utama:

  • Af’alul Qulub (Kata kerja hati/keyakinan/dugaan):
    • ظَنَّ (Dzonna) = Menduga / Mengira
    • حَسِبَ (Hasiba) = Mengira
    • خَالَ (Khaala) = Membayangkan / Mengira
    • زَعَمَ (Za’ama) = Mengklaim / Mengira
    • رَأَى (Ro’aa) = Melihat (dengan keyakinan hati)
    • عَلِمَ (‘Alima) = Mengetahui
    • وَجَدَ (Wajada) = Menemukan / Mendapati
    • سَمِعَ. (Samia) = mendengarkan
  • Af’alul Tahwil (Kata kerja yang bermakna mengubah status/mengubah bentuk):
    • صَيَّرَ (Shoyyara) = Mengubah / Menjadikan
    • جَعَلَ (Ja’ala) = Menjadikan
    • اتَّخَذَ (Ittakhadza) = Mengambil / Menjadikan

C. Harf (Huruf Bermakna)

Macam Harf (1 Huruf, 2 Huruf, 3 Huruf):

_

Harf (huruf bermakna) adalah kata tugas atau kata penghubung, yang memiliki makna/arti gramatikal atau fungsional. Huruf ini baru nampak jelas maknanya bila disandingkan dengan kata lain (terutama Isim dan Fi’il).

  • 1. Huruf 1 kata (Uhadi):
  • 2. Huruf 2 kata (tsunai):
    • a) Fi فِي : di, didalam.
    • b) Min مِنْ : bermakna dari atau sebagian.
    • c) An عَنْ : dari, tentang.
    • d) Ila إلى : ke, sampai.
    • e) Qad قَدْ : sungguh, telah (untuk penekanan kata kerja).
    • f) Laa لاَ : tidak, jangan.
    • g) Aw أَو : atau
    • h) Bal بَلْ : bahkan, padahal.
    • i) An أَنْ : bahwa
    • j) In إِنْ : jika
  • 3. Huruf 3 kata (tsulatsi):
    • a) Tsumma ثُمَّ : kemudian (menunjukkan urutan dengan jeda waktu).
    • b) Lakin لَكِنْ : akan tetapi.
    • c) Laita لَيْتَ : andai saja, semoga.
    • d) Laalla لَعَلَّ : mudah-mudahan, agar.
  • 4. Huruf Jar:
    Adalah huruf-huruf tertentu yang membuat akhiran menjadi kasrah, contoh:

Macam-macam huruf Jar:

  • 1. مِنْ dari; مِنَ السَّمَاءِ dari langit
  • 2. فِي di dalam; في الْقَلْبِ didalam hati
  • 3. إِلَى ke; إلى الْمَسْجِدِ ke masjid
  • 4. عَلَى diatas; عَلَى الطَّاوِلَةِ diatas meja
  • 5. عَنْ dari, tentang; beberapa contoh :
    • a) رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ saya melempar panah dari busurnya.
    • b) سَأَلْتُ عَنِ النَّبَإِ saya bertanya tentang berita itu.
    • c) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ Allah ridho dari/kepada mereka.
  • 6. بِ dengan;
    • contoh:أَكْتُبْ بِالْقَلَمِ saya menulis dengan pulpen
  • 7. كَ seperti; كَالْأَنْعَامِ seperti binatang
  • 8. لِ milik; لِلْأُسْتَاذِ milik guru

Huruf Masdariyah

Huruf masdariyah dalam tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) adalah huruf-huruf yang bersama dengan kata setelahnya dapat ditakwil (diubah maknanya) menjadi Masdar Muawwal (kata benda turunan). Yang populer adalah أَنْ (An) dan أَنَّ (Anna) .

1. Penjelasan أَنْ (An)

أَنْ (An) adalah huruf mashdariyah dan nashab. Artinya, huruf ini berfungsi untuk menashabkan (mengubah harakat akhir menjadi fathah) kata kerja setelahnya, dan mengubah makna rangkaian kata tersebut menjadi kata benda abstrak (masdar mu’awwal).

  • Aturan: Harus diikuti oleh Fi’il (Kata Kerja).
  • Arti biasa: “Untuk” atau “Bahwa“.
  • Contoh Kalimat:
    • أُرِيْدُ أَنْ أَقْرَأَ الكِتَابَ (Saya ingin untuk membaca buku itu).
2. Penjelasan أَنَّ (Anna)

أَنَّ (Anna) adalah bagian dari Inna wa Akhwatuha (saudara-saudara Inna). Huruf ini berfungsi sebagai penegas (taukid) di tengah kalimat.

  • Aturan: Harus diikuti oleh Isim (Kata Benda) atau Dhamir (Kata Ganti). Isim setelahnya disebut Isim Anna dan harus berharakat Manshub (fathah).
  • Arti biasa: “Bahwa” atau “Sesungguhnya“.
  • Contoh Kalimat dengan Isim:
    • أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
  • Contoh Kalimat dengan Dhamir (Kata Ganti):
    • عَلِمْتُ أَنَّهُ مَرِيْضٌ
3. Huruf Masdariyah lainnya (Kay, Maa, Lauw) :
  • كَيْ (Kay)
    • Fungsi: Biasanya masuk pada kata kerja mudhari’ (sekarang/akan datang) dan sering kali didahului oleh huruf jar Lam (لِكَيْ).
    • Contoh: جِئْتُ لِكَيْ أَتَعَلَّمَ , Takwil Masdar: جِئْتُ لِلتَّعَلُّمِ
  • مَا (Maa)
    • Fungsi: Terbagi menjadi dua, yaitu Maa Masdariyah Mudhhafah (menunjukkan waktu/durasi) dan Ghairu Mudhhafah (tidak menunjukkan waktu). Bisa masuk ke kata kerja masa lalu (madhi) maupun sekarang (mudhari’).
    • Contoh: ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ Takwil Masdar: بِرُحْبِهَا
  • لَوْ (Law)
    • Fungsi: Sering kali terletak setelah kata kerja yang bermakna “menginginkan” atau “menyukai”, seperti وَدَّ (wadda) atau يَوَدُّ (yawaddu).
    • Contoh: يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ , Takwil Masdar: تَعْمِيرَ أَلْفِ سَنَةٍ

Huruf-huruf ibtida’ (Yang Tidak Merubah Harakat): سَ, سَوْفَ , لَا, مَا, أَ, هَلْ, قَدْ, لَو, وَلَكِنْ

_Rincian:

Berikut huruf-huruf ibtida‘ (حَرْفُ الْاِبْتِدَاءِ ) yang tidak ber-amal artinya tidak merubah harakat kata (kerja) sesudahnya.:

a. Huruf Tanfis سَ

Huruf tanfis sa سَ artinya “akan”, berfungsi untuk mengubah waktu perbuatan pada fi’il mudhari yang awalnya bermakna umum atau sedang terjadi, menjadi khusus untuk masa depan yang dekat. Huruf sa سَ tidak berpengaruh pada harakat fi’il sesudahnya.

  • Contoh: سَأُوَضِحُ
  • artinya: saya akan (segera, dalam waktu dekat) menjelaskan
b. Huruf Taswif سَوْفَ

Huruf taswif saufa سَوْفَ sama fungsinya dengan huruf sa سَ yaitu untuk mengubah waktu perbuatan pada fi’il mudhari yang awalnya bermakna umum atau sedang terjadi, menjadi khusus untuk masa depan, namun untuk masa depan yang jauh. Huruf saufa سَوْفَ tidak berpengaruh pada harakat fi’il sesudahnya.

  • Contoh: سَوْفَ أُوَضِحُ
  • artinya: saya akan (nanti, dalam waktu jauh) menjelaskan
c. Huruf Laa لَا dan ma مَا nafiyah

Huruf la nafiyah لَا dan مَا fungsinya untuk meniadakan atau menegasikan suatu perbuatan (artinya menjadi ‘tidak‘). Huruf la tidak berpengaruh pada harakat kata kerja sesudahnya.

  • Contoh: لَا يُمْكِنُ
  • artinya: tidak mungkin, tidak bisa
d. Huruf Istifham أَ dan هَلْ

Huruf istifham أ dan هَلْ artinya “apakah” tidak berpengaruh pada harakat kata sesudahnya.

  • Contoh: أَتَذْهَبُ؟ apakah kamu akan pergi?
  • Contoh: هَلْ يَعْلَمُ؟ apakah dia tahu?
e. Huruf taukid/penguat قَدْ, لَ

Huruf قَدْ bila masuk ke fi’il mudhari’ maknanya berarti “kadang-kadang, terkadang“. Huruf ini tidak berpengaruh pada harakat.

  • Contoh: قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوْبُ
  • artinya: terkadang seorang pembohong itu jujur

Huruf لَ (la ibtida’, lam taukid), yaitu huruf lam yang terletak di awal untuk memberikan penekanan arti “sungguh, benar-benar“. Huruf ini tidak berpengaruh pada harakat.

  • Contoh: لَيَقُوْمُ مُحَمَّدٌ
  • artinya: sungguh Muhammad benar-benar sedang berdiri
f. Huruf Istidrak (pengoreksi) وَلَكِنْ

Huruf وَلَكِنْ (artinya tetapi, namun) adalah huruf istidrak (اِسْتِدْرَكْ ) yang berfungsi sebagai kata penilai atau pembatas untuk mengoreksi atau menyela pernyataan sebelumnya. Sebagai huruf ibtida‘ , maka وَلَكِنْ tidak menashabkan isim atau merofa’kan khabar seperti inna dan saudaranya.

  • Contoh: وَلَكِنْ هُنَاكَ خَطَرٌ خَفِيٌّ (tetapi ada bahaya tersembunyi)
  • Keterangan: setelah وَلَكِنْ adalah seperti isim dan khabar apabila dengan inna.

D. Kalimat (جُمْلَةٌ. Jumlah):

a. Jumlah Ismiyyah (الجُمْلَةُ الاِسْمِيَّةُ)

_

Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran dhammah ـُ). Contoh:

  • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
  • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid

b. Jumlah fi’liyah (الجُمْلَةُ الفِعْلِيَّةُ)

_

Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:

  • a. Fi’il (kata kerja)
  • b. fa’il (pelaku/subjek)
  • c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.

Contoh:

  • a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran

c. Frase Kalimat: Murakkab & Sybhul Jumlah

_Rincian:
1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)

Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.

Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :

  • Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
  • Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
  • Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
  • Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini)
    • Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    • Zharf wa mudhaf ilaih
2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih

Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.

Dua jenis utama sybhul jumlah:

  • Jar wa Majrur
    • Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
    • Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
  • Zharf wa mudhaf ilaih
    • Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
    • Contoh:
      • Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
      • Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur)

E. Isim/kata benda (الاِسْم), Jenis-jenisnya:

Jenis-jenis Isim:

1. Isim Naqirah

_Rincian:

Isim Naqirah adalah isim yang menunjukkan makna umum, belum tentu atau tidak spesifik.

Ciri-ciri isim naqirah: biasanya bertanda tanwin di akhir katanya, dan apabila dimasuki (diawali) huruf al (الْ ) maka isim naqirah berubah menjadi isim makrifah. Contoh:

  • _ رَجُلٌ رَجُلٍ رَجُلًا : seorang laki-laki (laki-laki mana saja, belum tentu siapa)
  • _ كِتابٌ، كتابٍ، كتاباً : sebuah buku (buku mana saja, belum jelas buku yang mana)

Selain isim naqirah sebagaimana dimaksud diatas, maka disebut isim makrifah, sebagaimana rincian isim-isim makrifah di bawah ini.

2. Isim Makrifah

_Rincian:

Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.

Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).

Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku).

3. Isim Alam/ nama diri

Contoh isim alam: مُحَمَّدٌ (Muhammad)، جاكَرْتا (Jakarta)

4. Isim Mudhaf

Isim mudhaf adalah isim yang disandarkan ke isim makrifah.

  • Contoh : كِتَابُ مُحَمَّدٍ (bukunya Muhammad).
  • Disini كِتَابُ adalah isim mudhaf-nya,
  • dan مُحَمَّدٍ adalah isim makrifah yang menjadi sandaran (mudhaf ilaihi)

5. Isim-isim Mabni (Dhomir, Isyarah, Istifham, Syarat, Maushul):

_Rincian:

Ada 5 (lima) macam isim mabni, yaitu:

  • 1. Isim dhomir/ kata ganti orang: (dalam bentuk sendiri – sbg. subyek – sbg obyek)
    • Orang kesatu tunggal : أَنا, نَهْنُ – saya, kami
    • Orang kedua: أَنْتَ، أَنْتِ, أَنْتُمْ – kamu lk., kamu pr., kalian
    • Orang ketiga: هُوَ، هِيَ، هُمْ – dia lk., dia pr., mereka,
  • 2. Isim Isyarah/ kata tunjuk: seperti:
    • Tunjuk dekat: هٰذاَ (ini lk.), هَذِهِ (ini pr.),
    • Tunjuk jauh: ذٰلِكَ (itu lk.), تِلْكَ (itu pr.)
    • Jamak: هَؤُلَاء (ini semua), أُوْلَئِكَ (mereka itu)
    • Ganda dekat: هَذَانِ, هَاتَانِ – ini berdua (lk., pr.,)
    • Ganda jauh: ذَانِكَ, تَانِكَ – itu berdua (lk., pr.)
  • 3. Isim Istifham/ kata tanya, seperti
    • _ مَنْ siapa
    • _ كَمْ berapa
    • _ كَيْفَ bagaimana
    • _ مَتَى kapan
    • _ مَاذَا apa
    • _ لِمَاذَا mengapa, kenapa
    • _ أَيْنَ mana
    • Ada juga istifham berupa huruf, bukan isim:
      • _ هَلْ apakah
      • _ مَا apakah
  • 4. Isim Syarat (diikuti kalimat syarat & jawab syarat):
    • _ إَذَا jika, apabila
    • _ مَنْ siapa saja/ barang siapa
    • _ مَتَى kapan saja
    • _ مَا apa saja
    • _ مَهْمَا bagaimana saja
  • 5. Isim Maushul (& shilah maushul)
    • Isim Maushul/ kata sambung/penghubung, artinya “yang”, seperti:
      • Untuk benda tunggal: الَّتِي (pr.)، الَّذِي, (lk.)
      • Untuk benda ganda: اللَّذَانِ (lk.), اللَّتَانِ (pr.)
      • Untuk benda jamak: الَّذِينَ (lk.), اللَّاتِى (pr.)
    • Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab.
      • Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
      • Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar)

F. Isim/kata benda (الاِسْم), Kelompok-kelompok Isim:

1. Isim berdasarkan jenis kelamin (Mudzakkar, Muannats):

_
  • 1. Isim mudzakkar: kata benda laki-laki atau yang dianggap laki-laki. Isim ini tidak pernah diakhiri dengan ta’ marbutoh (ة), Contoh: رَجُلٌ (seorang pria)
  • 2. Isim muannats: kata benda perempuan, biasanya ditandai ta’ marbutoh (ة) di akhir. Contoh: فَتاةٌ (seorang gadis), فاتِمَةٌ (Fatimah)

2. Isim berdasarkan jumlah (Mufrad, Mutsanna, Jamak Mudzakkar/Muannats Salim, Jamak Taksir):

_
  • 1. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
  • 2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
  • 3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
  • 4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
  • 5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena).

3. Isim Maqshur & Manqush:

_Definisi:

Isim Maqshur & Manqush adalah dua kata benda isim mu’rab yang huruf akhirnya berupa huruf Illat.

  • a. Isim Maqshur: berakhiran Alif ا atau Alif Maqshurah (ya tanpa titik) ى dengan huruf sebelumnya berharakat fathah. Contoh:
    • الْفَتَى – pemuda,
    • الْعَصَا – tongkat
  • b. Isim Manqush: berakhiran ya ي dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah. Untuk bentuk naqirah, huruf ya tersebut dihilangkan, dan harakat kasrah diganti menjadi tanwin kasrah. Contoh:
    • الْقَاضِي – hakim,
    • bentuk nakirahnya menjadi قَاضٍ – yaitu huruf ي dihilangkan, dan huruf terakhir diberi harakat kasratain (kasrah tanwin)

4. Isim Ghoir Munsharif:

_Definisi:

Isim Ghoir Musharif adalah kata benda yang tidak bisa menerima tanwin (tidak bisa berharakat dhommatain, fathatain, kasrotain) dan tidak bisa berharakat kasrah saat berada dalam posisi jar, dan menjadi fathah sebagai gantinya.

  • Contoh: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ …(padahal harusnya دِ ).

Kecuali diawali dengan al الْ، atau menjadi mudhaf, maka baru bisa kasrah.

Penyebab suatu kata dikategorikan sebagai isim Ghoir munsharif, yaitu:

  • a. Kata sifat tertentu
  • b. Nama orang tertentu
  • c. Jika isim memiliki salah satu dari 3 kriteria berikut:

Berikut kriterianya:

  • 1) Kata jamak taksir yang ditengahnya ada huruf Alif, contoh:
    • مَسَاجِدُ masjid-masjid
    • مَدَارِسُ sekolah-sekolah
    • مَصَابِيْحُ lampu-lampu
  • 2) Diakhiri Alif ta’nis maqsuroh (diakhiri ا atau ى). Contoh:
    • حُبْلَى wanita hamil
    • مَرْضَى orang-orang yang sakit
  • 3) Diakhiri Alif ta’nis mamdudah, yaitu Alif panjang dan Hamzah (اء) , contoh:
    • عُلَمَاءُ para ulama
    • حَضْرَاءُ hijau

5. Isim dhamir mustatir:

_Definisi:

Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).

Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:

  • Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
  • Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
  • Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
  • Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) .

6. Isim dhamir muttasil (Dhamir Rafa’ & Dhamir Nashab):

Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek/fa’il atau obyek/maf’ul bih yang menyatu satu kata dengan fi’il. Untuk fa’il yang kaidah i’rab-nya marfu’, maka isim dhamir nya disebut sebagai dhamir rafa’, dan untuk maf’ul bih yang kaidah i’rab-nya manshub maka isim dhamir nya disebut dhamir nashab.

a. Dhamir Rafa’ (sebagai fa’il)
_Rincian:

Dhamir Rafa’.

Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:

  • Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
    • ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
    • ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
  • Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua):
    • ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
    • ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
    • ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
    • ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
    • ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
  • Dhamir rafa’ ghoib
    • ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
    • ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
    • ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
    • ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
    • ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
    • ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi
b. Dhamir nashab (sebagai maf’ul bih)

Cara penulisan (madhi – mudhari‘) :

  • Dhamir nashab mutakallim (orang kesatu):
    • Saya: [ أَمَرَنِي – يَأْمُرُنِي ] dia menyuruh saya
    • Kami: [ أَمَرَنَا – يَأْمُرُنَا ] dia menyuruh kami
  • Dhamir nashab mukhatab (orang kedua):
    • Kamu lk.: [ أَمَرْتُكَ – آمُرُكَ ] saya menyuruh kamu lk.
    • Kamu pr.: [ أَمَرْتُكِ – آمُرُكِ ] saya menyuruh kamu pr.
    • Kalian: [ أَمَرْتُكُمْ – آمُرُكُمْ ] saya menyuruh kalian
    • Kalian berdua: [ أَمَرْتُكُمَا – آمُرُكُمَا ] saya menyuruh kalian berdua
  • Dhamir nashab ghoib (orang ketiga):
    • Dia lk.: [ أَمَرْتُهُ – آمُرُهُ ] saya menyuruh dia lk.
    • Dia pr.: [ أَمَرْتُهَا – آمُرُهَا ] saya menyuruh dia pr.
    • Mereka lk.: [ أَمَرْتُهُمْ – آمُرُهُمْ ] saya menyuruh mereka lk.
    • Mereka pr.: [ أَمَرْتُهُنَّ – آمُرُهُنَّ ] saya menyuruh mereka pr.
    • Mereka berdua: [ أَمَرْتُهُمَا – آمُرُهُمَا ] saya menyuruh mereka berdua
c. Dhamir majrur (sebagai mudhaf)

Isim dhamir majrur muttasil adalah isim dhamir yang kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi yang irab-nya majrur/kasrah (fi mahalli jarrin mudhaf ilaih), dan dituliskan menempel di akhir kata benda/isim yang menjadi mudhaf-nya. Kedudukan ini menunjukkan kepemilikan (posesif) seperti “rumahku“, “kemejamu“, “mobil dia“.

Berikut cara penulisan dhamir majrur:

  • Orang pertama (mutakallim/pembicara):
    • Saya: كِتَابِي – buku saya
    • Kami: كِتَابُنَا – buku kami
  • Orang kedua (mukhatab/orang yang diajak bicara):
    • Kamu lk.: كِتَابُكَ – buku kamu lk.
    • Kamu pr.: كِتَابُكِ – buku kamu pr.
    • Kalian lk.: كِتَابُكُمْ – buku kalian lk.
    • Kalian pr.: كِتَابُكُنَّ – buku kalian pr.
    • Kalian berdua: كِتَابُكُمَا – buku kalian berdua
  • Orang ketiga (ghoib/orang yang dibicarakan):
    • Dia lk.: كِتَابُهُ – buku dia lk.
    • Dia pr.: كِتَابُهَا – buku dia pr.
    • Mereka lk.: كِتَابُهُمْ – buku mereka lk.
    • Mereka pr.: كِتَابُهُنَّ – buku mereka pr.
    • Mereka berdua: كِتَابُهُمَا – buku mereka berdua

Catatan penting:

Untuk dhamir orang ketiga yang diawali huruf Ha (ـهُ / ـهُمَا / ـهُمْ / ـهُنَّ), harakatnya akan berubah menjadi kasrah (ـهِ / ـهِمَا / ـهِمْ / ـهِنَّ) jika isim (mudhaf) di depannya diakhiri dengan harakat kasrah atau huruf Ya sukun (يْ).

  • Contoh normal: بَيْتُهُ (rumah dia lk.)
  • Contoh perubahan-1: فِي بَيْتِهِ (di rumah dia lk.) << harakatnya ikut berubah menjadi kasrah.

7. Isim Adad & Ma’dud

_Definisi Isim Adad & Ma’dud:

Isim adad adalah kata benda dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti bilangan atau angka. Sedangkan isim ma’dud adalah kata benda yang mengikuti adad atau benda yang sedang dihitung/dibilang. 

Contohnya dalam kalimat “empat kursi”, kata “empat” adalah adad, dan kata “kursi” adalah ma’dud.

Macam Isim Adad (Mufrad, Murakkab, ‘Uqud, Ma’thuf)

Macam-Macam Isim Adad dalam tata bahasa Arab (nahwu), adad dibagi menjadi empat jenis utama:

a) Adad Mufrad (1-10,100, 1000)
  • Adad Mufrad: Bilangan murni dari angka 1 sampai 10, ditambah kata seperti 100 (mi’ah) dan 1000 (alf).
  • Contoh untuk ma’dud mudzakkar (terbilang laki-laki):
    • 3 buku ثَلَاثَلةُ كُتُبٍ
    • 107 buku مِئةٌ وَسَبْعَةُ كُتُبٍ
    • 604 buku سِتُّمِائَةٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ
    • 2308 buku أَلْفَنِ وَثَلَاثُمِائَةٍ وَثَمَانِيَةُ كُتُبٍ
  • Contoh untuk ma’dud muannats (terbilang perempuan):
    • 3 mobil ثَلاثُ سَيَّارَاتٍ
    • 107 mobil مِائَةُ وَسَبْعُ سَيَّارَاتٍ
    • 604 mobil سِتُّمِائَةٍ وَأَرْبَعُ سَيَّارَاتٍ
    • 2308 mobil أَلْفَانِ وَثَلاثُمِائَةٍ وَثَمَانِي سَيَّارَاتٍ
b) Adad Murakkab (11-19)
  • Adad Murakkab: Bilangan susun dari angka 11 sampai 19.
  • Contoh untuk ma’dud mudzakkar (terbilang laki-laki):
    • 11 buku أَحَدَ عَشَرَ كِتَابًا
    • 614 buku سِتُّمِائَةٍ وَأَرْبَعَةَ عَشَرَ كِتَابًا
    • 3012 buku ثَلاثَةُ آلافُ وَاِثْنَا عَشَرَ كِتَابًا
  • Contoh untuk ma’dud muannats (terbilang perempuan):
    • 11 sekolah إحدَى عَشْرَةَ مَدْرَسَةً
    • 614 sekolah سِتُّمِائَةٍ وَأَرْبَعَةَ عَشَرَ مَدْرَسَةً
    • 3012 sekolah ثَلاثَةُ آلافُ وَاِثْنَتَي عَشْرَةَ مَدْرَسَةً
c) Adad ‘Uqud (20,30,… 90)
  • Adad ‘Uqud: Bilangan kelipatan puluhan dari 20 sampai 90 (seperti 20, 30, 40).
  • Contoh untuk ma’dud mudzakkar (terbilang laki-laki):
    • 50 buku خَمْسُونَ كِتَابًا
    • 720 buku سَبْعُمِائَةٍ وَعِشْرُونَ كِتَابًا
  • Contoh untuk ma’dud muannats (terbilang perempuan):
    • 50 meja خَمْسُونَ طَاوِلَةً
    • 720 meja سَبْعُمِائَةٍ وَعِشْرُونَ طَاوِلَةً
d) Adad Ma’thuf (21-29,… 91-99)
  • Adad Ma’thuf: Bilangan gabungan atau rangkaian antara satuan dan puluhan dari 21 sampai 99 (kecuali kelipatan puluhan pas).
  • Contoh untuk ma’dud mudzakkar (terbilang laki-laki):
    • 92 buku اِثْنَانِ وَتِسْعُونَ كِتَابًا
    • 50435 buku خَمْسُونَ أَلْفًا وَأَرْبَعُمِائَةٍ وَخَمْسَةٌ وَثَلاثُونَ كِتَابًا
  • Contoh untuk ma’dud muannats (terbilang perempuan):
    • 92 botol اِثْنَانِ وَتِسْعُونَ زُجَاجَةً
    • 50435 botol خَمْسُونَ أَلْفًا وَأَرْبَعُمِائَةٍ وَخَمْسَةٌ وَثَلاثُونَ زُجَاجَةً

8. Isim berbentuk Sighah Mubalaghoh:

_Definisi dan beberapa wazan/bentuk Sighah Mubalaghoh

Isim Shigah Mubalaghoh (صِيْغَة مُبَالَغَة) adalah isim dengan makna hiperbolis/dilebih-lebihkan.

Sighah Mubalaghoh adalah isim yang dibentuk dari kata kerja untuk menunjukkan bahwa suatu sifat atau perbuatan dilakukan secara sangat sering, intens, atau terus-menerus.

Ada 5 (lima) wazan/bentuk kata dari sighah mubalaghoh yang sering dipakai dalam bahasa arab dengan arti ‘sangat, sering’ , yaitu:

  1. Wazan Fa’ilun فَعِلٌ , contoh: حَذِرٌ (sangat waspada), قَلِقٌ (sangat gelisah)
  2. Wazan Fa’iilun فَعِيْلٌ , contoh: رَحِيْمٌ (‘Maha Penyayang), عَلِيْمٌ (Maha Mengetahui)
  3. Wazan Fa’uulun فَعُوْلٌ , contoh: شَكُوْرٌ (sangat bersyukur), صَبُوْرٌ (sangat penyabar)
  4. Wazan Mif’aalun مِفْعَالٌ , contoh: مِقْدَامٌ (sangat pemberani), مِعْطَاءٌ (sangat suka memberi)
  5. Wazan Fa’aalun فَعَّالَ , contoh: غَفَّارٌ (Maha Pengampun), تَوَّابٌ (Maha Penerima Taubat)

Selain wazan-wazan diatas, ada beberapa wazan lain yang jarang digunakan tetapi tetap sah dalam kaidah bahasa arab, yaitu:

  1. Wazan Fu”aalun فُعَّالٌ , contoh: كُبَّارٌ (sangat besar)
  2. Wazan Fa’laalun فَعْلَالٌ, contoh: وَسْوَاسٌ (yang sangat sering dan terus-menerus membisikkan keburukan)
  3. Wazan Fu’alatun فُعَلَةٌ , contoh: حُمَزَةٌ (suka mencela)
  4. Wazan Fi”iilun فِعِّيْلٌ , contoh: صِدِّيْقٌ (sangat jujur/membenarkan)
  5. Wazan Faa’uulun فَاعُوْلٌ, contoh: فَارُوْقٌ (sangat pembeda antara benar dan salah)
  6. Wazan Mif’iilun مِفْعِيْلٌ, contoh: مِعْطِيرٌ (sangat harum/ suka memakai wewangian)

9. Isim Tawabi/Mengikuti (Na’at, Athaf, Taukid, Badal):

_Definisi:

Isim Tawabi adalah isim yang ketentuan I’rabnya mengikuti/ tergantung isim lainnya.

Yang termasuk Isim Tawabi:

  • 1. Na’at/ Shifat
  • 2. Athaf
  • 3. Taukid
  • 4. Badal

Karena bersifat mengikuti, maka tergantung I’rab yang diikuti maka Isim Tawabi bisa bersifat isim marfu, isim Manshub, atau isim Majrur.

Penjelasan:

1. Na’at/ Shifat

Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:

  • a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
  • b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
  • c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai

Keterangan:

  • a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
  • b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
  • c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur).
2. Athaf

Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.

Daftar huruf Athaf:

  • a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
  • b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
  • c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah

Contoh:

  • جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ (memakai huruf athaf و )
3. Taukid

Isim Taukid:

  • Isim taukid adalah isim yang mengikuti isim lainnya yang berfungsi menguatkan arti dan menghilangkan keraguan si pendengar.
    Contoh:
    • قَابَلْتُ الْمَلِكَ نَفْسَهُ. Saya menemui raja itu sendiri.
  • Keduanya Manshub karena isim yang diikuti sebagai obyek.
    Yang dimaksud penguat karena yang ditemui adalah raja itu sendiri, bukan wakil atau utusannya.
  • Beberapa lafazh Taukid:
    • النفس. Dia sendiri
    • العَيْن. Dengan mata sendiri
    • كُلُّ. Seluruhnya
    • أجْمَعَ. Semuanya
4. Badal

Badal adalah isim yang mengikuti isim lain dan berfungsi untuk menggantikannya. Contoh:

  • قالَ الإمامُ مالِكُ. Telah berkata Imam Malik
  • مالك adalah badal dari الإمام،. Sekalipun salah satunya dibuang, tidak akan menghilangkan arti.

Ada 4 kategori badal:

  • a. Badal sesuatu menggantikan sesuatu.
  • b. Badal sebagian menggantikan keseluruhan.
    • أَكَلْتُ الْخُبْزَ نِصْفَهُ.. Aku memakan roti setengahnya
  • c. Badal sesuatu mencakup yang lainnya.
    • نَفَعَنِي مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ. Telah bermanfaat bagiku Muhammad yaitu ilmunya.
  • d. Badal yang salah dalam penyebutan.

10. Isim Tafdhil (Perbandingan)

_Rincian:

Isim tafdhil adalah kata benda sifat (musytaq) yang menyatakan makna lebih atau paling/ter-, yang menunjukkan bahwa dua hal atau lebih memiliki sifat yang sama tapi salah satunya lebih unggul dari yang lain. Isim tafdhil mengikuti pola wazan أَفْعَلُ untuk bentuk mudzakkar, dan wazan فُعْلَى untuk bentuk muannats.

Isim tafdhil kebanyakan mengambil kata dasarnya dari kata sifat dan disesuaikan wazannya mengikuti pola diatas, dan berikut beberapa contohnya:

  • Kata sifat كَثِيْرٌ (banyak), menjadi أَكْثَرُ (lebih banyak, paling banyak)
  • Kata sifat كَبِيرٌ (besar), menjadi أَكْبَرُ (lebih besar, paling besar)
  • Contoh lain: أَصْغَرُ (lebih/paling kecil), أَحْسَنُ (…baik), أَعْلَمُ (…tahu), أَجْمَلُ (…indah)

Pembagian makna dan penggunaan:

Untuk arti “lebih” biasanya diikuti dengan huruf jar مِنْ (dari)

  • Contoh: الشَّمْسُ أَكْبَرُ مِنْ الأَرْضِ (matahari lebih besar dari bumi)

Untuk arti “paling/ter-” biasanya berposisi sebagai mudhaf atau ber-alif lam tanpa diikuti مِنْ .

  • Contoh: هُوَأَفْضَلُ صَدِيْقٍ (dia kawan terbaik)

III. PENGERTIAN MU’RAB, MABNI & I’RAB

A. Mabni:

Kata-kata yang harakat atau bentuknya bersifat permanen dan tidak akan berubah dalam kondisi apapun.

B. Mu’rab:

Mu’rab adalah kata-kata yang harakatnya bisa berubah akibat pengaruh kedudukannya (amil) dalam kalimat.

C. I’rab (Rafa’, Nashab, Jar, Jazm)

I’rab adalah perubahan tanda akhir kata berdasarkan fungsinya dalam kalimat.

Ada 4 status i’rab utama:

  • a. Rafa’ (Marfu’): Kondisi dasar kata yang biasanya ditandai dengan harakat dhammah ـُـ
  • b. Nashab (Manshub): Ditandai dengan harakat fathah ـَ atau huruf Alif ا.
  • c. Jarr (Majrur):Kondisi khusus untuk kata benda yang biasanya ditandai dengan harakat kasrah atau huruf ya ي.
  • d. Jazem (Majzum): Kondisi khusus untuk kata kerja yang umumnya ditandai dengan harakat sukun atau penghilangan huruf.

D. Tanda I’rab Manshub (fathah, alif, ya a-ini, ya i-ina, kasrah, hadzfun nun)

_Rincian:

Dalam ilmu nahwu, tanda utama untuk keadaan manshub adalah harakat fathah. Namun, ada 5 tanda pengganti lainnya tergantung pada jenis katanya.

  1. Huruf alif ا di akhir kata isim yang lima dalam posisi maf’ul bih (obyek):
    • Penggunaan untuk huruf asmaul khamsah (isim yang lima), yaitu yaitu: (أَبَاكَ), (أَخَاكَ), (حَمَاكَ), (فَاكَ), dan (ذَا مَالٍ). (ayahmu, saudaramu, ayah mertua, mulutmu, memiliki harta)
    • Contoh: رَأَيْتُ أَبَاكَ (aku melihat ayahmu)
  2. Huruf ya يْنِ (a-ini) :
    • Penggunaan untuk isim tsaniyah (kata benda ganda)
    • Contoh: رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ (aku melihat dua orang siswa)
  3. Huruf ya يِنَ (i-ina) :
    • Penggunaan untuk isim jamak mudzakkar salim (maskulin beraturan).
    • Contoh: رَأَيْتُ الْمُدَرِّسِينَ (aku melihat para guru)
  4. Harakat kasrah :
    • Penggunaan khusus untuk jamak muannats salim (feminin beraturan). Dalam hal ini kasrah menggantikan fathah.
    • Contoh: خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ (Allah menciptakan langit-langit)
  5. Hadzfun nun (menghilangkan huruf nun) :
    1. Penggunaan khusus untuk af’alul khamsah (fi’il yang lima) ketika didahuli oleh amil nashab (seperti: an, lan, idzan, kai – أَنْ لَنْ إَذَنْ كَيْ )
    2. Contoh: لَنْ تَفْعَلُوا (kalian/ kamu semua tidak akan melakukannya), asal fi’il nya تَفْعَلُوْنَ

E. Tanda I’rab Majzum (sukun, hadzfu illat, hadzfu nun)

_Rincian:

Tanda I’rab Manshub:

Dalam ilmu nahwu, tanda utama untuk keadaan majzum adalah harakat sukun. Namun, ada 2 tanda pengganti lainnya tergantung pada jenis kata kerjanya.

  1. Hadzfu illat (membuang huruf illat)
    • Penggunaan untuk fi’il mudhari’ yang masuk kategori fi’il mu’tal akhir
    • Yaitu kata kerja yang huruf terakhirnya berupa huruf illat alif wawu ya (ا و ي)
    • Saat kemasukan amil jazm, huruf illat di akhir kata tersebut harus dihapus
    • Contoh huruf akhir و (marfu’): يَدْعُو (dia memanggil). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَدْعُ (dia tidak memanggil), disini terlihat huruf wau و dibuang
    • Contoh huruf akhir ي (marfu’): يَرْمِي (dia melempar). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَرْمِ (dia tidak melempar), disini terlihat huruf yaي dibuang
    • Contoh huruf akhir ا atau ى (marfu’): يَسْعَى (dia berikhtiar). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَسْعَ (dia tidak berikhtiar), disini terlihat huruf alif maqsurah ى dibuang
  2. Hadzfun nun (menghilangkan huruf nun) :
    • Penggunaan khusus untuk af’alul khamsah (fi’il yang lima) ketika didahuli oleh amil nashab (seperti: an, lan, idzan, kai – أَنْ لَنْ إَذَنْ كَيْ )
    • Fi’il jenis ini diakhiri oleh wawu jamaah, alif tsaniyah, atau ya mukhatabah (dan ditutup dengan huruf paling akhir nun), وْنَ – انِ – يِنَ.
    • Saat dalam keadaan majzum, huruf nun yang berada di paling akhir kata harus dihapus, dan yang tersisa tinggal huruf illat saja di akhir kata.
    • Contoh-1 : يَفْعَلُوْنَ (mereka melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ يَفْعَلُوْا (mereka tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang, diganti alif.
    • Contoh-2 : يَفْعَلَانِ (mereka berdua melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ يَفْعَلَا (mereka berdua tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang.
    • Contoh-3 : تَفْعَلِيْنَ (kamu pr. melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ تَفْعَلِيْ (kamu pr. tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang.

IV. HURUF NASHAB & HURUF/ISIM JAZM

A. Huruf-huruf Nashab (أَنْ , لَنْ , إِذَنْ , كَيْ , لِ , حَتَّى )

_

Huruf-huruf Nashab adalah huruf yang membuat fi’il mudhari’menjadi manshub (ber-harakat fathah). Disebut sebagai harfu nashbin, diantara huruf-hurufnya adalah:

  1. Huruf أَنْ (tidak mempunyai arti khusus, berfungsi sebagai pemisah dua kata kerja),
    • contoh: يُرِيدُ أَنْ يَنَامَ
    • artinya: dia ingin tidur
  2. Huruf لَنْ (tidak akan),
    • contoh: لَنْ آمَرَكَ
    • artinya: aku tidak akan menyuruhmu
  3. Huruf إِذَنْ (jika demikian),
    • contoh: إِذَنْ تَسْلَمَ
    • artinya: jika demikian, kau selamat
  4. Huruf كَيْ (supaya),
    • contoh: كَيْ تَحْصُلَ
    • artinya: supaya kau berhasil
  5. Huruf لِ li (supaya/untuk), ini untuk lam dengan arti menyerupai huruf kay كَيْ.
    • contoh: جِئْتُ لِأَتَعَلَّمَ
    • artinya: saya datang untuk belajar
  6. Huruf لِ li (tidak mempunyai arti khusus, dan berfungsi untuk menyangkal). Ini untuk lam yang didahului oleh kata: مَا كَانَ atau لَمْ يَكُنْ (arti keduanya: tidak akan).
    • contoh: لَمْ يَكُنْ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ
    • artinya: Allah tidak akan mengampuni mereka
  7. Huruf حَتَّى (sehingga),
    • contoh: حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ
    • artinya: sehingga dia mendengar firman Allah

B. Huruf-huruf/Isim Yang Membuat Majzum (لَمْ, لَمَّا , أَلَمْ , أَلَمَّا , لِ amr, لَا la nahiyah )

_

Huruf-huruf/Isim jazm adalah huruf/Isim yang membuat fi’il mudhari‘ menjadi majzum (ber-harakat sukun), dan terdiri dari dua kelompok;

a. Huruf Jazm yang membuat majzum satu fi’il.

  1. Huruf لَمْ nafiyah (tidak),
    • contoh: لَمْ آكُلْ
    • artinya: saya tidak makan
  2. Huruf لَمَّا (belum),
    • contoh: لَمَّا يَذْهَبْ
    • artinya: dia belum pergi
  3. Huruf أَلَمْ (apakah tidak),
    • contoh: أَلَمْ نَشْرَحْ
    • artinya: apakah kami tidak melapangkan
  4. Huruf أَلَمَّا (apakah belum),
    • contoh: أَلَمَّا يَحْضُرْ أَبُوْكَ؟
    • artinya: apakah ayahmu belum datang
  5. Huruf لِ li amr (lam yang berarti perintah),
    • contoh: لِيَخْرُجْ
    • artinya: hendaklah/suruh dia keluar
  6. Huruf لَا laa nahiyah (yang berarti melarang, jangan),
    • contoh: لَا تَجْلِسْ
    • artinya: jangan kau duduk

b. Huruf Jazm yang membuat majzum dua fi’il sekaligus.

  1. Huruf إِنْ (jika),
    • contoh: إِنْ تَجْتَهِدْ تَنْجَحْ
    • artinya: jika engkau bersungguh-sungguh pasti engkau lulus
  2. Huruf إِذْمَا (jika),
    • contoh: إِذْمَا تَتَعَلَّمْ تَتَقَدَّمْ
    • artinya: jika engkau belajar pasti engkau maju
  3. Huruf مَا (apa saja),
    • contoh: مَا تَفْعَلْ شَرًّا تَنْدَمْ
    • artinya: apa saja kejahatan yang engkau lakukan pasti akhirnya menyesal
  4. Huruf مَنْ (siapa saja, barang siapa),
    • contoh: مَنْ يَعْمَلْ سُوْءًا تَنْدَمْ
    • artinya: siapa saja yang berbuat kejahatan pasti akan menyesal
  5. Huruf مَهْمَا (bagaimanapun),
    • contoh: مَهْمَا تُبْطِنْ تُظْهِرْهُ الأَيَّامُ
    • artinya: bagaimanapun kau sembunyikan pasti akan ditampakkan oleh hari-hari (lain)
  6. Huruf مَتَى (kapan saja),
    • contoh: مَتَى تَذْهَبْ أَذْهَبْ
    • artinya: kapan saja kau pergi pasti aku pergi
  7. Huruf أَيَّانَ (kapan saja),
    • contoh: أَيَّانَ تَحْسُنْ سَرِيرَتُكَ تُحْمَدْ سِيرَتُكَ
    • artinya: kapan saja baik hatimu pasti dipuji kelakuanmu
  8. Huruf أَيْنَ (kemana saja),
    • contoh: اَيْنَ تَذْهَبْ الأُمُّ تَذْهَبْ مَرْيَمُ مَعَهَا
    • artinya: kemana saja ibu pergi pasti Maryam pergi bersamanya.
  9. Huruf أَنَّى (kemana saja),
    • contoh: اَنَّى يَذْهَبْ الأَبُ يَذْهَبْ عَلِيٌّ مَعَهُ
    • artinya: kemana saja bapak pergi pasti Ali pergi bersamanya.
  10. Huruf حَيْثُمَا (dimana saja),
    • contoh: حَيْثُمَا تَنْزُلْ تُكْرَمْ
    • artinya: dimana saja kau singgah pasti dihormati
  11. Huruf كَيْفَمَا (bagaimana saja),
    • contoh: كَيْفَمَا تُعَامِلْ صَدِيْقَكَ يُعَامِلُكَ
    • artinya: bagaimana saja kau memperlakukan temanmu maka demikian juga dia memperlakukanmu.
  12. Huruf أَيُّ (yang mana saja),
    • contoh: أَيُّ كِتَابٍ تَقْرَأْ تَسْتَفِدْ
    • artinya: buku mana saja yang kau baca pasti akan bermanfaat

V. ISIM-ISIM MU’RAB

Isim-isim mu’rab adalah isim yang tidak mabni, yang berubah i’rabnya baik menjadi marfu’, manshub atau majrur akibat amil (kedudukannya) dalam kalimat.

Berikut kelompok Isim-isim mu’rab, yaitu

A. Kelompok Isim Marfu’

B. Kelompok Isim Manshub

C. Kelompok Isim Majrur.


A. Isim-isim Marfu (Fa’il, Na’ib Fail, Mubtada’, Khabar, Isim Kaana, Khabar Inna, At-Tawabi)

Yang termasuk isim marfu yaitu:

  • 1. Fa’il & Na’ib fa’il
  • 2. Mubtada’ & Khabar
  • 3. Isim Kaana dan saudaranya
  • 4. Khabar Inna dan saudaranya
  • 5. Isim Tawabi (Naat, Athaf, Taukid, Badal)

1. Fa’il: subyek

_Penjelasan Fa’il:
  • Contoh: حَضَرَ الوالِدُ. Orang tua (bapak ibu) telah datang.
  • Disini الوالد sebagai subyek dan I’rabnya Marfu’.
  • Naib fail: subyek pada kalimat pasif.
    • Contoh: يُشْرَبُ اللَّبَنُ. Susu (itu) diminum. اللبنُ Marfu’ sebagai na’ib fail.
  • Fail tidak disebutkan, kecuali pada kalimat aktif, misal: Maryam minum susu. (Maryam sebagai subyek, susu sebagai obyek, yang mana setelah menjadi kalimat pasif maka susu menjadi Naib fail.)

2. Mubtada’ & khabar

Lihat penjelasannya di bagian “Jumlah ismiyyah “.

3. Kaana كانَ dan saudaranya (كُنْ, لَيْسَ, أَصْبَحَ, مَا زَالَ ).

_Penjelasan Kaana:

Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).

  • Contoh:
    • Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    • Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
  • Saudara-saudara Kaana:
    • a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    • b) لَيْسَ. Bukan
    • c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    • d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    • e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    • f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    • g) صَارَ. Menjadi
    • h) ما زالَ. Senantiasa

4. Inna إنَّ dan saudaranya (لَكِنَّ, أَنَّ, كَأنَّ, لَعَلَّ, لَيْتَ, لَا )

_Penjelasan Inna:

Inna, Artinya: sesungguhnya.

Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada‘ menjadi manshub (disebut isim inna), dan membuat khabar menjadi marfu‘ (disebut khabar inna).

  • Contoh:
    • Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    • Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
  • Saudara-saudara inna:
    • 1) لَكِنَّ، tetapi
    • 2) Sesungguhnya أَنَّ
    • 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    • 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    • 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    • لَا 6 . tidak, tidak ada, contoh:
      • لَا صَالِحَ خَاسِرٌ

B. Isim-isim Manshub (Seluruh Maf’ul, Zharf, Haal, Tamyiz, Mus-tatsna, Al-Munada, At-Tawabi, Khabar Kaana, Isim Inna)

Yang termasuk isim Manshub yaitu:

  • 1. Maf’ul bih
  • 2. Maf’ul li ajlih
  • 3. Maf’ul fih
    / Zharf
  • 4. Maf’ul mutlaq
  • 5. Maf’ul ma’ah
  • 6. Haal
  • 7. Tamyiz
  • 8. Mus-tatsna (Pengecualian)
  • 9. Khabar Kaana cs.
  • 10. Isim Inna cs.
  • 11. Al-munada (yang dipanggil)
  • 12. At-Tawabi (penjelasan, lihat di bagian sebelumnya)

Penjelasan:

1. Maf’ul bih (obyek)

_

Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.

  • Contoh:
    • خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
  • Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub.

2. Maf’ul liajlih (sebab terjadinya perbuatan):

_

Maf’ul liajlih berfungsi sebagai keterangan sebab terjadinya perbuatan.

  • Contoh:
    • ضَرَبْتُ الوَلَدَ تَأْدِيْبًا لَهُ. Saya memukul anak itu [karena bermaksud untuk mendidiknya تأديبا )
  • Kata تأديبا adalah maf’ul liajlih I’rab Manshub.

3. Maf’ul fih/ Zharf Makan, Zharf Zaman

_Definisi Zharf Makan, Zharf Zaman:

Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).

Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):

Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):

  • a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
  • b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)

Zharf Zaman (baina, bainama, al-aana, nahaaron, masaa’an, ghodan, shobaahan, laylan)

Contoh Zharf Zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu):

  • b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang)
  • a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).

4. Maf’ul Mutlaq

_Definisi Maf’ul Mutlaq:
  • Isim yang berfungsi menguatkan suatu perbuatan; menjelaskan bilangannya; atau menjelaskan macamnya.
  • Ciri-ciri maf’ul mutlaq adalah biasanya berupa masdar yang lafadznya sejenis atau berasal dari akar kata kerja yang mendahului (yang disebut sebelumnya).
  • Contoh:
    • a. نَظَرْتُ نَظْرًا. Saya melihatnya [betul-betul melihat نظرا ]
    • b. أكَلْتُ أكْلَةً. Saya makan [satu kali makan/suap أكلة]. Lihat: ada akhiran ةً untuk menjelaskan bilangan.
    • c. نَظَرْتُ نَظْرًا طَوِيْلًا. Saya melihat [dengan melihat نظرا lama sekali طويلا ]

5. Maf’ul maah

_Penjelasan Maf’ul Maah:
  • Isim yang terdapat setelah وَ. Yang artinya untuk menunjukkan sesuatu yang terjadi bersamaan dengannya.
  • Contoh:
    • جاءَ أبِي وَغُرُوْبَ الشَمُسِ ayah datang bersamaan dengan terbenamnya matahari.
  • Lafadz وَ. Disini artinya ‘bersama/ bersamaan dengan’, bukan artinya ‘dan’.

6. Haal/ penjelas keadaan

_Definisi Haal:

Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat

  • Contoh:
    • صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ]

7. Tamyiz / penjelas kesamaran

_Definisi Tamyiz:

Isim tamyiz adalah isim yang disebut setelah isim/ keadaan samar, untuk memperjelas.

  • Contoh اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كِتَابًا Saya membeli 5 buku خمسة belum jelas 5 apa
  • Maka كِتابًا menjadi penjelas (Tamyiz)

Isim tamyiz bisa juga muncul untuk menperjelas kesamaran dari isim tafdhil yang disebutkan sebelumnya. Dalam hal ini, isim tamyiz-nya haruslah dalam bentuk isim naqirah manshub, jatuh setelah isim tafdhil untuk memperjelas sisi kelebihan tersebut. Contoh:

  • Contoh: سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ (kita akan membahas salah satu pertanyaan paling menarik tentang Al-Quran.)
  • Pada kalimat ini, isim tafdhil أَكْثَرُ (paling) belum jelas “pertanyaan paling…apa?”, disinilah fungsi isim tamyiz إِثَارَةً (pembangkitan…bagi perhatian لِلِاهْتِمَامِ ).

8. Mus-tatsna/ pengecualian:

_Penjelasan Mus-tatsna:
  • Mus-tatsna adalah isim yang berada setelah adat/alat istitsna.
  • Contoh:
    • نَجَحَ الْأوْلَادُ إلاَّ عَلِيًا.
    • Telah lulus anak-anak itu [kecuali إلاَّ ] Ali.
  • Peran masing-masing:
    • a. مُسْتَثْنَى yang dikecualikan: عليًا
    • b. Adat/alat: إلاَّ
    • c. مُسْتَثْنَى مِنهُ yang dikecualikan darinya: الأولادُ
  • Yang termasuk adat/alat:
    • a) إلاَّ kecuali
    • b) سِوَى، غَيْرَ، عَدَا، خَلَا، حَاشَا. selain

9. Khabar Kaana

Lihat penjelasan di bagian sebelumnya.

10. Isim Inna

Lihat penjelasan di bagian sebelumnya.

11. Munadaa

_Definisi Munadaa:
  • Adalah isim yang disebut setelah huruf nida (kata seru).
    • Contoh:يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ. Wahai utusan Allah
  • Kata رسولَ adalah munadaa (Manshub).
  • يَا adalah huruf nida.

12. Tawabi’

Lihat penjelasan di bagian tersendiri sebelumnya.

C. Isim-isim Majrur (dengan huruf jar, dengan sebab Idhafah, dengan sebab Tawabi’)

Isim Majrur terbagi kepada tiga isim, yaitu:

1. Majrur dengan huruf jarr

Definisi Huruf Jarr:
_
  • Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
  • Daftar Huruf jarr:
    • مِنْ. Dari
    • إلَى. Ke
    • عَنْ. Dari, tentang
    • لِ. Kepunyaan, untuk
    • مُنْدُ. Semenjak
    • عَلَى. Atas
    • حَتَّى. Sehingga
    • فِي. Didalam
    • بِ dengan
    • كَ. Seperti
  • Contoh:
    • a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    • b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir
Huruf Qasam:
_

Huruf qasam/yamin قَسَم / يَمِيْن adalah huruf yang digunakan untuk menyatakan sumpah, dan biasa diterjemahkan ‘Demi…’. Huruf qasam diantaranya: وَ (wa), بِ (bi), تَ (ta’).

Kata benda yang digunakan untuk bersumpah, yaitu kata yang mengikuti huruf qasam disebut sebagai obyek sumpah/ muqsam bih ( مُقْسَمْ بِهِ ). Dalam kaidah tata bahasa arab (nahwu), huruf qasam memiliki fungsi yang sama dengan huruf jar, yaitu huruf yang membuat kata sesudahnya berharakat majrur/kasrah, dengan kata lain hukum i’rab nya wajib majrur.

  • Contoh: تَا للَّٰهِ , بِا اللَّٰهِ , وَاللَّٰهِ ,
  • artinya sama semua: “Demi Allah”.

Sesudah lafadz sumpah, pernyataan sesudahnya atau inti hal yang disumpahkan disebut muqsam alaihi (jawab qasam).

  • Contoh: وَاللَّٰ لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ
  • artinya: “Demi Allah, saya tidak melakukan itu“.

Dalam kalimat tersebut, maka muqsam bih nya adalah isim sesudah huruf qasam وَ yaitu اللَّٰهِ , dan muqsam alaihi nya adalah pernyataan inti sesudahnya yaitu لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ .

2. Majrur dengan sebab idhafah

_Definisi Idhafah:

Idhafah terjadi pada mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.

  • Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
  • Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
  • Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur

3. Majrur dengan sebab tawabi’

Lihat penjelasan di bagian Tawabi’.


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Sumber/Referensi:

  • 1. Kitab دُرُوسُ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِغَيْرِ النَّاطِقِيْنَ بِهَا (Duruus al-Lughah al-‘Arabiyyah li-Ghair al-Naatiqiina Biha/ Pelajaran Bahasa Arab Bagi Penutur Asing) Juz 1-4, terbitan th. 1431H/2009M, karangan DR. Abdur Rohim, mantan profesor di Universitas Islam Madinah.
  • 2. Kitab الْمُيَسَّرُ فِي عِلْمِ النَّحْوِ (al-Muyassar fi ‘Ilmin Nahwi), Jilid 1-3, terbit awal th.1408H/ 1987M, karangan Ustadz Aceng Zakariya, mantan pimpinan Pesantren Persis 99 Rancabango dan Ketua Umum Persis th.2015-2022
  • 3. Kitab Ilmu Nahwu Praktis Sistem Belajar 40jam, terbit th.2004, edisi revisi th. 2025, Karangan A.Zakaria
  • 4. Kitab Belajar Tashrif Sistem 40jam, terbit th.2017, edisi revisi th.2023, Karangan A.Zakaria

Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Shorof …

Baca juga … Tabel Tashrif …

Baca juga Serial… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Responses

  1. Assalamualaikum… – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas) […]

    Like

Leave a Reply