Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Qs.112 Al-Ikhlas الإخْلَاصُ (ayat 1-6)

Kajian Ayat-ayat Al-Qur'an dengan Nahwu & Shorof

DAFTAR ISI:

I. Pengantar Kajian

أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ … بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

Atas taufik & hidayah-Nya, penulis mencoba memberanikan diri untuk melakukan kajian tata bahasa Arab (Nahwu Shorof) terhadap Kalaamullah Kitab Suci al-Qur’anul Karim, serta mencoba memahami kedalaman makna ayat-ayat Nya. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua yang mencoba men-tadabburi ayat-ayatnya… aamiin…

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF

Berikut kajian ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof.


#1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ۝١

#2) Allah tempat meminta segala sesuatu.

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ۝٢

#3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ۝٣

#4) serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ۝٤


Petikan ayat…

a. Kajian ayat… قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ۝١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ۝٢

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ۝١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ۝٢

#1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. #2) Allah tempat meminta segala sesuatu.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • fi’il ‘amr قُلْ
    • maqulul qawl هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ , dalam bentuk jumlah ismiyyah, yang terdiri dari :
      • mubtada‘ [fi mahalli raf’in] هُوَ
      • badal dari mubtada’ [marfu‘] اللّٰهُ
      • khabar [marfu‘] اَحَدٌ
  2. Ini adalah jumlah fi’liyah 1 (kalimat verbal) dengan kata kerja bentuk perintah (fi’il amr) قُلْ (katakanlah). Akar kata ini adalah قَالَ – يَقُوْلُ – قُلْ. Ini rangkaian bentuk [fi’il madhi (kata kerja masa lampau) – fi’il mudhari’ (kk. masa sekarang/akan datang) – fi’il amr (kk. bentuk perintah)].
  3. Dalam ilmu nahwu, kata perintah memiliki subyek (fa’il) berupa isim dhamir mustatir 2 (kata ganti tersembunyi) yaitu أَنْتَ (kamu). Kombinasi fa’il dan fi’il inilah yang membentuk jumlah fi’liyyah.
  4. Dalam ilmu shorof, perubahan kata-kata ini masuk dalam kelompok tashrif poin no.2 3 (lihat tabel tashrif).
  5. Obyek (maf’ul bih) dari kata kerja perintah قُلْ adalah frase kalimat setelahnya yaitu هُوَ الله أَحَدٌ (dia, Allah itu Esa/tunggal). Ini adalah jumlah ismiyyah 4 dengan mubtada‘ (subyek) هُوَ (dia) dan khabar (predikat) أَحَدٌ (Esa).
  6. Adapun lafadz الله dalam ilmu nahwu disebut sebagai badal 5 (pengganti), atau kadang juga disebut sebagai mubtada’ kedua.
  7. Lafadz هُوَ juga disisipkan sebagai penekanan bahwa ‘dia-lah‘ Allah yang Esa, bukan yang lain. Yang mana apabila tanpa lafadz هُوَ , maknanya menjadi datar saja yaitu ‘Allah itu Esa’.

Petikan ayat…

b. Kajian ayat… لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ۝٣

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ۝٣

#3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf nafi لَامْ
    • fi’il mudhari’ lazim يَلِدْ
    • huruf nafi (kedua) لَامْ
    • fi’il mudhari lazim majhul يُوْلَدْ
  2. Ini adalah dua (2) kalimat verbal (jumlah fi’liyyah) yang diawali dengan huruf nafi/peniadaan lam لَمْ (tidak) 6
  3. Ayat ini adalah contoh kalimat akftif dan kalimat pasif dengan akar kata kerja yang sama وَلَدَ (melahirkan anak) dalam satu rangkaian.
  4. Jumlah fi’liyyah pertama berupa kalimat aktif, yaitu dengan kata kerja aktif (fi’il ma’lum) يَلِدُ (melahirkan anak), sedangkan jumlah fi’liyyah yang kedua berupa kalimat pasif, yaitu dengan kata kerja pasif (fi’il majhul) يُوْلَدُ (dilahirkan). 7
  5. Akar kata kerjanya yaitu وَلَدَ (melahirkan anak) tergolong fi’il mu’tal yaitu kata kerja yang salah satu hurufnya adalah huruf illat (ا, و, ي), dan dari posisi huruf illat-nya yaitu ada di huruf pertama, maka disebut fi’il mu’tal mitsal. 8

Petikan Ayat…

c. Kajian ayat… وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ۝٤

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ۝٤

#4) serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf athaf وَ
    • huruf nafi لَمْ
    • fi’il mudhari’ lazim dalam bentuk fi’il naqish يَكُنُ (keluarga kaana)
    • jar wa majrur لَّهٗ , dengan isim majrur هُ merujuk ke isim di kalimat sebelumnya.
    • khabar yakuunu muqoddam/didahulukan [manshub] كُفُوًا
    • isim yakuunu muakhkhar/diakhirkan [marfu‘] اَحَدٌ
  2. Sebagaimana ayat sebelumnya, maka ini adalah juga jumlah fi’liyyah yang diawali huruf nafi/peniadaan lam لَمْ (tidak). Bedanya, disini menggunakan fi’il naqish 9 كَانَ – يَكُوْنُ yang artinya ‘ada, menjadi‘ 10 . Namun karena mendapatkan awalan huruf lam, maka harakatnya harus di-sukun-kan نْ (nun mati).
  3. Dalam kaidah bahasa arab, tidak boleh ada dua huruf berurutan terkena sukun, sehingga huruf sebelumnya yang jazm juga yaitu وْ harus ditiadakan, dan menjadi يَكُنْ (tanpa وْ). Maka, لَمْ يَكُنْ artinya menjadi ‘tidak ada sesuatu‘.
  4. Lafadz كُفُوًا yang artinya ‘sesuatu yang menyamai, setaraf, sepadan, menandingi, menyaingi.
  5. Dalam struktur fi’il naqish kaana (atau mudhari’ yakuunu), maka setelahnya akan diikuti isim kaana/yakuunu dengan i’rab marfu’/dhammah dan khabar kaana/yakuunu dengan i’rab manshub/fathah.
  6. Pada kalimat ini, maka كُفُوًا adalah khabar yakuunu nya (didahulukan) manshub, baru setelahnya diikuti oleh isim kaana-nya (diakhirkan) marfu‘ yaitu lafadz أَحَدٌ (seorang, sesuatu).
  7. Adapun lafadz لَهُ (bagi-Nya) adalah jar wa majrur yang berkaitan dengan الله .

d. Tadabbur Ayat

Tadabbur تَدَبُّرُ adalah isim masdar dari fi’il تَدَبَّرَ yang artinya dalam konteks Al-Qur’an, adalah aktivitas merenungi, menghayati, dan memahami secara mendalam kandungan makna ayat suci agar dapat menangkap pesan serta mengambil pelajaran di dalamnya.

Berikut beberapa hal yang bisa penulis sampaikan dalam tadabbur ayat-ayat yang sudah dilakukan kajian nahwu-shorofnya diatas:

  1. Secara keseluruhan surah al-Ikhlas ini menerangkan siapakah Allah Yang Ahad itu, satu-satunya dzat dan satu-satunya yang tunggal, yang kepada-Nya segala sesuatu apapun bergantung (baik secara fisik, jiwa, kesadaran, kehendak, dan apapun yang bisa disebut).
  2. Lafadz ahad اَحَدٌ yang artinya ‘satu’, ini menafikan klaim bahwa tuhan itu banyak sebagaimana ada agama lain yang mempercayai adanya dewa-dewa yang berbagi kekuasaan atau memiliki hirarki seperti pada pejabat di pemerintahan, dan lafadz ini menafikan juga paham-paham politeisme,
  3. Nabi Muhammad saw. lahir di tengah-tengah kemusyrikan kaum Quraish, yang merupakan penganut politeisme yang menyembah banyak patung, meskipun percaya adanya Allah.
  4. Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara kata Wahid (وَاحِدٌ) dan Ahad (اَحَدٌ). Kata Wahid artinya ‘satu’ sebagai urutan angka (1, 2…dst). Sementara kata Ahad berarti ‘Satu-satunya atau Maha Tunggal’, tidak terbagi dan tidak memiliki bagian-bagian.
  5. Inilah pondasi utama dari konsep Tauhid (keEsaan Allah swt.) yang membedakan Islam secara radikal dari paham kemusyrikan dan politeisme.
  6. Ayat berikutnya ‘Dia tidak beranak…‘ membantah dengan tegas klaim bahwa Dia mempunyai anak terutama pada surat at-Taubah ayat 30 yang berbunyi :
    • وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ ٱللَّ
    • Artinya: Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
    • Klaim lainnya ada di Surah Al-Maidah ayat 18, Al-Baqarah ayat 16, Maryam ayat 88-91.
  7. Dan surah ditutup dengan penegasan وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya). Ayat ini merupakan penolakan atas segala bentuk penyerupaan, yang mana tidak ada satu makhluk atau obyek apapun di alam semesta yang setara dengan-Nya. Tidak ada yang menandingi keagungan, keindahan, nama-nama serta sifat Allah.
  8. Sekaligus ayat terakhir ini sebagai penutup Tauhid yang tegas, yaitu sebagai penegasan mutlak atas ke-Esa-an Allah yang membersihkan keyakinan umat Islam dari sifat syirik atau menyamakan Allah dengan sesuatu apapun yang lain.

III. Qs.112 Al-Ikhlas : Teks Surah Lengkap (dan Terjemah)

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

#1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ۝١

#2) Allah tempat meminta segala sesuatu.

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ۝٢

#3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ۝٣

#4) serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ۝٤


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

Teks Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Lengkap Terjemah, Link website: https://quran.nu.or.id/

Baca kajian sebelumnya…Qs.114: An-Nas…

Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).
    Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
    Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
    Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) . ↩︎
  3. Pola tashrif 2: فَعَلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    duduk : قَعَدَ – يَقْعُدُ
    menutupi : سَتَرَ – يَسْتُرُ
    melihat : نَظَرَ – يَنْظُرُ
    bersujud : سَجَدَ – يَسْجُدُ
    menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ – اُنْصُرْ – نَصْرًا – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ – لَا تَنْصُرْ
    ditolong : نُصِرَ – يُنْصَرُ ↩︎
  4. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎
  5. Badal adalah isim yang mengikuti isim lain dan berfungsi untuk menggantikannya. Contoh:
    قالَ الإمامُ مالِكُ. Telah berkata Imam Malik
    مالك adalah badal dari الإمام،. Sekalipun salah satunya dibuang, tidak akan menghilangkan arti.
    Ada 4 kategori badal:
    a. Badal sesuatu menggantikan sesuatu.
    b. Badal sebagian menggantikan keseluruhan.
    أَكَلْتُ الْخُبْزَ نِصْفَهُ.. Aku memakan roti setengahnya
    c. Badal sesuatu mencakup yang lainnya.
    نَفَعَنِي مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ. Telah bermanfaat bagiku Muhammad yaitu ilmunya.
    d. Badal yang salah dalam penyebutan. ↩︎
  6. kata لَمْ (lam) berperan sebagai huruf peniadaan (huruf nafi) dan pengubah waktu (huruf qalab), serta berfungsi sebagai amil jazam (pen-sukun kata kerja).
    Fungsi Nafi (Negasi): Mengubah makna kalimat menjadi negatif atau “tidak/belum”. Fungsi Qalab (Pembalikan Waktu): Mengubah makna waktu pada kata kerja mudhari (yang semestinya masa kini/nanti) menjadi masa lampau (madhi). ↩︎
  7. Baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’, keduanya dibagi lagi menjadi bentuk kata kerja aktif (fi’il ma’lum) dan bentuk kata kerja pasif (fi’il majhul).
    Fi’il ma’lum adalah kata kerja aktif yang pelakunya (subyek/fa’il) disebutkan di dalam kalimat, sedangkan fi’il majhul adalah kata kerja pasif yang pelakunya tidak disebutkan dan posisinya digantikan oleh obyek (maf’ul bih) yang disebut naibul fa’il. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja aktif biasanya yang mendapatkan awalan me– atau ber– (contoh: me-nyuruh, ber-henti), sedangkan kata kerja pasif biasanya dengan awalan di– (contoh: di-suruh, di-henti-kan).
    Fi’il madhi (ma’lum dan majhul):
    Fi’il madhi ma’lum adalah yang berawalan fathah. Contoh: كَتَبَ, سَأَلَ, فَهِمَ, فَهَّمَ, قَرَأَ, أَخْرَجَ
    Artinya: telah me-nulis, telah ber-tanya, telah paham, telah me-maham-kan, telah mem-baca, telah me-ngeluar-kan.
    Fi’il madhi majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris kasrah. Contoh: كُتِبَ, سُئِلَ, فُهِمَ, فُهِّمَ, قُرِأَ, أُخْرِجَ
    Artinya: telah di-tulis, telah di-tanya, telah di-pahami, telah di-paham-kan, telah di-baca, telah di-keluar-kan.
    Fi’il mudhari’ (ma’lum dan majhul):
    Fi’il mudhari’ ma’lum adalah yang berawalan fathah (atau dhammah). Contoh: يَكْتُبُ, يَسْأَلُ, يَفْهَمُ, يُفَهِّمُ, يَقْرَأُ, يُخْرِجُ
    Artinya: sedang/akan me-nulis, sedang/akan ber-tanya, sedang/akan paham, sedang/akan me-maham-kan, sedang/akan mem-baca, sedang/akan me-ngeluar-kan.
    Fi’il mudhari’ majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris fathah. Contoh: يُكْتَبُ, يُسْأَلُ, يُفْهَمُ, يُفَهَّمُ, يُقْرَأُ, يُخْرَجُ
    Artinya: sedang/akan di-tulis, sedang/akan di-tanya, sedang/akan di-pahami, sedang/akan di-paham-kan, sedang/akan di-baca, sedang/akan di-keluar-kan. ↩︎
  8. Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
    a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
    b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
    c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
    d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
    e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
    Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎
  9. Fi’il Naqish (الفِعْلُ النَّاقِصُ) adalah kata kerja yang tidak menunjukkan suatu tindakan/perbuatan dan tidak membutuhkan subjek (fa’il) maupun objek (maf’ul bih). Fi’il ini disebut naqish (kurang) karena ia hanya menunjukkan keterangan waktu dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya struktur kalimat Mubtada’ dan Khobar. Tugas fi’il naqish umumnya sama dengan kelompok Kana, yaitu merafa’kan isim dan menashobkan khobar.
    Selain keluarga Kaana (lihat pembahasan tersendiri), ada dua kelompok fi’il naqish lain dalam tata bahasa Arab yang memiliki fungsi serupa dalam merubah tatanan Mubtada-Khobar:
    1. Keluarga كَادَ وأَخَوَاتُهَا (Kaada wa Akhowatuha)
    Kelompok ini tugasnya sama seperti Kana (merafa’kan isim dan menashobkan khobar), namun dengan syarat khusus: Khobar-nya harus berupa kalimat kerja (Fi’il Mudhori’).
    Kelompok ini dibagi menjadi 3 bagian:
    Af’alul Muqorobah (Menunjukkan makna “hampir”): كَادَ (Kaada) = Hampir
    كَرَبَ (Karaba) = Hampir
    أَوْشَكَ (Awsyaka) = Hampir
    Af’alul Roja’ (Menunjukkan makna “harapan/semoga”): عَسَى (‘Asaa) = Semoga / Mudah-mudahan
    حَرَى (Haraa) = Semoga
    اِخْلَوْلَقَ (Ikhlawlaqa) = Semoga
    Af’alul Syuru’ (Menunjukkan makna “mulai melakukan”): شَرَعَ (Syara’a) = Mulai
    أَخَذَ (Akhadza) = Mulai
    جَعَلَ (Ja’ala) = Mulai
    طَفِقَ (Thafiqa) = Mulai
    هَبَّ (Habba) = Mulai
    2. Keluarga ظَنَّ وأَخَوَاتُهَا (Dzonna wa Akhowatuha)
    Kelompok ini disebut sebagai Af’alul Qulub wal-Tahwil. Berbeda dengan Kana dan Kaada, kelompok Dzonna menashobkan mubtada dan khobar sekaligus, dan mengubah keduanya menjadi objek pertama (Maf’ul bih 1) dan objek kedua (Maf’ul bih 2).
    Kelompok ini dibagi menjadi 2 bagian utama:
    Af’alul Qulub (Kata kerja hati/keyakinan/dugaan): ظَنَّ (Dzonna) = Menduga / Mengira
    حَسِبَ (Hasiba) = Mengira
    خَالَ (Khaala) = Membayangkan / Mengira
    زَعَمَ (Za’ama) = Mengklaim / Mengira
    رَأَى (Ro’aa) = Melihat (dengan keyakinan hati)
    عَلِمَ (‘Alima) = Mengetahui
    وَجَدَ (Wajada) = Menemukan / Mendapati
    سَمِعَ. (Samia) = mendengarkan
    Af’alul Tahwil (Kata kerja yang bermakna mengubah status/mengubah bentuk): صَيَّرَ (Shoyyara) = Mengubah / Menjadikan
    جَعَلَ (Ja’ala) = Menjadikan
    اتَّخَذَ (Ittakhadza) = Mengambil / Menjadikan ↩︎
  10. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh: Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana: a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    i) ↩︎

Response

Leave a Reply