Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Mengasuh Anak (Seri-2)

Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.

 

DAFTAR ISI:

 

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


 

II. KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-2)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.

#2) Dan pada saat itu, dia terdiam. Bukan karena dia tidak punya jawaban, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya hancur. Suara itu, nada itu, tatapan itu. Atau mungkin tidak ada rasa hormat yang tersisa (dari seorang anak)?.

وَفِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ، صَمَتَتْ. لَيْسَ لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً، بَلْ لِأَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ. ذَلِكَ الصَّوْتُ، تِلْكَ النَّبْرَةُ، تِلْكَ النَّظْرَةُ. أَوْ رُبَّمَا لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ.


a. Kajian Kalimat… وَفِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ، صَمَتَتْ. لَيْسَ لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً، بَلْ لِأَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ.

Dan pada saat itu, dia terdiam. Bukan karena dia tidak punya jawaban, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya hancur.

وَفِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ، صَمَتَتْ. لَيْسَ لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً، بَلْ لِأَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf athaf وَ
    • zharf zaman dalam bentuk jar wa majrur فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ dengan isim isyarah تِلْكَ
    • fi’il madhi صَمَتَتْ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ mustatir هِيَ – تْ
    • jumlah laisa لَيْسَ لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً (kaana wa akhawatuha), yang terdiri dari :
      • fi’il naqish لَيْسَ
      • khabar laisa [fi mahalli nashbin] dalam bentuk jumlah inna لِأَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً , yang terdiri dari :
        • huruf jar li ta’lil لِ dengan arti ‘karena, untuk‘, diperlukan agar lafadz laisa tidak langsung bersambung ke lafadz anna.
        • Khabar laisa ini dapat dianggap juga sebagai muta’alliq bil fi’li dengan huruf ta’alluq لِ dan obyek berupa jumlah inna (masdar muawwal) أَنَّهَا لَا تَمْلِكُ إِجَابَةً , yang terdiri dari :
          • huruf masdariyyah أَنَّ
          • isim anna dalam bentuk dhamir rafa’ muttasil هِيَ – هَا
          • khabar anna [marfu‘] dalam bentuk jumlah fi’liyah dengan fi’il yang diawali la nafiyah لَا تَمْلِكُ dan maf’ul bih [manshub] إِجَابَةً
    • kalimat بَلْ لِأَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ , yang terdiri dari :
      • huruf athaf بَلْ berperan sebagai huruf idhrab
      • huruf jar li ta’lil لِ dengan arti ‘karena, untuk‘
      • jumlah inna أَنَّ شَيْئًا مَا فِي قَلْبِهَا يَنْكَسِرُ , yang terdiri dari :
        • huruf masdariyyah أَنَّ
        • isim anna [manshub] شَيْئًا مَا
        • zharf makan dalam bentuk jar wa majrur فِي قَلْبِهَا
        • khabar anna dalam bentuk fi’il mudhari‘ يَنْكَسِرُ
  2. Frase/tarkib/murakkab 1 فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ (pada saat itu) adalah zharf zaman 2 berbentuk jar wa majrur 3 , dengan mudhaf ilaihi 4 dalam bentuk muannats (perempuan) 5 , yaitu berakhiran ta’ marbutoh ةِ , dan kata tunjuk/isyarah تِلْكَ menyesuaikan bentuk muannats juga. Adapun untuk kata tunjuk mudzakar (lk.) tunggal adalah haadza.
  3. Kata kerja صَمَتَتْ (dia, pr. terdiam) menggandeng fa’il (subyek) berupa isim dhamir rafa’ muttasil 6 (kata ganti orang i’rab marfu’ tersambung ke kata kerja). Ini masuk kategori fi’il lazim 7 (kata kerja tidak memerlukan obyek).
  4. Kata/Lafadz 8 لَيْسَ (artinya: bukan) termasuk salah satu keluarga kaana 9 , dengan kaidah isim kaana yang mengikutinya ber-i’rab marfu‘/dhammah, dan khabar kaana ber-i’rab manshub/fathah.
  5. Lafadz لَا تَمْلِكُ (dia pr. tidak memiliki) adalah fi’il mudhari’ yang diawali dengan laa nafiyah 10 (me-negasi-kan).
  6. Lafadz إِجَابَةً (jawaban) disini berperan sebagai maf’ul bih 11 (obyek) berbentuk isim mufrad.
  7. Lafadz بَلْ (akan tetapi) adalah huruf athaf 12 (kata sambung). Huruf athaf بَلْ berperan dalam kalimat keseluruhan sebagai penghubung sekaligus sebagai huruf idhrab (huruf peralihan/pembatalan) terhadap kalimat sebelumnya yang dinegasikan oleh لَا nafiyah.
  8. Frase لِأَنَّ شَيْئًا مَا (bahwa sesuatu “entah apa itu”) terdiri dari لِ sebagai huruf jar (kata depan) yang berarti “karena” atau “untuk” yang bermakna sababiyah (menunjukkan sebab/alasan), dan أَنَّ sebagai huruf taukid 13 (kata penguat) yang masuk kategori inna dan saudara2nya 14 . Maka kata sesudahnya masuk kategori isim inna dengan kaidah i’rab manshub/fathah.
  9. Kata kerja يَنْكَسِرُ (patah, hancur) berperan sebagai khabar inna dalam bentuk fi’il mudhari dengan pola tashrif no.14. 15
  10. Tarkib فِي قَلْبِهَا (artinya: didalam hatinya) adalah zharf makan (keterangan tempat) dalam bentuk jar wa majrur.

b. Kajian Kalimat… ذَلِكَ الصَّوْتُ، تِلْكَ النَّبْرَةُ، تِلْكَ النَّظْرَةُ. أَوْ رُبَّمَا لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ.

Suara itu, nada itu, tatapan itu. Atau mungkin tidak ada rasa hormat yang tersisa (dari seorang anak)?.

ذَلِكَ الصَّوْتُ، تِلْكَ النَّبْرَةُ، تِلْكَ النَّظْرَةُ. أَوْ رُبَّمَا لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • murakkab isyariy ذَلِكَ الصَّوْتُ dengan isim isyarah ذَلِكَ
    • murakkab isyariy تِلْكَ النَّبْرَةُ dengan isim isyarah تِلْكَ
    • murakkab isyariy تِلْكَ النَّظْرَةُ dengan isim isyarah تِلْكَ
    • huruf athaf أَوْ
    • huruf taqlil رُبَّمَا
    • jumlah fi’liyyah لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ , yang terdiri dari :
      • huruf lam jazm nafiyah لَمْ
      • fi’il mudhari’ lazim [majzum] يَعُدْ
      • fa’il أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ dalam bentuk idhafiy, yang terdiri dari :
        • mudhaf [fi mahalli raf’in fa’il] أَيُّ
        • mudhaf ilaih [majrur] احْتِرَامٍ
        • na’at/sifat [majrur] مُتَبَقٍ
  2. Tarkib ذَلِكَ الصَّوْتُ (suara itu), تِلْكَ النَّبْرَةُ (nada bicara itu), تِلْكَ النَّظْرَةُ (tatapan itu), ketiganya adalah murakkab isyariy 16 dengan isim isyarah (kata tunjuk), dan tentunya isim sesudah isim isyarah adalah isim makrifah 17 , yaitu sesuatu yang jelas diketahui, dan diawali dengan al- ( ال ).
  3. Lafadz أَوْ adalah huruf athaf (kata sambung).
  4. Lafadz رُبَّمَا adalah huruf taqlil (menyatakan sedikit/jarang) atau huruf taktsir (menyatakan banyak/sering). 18
  5. Kalimat لَمْ يَعُدْ هُنَاكَ أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ (disana tidak ada lagi rasa hormat tersisa) adalah jumlah fi’liyyah yang terdiri dari beberapa komponen, dengan susunan/urutan: huruf lam – fi’il mudhari’ – zharf makan – fa’il. Mari kita rinci satu per satu.
  6. Huruf lam adalah huruf nafi dan huruf qalab 19 terhadap kata kerja sesudahnya ‘yauudu’. Bentuknya sebagai fi’il mudhari’, namun bermakna pada masa lampau karena adanya amil huruf lam.
  7. Lafadz لَمْ يَعُدْ berarti “tidak lagi (kembali). 20
  8. Murakkab أَيُّ احْتِرَامٍ مُتَبَقٍ berbentuk mudhaf wa mudhaf ilaihi. Kata أَيُّ selain berperan sebagai fa’il dalam kalimat lengkap dengan kata kerja lam yaud, sehingga i’rabnya marfu‘/dhammah. Kata berikutnya احْتِرَامٍ adalah mudhaf ilaihi dengan kaidah majrur/kasrah. Kata مُتَبَقٍ disini adalah na’at/ kata sifat 21 dari kata sebelumnya احْتِرَامٍ .

III. ARTIKEL(INDO-ARABIC) – (LINK):

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:

A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?

B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)

C. Titik Balik Perubahan

D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh

E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis

F. Kesimpulan

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Mengasuh Anak (The Story – Full 6 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Source Reference :

By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs

Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids https://youtu.be/KpWS-U0z9y4?si=OgP7QDoYErA_TNdY


Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-3)…

Baca artikel sebelumnya…Mengasuh Anak (Seri-1)…

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ FootNote:

  1. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih
    2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
    Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
    Dua jenis utama sybhul jumlah:
    Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
    Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
    Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
    Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
    Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎
  2. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  3. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎
  4. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
  5. Isim berdasarkan jenis kelamin (tunggal), terbagi menjadi:
    Isim mudzakkar: kata benda laki-laki atau yang dianggap laki-laki. Isim ini tidak pernah diakhiri dengan ta’ marbutoh (ة), Contoh: رَجُلٌ (seorang pria)
    Isim muannats: kata benda perempuan, biasanya ditandai ta’ marbutoh (ة) di akhir. Contoh: فَتاةٌ (seorang gadis), فاتِمَةٌ (Fatimah) ↩︎
  6. Adalah fi’il yang menempelkan pelaku/ subyek menyatu satu kata padanya (sesudahnya). Bahkan sekaligus maf’ul bihi juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil.
    • a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
    • b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
    • c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
    • d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا. ↩︎
  7. Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja. Fi’il lazim dapat diketahui dengan melihat arti fi’il yang terbagi kedalam 7 macam:
    Yang menunjukkan aktifitas tanpa obyek: _ جَلَسَ عَلِيٌ Ali duduk
    _ قامَ أَحْمَدُ Ahmad berdiri
    Yang menunjukan watak, bakat atau sifat, seperti: _ حَسُنَ bagus, قَبُحَ jelek
    _ شَجُعَ berani, جَبُنَ pengecut
    _ كَسَلَ malas, مَرِضَ sakit
    _ فَرِحَ bergembira, شَبِعَ kenyang
    Yang menunjukkan warna, seperti: _ اِحْمَرَّ memerah,
    _ اِبْيَضَّ memutih
    Yang menunjukkan cacat, seperti: _ عَمِشَتْ عَيْنُهُ lemah penglihatannya
    Yang menunjukkan bersih atau kotor, seperti: _ طَهُرَ telah suci, نَظَفَ telah bersih, rapih
    _ وَسِخَ telah kotor, قَذَرَ telah dekil, busuk, tidak bersih
    Yang menunjukkan arti muthawa’ah (menjadi ter-…) akibat me-… _ اِنْكَسَرَ menjadi pecah
    _ اِجْتَمَعَ menjadi terkumpul
    Dengan melihat bentuk fi’il/pola wazan (note: pola wazan menjadi bahasa utama dalam ilmu shorof dan dibahas lengkap), ada beberapa macam: Pola فَعُلَ seperti: شَرَفَ mulia, جَمُلَ cantik, حَسُنَ bagus
    Pola اِنْفَعَلَ seperti: اِنْقَسَمَ terbagi, اِنْكَسَرَ terpecah
    Pola اِفْعَلَّ seperti: اِحْمَرَّ memerah
    Pola اِفْعَالَّ seperti: اِحْمَارَّ menjadi sangat merah
    Pola اِفْعَنْلَلَ seperti: اِقْعَنْسَسَ menolak taat, اِحْرَنْجَمَ berkumpul
    ↩︎
  8. Kata/ Lafadz:
    Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
    Isim اِسْمٌ (kata benda)
    Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
    Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
    Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
    Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
    Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
    Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
    ↩︎
  9. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh:
    Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana:
    a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa ↩︎
  10. Laa Nafiyah adalah huruf ‘laa’ dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menolak, meniadakan, atau menyangkal suatu perbuatan, kejadian, atau sifat.Penjelasan SingkatFungsi: Menyatakan arti “tidak” atau “bukan”.Pengaruh I’rab: Berbeda dengan Laa Nahiyah (huruf larangan yang membuat kata kerja/fi’il mudhari’ ber-i’rab jazm atau sukun), Laa Nafiyah tidak mengubah i’rab kata kerja yang ada di belakangnya (tetap marfa’/rafa’) ↩︎
  11. Maf’ul bih adalah salah satu isim manshub, yaitu i’rabnya menjadi manshub akibat kedudukannya, dengan harakat fathah.
    • Contoh:
    o خَلَقَ اللّٰهُ الإنْسانَ Allah menciptakan manusia
    • Kata الإنسانَ adalah obyeknya, dan I’rabnya Manshub. ↩︎
  12. Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
    Daftar huruf Athaf:
    a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
    b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
    c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
    Contoh:
    جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ ↩︎
  13. Isim taukid:
    Adalah isim yang mengikuti isim lainnya, yang berfungsi menguatkan arti dan menghilangkan keraguan si pendengar.Contoh:
    قَابَلْتُ الْمَلِكَ نَفْسَهُ. Saya menemui raja itu sendiri.
    Keduanya Manshub karena isim yang diikuti sebagai obyek.Yang dimaksud penguat karena yang ditemui adalah raja itu sendiri, bukan wakil atau utusannya.Beberapa lafazh Taukid:
    النفس. Dia sendiri
    العَيْن. Dengan mata sendiri
    كُلُّ. Seluruhnya
    أجْمَعَ. Semuanya ↩︎
  14. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
     لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎
  15. Pola tashrif 14: اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ – اِنْفَعِلْ- اِنْفِعَالًا – مُنْفَعِلٌ، مُنْفَعَلٌ – اُنْفُعِلَ – يُنْفَعَلُ
    Pola wazan tashrif اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ umumnya memiliki makna mutawa’ah (akibat dari suatu perbuatan/refleksif).
    Faidah/arti fi’il dengan wazan اِنْفَعَلَ diantaranya :
    1. Maka menjadi putus — فَاِنْقَطَعَ
    2. = mujarrad, maka dia pergi — فَاِنْطَلَقَ = طَلَقَ
    (Biasanya yg didahului فَ)
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    terputus, terhenti: اِنْقَطَعَ – يَنْقَطِعُ
    bubar, pergi, berpaling : اِنْصَرَفَ – يَنْصَرِفُ
    terbuka, menjadi terbuka : اِنْفَتَحَ – يَنْفَتِحُ
    terbalik : اِنْعَكَسَ
    terbalik, berubah : اِنْقَلَبَ
    terpukul : اِنْضَرَبَ
    terbagi : اِنْقَسَمَ
    tertolak : اِنْدَفَعَ
    terpecah : اِنْكَسَرَ – يَنْكَسِرُ – اِنْكَسِرْ- اِنْكِسَارًا- مُنْكَسِرٌ – مُنْكَسَرٌ – لَا تَنْكَسِرْ – مُنْكَسَرٌ
    dipecahkan : اُنْكُسِرَ – يُنْكَسَرُ ↩︎
  16. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎
  17. Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.
    Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
    Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku). ↩︎
  18. Secara istilah ilmu nahwu, rubbama adalah huruf taqlil wa taktsir (menyatakan kadang-kadang atau sering), dan kedudukan rubbama di dalam kalimat dinamakan kaffah wa makfufah.
    Disebut mukaffah (huruf tambahan yang tugasnya menghentikan atau menghalangi rubba agar tidak menge-jar-kan/mengahirkan kata setelahnya).
    Karena sifatnya yang sudah diblokir fungsinya oleh ma, maka ia bisa masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyah) maupun kalimat verbal (jumlah fi’liyah) tanpa mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi kasrah/jar. ↩︎
  19. Kata لَمْ (lam) berperan sebagai huruf peniadaan (huruf nafi) dan pengubah waktu (huruf qalab), serta berfungsi sebagai amil jazam (pen-sukun kata kerja).
    Fungsi Nafi (Negasi): Mengubah makna kalimat menjadi negatif atau “tidak/belum”. Fungsi Qalab (Pembalikan Waktu): Mengubah makna waktu pada kata kerja mudhari (yang semestinya masa kini/nanti) menjadi masa lampau (madhi). ↩︎
  20. Lam yaud:
    Lam berfungsi juga sebagai Amil Jazam: Tugasnya adalah men-sukun-kan kata kerja setelahnya (fi’il mudhari).Asal kata kerja tersebut adalah يَعُوْدُ (yauudu – terdapat huruf wawu sukun di dalamnya).Karena kemasukan لَمْ, huruf terakhir (dal) harus disukunkan menjadi يَعُوْدْ. Dalam kaidah bahasa Arab, dua huruf sukun tidak boleh bertemu (iltiqas sakinain), sehingga huruf wawu dihapus dan bentuknya menjadi يَعُدْ (ya’ud) ↩︎
  21. Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎

Responses

Leave a Reply