Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Mengasuh Anak (Seri-4)

Ketika Anak Tidak Menghormati Orang Tua: Renungan dan Solusi Islami.

 

DAFTAR ISI:

 

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II. KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-4)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.

#4) Sikap dingin dan tidak hormat ini? Mungkin Anda juga mengenal ibu seperti itu. Mungkin ada anak di sekitar Anda yang tidak mau mendengarkan, yang suka meninggikan suara, yang merusak barang karena marah. Atau yang sama sekali mengabaikan ibunya seolah-olah ibunya tidak berarti apa-apa baginya. Dan ibu itu hanya menonton. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain pergi ke sudut ruangan dan menangis dalam diam?

هَذَا الْبُرُودُ، هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ؟ رُبَّمَا تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا. رُبَّمَا هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي، طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا. أَوْ يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ. وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ. مَاذَا عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ سِوَى الذَّهَابِ إِلَى زَاوِيَةٍ مَا فِي الْمَنْزِلِ وَالْبُكَاءِ بِصَمْتٍ؟


a. Kajian Kalimat… هَذَا الْبُرُودُ، هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ؟ رُبَّمَا تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا. رُبَّمَا هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي، طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا.

Sikap dingin dan tidak hormat ini? Mungkin Anda juga mengenal ibu seperti itu. Mungkin ada anak di sekitar Anda yang tidak mau mendengarkan, yang suka meninggikan suara, yang merusak barang karena marah.

هَذَا الْبُرُودُ، هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ؟ رُبَّمَا تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا. رُبَّمَا هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي، طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • murakkab isyariy هَذَا الْبُرُودُ
    • murakkab isyariy (kedua) هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ, dengan isim dalam bentuk idhafiy, yang terdiri dari :
      • mudhaf berupa isim masdar عَدَمُ
      • mudhaf ilaih berupa isim masdar الِاحْتِرَامِ
    • huruf taqlil رُبَّمَا
    • jumlah fi’liyyah تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا, yang terdiri dari :
      • fi’il mudhari تَعْرِفِينَ dengan fa’il berupa dhamir rafa’ muttasil أَنْتِ
      • maf’ul bih [manshub] أُمًّا
      • haal كَهَذَا
      • maf’ul mutlaq أَيْضًا
    • huruf taqlil رُبَّمَا
    • jumlah ismiyyah هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي, yang terdiri dari :
      • khabar muqoddam/didahulukan dalam bentuk zharf makan هُنَاكَ
      • mubtada’ muakhkhar/diakhirkan مَنْ حَوْلِكِ dalam bentuk idhafiy dengan mudhaf ilaih [majrur] حَوْلِكِ
      • badal (dari mubtada’)[marfu‘] طِفْلٌ
      • na’at/sifat لَا يُصْغِي dalam bentuk fi’il lazim yang diawali oleh la nafiyah
    • badal (kedua) dari mubtada’ طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ
    • na’at/sifat dalam bentuk jumlah fi’liyyah يَرْفَعُ صَوْتَهُ, dengan fi’il يَرْفَعُ dan obyek [manshub] صَوْتَهُ
    • na’at/sifat (kedua) dari badal, dalam bentuk jumlah fi’liyyah يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا , yang terdiri dari :
      • fi’il mudhari’ يُحَطِّمُ
      • maf’ul bih [manshub] الْأَشْيَاءَ
      • maf’ul mutlaq أَيْضًا
  2. Murakkab isyariy 1 هَذَا الْبُرُودُ (sikap dingin ini) adalah isim (kata benda) yang merupakan masdar dari kata kerja بَرَدَ .
  3. Murakkab هَذَا عَدَمُ الِاحْتِرَامِ؟ (ketiadaan penghormatan ini) adalah isim juga, yang diawali oleh isim isyarah/ kata tunjuk هَذَا , terdiri dari dua kata bentuk mudhaf wa mudhaf ilaihi. Sebagai mudhaf, maka lafadz عَدَمُ (ketiadaan, tidak adanya) ber-i’rab marfu‘/dhammah, dan mudhaf ilaihi-nya الِاحْتِرَامِ (penghormatan, rasa hormat) ber-i’rab majrur/kasrah.
  4. Kata/Lafadz 2 الِاحْتِرَامِ adalah isim bentuk masdar dari kata kerja اِحْتَرَمَ yang mana perubahan/tashrif ini mengikuti pola tashrif (pada tabel tashrif) no. 10. 3
  5. Kalimat رُبَّمَا تَعْرِفِينَ أُمًّا كَهَذَا أَيْضًا. adalah jumlah fi’liyyah 4 (kalimat verbal) dengan fi’il (kata kerja) يَعْرِفُ (mengetahui) yang diawali huruf taqlil رُبَّمَا (mungkin) 5 .
  6. Lafadz تَعْرِفِينَ dalam ilmu shorof adalah fi’il dengan pola tashrif no.1. 6
  7. Huruf تَ (kamu) yang menempel pada kata kerja tersebut, dan ditutup akhiran ينَ dan huruf terakhir kata kerja di-kasroh فِ, maka ini adalah isim dhamir muttasil 7 muannats (kata ganti yang menempel pada kata kerja, artinya: kamu, pr.).
  8. Maf’ul bih (obyek) nya adalah أُمًّا (seorang ibu) dengan i’rab mansub/fathah.
  9. Murakkab كَهَذَا (seperti ini) adalah haal 8 (kata keterangan) berbentuk jar wa majrur dengan huruf jar كَ (seperti).
  10. Lafadz أَيْضًا (juga, kembali berulang) adalah maf’ul mutlaq 9 yang selalu ber-i’rab manshub dengan tanda baca fathatain ضاً.
  11. Kalimat رُبَّمَا هُنَاكَ مَنْ حَوْلِكِ طِفْلٌ لَا يُصْغِي، adalah jumlah ismiyyah 10 (kalimat nominal) yang diawali dengan huruf kaffah wa makfufah رُبَّمَا .
  12. Mubtada‘ (subyek) nya adalah مَنْ (seseorang) berkedudukan sebagai mudhaf dengan mudhaf ilaihi nya حَوْلِكِ (i’rab majrur/kasrah).
  13. Khabar (obyek) nya adalah هُنَاكَ (disana).
  14. Adapun lafadz طِفْلٌ adalah badal dari mubtada’, diikuti oleh sifat لَا يُصْغِي (‘yang’ tidak mendengarkan).
  15. Frase طِفْلٌ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ غَضَبًا adalah sama dengan frase sebelumnya, yaitu isim tamyiz طِفْلٌ yang diikuti sifat يَرْفَعُ صَوْتَهُ (‘yang’ meninggikan suaranya), dan diikuti sifat lagi يُحَطِّمُ الْأَشْيَاءَ (merusak barang-barang). Ditutup dengan isim maf’ul mutlaq (penguat/penjelas)غَضَبًا (marah).

b. Kajian Kalimat… أَوْ يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ. وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ.

Atau yang sama sekali mengabaikan ibunya seolah-olah ibunya tidak berarti apa-apa baginya. Dan ibu itu hanya menonton.

أَوْ يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ. وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf athaf أَوْ
    • jumlah fi’liyyah يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا , yang terdiri dari :
      • fi’il mudhari‘ يَتَجَاهَلُ
      • maf’ul bih [manshub] أُمَّهُ
      • maf’ul mutlaq تَمَامًا
    • huruf athaf وَ
    • jumlah kaanna (inna wa akhawatuha) كَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ , yang terdiri dari :
      • huruf masdariyyah كَأَنَّ
      • isim kaanna [marfu‘] berupa dhamir nashab muttasil هِيَ – هَا
      • khabar kaanna berupa jumlah fi’liyyah لَا تَهُمُّهُ yang diawali la nafiyah, dan maf’ul bih berupa dhamir nashab muttasil هُوَ – هُ
    • jumlah ismiyyah وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ , yang terdiri dari :
      • mubtada‘ dalam bentuk murakkab isyariy وَتِلْكَ الْأُمُّ
      • fi’il mudhari’ lazim تُشَاهِدُ
      • huruf pembatas فَقَطْ
  2. Kalimat أَوْ يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَمَامًا وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ. (Atau dia mengabaikan ibunya sama sekali seolah-olah tidak berarti baginya) adalah jumlah fi’liyah dengan fi’il mudhari‘ يَتَجَاهَلُ yang mengikuti pola tashrif no.13 11. Fa’il nya adalah dhomir mustatir هُوَ ه (dia lk.) dan maf’ul bih (obyek) nya adalah أُمَّ dengan i’rab manshub/fathah.
  3. Lafadz تَمَامًا (sama sekali) adalah maf’ul mutlaq (kata penegas/penguat). Kalimat lengkap harusnya adalah يَتَجَاهَلُ أُمَّهُ تَجَاهُلًا تَمَامًا namun kata تَجَاهُلًا (benar-benar pengabaian) kadang dibuang, digantikan cukup dengan تَمَامًا yang menggantikan posisi kata maf’ul mutlaq yang dibuang sebelumnya.
  4. Frase وَكَأَنَّهَا لَا تَهُمُّهُ berisi isim inna dan keluarganya 12 yaitu كَأَنَّ (seolah-olah) . Disini yang menjadi isim ka’anna adalah هَا (dia pr.), dan khabar kaanna adalah لَا تَهُمُّهُ (tidak berarti baginya) berupa fi’il mudhari’ yang diawali laa nafiyah لَا .
  5. Frase وَتِلْكَ الْأُمُّ، تُشَاهِدُ فَقَطْ (dan ibu itu hanya memandang) adalah jumlah ismiyyah (kalimat nominal) dengan mubtada‘ nya الْأُمُّ dengan awalan isim isyarah (kata tunjuk) تِلْكَ . Khabarnya تُشَاهِدُ berupa fi’il mudhari’ dengan pola tashrif no. 13, dan fa’il muannats هِيَ . Kata فَقَطْ adalah kata pembatas yang berarti “hanya” atau saja.


c. Kajian Kalimat… مَاذَا عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ سِوَى الذَّهَابِ إِلَى زَاوِيَةٍ مَا فِي الْمَنْزِلِ وَالْبُكَاءِ بِصَمْتٍ؟

Apa lagi yang bisa dia lakukan selain pergi ke sudut ruangan dan menangis dalam diam?

مَاذَا عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ سِوَى الذَّهَابِ إِلَى زَاوِيَةٍ مَا فِي الْمَنْزِلِ وَالْبُكَاءِ بِصَمْتٍ؟

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • isim istifham مَاذَا
    • jumlah fi’liyyah عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ , yang terdiri dari :
      • fi’il عَسَاهَا dengan maf’ul bih berupa dhamir nashab muttasil هِيَ – هَا
      • masdar muawwal أَنْ تَفْعَلَ
      • mus-tatsna سِوَى الذَّهَابِ إِلَى زَاوِيَةٍ مَا , yang terdiri dari :
        • adat/alat mus-tatsna سِوَى , dan bertindak juga sebagai mudhaf
        • isim mus-tatsna الذَّهَابِ [majrur] karena juga sebagai mudhaf ilaih.
        • jar wa majrur إِلَى زَاوِيَةٍ مَا
  2. Kalimat مَاذَا عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ adalah kalimat tanya dengan fi’il عَسَي dan تَفْعَلَ 13.
  3. Murakkab سِوَى الذَّهَابِ termasuk isim mustatsna 14 سِوَى (selain), yang bersifat juga sebagai mudhaf, maka kata sesudahnya harus majrur karena sebagai mudhaf ilaihi.
  4. Isim الذَّهَابِ (kepergian, tindakan pergi) disini adalah masdar dari kata kerja ذَهَبَ.
  5. Murakkab إِلَى زَاوِيَةٍ مَا فِي الْمَنْزِلِ (ke suatu pojok ‘مَا entah yang mana saja’ di rumah) berbentuk 2 rangkaian jar wa majrur 15 .
  6. Frase وَالْبُكَاءِ بِصَمْتٍ (dan tindakan menangis dalam diam). Kedua kata ini adalah isim masdar 16 . Kata الْبُكَاءِ adalah masdar dari kata kerja بَكَى (menangis). Dan kata صَمْتٍ (tindakan diam) adalah masdar dari kata kerja صَمَتَ (diam).

III. ARTIKEL(INDO-ARABIC) – (LINK):

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 6 Episode sebagai berikut:

A. Mengapa Anak Mulai Tidak Menghormati Orang Tuanya?

B. Kisah Aisyah (Sekedar Ilustrasi)

C. Titik Balik Perubahan

D. Empat Langkah Memperbaiki Pola Asuh

E. Pelajaran dari Al-Qur’an dan Hadis

F. Kesimpulan

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Mengasuh Anak (The Story – Full 6 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Source Reference :

By Courtesy of YouTube Article By: Faithnafs

Title: Best Islamic Parenting Tips for Disrespectful Children | How to Handle Stubborn Kids https://youtu.be/KpWS-U0z9y4?si=OgP7QDoYErA_TNdY


Baca artikel sesudahnya…Mengasuh Anak (Seri-5)… terbit segera…

Baca artikel sebelumnya…Mengasuh Anak (Seri-3)

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ Footnote:

  1. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih
    2) Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): Jar wa majrur & Zharf wa Mudhaf Ilaih
    Syibhul jumlah adalah susunan kata yang menyerupai kalimat (jumlah), tetapi belum memiliki arti atau makna yang sempurna. Oleh karena itu, syibhul jumlah tidak bisa berdiri sendiri sebagai kalimat utuh dan biasanya memerlukan kaitan makna dengan unsur kata lain di dalam kalimat.
    Dua jenis utama sybhul jumlah:
    Jar wa Majrur Terdiri dari huruf jar (seperti فِي, مِنْ, عَلَى, إِلَى, dll.) diikuti oleh kata benda (isim) yang berharakat akhir majrur/kasrah (atau tanda majrur lainnya)
    Contoh: فِي الْمَنْزِلِ (di dalam rumah)
    Zharf wa mudhaf ilaih Terdiri dari zharf (kata keterangan tempat atau waktu) yang diikuti oleh mudhaf ilaih (kata benda yang disandarkan padanya, berharakat kasrah).
    Contoh: Zharf makan: أَمَامَ الْفَصْلِ (di depan kelas),
    Zharf zaman: قَبْلَ الظُّهْرِ (sebelum dzuhur) ↩︎
  2. Kata/ Lafadz:
    Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
    Isim اِسْمٌ (kata benda)
    Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
    Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
    Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
    Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
    Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
    Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
    ↩︎
  3. Pola tashrif 10: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ – اِفْتَعِلْ – اِفْتِعَالًا – مُفْتَعِلٌ، مُفْتَعَلٌ – اُفْتُعِلَ – يُفْتَعَلُ
    Wazan اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ memiliki beberapa fungsi, namun yang paling umum adalah Mutawa’ah (dampak dari suatu perbuatan) dan Ittikhadz (membuat/mengambil sesuatu).
    Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْتَعَلَ diantaranya :
    1. Maka menjadi ter-kumpul — فَاِجْتَمَعَ
    2. Membikin roti — اِخْتَبَزَ
    3. Telah sungguh2 me-ndengarkan — اِسْتَمَعَ
    4. Sama2 ber-debat — اِخْتَصَمَ
    5. = mujarrad, menarik — اِرْتَقَى = رَقَى
    6. Menuntut agar bekerja keras — اِكْتَدَّ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    mendengar : اِسْتَمَعَ
    mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ
    berpegang teguh : اِعْتَصَمَ
    menerima : اِسْتَلَمَ
    memilih : اِصْطَفَى
    bercerai : اِفْتَرَقَ
    menang : اِنْتَصَرَ
    memulai : اِبْتَدَأَ – يَبْتَدِئُ
    menjadi dekat : اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ
    menyimak, mendengar : اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ
    menganggap, mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ – يَعْتَبِرُ
    bersungguh-sungguh : اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ
    berkumpul : اِجْتَمَعَ – يَجْتَمَعُ – اِجْتَمِعْ – اِجْتِمَاعًا – مُجْتَمِعٌ – مُجْتَمَعٌ – لَا تَجْتَمِعْ
    dikumpulkan : اُجْتُمِعَ – يُجْتَمَعُ ↩︎
  4. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  5. Secara istilah ilmu nahwu, kedudukan rubbama di dalam kalimat dinamakan kaffah wa makfufah.
    Disebut mukaffah (huruf tambahan yang tugasnya menghentikan atau menghalangi rubba agar tidak menge-jar-kan/mengahirkan kata setelahnya).
    Karena sifatnya yang sudah diblokir fungsinya oleh ma, maka ia bisa masuk ke dalam kalimat nominal (jumlah ismiyah) maupun kalimat verbal (jumlah fi’liyah) tanpa mengubah harakat akhir kata benda setelahnya menjadi kasrah/jar. ↩︎
  6. Pola tashrif 1: فَعَلَ – يَفْعِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il- isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعِلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ, مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    berjanji : وَعَدَ – يَعِدُ
    kembali : رَجَعَ – يَرْجِعُ
    memukul : ضَرَبَ – يَضْرِبُ
    duduk : جَلَسَ – يَجْلِسُ
    mengampuni : غَفَرَ – يَغْفِرُ- اِغْفِرْ – غَفْرٌ – غَفِيرٌ – مَغْفُورٌ – لَا تَغْفِرْ
    diampuni : غُفِرَ – يُغْفَرُ
    ↩︎
  7. Adalah fi’il yang menempelkan pelaku/ subyek menyatu satu kata padanya (sesudahnya). Bahkan sekaligus maf’ul bihi juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil.
    • a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
    • b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
    • c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
    • d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا. ↩︎
  8. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎
  9. Isim maf’ul mutlaq adalah isim yang berfungsi menguatkan suatu perbuatan; menjelaskan bilangannya; atau menjelaskan macamnya.
    Contoh:
    a. نَظَرْتُ نَظْرًا. Saya melihatnya [betul-betul melihat نظرا ]
    b. أكَلْتُ أكْلَةً. Saya makan [satu kali makan/suap أكلة]. Lihat: ada akhiran ةً untuk menjelaskan bilangan.
    c. نَظَرْتُ نَظْرًا طَوِيْلًا. Saya melihat [dengan melihat نظرا lama sekali طويلا ] ↩︎
  10. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎
  11. Pola tashrif 13: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعَلْ- تَفَاعُلًا- مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ – تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
    Pola wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ biasanya digunakan untuk menunjukkan makna saling melakukan (musyarakah) antara dua pihak atau lebih, atau berpura-pura.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَاعَلَ diantaranya :
    1. Saling ber-damai — تَصَالَحَ
    2. Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
    3. Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
    4. = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
    5. Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    saling menolong, bekerja sama: تَعَاوَنَ – يَتَعَاوَنُ
    saling bersalaman : تَصَافَحَ – يَتَصَافَحُ
    mengabaikan, pura-pura tidak tahu : تَجَاهَلَ – يَتَجَاهَلُ
    pura-pura sakit : تَمَارَضَ – يَتَمَارَضُ
    pura-pura tidur : تَنَاوَمَ – يَتَنَاوَمُ
    pura-pura lalai : تَغَافَلَ
    saling bertanya : تَسَاءَلَ
    bercakap-cakap : تَحَادَثَ
    saling menjauh : تَبَاعَدَ
    berdekat-dekatan : تَقَارَبَ
    bermain-main : تَلَاعَبَ
    saling bertukar : تَبَادَلَ – يَتَبَادَلُ – تَبَادَلْ – تَبَادُلًا – مُتَبَادِلٌ – مُتَبَادَلٌ – لَا تَتَبَادَلْ – مُتَبَادَلٌ
    saling dipertukarkan : تُبُودِلَ – يُتَبَادَلُ ↩︎
  12. Inna, Artinya: sesungguhnya.
    Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
    • Contoh:
    o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
    o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
    • Saudara-saudara inna:
    o 1) لَكِنَّ، tetapi
    o 2) أنَّ. Sesungguhnya
    o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
    o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
    o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
    o لَا 6 . tidak, tidak ada
    o contoh:
     لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎
  13. Penjelasan tentang kata kerja عَسَي (semoga, berharap) :
    Kata kerja termasuk kata kerja yang menunjukkan harapan/optimisme dan ber-amal seperti Kaana dan saudaranya, yaitu merofakkan isim dan menasabkan khabar. Seperti dalam kalimat عَسَاهَا أَنْ تَفْعَلَ, maka isim kaana nya adalah هَا (dia) dan khabarnya untuk عَسَي harus berupa fi’il mudhari تَفْعَلَ. Namun karena khabarnya berupa kata kerja kedua, maka harus didahului dengan huruf أَنْ sebagai amil pe-nashab/ pembuat nashab. Kata kerja تَفْعَلَ berharakat fathah karena didahului huruf penashab أَنْ .
    Dalam hal ini kata أَنْ تَفْعَلَ berbentuk sebagai masdar muawwal, dengan arti seperti masdar sharih فَعْلٌ (berbuat) ↩︎
  14. Isim mustatsna adalah Adalah isim yang berada setelah adat/alat istitsna.
    Contoh:
    نَجَحَ الْأوْلَادُ إلاَّ عَلِيًا.
    Telah lulus anak-anak itu [kecuali إلاَّ ] Ali.
    Peran masing-masing:
    a. مُسْتَثْنَى yang dikecualikan: عليًا
    b. Adat/alat: إلاَّ
    c. مُسْتَثْنَى مِنهُ yang dikecualikan darinya: الأولادُ
    Yang termasuk adat/alat:
    a) إلاَّ kecuali
    b) سِوَى، غَيْرَ، عَدَا، خَلَا، حَاشَا. selain ↩︎
  15. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎
  16. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎

Response

Leave a Reply