Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Seri-1)

Mengapa Al-Qur'an Sulit Diterjemahkan? (Secara Lengkap/Utuh)
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-1)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-1)

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


#1) Anda sama sekali belum pernah membaca Al-Quran. Jika Anda hanya membacanya dalam bahasa Inggris, Anda hanya membaca tebakan seseorang tentang apa yang dikatakan Al-Quran.

لَمْ تَقْرَأِ الْقُرْآنَ قَطُّ.
إِذَا كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ فَقَطْ، فَقَدْ قَرَأْتَ تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ.


a. Kajian Kalimat…لَمْ تَقْرَأِ الْقُرْآنَ قَطُّ

لَمْ تَقْرَأِ الْقُرْآنَ قَطُّ

Anda sama sekali belum pernah membaca Al-Quran.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • Fi’il mudhari [majzum] لَمْ تَقْرَأْ, yang diawali huruf lam nafiyah لَمْ sebagai amil jazm. Terkandung didalamnya dhamir rafa’ أَنْتَ – تَ .
    • Maf’ul bih [manshub] الْقُرْآنَ
    • Zharf zaman قَطُّ yang berfungsi sebagai lafadz penegas kalimat negatif di masa lampau ( لَمْ تَقْرَأِ ).
  2. Dalam ilmu nahwu, ini adalah kalimat verbal (jumlah fi’liyyah 1) dengan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ majzum 2 , yaitu kata kerja sekarang yang di-jazm (di-sukun-kan harakat huruf akhirnya, atau pembuangan huruf illat/nun) 3 . تَقْرَأُ menjadi تَقْرَأ .
  3. Yang merubah harakat tersebut disebut sebagai amil, dalam hal ini lafadz لَمْ (tidak). Fi’il sesudah لَمْ haruslah dalam bentuk fi’il mudhari’ 4 .
  4. Penambahan lafadz penegas قَطٌّ (sama sekali) di akhir kalimat merubah arti dari ‘tidak‘ menjadi ‘sama sekali belum pernah‘.
  5. Pelaku (fa’il) nya adalah أَنْتَ – تَ (anda) yang menyatu dengan kata kerjanya dan disebut isim dhamir muttasil 5 (kata ganti yang tersambung ke kata kerja). Kaidahnya untuk fi’il mudhari’ adalah awalan (a na ta ya – أ نَ تَ يَ – saya kami anda dia).
  6. Obyek (maf’ul bih) dari kata kerja ini adalah lafadz الْقُرْآنَ (al-Qur’an) dalam bentuk isim makrifah manshub 6 , yaitu dengan awalan al ال karena bendanya jelas diketahui yang dimaksud. i’rab-nya manshub (harakat fathah sesuai kaidah untuk maf’ul bih.

b. Kajian kalimat…إِذَا كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ فَقَطْ، فَقَدْ قَرَأْتَ تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ.

إِذَا كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ فَقَطْ، فَقَدْ قَرَأْتَ تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ.

Jika Anda hanya membacanya dalam bahasa Inggris, Anda hanya membaca tebakan seseorang tentang apa yang dikatakan Al-Quran.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf syarat/ pengandai إَذَا
    • jumlah syarat كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ فَقَطْ, dalam bentuk kalimat kaana, yang terdiri dari:
      • Fi’il naqish kaana, dengan isim kaana berupa dhamir rafa‘ أَنْتَ – تَ
      • khabar kaana dalam bentuk jumlah fi’liyyah dengan fi’il madhi قَرَأَ yang didahului oleh Harf Tahqiq (huruf penegas/penguat) قَدْ
      • murakkab jar wa majrur بِاللُّغَةِ
      • murakkab washfiy [majrur] اللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ yang terdiri dari man’ut اللُّغَةِ dan na’at الْإِنْجِلِيزِيَّةِ
      • Isim taukid فَقَطْ.
    • jumlah jawab syarat فَقَدْ قَرَأْتَ تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari:
      • huruf fa فَ penghubung ke jumlah syarat (Fa Rabithah li Jawabisy Syarthi).
      • Harf tahqiq (huruf penegas/penguat) قَدْ. Huruf fa فَ diperlukan karena adanya huruf penegas قَدْ.
      • fi’il madhi قَرَأْتَ dengan dhamir rafa’ تَ
      • maf’ul bih [manshub] تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا, yang terdiri dari:
        • isim masdar تَخْمِينَ
        • mudhaf ilaih [majrur] شَخْصٍ مَا
      • huruf jar لِ dan isim maushul مَا
      • shilah maushul /kalimat penjelas يَقُولُهُ الْقُرْآنُ yang terdiri dari :
        • fi’il mudhari’ يَقُولُهُ dengan maf’ul bih berupa dhamir nashab muttasil هُوَ – هُ
        • fa’il [marfu‘] الْقُرْآنُ
  2. Ini adalah kalimat pengandaian dengan huruf pengandai إَذَا (andai) 7 , diikuti oleh kalimat syarat (jumlah syarat) كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ فَقَطْ dan diakhiri dengan kalimat jawab (jumlah jawab syarat) فَقَدْ قَرَأْتَ تَخْمِينَ شَخْصٍ مَا لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ.
  3. Jumlah syarat disebut juga sebagai Fi mahalli jarrin mudhaf ilaih, karena didahului oleh إَذَا yang berkedudukan sebagai mudhaf 8.
  4. Adapun jumlah jawab syarat tidak memiliki kedudukan i’rab.
  5. Kedudukan i’rab lafadz إَذَا adalah fi mahalli nasbin (dalam kedudukan i’rab nashab) karena ia adalah zharf zaman 9 (kata keterangan waktu).
  6. Frase kalimat كُنْتَ قَدْ قَرَأْتَهُ … فَقَطْ, ini artinya “anda sungguh (قَدْ) sama sekali(فَقَطْ) telah membacanya“, ini adalah bentuk past perfect tense dalam bahasa inggris (contoh: you have read it – anda telah membacanya). Lafadz قَدْ (sungguh) tidak berpengaruh pada harakat dan dapat dihilangkan, namun fungsi penegasnya menjadi hilang.
  7. Bentuk past perfect tense sengaja dipakai, bukan bentuk past tense (إِذَا قَرَأْتَهُ) karena untuk penekanan bahwa “anda memang sungguh telah membacanya”.
  8. Lafadz كُنْتَ artinya “waktu itu anda sedang/ dalam keadaan“. Disini memang harus memakai bentuk fi’il madhi كُنْتَ (bukan fi’il mudhari‘ تَكُوْنُ ) karena memang kaidahnya: [إِذَا + fi’il madhi]. 10
  9. Frase kalimat بِاللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ adalah murakkab jar wa majrur (بِاللُّغَةِ ) dengan i’rab majrur, digabungkan dengan murakkab washfiy/na’tiy (اللُّغَةِ الْإِنْجِلِيزِيَّةِ ) dengan i’rab na’at (الْإِنْجِلِيزِيَّةِ ) mengikuti man’ut-nya (اللُّغَةِ ) 11 .
  10. Lafadz تَخْمِينَ (terkaan, dugaan) adalah isim masdar 12 dari kata kerja/fi’il خَمَّنَ (mengira, menduga). Kata خَمَّنَ dalam ilmu shorof adalah masuk dalam kelompok pola tashrif no. 8 13 pada tabel tashrif.
  11. Lafadz شَخْصٍ مَا (seseorang, entah itu siapa) mendapatkan tambahan مَا yaitu untuk menekankan bahwa seseorang itu tidak menunjuk ke siapa-siapa, tapi siapa saja. I’rab شَخْصٍ disini adalah majrur karena kedudukan lafadz ini sebagai mudhaf ilaihi dari lafadz sebelumnya تَخْمِينَ .
  12. Frase kalimat لِمَا يَقُولُهُ الْقُرْآنُ artinya “atas apa yang dikatakan al-qur’an“. Huruf لِمَا adalah dua kata yaitu huruf jar لِ dan isim maushul مَا (apa/sesuatu yang). Sesudah isim maushul, maka frase sesudahnya berkedudukan sebagai shilah maushul 14 yaitu kalimat penjelas , dalam hal ini يَقُولُهُ الْقُرْآنُ (yang dikatakan al-qur’an).
  13. Frase ini يَقُولُهُ الْقُرْآنُ menarik untuk dibahas karena menggunakan bentuk fi’il ma’lum (kata kerja aktif) dan bukan kata kerja pasif (fi’il majhul) 15 sebagaimana artinya dalam terjemahan bahasa indonesia. Arti secara harfiyah adalah “al-qur’an mengatakan hal itu هُ “. Dengan al-qur’an sebagai pelaku/subyek (fa’il) yang mengatakan ‘hal itu’, maka memang harus memakai fi’il ma’lum yang menyebutkan subyek, adapun fi’il majhul justru meniadakan subyek dan malah menyebutkan naib fa’il (obyek yang menjadi pengganti subyek).

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 5 Episode sebagai berikut:

A. Kekayaan Makna – Tantangan Dalam Menerjemah Al-Qur’an

B. Kedalaman Bahasa Arab dan Sistem Orientasi Akar Kata

C. Pilihan Susunan Kata Dalam Setiap Ayat dan Pengaruh dalam Penekanan Makna

D. Suara & Irama Keselarasan Ayat Yang Tidak Bisa Diterjemahkan

E. Jalan Menuju Pemahaman

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (The Story – Full 5 Episodes)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

YouTube By: StartIslamPath

Judul: Why the Quran is Impossible to Translate (The Science of Arabic) https://youtu.be/SmN1VjqbJM0?si=vonQ3QeIWgX03uZi


Baca kajian sesudahnya… Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-2) …

Baca juga Serial lainnya… Mengasuh Anak (The Story – Full 6 Episodes) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Huruf-huruf/Isim jazm adalah huruf/Isim yang membuat fi’il mudhari’ menjadi majzum (ber-harakat sukun), dan terdiri dari dua kelompok;
    a. Huruf Jazm yang membuat majzum satu fi’il.
    Huruf لَمْ (tidak),contoh: لَمْ آكُلْ
    artinya: saya tidak makan
    Huruf لَمَّا (belum),contoh: لَمَّا يَذْهَبْ
    artinya: dia belum pergi
    Huruf أَلَمْ (apakah tidak),contoh: أَلَمْ نَشْرَحْ
    artinya: apakah kami tidak melapangkan
    Huruf أَلَمَّا (apakah belum),contoh: أَلَمَّا يَحْضُرْ أَبُوْكَ؟
    artinya: apakah ayahmu belum datang
    Huruf لِ li (lam yang berarti perintah),contoh: لِيَخْرُجْ
    artinya: hendaklah/suruh dia keluar
    Huruf لَا laa (yang berarti melarang, jangan),contoh: لَا تَجْلِسْ
    artinya: jangan kau duduk ↩︎
  3. Tanda i’rab majzum: Dalam ilmu nahwu, tanda utama untuk keadaan majzum adalah harakat sukun. Namun, ada 2 tanda pengganti lainnya tergantung pada jenis kata kerjanya.
    Hadzfu illat (membuang huruf illat)
    Penggunaan untuk fi’il mudhari’ yang masuk kategori fi’il mu’tal akhir
    Yaitu kata kerja yang huruf terakhirnya berupa huruf illat alif wawu ya (ا و ي)
    Saat kemasukan amil jazm, huruf illat di akhir kata tersebut harus dihapus
    Contoh huruf akhir و (marfu’): يَدْعُو (dia memanggil). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَدْعُ (dia tidak memanggil), disini terlihat huruf wau و dibuang
    Contoh huruf akhir ي (marfu’): يَرْمِي (dia melempar). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَرْمِ (dia tidak melempar), disini terlihat huruf yaي dibuang
    Contoh huruf akhir ا atau ى (marfu’): يَسْعَى (dia berikhtiar). Perubahan setelah kemasukan amil jazm (majzum): لَمْ يَسْعَ (dia tidak berikhtiar), disini terlihat huruf alif maqsurah ى dibuang
    Hadzfun nun (menghilangkan huruf nun) :
    Penggunaan khusus untuk af’alul khamsah (fi’il yang lima) ketika didahuli oleh amil nashab (seperti: an, lan, idzan, kai – أَنْ لَنْ إَذَنْ كَيْ )
    Fi’il jenis ini diakhiri oleh wawu jamaah, alif tsaniyah, atau ya mukhatabah (dan ditutup dengan huruf paling akhir nun), وْنَ – انِ – يِنَ.
    Saat dalam keadaan majzum, huruf nun yang berada di paling akhir kata harus dihapus, dan yang tersisa tinggal huruf illat saja di akhir kata.
    Contoh-1 : يَفْعَلُوْنَ (mereka melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ يَفْعَلُوْا (mereka tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang, diganti alif.
    Contoh-2 : يَفْعَلَانِ (mereka berdua melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ يَفْعَلَا (mereka berdua tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang.
    Contoh-3 : تَفْعَلِيْنَ (kamu pr. melakukannya), dengan masuknya amil lam لَمْ menjadi لَمْ تَفْعَلِيْ (kamu pr. tidak melakukannya). Disini huruf nun dibuang. ↩︎
  4. Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت).
    Contoh: يَكْتُبُ (dia, lk. Sedang/akan menulis). ↩︎
  5. Isim dhamir muttasil adalah isim pelaku/ subyek menyatu satu kata dengan fi’il. Bahkan termasuk juga maf’ul bihi dikatakan isim dhamir muttasil, juga ditempelkan padanya (langsung sesudah fa’il). Fail atau maf’ul bih yang menempel ini disebut isim dhamir muttasil. Contoh:
    a) ذَهَبَ+أنتَ» ذَهَبْتَ. Kamu pergi
    b) ذَهَبَ+أنا» ذَهَبْتُ. Saya pergi
    c) ذَهَبَ+نَهْنُ» ذَهَبْنَا. Kami pergi
    d) ذَهَبَ+أولٰئِكَ» ذَهَبُوا. Mereka pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا ↩︎
  6. Isim Naqirah/ umum/ belum jelas الاسم النَكِرَة، yang diakhiri dengan tanwin ( كِتابٌ، كتابٍ، كتاباً sebuah buku)
    Isim Makrifah/ khusus/ tertentu (الاسم المَعْرِفَة): yang diawali dengan alif-lam (الكتابُ، السَماءُ). Selain ini adalah isim Makrifah tanpa alim-lam (dibawah ini). ↩︎
  7. 4. Isim Syarat (diikuti kalimat syarat & jawab syarat): _ إَذَا jika, apabila
    _ مَنْ siapa saja/ barang siapa
    _ مَتَى kapan saja
    _ مَا apa saja
    _ مَهْمَا bagaimana saja ↩︎
  8. Idhafah terjadi pada mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
  9. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):
    Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت) ↩︎
  10. Kaana artinya ada, menjadi, terjadi, adalah. Kaana adalah isim yang masuk kepada mubtada dan khabar, berfungsi membuat mubtada’ menjadi Marfu’ (disebut isim Kaana), dan membuat Khabar menjadi Manshub (disebut khabar Kaana).
    Contoh: Asal: أحْمَادُ مُجْتَهِدٌ Ahmad rajin.
    Menjadi: كانَ أحْمَادُ مُجْتَهِدًا
    Saudara-saudara Kaana: a) يَكُونُ، كُنْ (bentuk mudhari’ dan Amr)
    b) لَيْسَ. Bukan
    c) أصْبَحَ berada di waktu pagi
    d) أمْسَى. Berada di waktu sore
    e) ظَلَّ. Berada di waktu siang
    f) بَاتَ. Berada di waktu malam
    g) صَارَ. Menjadi
    h) ما زالَ. Senantiasa
    i) ↩︎
  11. Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya فِي البَيتِ Fi al-baiti (Di dalam rumah).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini). ↩︎
  12. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, namun tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎
  13. Pola tashrif 8: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – فَعِّلْ – تَفْعِيلًا – مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ – فُعِّلَ – يُفَعَّلُ
    Fungsi wazan ini untuk mengubah kata kerja intransitif menjadi transitif, atau menunjukkan bahwa suatu perbuatan dilakukan berkali-kali, berulang-ulang, atau dilakukan secara masif.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعَّلَ diantaranya :
    1. Me-ngeluar-kan — خَرَّجَ
    2. Sering me-nutup — غَلَّقَ
    3. Banyak yang mati — مَوَّتَ
    4. Menuju ke arah timur — شَرَّقَ
    5. Melabelinya sbg kafir — كَفَّرَ
    6. Mengucapkan Allahuakbar — كَبَّرَ
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    mendekatkan : قَرَّبَ
    memperbanyak : كَثَّرَ
    mengharamkan : حَرَّمَ
    mendustakan : كَذَّبَ
    memahasucikan : سَبَّحَ
    memuji dengan baik : حَمَّدَ
    membesarkan : كَبَّرَ
    menggerakkan : حَرَّكَ
    menyerahkan : سَلَّمَ
    memasukkan : دَخَّلَ – يُذَخِّلُ
    memelihara, mendidik : رَبَّى – يُرَبِّي
    mengulangi : كَرَّرَ – يُكَرِّرُ
    meng-esa-kan : وَحَّدَ – يُوَحِّدُ
    menggembirakan : فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – فَرَِحْ – تَفْرِيْحًا – مُفَرِّحٌ – مُفَرَّحٌ – لَا تُفَرِّحْ
    digembirakan : فُرِّحَ – يُفَرَّحُ ↩︎
  14. Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab.
    Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
    Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar) ↩︎
  15. Fi’il ma’lum & Majhul: Baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’, keduanya dibagi lagi menjadi bentuk kata kerja aktif (fi’il ma’lum) dan bentuk kata kerja pasif (fi’il majhul).
    Fi’il ma’lum adalah kata kerja aktif yang pelakunya (subyek/fa’il) disebutkan di dalam kalimat, sedangkan fi’il majhul adalah kata kerja pasif yang pelakunya tidak disebutkan dan posisinya digantikan oleh obyek (maf’ul bih) yang disebut naibul fa’il. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja aktif biasanya yang mendapatkan awalan me– atau ber– (contoh: me-nyuruh, ber-henti), sedangkan kata kerja pasif biasanya dengan awalan di– (contoh: di-suruh, di-henti-kan).
    Fi’il madhi (ma’lum dan majhul):
    Fi’il madhi ma’lum adalah yang berawalan fathah. Contoh: كَتَبَ, سَأَلَ, فَهِمَ, فَهَّمَ, قَرَأَ, أَخْرَجَ
    Artinya: telah me-nulis, telah ber-tanya, telah paham, telah me-maham-kan, telah mem-baca, telah me-ngeluar-kan.
    Fi’il madhi majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris kasrah. Contoh: كُتِبَ, سُئِلَ, فُهِمَ, فُهِّمَ, قُرِأَ, أُخْرِجَ
    Artinya: telah di-tulis, telah di-tanya, telah di-pahami, telah di-paham-kan, telah di-baca, telah di-keluar-kan.
    Fi’il mudhari’ (ma’lum dan majhul):
    Fi’il mudhari’ ma’lum adalah yang berawalan fathah (atau dhammah). Contoh: يَكْتُبُ, يَسْأَلُ, يَفْهَمُ, يُفَهِّمُ, يَقْرَأُ, يُخْرِجُ
    Artinya: sedang/akan me-nulis, sedang/akan ber-tanya, sedang/akan paham, sedang/akan me-maham-kan, sedang/akan mem-baca, sedang/akan me-ngeluar-kan.
    Fi’il mudhari’ majhul adalah yang berawalah dhammah, sedang huruf sebelum akhirnya berbaris fathah. Contoh: يُكْتَبُ, يُسْأَلُ, يُفْهَمُ, يُفَهَّمُ, يُقْرَأُ, يُخْرَجُ
    Artinya: sedang/akan di-tulis, sedang/akan di-tanya, sedang/akan di-pahami, sedang/akan di-paham-kan, sedang/akan di-baca, sedang/akan di-keluar-kan. ↩︎

Response

Leave a Reply