
Mengapa Al-Qur'an Sulit Diterjemahkan? (Secara Lengkap/Utuh)
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-2)
DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-2)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#2) Hari ini, saya akan menjelaskan mengapa Al-Quran tidak dapat diterjemahkan dan apa artinya bagi Anda.
سَأُوَضِّحُ لَكُمْ الْيَوْمَ لِمَاذَا لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَةُ الْقُرْآنِ وَمَاذَا يَعْنِي ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ لَكُمْ
a. Kajian Kalimat…سَأُوَضِّحُ لَكُمْ الْيَوْمَ لِمَاذَا لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَةُ الْقُرْآنِ
سَأُوَضِّحُ لَكُمْ الْيَوْمَ لِمَاذَا لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَةُ الْقُرْآنِ
Hari ini, saya akan menjelaskan mengapa Al-Quran tidak dapat diterjemahkan,
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- Jumlah fi’liyyah yang terdiri dari:
- fi’il mudhari‘ أُوَضِّحُ yang didahului oleh huruf tanfis سَ
- fa’il dalam bentuk isim dhamir rafa’ muttasil أَنَا – أَ
- murakkab jar wa majrur لَكُمْ
- zharf zaman [manshub] الْيَوْمَ
- maf’ul bih لِمَاذَا لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَةُ الْقُرْآنِ dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari:
- isim istifham لِمَاذَا
- fi’il mudhari’ لَا يُمْكِنُ yang didahului oleh la nafiyah
- fa’il [marfu‘] berupa murakkab idhafiy تَرْجَمَةُ الْقُرْآنِ, terdiri dari:
- isim masdar [marfu‘] تَرْجَمَةُ
- mudhaf ilahi [majrur] الْقُرْآنِ
- Jumlah fi’liyyah yang terdiri dari:
- Dalam ilmu nahwu, ini adalah kalimat verbal (jumlah fi’liyyah)1 dengan kata kerja bentuk sekarang (fi’il mudhari’ 2 ) أُوَضِحُ (saya menjelaskan), yang didahului oleh huruf tanfis sa سَ 3 yang artinya “akan, segera“.
- Fi’il ini أُوَضِحُ (menjelaskan) dalam ilmu shorof masuk kategori pola no. 7 أَفْعَلَ 4 pada tabel tashrif, yaitu أَوْضَحَ – يُوْضِحُ (untuk dhamir ghoib/orang ketiga), adapun untuk dhamir mutakallim/orang pertama/saya menjadi أَوْضَحْتُ – أُوْضِحُ . Ini adalah fi’il muta’addi 5 yaitu memerlukan obyek.
- Note: harap bedakan dengan fi’il lazim-nya 6(tanpa obyek), yaitu وَضَحَ – يَضِحُ (menjadi jelas/terang). Dan ini masuk kategori pola no. 3 7 dalam tabel tashrif. Perlu diketahui, memang wazan أَفْعَلَ salah satu fungsinya adalah merubah fi’il lazim فَعَلَ menjadi bentuk fi’il muta’addi.
- Lafadz لَكُمْ (bagi/kepada kalian) adalah murakkab jar wa majrur 8 , dengan huruf jar ل dan isim majrurnya berupa isim dhamir كُمْ (kalian) 9.
- Lafadz الْيَوْمَ adalah maf’ul fih atau zharf zaman 10 (keterangan waktu) dengan kaidah i’rab manshub/fathah.
- Lafadz لِمَاذَا (mengapa, kenapa) adalah isim istifham (kata tanya) 11 .
- Frase لَا يُمْكِنُ (tidak mungkin, tidak bisa) adalah fi’il mudhari’ yang didahului huruf penyangkalan (la nafiyah) لَا (tidak) 12 . Huruf ini tidak berpengaruh pada harakat, sehingga fi’il yang mengikutnya يُمْكِنُ tetap berharakat marfu‘ (kondisi awal fi’il mudhari’).
- Kata kerja يُمْكِنُ membutuhkan subyek/fa’il, dalam kalimat ini fa’il nya adalah تَرْجَمَةُ (terjemahan) dengan kaidah fa’il adalah marfu’/dhammah. Ini adalah isim masdar 13 dari kata kerja تَرْجَمَ – يُتَرْجِمُ (menerjemahkan).
- Lafadz الْقُرْآنِ (bacaan) adalah mudhaf ilaihi 14yang kepadanya mudhaf تَرْجَمَةُ disandarkan. Kaidah untuk mudhaf ilaih adalah majrur. Kata ini adalah juga isim masdar, yaitu dari kata kerja قَرَأَ – يَقْرَأُ (membaca). Itulah juga mengapa al-qur’an yang arti harfiahnya adalah ‘bacaan‘ adalah memang untuk ‘hal utama’ yang default-nya untuk dibaca.
b. Kajian kalimat…مَاذَا يَعْنِي ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ لَكُمْ
مَاذَا يَعْنِي ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ لَكُمْ
apa artinya bagi Anda.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- huruf istifham مَاذَا
- fi’il mudhari’ lazim يَعْنِي
- fa’il berupa isim isyarah ذَلِكَ
- muta’alliq bil fi’li بِالنِّسْبَةِ , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq (hurur jar) بِا
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq النِّسْبَةِ berbentuk masdar
- muta’alliq bil masdar لَكُمْ , yang terdiri dari :
- huruf ta’alluq (hurur jar) لِ
- obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq كُمْ berbentuk dhamir jar muttasil.
- Lafadz مَاذَا adalah huruf istifham (kata tanya, artinya: apa) sebagaimana lafadz لِمَذَا yang dijelaskan diatas.
- Lafadz يَعْنِي adalah kata kerja/fi’il yang artinya “berarti, artinya“, dan merupakan fi’il lazim (tidak memerlukan obyek).
- Lafadz ذَلِكَ (itu, lk.) adalah kata tunjuk (isim isyarah).
- Frase kalimat بِالنِّسْبَةِ لَكُمْ (berdasarkan hubungan/kaitan-nya dengan kalian, bagi kalian) adalah bentuk muta’alliq bil fi’li 15 بِالنِّسْبَةِ , dan diikuti oleh muta’alliq bil masdar لَكُمْ yang menjelaskan masdar sebelumnya النِّسْبَةِ .
- Kata نِسْبَةُ adalah isim masdar yang berasal dari kata kerja نَسَبَ (menasabkan, menisbahkan, menghubungkan dengan).
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 5 EPISODE (LINK)
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 5 Episode sebagai berikut:
A. Kekayaan Makna – Tantangan Dalam Menerjemah Al-Qur’an
B. Kedalaman Bahasa Arab dan Sistem Orientasi Akar Kata
C. Pilihan Susunan Kata Dalam Setiap Ayat dan Pengaruh dalam Penekanan Makna
D. Suara & Irama Keselarasan Ayat Yang Tidak Bisa Diterjemahkan
E. Jalan Menuju Pemahaman
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
…Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (The Story – Full 5 Episodes)…
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
YouTube By: StartIslamPath
Judul: Why the Quran is Impossible to Translate (The Science of Arabic) https://youtu.be/SmN1VjqbJM0?si=vonQ3QeIWgX03uZi
Baca kajian sesudahnya… Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-3) …
Baca kajian sebelumnya … Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-1) …
Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
- Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎ - Huruf tanfis sa سَ artinya “akan”, berfungsi untuk mengubah waktu perbuatan pada fi’il mudhari yang awalnya bermakna umum atau sedang terjadi, menjadi khusus untuk masa depan yang dekat. Huruf sa سَ tidak berpengaruh pada harakat fi’il sesudahnya.
Contoh: سَأُوَضِحُ
artinya: saya akan (segera, dalam waktu dekat) menjelaskan ↩︎ - Pola tashrif 7: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ – أَفْعِلْ – إِفْعَالًا – مُفْعِلٌ، مُفْعَلٌ – أُفْعِلَ – يُفْعَلُ
Fungsi utamanya adalah menjadikan transitif. Wazan ini mengubah kata kerja yang tadinya tidak butuh objek (intransitif) menjadi butuh objek (transitif), atau menambah jumlah objeknya. Kadang juga menunjukkan waktu/tempat.
Faidah/arti fi’il dengan wazan أَفْعَلَ diantaranya :
1. Me-nurun-kan — أَنْزَلَ
2. Menjadi berbuah — أَثْمَرَ
3. Mendapatinya lalai — أَغْفَلَ
4. Masuk waktu subuh — أَصْبَحَ
5. Waktunya panen — أَحْصَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
memberitahu : أَعْلَمَ
menginfaqkan : أَنْفَقَ
membereskan : أَصْلَحَ
memasukkan : أَذْخَلَ
menetapkan : أَثْبَتَ
menurunkan : أَنْزَلَ
berbuat baik : أَحْسَنَ – يُحْسِنُ
berserah diri, masuk islam : أَسْلَمَ – يُسْلِمُ
memuliakan : أَكْرَمَ
memahami : أَفْهَمَ
mengenakan (pakaian) : أَلْبَسَ
mengeluarkan : أَخْرَجَ – يُخْرِجُ
menyiapkan: أَعَدَّ – يُعِدּُ
mengadakan, mewujudkan : أَوْجَدَ – يُوجِدُ
menyampaikan, menghubungkan : أَوْصَلَ – يُوصِلُ
menginginkan, menghendaki : أَرَادَ – يُرِيدُ
memberi : أَعْطَى – يُعْطِي
melempar, menyampaikan : أَلْقَى – يُلْقِي
menjadi berbuah : أَثْمَرَ
menjadi berdaun : أَوْرَقَ
mendirikan, menegakkan : أَقَامَ – يُقِيمُ – أَقِمْ – إَقَامَةٌ – مُقِيْمٌ – مُقَامٌ – لَا تَقِمْ
didirikan, ditegakkan: أُقِيْمَ – يُقِيْمُ ↩︎ - Fi’il muta’adi فِعْلٌ مُتَعَدِّي :memerlukan obyek setelahnya, contoh:
a) أَكَلَ الخُبْزَ memakan roti
b) ضَرَبَ الكَلْبَ memukul anjing ↩︎ - Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh: a) جَلَسَ duduk
b) قامَ berdiri ↩︎ - Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ ↩︎ - Frase kalimat disebut Tarkib atau Murakkab dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy: Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya Kitabun Muhammadin(Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Mausuf / Na’t dan Man’ut), contohnya Al-Manjilu Kabir (Rumah yang besar).
Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan), contohnya Fil baiti (Di dalam rumah).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya Hazal kalamu (pulpen ini). ↩︎ - Isim dhomir/ kata ganti orang: (dalam bentuk sendiri – sbg. subyek – sbg obyek)
Orang kesatu tunggal : أَنا, نَهْنُ – saya, kami
Orang kedua: أَنْتَ، أَنْتِ, أَنْتُمْ – kamu lk., kamu pr., kalian
Orang ketiga: هُوَ، هِيَ، هُمْ – dia lk., dia pr., mereka, ↩︎ - Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):
Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf Zaman (baina, bainama, al-aana, nahaaron, masaa’an, ghodan, shobaahan, laylan)
Contoh Zharf Zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu):
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang)
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang). ↩︎ - Isim Istifham/ kata tanya, seperti
_ مَنْ siapa
_ كَمْ berapa
_ كَيْفَ bagaimana
_ مَتَى kapan
_ مَاذَا apa
_ لِمَاذَا mengapa, kenapa
_ أَيْنَ mana
Ada juga istifham berupa huruf, bukan isim: _ هَلْ apakah
_ مَا apakah ↩︎ - Huruf la nafiyah لَا dan مَا fungsinya untuk meniadakan atau menegasikan suatu perbuatan (artinya menjadi ‘tidak‘). Huruf la tidak berpengaruh pada harakat kata kerja sesudahnya.
Contoh: لَا يُمْكِنُ
artinya: tidak mungkin, tidak bisa ↩︎ - Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, namun tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎ - Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎ - Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎
Leave a Reply