
Mengapa Al-Qur'an Sulit Diterjemahkan? (Secara Lengkap/Utuh)
(Kajian Nahwu-Shorof Seri-4)
DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)
Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:
- Materi Ilmu Nahwu (Uraian Ringkas).
- Materi Ilmu Shorof (Uraian Ringkas).
- Tabel Shorof/ Tashrif yang merangkum Pola Tashrif berisi 20 Pola Wazan.
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF (KALIMAT-4)
Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.
#4) Hari ini, kita akan membahas salah satu pertanyaan paling menarik tentang Al-Quran. Mengapa para ilmuwan sendiri mengatakan bahwa ia tidak dapat diterjemahkan? Klik tombol berlangganan dan mari kita mulai.
الْيَوْمَ سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ. لِمَاذَا يَقُولُ الْعُلَمَاءُ أَنْفُسُهُمْ أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَتُهَا. اضْغَطْ عَلَى زِرِّ الِاشْتِرَاكِ وَلْنَبْدَأْ
a. Kajian Kalimat…الْيَوْمَ سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ.
الْيَوْمَ سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ.
Hari ini, kita akan membahas salah satu pertanyaan paling menarik tentang Al-Quran.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- zharf zaman 1 [manshub] الْيَوْمَ (hari ini) +
- huruf mabni tanfis 2 سَ (akan, segera langsung) +
- jumlah fi’liyyah 3 (kalimat verbal) yang terdiri dari fa’il, fi’il, dan maf’ul bih, dengan susunan lengkap dibawah ini:
- fi’il mudhari’ 4 muta’addi نَتَنَاوَلُ (wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ ), yang termasuk didalamnya fa’il berbentuk isim dhamir mustatir 5 نَ (نَحْنُ) +
- maf’ul bih komplek أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ yang terdiri dari:
- idhafah-1 6 : أَحَدَ أَكْثَرِ , yang terdiri dari:
- mudhaf yang adalah maf’ul bih utama [manshub] أَحَدَ +
- mudhaf ilaih [majrur] أَكْثَرِ berupa isim tafdhil
- idhafah-2: أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ, yang terdiri dari:
- Isim tamyiz 9 إِثَارَةً + jar wa majrur لِلِاهْتِمَامِ
- idhafah حَوْلَ الْقُرْآنِ yang terdiri dari:
- mudhaf yang berupa zharf makan حَوْلَ +
- mudhaf ilaih [majrur] berupa isim makrifah 10 الْقُرْآنِ
- idhafah-1 6 : أَحَدَ أَكْثَرِ , yang terdiri dari:
- Lafadz نَتَنَاوَلُ masuk kategori pola no.13 11 pada tabel tashrif yang artinya “menangani, memperlakukan, mendiskusikan, makan“
- Lafadz أَكْثَرِ disini adalah isim tafdhil 12 yang artinya “paling banyak“, adapun apabila diikuti oleh huruf jar مِنْ maka artinya menjadi “lebih banyak“.
- Lafadz إِثَارَةً adalah isim tamyiz 13 yang artinya “pembangkitan“, dan merupakan bentuk isim masdar 14 dari kata kerja أَثَارَ (merangsang, memotivasi, menimbulkan, mendorong).
- Lafadz اِهْتِمَامِ yang artinya “perhatian, kepedulian, pemikiran” adalah isim masdar dari kata kerja اِهْتَمَّ yang artinya “tertarik, memperhatikan, peduli, memikirkan“.
- Secara gabungan frase إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ menjadi berarti “menarik perhatian“
- Lafadz الْقُرْآنِ artinya “al-Qur’an, bacaan” adalah isim masdar dari kata kerja قَرَأَ – يَقْرَأُ yang artinya “membaca, menceritakan“.
b. Kajian kalimat… لِمَاذَا يَقُولُ الْعُلَمَاءُ أَنْفُسُهُمْ أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَتُهَا. اضْغَطْ عَلَى زِرِّ الِاشْتِرَاكِ وَلْنَبْدَأْ
لِمَاذَا يَقُولُ الْعُلَمَاءُ أَنْفُسُهُمْ أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَتُهَا. اضْغَطْ عَلَى زِرِّ الِاشْتِرَاكِ وَلْنَبْدَأْ
Mengapa para ilmuwan sendiri mengatakan bahwa ia tidak dapat diterjemahkan? Klik tombol berlangganan dan mari kita mulai.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- Isim istifham [mabni] 15 لِمَاذَا (mengapa)
- fi’il mudhari’ 16 يَقُولُ (dia mengatakan)
- fa’il [marfu‘] الْعُلَمَاءُ (para ulama) dalam bentuk isim jamak taksir 17
- Isim taukid 18 أَنْفُسُهُمْ (mereka sendiri), dengan i’rab mengikuti fa’il [marfu‘]
- Kalimat inna 19 أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَتُهَا, yang terdiri dari:
- Huruf أَنَّ + isim inna dalam bentuk isim dhamir nashab 20 هُوَ – هُ (dia lk.)
- khabar inna [marfu‘] dalam bentuk jumlah fi’liyyah لَا يُمْكِنُ تَرْجَمَتُهَا, yang terdiri dari:
- Jumlah fi’liyyah اضْغَطْ عَلَى زِرِّ الِاشْتِرَاكِ وَلْنَبْدَأْ, yang terdiri dari:
- Fi’il amr [majzum] 23 اضْغَطْ (tekan, klik)
- Obyek tak langsung (muta’alliq bil fi’li) dalam bentuk Murakkab jar wa majrur 24 عَلَى زِرِّ الِاشْتِرَاكِ yang terdiri dari :
- Huruf ta’alluq/ jar عَلَى (diatas)
- Obyek/isim majrur muta’alliq زِرِّ الِاشْتِرَاكِ (tombol berlangganan)
- Huruf athaf 25 وَ (dan)
- Huruf li ‘amr 26 لِ (agar, ayo)
- Fi’il amr [majzum] نَبْدَأْ (kita mulailah) dengan dhamir rafa’ 27 نَحْنُ – نَ (kami)
- Lafadz الْعُلَمَاءُ adalah bentuk jamak dari mufrad/tunggal-nya الْعَالِمُ (orang yang tahu/ber’ilmu) yang dalam bahasa inggris disebut ‘ilmuwan‘. Lafadz الْعَالِمُ itu sendiri adalah bentuk isim fa’il 28 dari kata kerja عَلِمَ (mengetahui, menemukan).
- Lafadz الِاشْتِرَاكِ (keikutsertaan, partisipasi, berlangganan) adalah bentuk isim masdar dari fi’il اِشْتَرَكَ (ikut serta) yang masuk kategori pola tashrif no. 10 29 dalam tabel tashrif.
III._ARTIKEL LENGKAP (INDO-ARABIC), DALAM 5 EPISODE (LINK)
Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri, dalam 5 Episode sebagai berikut:
A. Kekayaan Makna – Tantangan Dalam Menerjemah Al-Qur’an
B. Kedalaman Bahasa Arab dan Sistem Orientasi Akar Kata
C. Pilihan Susunan Kata Dalam Setiap Ayat dan Pengaruh dalam Penekanan Makna
D. Suara & Irama Keselarasan Ayat Yang Tidak Bisa Diterjemahkan
E. Jalan Menuju Pemahaman
Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:
…Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (The Story – Full 5 Episodes)…
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
YouTube By: StartIslamPath
Judul: Why the Quran is Impossible to Translate (The Science of Arabic) https://youtu.be/SmN1VjqbJM0?si=vonQ3QeIWgX03uZi
Baca kajian sebelumnya … Mengapa Al-Qur’an Sulit Diterjemahkan (Kajian-3) …
Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (The Story – Full 5 Episodes) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
- Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
Zharf Makan (amaama, waro’a, fauqo, yamiina, yasiiro):
Contoh Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat):
a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
Zharf Zaman (baina, bainama, al-aana, nahaaron, masaa’an, ghodan, shobaahan, laylan)
Contoh Zharf Zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu):
b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang)
a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang). ↩︎ - Huruf tanfis sa سَ artinya “akan”, berfungsi untuk mengubah waktu perbuatan pada fi’il mudhari yang awalnya bermakna umum atau sedang terjadi, menjadi khusus untuk masa depan yang dekat. Huruf sa سَ tidak berpengaruh pada harakat fi’il sesudahnya.
Contoh: سَأُوَضِحُ
artinya: saya akan (segera, dalam waktu dekat) menjelaskan ↩︎ - Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎ - Isim dhamir mustatir (ضَمِيرُ مُسْتَتِرُ) adalah kata ganti (dhamir) dalam bahasa arab yang tersembunyi atau tidak tampak wujudnya secara lafal (tertulis atau terdengar), tetapi keberadaannya tetap ada dan tersimpan di dalam suatu kata kerja (fi’il) sebagai pelaku (fa’il).
Berikut rincian/macam dhamir mustatir sesuai dengan fa’il-nya:
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf ta’ untuk muthatab أَنْتَ (kamu, orang kedua tunggal laki-laki) , contohnya: تَذْهَبُ (kamu pergi) .
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf hamzah untuk mutakallim أَنَا (saya, orang pertama tunggal), contohnya: أَنْظُرُ (saya memandang).
Fi’il mudhari’ yang diawali huruf nun untuk mutakallim ma’al ghair نَحْنُ (kami/kita, orang pertama jamak), contohnya: نَقْرَأُ (kami/kita membaca).
Fi’il amr (kata perintah), otomatis untuk orang kedua tunggal laki-laki أَنْتَ (kamu), contohnya: إجْلِسْ (duduklah!) . ↩︎ - Idhafah terjadi pada mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎ - 1. Isim mufrad/ tunggal. Contoh: مُسْلِمٌ، مسلمَةٌ (muslim lk., pr), مُدَرِّسٌ، مدرسَةٌ (guru lk., pr).
2. Isim mutsanna/ ganda. Tambah akhiran ‘ani’ ـانِِ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمانِ، مسلمَتانِ (dua muslim lk., pr), مُدَرِّسانِ، مدرسَتانِ (dua guru lk., pr).
3. Isim jamak mudzakkar salim. Tambah akhiran ‘uuna’ ـُوْنَ didepan kata tunggalnya. Contoh: مُسْلِمُوْنَ (para muslim), مُدَرِّسُوْنَ (para guru).
4. Isim jamak muannats salim. Huruf ta’ marbutoh dihilangkan dari kata tunggalnya, lalu diganti dengan akhiran ‘aatun ـَاتٌ . Contoh: مُسْلِمَاتٌ (para muslimah), مُدَرِّسَاتٌ (para guru wanita).
5. Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena). ↩︎ - 1. Isim mudzakkar: kata benda laki-laki atau yang dianggap laki-laki. Isim ini tidak pernah diakhiri dengan ta’ marbutoh (ة), Contoh: رَجُلٌ (seorang pria)
2. Isim muannats: kata benda perempuan, biasanya ditandai ta’ marbutoh (ة) di akhir. Contoh: فَتاةٌ (seorang gadis), فاتِمَةٌ (Fatimah) ↩︎ - Isim tamyiz adalah isim yang disebut setelah isim/ keadaan samar, untuk memperjelas.
Contoh اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كِتَابًا Saya membeli 5 buku خمسة belum jelas 5 apa
Maka كِتابًا menjadi penjelas (Tamyiz)
Isim tamyiz bisa juga muncul untuk menperjelas kesamaran dari isim tafdhil yang disebutkan sebelumnya. Dalam hal ini, isim tamyiz-nya haruslah dalam bentuk isim naqirah manshub, jatuh setelah isim tafdhil untuk memperjelas sisi kelebihan tersebut. Contoh:
Contoh: سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ (kita akan membahas salah satu pertanyaan paling menarik tentang Al-Quran.)
Pada kalimat ini, isim tafdhil أَكْثَرُ (paling) belum jelas “pertanyaan paling…apa?”, disinilah fungsi isim tamyiz إِثَارَةً (pembangkitan…bagi perhatian لِلِاهْتِمَامِ ). ↩︎ - Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.
Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku). ↩︎ - Pola tashrif 13: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعَلْ- تَفَاعُلًا- مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ – تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
Pola wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ biasanya digunakan untuk menunjukkan makna saling melakukan (musyarakah) antara dua pihak atau lebih, atau berpura-pura.
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَاعَلَ diantaranya :
1. Saling ber-damai — تَصَالَحَ
2. Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
3. Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
4. = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
5. Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
saling menolong, bekerja sama: تَعَاوَنَ – يَتَعَاوَنُ
saling bersalaman : تَصَافَحَ – يَتَصَافَحُ
mengabaikan, pura-pura tidak tahu : تَجَاهَلَ – يَتَجَاهَلُ
pura-pura sakit : تَمَارَضَ – يَتَمَارَضُ
pura-pura tidur : تَنَاوَمَ – يَتَنَاوَمُ
pura-pura lalai : تَغَافَلَ
saling bertanya : تَسَاءَلَ
bercakap-cakap : تَحَادَثَ
saling menjauh : تَبَاعَدَ
berdekat-dekatan : تَقَارَبَ
bermain-main : تَلَاعَبَ
saling bertukar : تَبَادَلَ – يَتَبَادَلُ – تَبَادَلْ – تَبَادُلًا – مُتَبَادِلٌ – مُتَبَادَلٌ – لَا تَتَبَادَلْ – مُتَبَادَلٌ
saling dipertukarkan : تُبُودِلَ – يُتَبَادَلُ ↩︎ - Isim tafdhil adalah kata benda sifat (musytaq) yang menyatakan makna lebih atau paling/ter-, yang menunjukkan bahwa dua hal atau lebih memiliki sifat yang sama tapi salah satunya lebih unggul dari yang lain. Isim tafdhil mengikuti pola wazan أَفْعَلُ untuk bentuk mudzakkar, dan wazan فُعْلَى untuk bentuk muannats.
Isim tafdhil kebanyakan mengambil kata dasarnya dari kata sifat dan disesuaikan wazannya mengikuti pola diatas, dan berikut beberapa contohnya:
Kata sifat كَثِيْرٌ (banyak), menjadi أَكْثَرُ (lebih banyak, paling banyak)
Kata sifat كَبِيرٌ (besar), menjadi أَكْبَرُ (lebih besar, paling besar)
Contoh lain: أَصْغَرُ (lebih/paling kecil), أَحْسَنُ (…baik), أَعْلَمُ (…tahu), أَجْمَلُ (…indah)
Pembagian makna dan penggunaan:
Untuk arti “lebih” biasanya diikuti dengan huruf jar مِنْ (dari)
Contoh: الشَّمْسُ أَكْبَرُ مِنْ الأَرْضِ (matahari lebih besar dari bumi)
Untuk arti “paling/ter-” biasanya berposisi sebagai mudhaf atau ber-alif lam tanpa diikuti مِنْ .
Contoh: هُوَأَفْضَلُ صَدِيْقٍ (dia kawan terbaik) ↩︎ - Isim tamyiz dalah isim yang disebut setelah isim/ keadaan samar, untuk memperjelas.
Contoh اِشْتَرَيْتُ خَمْسَةَ كِتَابًا Saya membeli 5 buku خمسة belum jelas 5 apa
Maka كِتابًا menjadi penjelas (Tamyiz)
Isim tamyiz bisa juga muncul untuk menperjelas kesamaran dari isim tafdhil yang disebutkan sebelumnya. Dalam hal ini, isim tamyiz-nya haruslah dalam bentuk isim naqirah manshub, jatuh setelah isim tafdhil untuk memperjelas sisi kelebihan tersebut. Contoh:
Contoh: سَنَتَنَاوَلُ أَحَدَ أَكْثَرِ الْأَسْئِلَةِ إِثَارَةً لِلِاهْتِمَامِ حَوْلَ الْقُرْآنِ (kita akan membahas salah satu pertanyaan paling menarik tentang Al-Quran.)
Pada kalimat ini, isim tafdhil أَكْثَرُ (paling) belum jelas “pertanyaan paling…apa?”, disinilah fungsi isim tamyiz إِثَارَةً (pembangkitan…bagi perhatian لِلِاهْتِمَامِ ). ↩︎ - Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, namun tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎ - 3. Isim Istifham/ kata tanya, seperti
_ مَنْ siapa
_ كَمْ berapa
_ كَيْفَ bagaimana
_ مَتَى kapan
_ مَاذَا apa
_ لِمَاذَا mengapa, kenapa
_ أَيْنَ mana
Ada juga istifham berupa huruf, bukan isim: _ هَلْ apakah
_ مَا apakah ↩︎ - Fi’il Mudhari’ (فعل مضارِع) : untuk masa sekarang atau yang akan datang. Fi’il Mudhari’ adalah akar kata (الجَدْر) dari semua bentuk kata lain turunannya (المُشتَقات). Cirinya, diawali dengan huruf mudhara’ah, yaitu huruf Alif, nun, ya, ta (أ ن ي ت). Contoh untuk kata dasar يَفْعَلُ (‘dia’ sedang/akan melakukan):
Mutakallim (orang kesatu): أَفْعَلُ, نَفْعَلُ– saya, kami (melakukan)
Mukhathabah (orang kedua): تَفْعَلُ, تَفْعَلِيْنَ, تَفْعَلَانِ, تَفْعَلُوْنَ, تَفْعَلْنَ – kamu lk., kamu pr., kamu berdua, kalian lk., kalian pr. (melakukan)
Ghoib (orang ketiga): يَفْعَلُ, تَفْعَلُ, يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفْعَلُوْنَ, يَفْعَلْنَ – dia lk., dia pr., dia berdua lk., dia berdua pr., mereka lk., mereka pr. (melakukan) ↩︎ - Isim Jamak Taksir (plural tidak beraturan). Isim ini tidak memiliki aturan perubahan tertentu dari kata tunggalnya, makanya perlu dihafal per kata sesuai kamus. Contoh: كتاب menjadi كُتُبٌ (banyak buku), بيت menjadi بُيُوْتٌ (banyak rumah, قلم menjadi أَكْلَامٌ (banyak pena).↩︎
- Isim Taukid:
Isim taukid adalah isim yang mengikuti isim lainnya yang berfungsi menguatkan arti dan menghilangkan keraguan si pendengar.Contoh:
قَابَلْتُ الْمَلِكَ نَفْسَهُ. Saya menemui raja itu sendiri.
Keduanya Manshub karena isim yang diikuti sebagai obyek.Yang dimaksud penguat karena yang ditemui adalah raja itu sendiri, bukan wakil atau utusannya.
Beberapa lafazh Taukid:
النفس. Dia sendiri
العَيْن. Dengan mata sendiri
كُلُّ. Seluruhnya
أجْمَعَ. Semuanya ↩︎ - Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada‘ menjadi manshub (disebut isim inna), dan membuat khabar menjadi marfu‘ (disebut khabar inna).
Contoh: Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
Saudara-saudara inna: 1) لَكِنَّ، tetapi
2) Sesungguhnya أَنَّ
3) كَأنَّ. Seolah-olah
4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
5) لَيْتَ. Ingin sekali
لَا 6 . tidak, tidak ada, contoh: لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎ - b. Dhamir nashab
Cara penulisan (madhi – mudhari‘) :
Dhamir nashab mutakallim (orang kesatu): Saya: [ أَمَرَنِي – يَأْمُرُنِي ] dia menyuruh saya
Kami: [ أَمَرَنَا – يَأْمُرُنَا ] dia menyuruh kami
Dhamir nashab mukhatab (orang kedua): Kamu lk.: [ أَمَرْتُكَ – آمُرُكَ ] saya menyuruh kamu lk.
Kamu pr.: [ أَمَرْتُكِ – آمُرُكِ ] saya menyuruh kamu pr.
Kalian: [ أَمَرْتُكُمْ – آمُرُكُمْ ] saya menyuruh kalian
Kalian berdua: [ أَمَرْتُكُمَا – آمُرُكُمَا ] saya menyuruh kalian berdua
Dhamir nashab ghoib (orang ketiga): Dia lk.: [ أَمَرْتُهُ – آمُرُهُ ] saya menyuruh dia lk.
Dia pr.: [ أَمَرْتُهَا – آمُرُهَا ] saya menyuruh dia pr.
Mereka lk.: [ أَمَرْتُهُمْ – آمُرُهُمْ ] saya menyuruh mereka lk.
Mereka pr.: [ أَمَرْتُهُنَّ – آمُرُهُنَّ ] saya menyuruh mereka pr.
Mereka berdua: [ أَمَرْتُهُمَا – آمُرُهُمَا ] saya menyuruh mereka berdua ↩︎ - Huruf la nafiyah لَا dan مَا fungsinya untuk meniadakan atau menegasikan suatu perbuatan (artinya menjadi ‘tidak‘). Huruf la tidak berpengaruh pada harakat kata kerja sesudahnya.
Contoh: لَا يُمْكِنُ
artinya: tidak mungkin, tidak bisa ↩︎ - Dhamir majrur (sebagai mudhaf)
Isim dhamir majrur muttasil adalah isim dhamir yang kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi yang irab-nya majrur/kasrah (fi mahalli jarrin mudhaf ilaih), dan dituliskan menempel di akhir kata benda/isim yang menjadi mudhaf-nya. Kedudukan ini menunjukkan kepemilikan (posesif) seperti “rumahku“, “kemejamu“, “mobil dia“.
Berikut cara penulisan dhamir majrur:
Orang pertama (mutakallim/pembicara): Saya: كِتَابِي – buku saya
Kami: كِتَابُنَا – buku kami
Orang kedua (mukhatab/orang yang diajak bicara): Kamu lk.: كِتَابُكَ – buku kamu lk.
Kamu pr.: كِتَابُكِ – buku kamu pr.
Kalian lk.: كِتَابُكُمْ – buku kalian lk.
Kalian pr.: كِتَابُكُنَّ – buku kalian pr.
Kalian berdua: كِتَابُكُمَا – buku kalian berdua
Orang ketiga (ghoib/orang yang dibicarakan): Dia lk.: كِتَابُهُ – buku dia lk.
Dia pr.: كِتَابُهَا – buku dia pr.
Mereka lk.: كِتَابُهُمْ – buku mereka lk.
Mereka pr.: كِتَابُهُنَّ – buku mereka pr.
Mereka berdua: كِتَابُهُمَا – buku mereka berdua
Catatan penting:
Untuk dhamir orang ketiga yang diawali huruf Ha (ـهُ / ـهُمَا / ـهُمْ / ـهُنَّ), harakatnya akan berubah menjadi kasrah (ـهِ / ـهِمَا / ـهِمْ / ـهِنَّ) jika isim (mudhaf) di depannya diakhiri dengan harakat kasrah atau huruf Ya sukun (يْ).
Contoh normal: بَيْتُهُ (rumah dia lk.)
Contoh perubahan-1: فِي بَيْتِهِ (di rumah dia lk.) << harakatnya ikut berubah menjadi kasrah. ↩︎ - Cirinya huruf akhir biasanya berharakat sukun, atau membuang huruf ilat (و، أ، ي), atau nun (ن).
Contoh:
Contoh: اِفْتَحْ bukalah, اِجْلِسْ duduklah, اِقْرَأْ bacalah
Rincian fi’il amr, contoh untuk kata kerja dasar fi’il madhinya جَلَسَ (duduk): Kamu tunggal: اِجْلِسْ, اِجْلِسِيْ kamu lk., kamu pr., (duduklah)
Kamu berdua: اِجْلِسَا kamu berdua (duduklah)
Kalian/kamu sekalian: اِجْلِسُوا, اِجْلِسْنَ kalian lk., kalian pr. (duduklah)
Ungkapan-ungkapan umum bentuk perintah/’amr’: a) اُكْتُبْ (tulislah!)
b) صَهْ (Sah) = Diamlah!
c) آمِين (Aamiin) = Kabulkanlah!
d) حَيَّ (Hayya) = Kemarilah / mari! (seperti dalam azan).
e) هَيَّا (Hayyaa) = Ayo!
f) إِلَيْكَ عَنِّي (Ilaika ‘annii) = Menjauhlah dariku! ↩︎ - 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Jar wa Majrur, Isyariy
Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎ - Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
Daftar huruf Athaf:
a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah
Contoh:
جاءَ حامِدٌ و عَلِيٌ (memakai huruf athaf و ) ↩︎ - Huruf-huruf/Isim jazm adalah huruf/Isim yang membuat fi’il mudhari‘ menjadi majzum (ber-harakat sukun), dan terdiri dari dua kelompok;
a. Huruf Jazm yang membuat majzum satu fi’il.
Huruf لَمْ (tidak), contoh: لَمْ آكُلْ
artinya: saya tidak makan
Huruf لَمَّا (belum), contoh: لَمَّا يَذْهَبْ
artinya: dia belum pergi
Huruf أَلَمْ (apakah tidak), contoh: أَلَمْ نَشْرَحْ
artinya: apakah kami tidak melapangkan
Huruf أَلَمَّا (apakah belum), contoh: أَلَمَّا يَحْضُرْ أَبُوْكَ؟
artinya: apakah ayahmu belum datang
Huruf لِ li amr (lam yang berarti perintah), contoh: لِيَخْرُجْ
artinya: hendaklah/suruh dia keluar
Huruf لَا laa nahiyah (yang berarti melarang, jangan), contoh: لَا تَجْلِسْ
artinya: jangan kau duduk ↩︎ - Dhamir Rafa’.
Cara penulisan [fi’il madhi – mudhari‘]:
Dhamir rafa’ mutakallim (orang kesatu)
ذَهَبَ+أنا» [ ذَهَبْتُ – أَذْهَبُ ]. Saya pergi.
ذَهَبَ+نَهْنُ» [ ذَهَبْنَا – نَذْهَبُ ]. Kami pergi.
Dhamir rafa’ mukhatab (orang kedua): ذَهَبَ+أنتَ » [ ذَهَبْتَ – تَذْهَبُ ]. Kamu lk. pergi
ذَهَبَ+أنتِ » [ ذَهَبْتِ – تَذْهَبِيْنَ]. Kamu pr. pergi
ذَهَبَ+أنتُمْ » [ ذَهَبْتُمْ – تَذْهَبُوْنَ]. Kalian lk. pergi
ذَهَبَ+أنتُنَّ » [ ذَهَبْتُنَّ – تَذْهَبْنَ ]. Kalian pr. pergi
ذَهَبَ+أنتُمَا » [ ذَهَبْتُمَا – تَذْهَبَا ]. Kalian berdua pergi
Dhamir rafa’ ghoib
ذَهَبَ+هُوَ » [ ذَهَبَ – يَذْهَبُ ]. dia lk. pergi
ذَهَبَ+هِيَ » [ ذَهَبَتْ – تَذْهَبُ ]. dia pr. pergi
ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبُوا – يَذْهَبُوْنَ ]. Mereka lk. pergi. Perhatikan bentuknya ـُوا
ذَهَبَ+أولٰئِكَ » [ ذَهَبْنَ – يَذْهَبْنَ ]. mereka pr. pergi
ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَا – يَذْهَبَا ]. mereka berdua lk. pergi
ذَهَبَ+هُمَا » [ ذَهَبَتَا – يَذْهَبَتَا ]. mereka berdua pr. pergi ↩︎ - Isim fa’il adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ, contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan). ↩︎ - Wazan ini memiliki beberapa fungsi, namun yang paling umum adalah Mutawa’ah (dampak dari suatu perbuatan) dan Ittikhadz (membuat/mengambil sesuatu).
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْتَعَلَ diantaranya :
1. Maka menjadi ter-kumpul — فَاِجْتَمَعَ
2. Membikin roti — اِخْتَبَزَ
3. Telah sungguh2 me-ndengarkan — اِسْتَمَعَ
4. Sama2 ber-debat — اِخْتَصَمَ
5. = mujarrad, menarik — اِرْتَقَى = رَقَى
6. Menuntut agar bekerja keras — اِكْتَدَّ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
mendengar : اِسْتَمَعَ
mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ
berpegang teguh : اِعْتَصَمَ
menerima : اِسْتَلَمَ
memilih : اِصْطَفَى
bercerai : اِفْتَرَقَ
menang : اِنْتَصَرَ
memulai : اِبْتَدَأَ – يَبْتَدِئُ
menjadi dekat : اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ
menyimak, mendengar : اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ
menganggap, mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ – يَعْتَبِرُ
bersungguh-sungguh : اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ
berkumpul : اِجْتَمَعَ – يَجْتَمَعُ – اِجْتَمِعْ – اِجْتِمَاعًا – مُجْتَمِعٌ – مُجْتَمَعٌ – لَا تَجْتَمِعْ
dikumpulkan : اُجْتُمِعَ – يُجْتَمَعُ ↩︎
Leave a Reply