
Kajian Ayat-ayat Al-Qur'an dengan Nahwu & Shorof
DAFTAR ISI:
I. Pengantar Kajian
أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ … بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
Atas taufik & hidayah-Nya, penulis mencoba memberanikan diri untuk melakukan kajian tata bahasa Arab (Nahwu Shorof) terhadap Kalaamullah Kitab Suci al-Qur’anul Karim, serta mencoba memahami kedalaman makna ayat-ayat Nya. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua yang mencoba men-tadabburi ayat-ayatnya… aamiin…
Blogger Hadi-Suro Arabica

II._KAJIAN NAHWU-SHOROF
Berikut kajian ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof.
#1) Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١
#2) Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢
#3) Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ٣
Petikan ayat…
a. Kajian ayat… اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah inna اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ , yang terdiri dari :
- huruf taukid [amil nashab] إِنَّ
- isim inna dalam bentuk dhamir nashab muttasil نَحْنُ – نَا, sehingga إِنَّ + نَا = إِنَّا
- khabar inna dalam bentuk jumlah fi’liyyah اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ , yang terdiri dari :
- fi’il madhi اَعْطَيْنٰكَ dengan fa’il dalam bentuk dhamir ra’fa’ muttasil نَا dan Maf’ul bih أَنْتَ – كَ
- maf’ul bih kedua [manshub] الْكَوْثَرَ
- jumlah inna اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ , yang terdiri dari :
- Ini adalah kalimat dalam kelompok inna إنَّ & keluarganya 1 , dengan struktur kalimat [inna + isim inna ber-i’rab manshub + khabar inna ber-i’rab marfu‘]
- Lafadz mana yang merupakan isim inna? jawabannya, bukan أعْطَى melainkan isim inna pada kalimat ini adalah isim dhamir نَا (kami). Isim dhamir mustatir 2(kata ganti tersembunyi) pada lafadz lainnya, dimana lafadz اِنَّآ = إنَّ + نَا (هُوَ) .
- Isim inna kaidah i’rab-nya 3 harus manshub/fathah, namun dikarenakan ia berupa isim dhamir yang i’rabnya bersifat mabni (tetap/tidak berubah), maka dalam hal ini disebut isim inna mabniyyun fi mahalli nasbin (isim inna yang ber-i’rab mabni dalam kedudukan nashab).
- Khabar inna nya adalah frase kalimat أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (kami menganugrahkan kepada kamu anugrah yang melimpah-limpah). Frase ini sendiri adalah kalimat sempurna yang memiliki fa’il (pelaku) نَا , fi’il (kata kerja) أَعْطَى dan maf’ul bih (obyek) كَ, dan lafadz الْكَوْثَرُ adalah obyek kedua. Jadi ada 2 obyek dari kata kerja أَعْطَى pada kalimat ini.
- Perhatikan adanya perubahan huruf alif maqshurah ى pada lafadz أَعْطَى menjadi huruf ya ي pada lafadz أَعْطَيْنَا setelah penambahan huruf setelahnya (isim dhamir fa’il). Dalam kaidah ilmu shorof, ini terjadi karena proses kembalinya huruf asal ketika suatu kata kerja bersambung dengan kata ganti (isim dhamir muttashil – kata ganti tersambung) 4 .
- Lafadz أَعْطَى adalah fi’il madhi (kata kerja lampau) yang masuk kategori fi’il mu’tal 5 , yaitu fi’il yang mengandung salah satu dari huruf illat ( Alif ا , wau و , dan ya ي) , dalam hal ini huruf terakhirnya alif maqshurah dan disebut fi’il naqish. Dikatakan kembali ke huruf asal karena akar katanya adalah ع, ط, ي (salah satu cara untuk mengetahui huruf asalnya adalah dengan melihat bentuk fi’il mudhari’ nya, yaitu يُعْطِي dimana huruf terakhirnya ي yang merupakan huruf asli).
- Dalam ilmu shorof, lafadz أَعْطَى adalah perubahan kata dari akar katanya sesuai pola tashrif no.7 6 pada tabel tashrif, yaitu masuk kategori fi’il tsulatsi majid أَفْعَلَ.
- Mengapa pada lafadz أَعْطَى tertulis alif maqshuroh dan bukan ya? Hal ini berdasarkan ilmu shorof, bahwa apabila ada huruf ya ي berharakat jatuh setelah huruf berharakat fathah (dalam hal ini setelah طَ) , maka huruf ya tersebut harus diganti dengan huruf alif, yaitu asal lafadznya أَعْطَي menjadi أَعْطَى . Lantas, ketika lafadz أَعْطَى tersebut disambung dengan lafadz berharakat (yaitu نَا ) maka huruf akhir dari kata tersebut harus di-sukun-kan (mati). Saat huruf akhir tersebut disukunkan, maka ia kembali ke wujud aslinya yaitu huruf ي dan bukan lagi alif (maqshurah) ى . Alasannya adalah alif dalam bahasa arab tidak menerima harakat atau disukunkan dalam kondisi ini (kecuali huruf hamzah أ atau ء ). 7
- Lafadz الْكَوْثَرُ adalah isim ruba’i (terdiri dari 4 huruf ك, و, ث, ر ), dan memiliki beberapa arti, diantaranya:
- Telaga ‘al-Kautsar’ yang hanya dianugrahkan kepada kanjeng Nabi Muhammad saw. oleh Allah swt. di Padang Mahsyar atau menjelang masuk syurga pada hari kiamat.
- Kebaikan yang melimpah di dunia dan akhirat.
Petikan ayat…
b. Kajian ayat… فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- huruf athaf فَ , menyambung ke kalimat sebelumnya
- jumlah fi’liyyah صَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ yang terdiri dari :
- fi’il ‘amr [majzum] صَلِّ
- sybhul jumlah jar wa majrur لِرَبِّكَ yang terdiri dari :
- huruf jar لِ
- isim majrur رَبِّ
- mudhaf ilaihi berupa dhamir jar muttasil أَنْتَ – كَ dari mudhaf رَبِّ
- huruf athaf وَ
- fi’il ‘amr [majzum] اِنْحَرْ
- Ini adalah jumlah fi’liyyah 8 (kalimat verbal) dengan 2 (dua) kata kerja bentuk perintah fi’il ‘amr صَلِّ dan انْحَرْ, dengan diawali huruf athaf 9 (sambung) فَ (fa).
- Fi’il صَلِّ (shalatlah!) adalah bentuk perintah/’amr dari kata kerja صَلَّى – يُصَلِّي – صَلِّ (melakukan shalat) , masdar صَلَاةٌ 10 (aktifitas shalat). Dalam ilmu shorof, fi’il ini mengikuti pola tashrif no.8 pada tabel tashrif 11 .
- Pertanyaan kritis akan muncul, “kalau memang ini adalah wazan فَعَّلَ (fi’il tsulatsi majid, dengan tasydid ع , mengapa artinya ‘shalat’ seperti wazan فَعَلَ (fi’il tsulatsi mujarrad/tanpa tambahan huruf), dan bukan ‘men-shalat-kan‘ sebagaimana variasi arti yang umum dari wazan فَعَّلَ ? yaitu mengubah bentuk kata kerja intransitif (tanpa obyek) menjadi transitif (dengan obyek). Perlu diketahui, dalam bahasa Arab, tidak ditemukan kata kerja صَلَى (salaya, tanpa tasydid ع).
- Para ulama bahasa menjelaskan bahwa kata صَلَّى diambil langsung dari kata benda (isim masdar), yaitu الصَّلَاة (as-shalah) yang secara bahasa berarti الدُّعَاء (doa). Ketika sebuah kata benda diubah menjadi kata kerja menggunakan wazan فَعَّلَ, fungsinya bukan lagi mengubah kata kerja biasa menjadi transitif, melainkan berfungsi sebagai التَّكْثِيْر (li al-taktsir) atau bermakna intensitas/banyak melakukan. Jadi, karena الصَّلَاة artinya doa, maka صَلَّى artinya banyak berdoa atau bersungguh-sungguh dalam berdoa. Dalam syariat Islam, makna ini bergeser menjadi ibadah ritual yang penuh dengan doa, yaitu shalat.
- Dalam hal ini variasi arti yang digunakan pada tabel tashrif bukan arti no.1 ‘men-shalat-kan’, melainkan berlaku variasi arti berikut:
- Variasi arti no.2 ‘sering dalam aktifitas shalat’, dan
- Variasi arti no.6 yaitu merubah isim menjadi fi’il (derivasi kata benda/ isytiqaq minal asma’i), dari isim masdar الصَّلَاة (aktifitas shalat) menjadi fi’il صَلَّى (wazan فَعَّلَ) yang artinya ‘melakukan shalat’
- Lafadz صَلَّى dapat berarti ‘men-shalat-kan’ , yaitu apabila diikuti oleh huruf jar penjelas , yaitu alaa عَلَى 12. Contoh:
- Kalimat صَلَّى الرَّجُلُ (pria itu shalat)
- Kalimat صَلَّى الرَّجُلُ عَلَى المَيِّتِ (pria itu men-shalat-kan/men-doa-kan jenazah )
- Kalimat صَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ (Semoga Allah mencurahkan rahmat/kehormatan kepada Nabi)
- Fi’il انْحَرْ (jagal/sembelihlah!) adalah bentuk perintah dari kata kerja نَحَرَ – يَنْحَرُ – اِنْحَرْ (menyembelih) . Fi’il ini masuk kategori pola tashrif no.3 13 dari tabel tashrif.
Petikan Ayat…
c. Kajian ayat… اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
- Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
- jumlah inna اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ , yang terdiri dari :
- huruf taukid [amil nashab] إِنَّ
- isim inna [manshub] شَانِئَكَ dalam bentuk idhafiy, yang terdiri dari :
- mudhaf شَانِئَ
- mudhaf ilaih dalam bentuk dhamir jar muttasil كَ
- badal dari isim inna yaitu dalam bentuk isim dhamir هُوَ
- khabar inna [marfu‘] الْاَبْتَرُ
- jumlah inna اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ , yang terdiri dari :
- Ini adalah jumlah ismiyyah 14 (kalimat nominal) yang diawali huruf taukid inna & keluarganya. Isim inna nya adalah شَانِئَ (orang yang membenci) berupa isim fa’il 15 dari fi’il شَنِئَ – يَشْنَأُ , dan kaidah i-rab-nya manshub/fathah.
- Adapun كَ (kamu) adalah obyek dari fi’il yang bersangkutan dari isim fa’il-nya.
- Khabar inna nya adalah lafadz isim الْاَبْتَرُ (orang yang terhalangi, terputus), dan kaidah i’rabnya marfu’/dhammah.
III. Qs.108 Al-Kautsar : Teks Surah Lengkap (dan Terjemah)
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ
#1) Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١
#2) Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢
#3) Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ٣
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Referensi/ Sumber :
Teks Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Lengkap Terjemah, Link website: https://quran.nu.or.id/
Baca kajian sebelumnya…Qs.103: Al-‘Ashr…
Baca kajian sesudahnya…Qs.114: An-Nas…
Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Baca juga … Ilmu Nahwu …
Baca juga … Ilmu Shorof …
Catatan Kaki/ Note:
- Inna, Artinya: sesungguhnya.
Kebalikan dari kaana, maka inna membuat mubtada’ menjadi manshub (disebut isim Inna), dan membuat khabar menjadi Marfu’ (disebut khabar inna).
• Contoh:
o Asal: اَللّٰهُ عَزِيْزٌ Allah Maha Perkasa
o Menjadi: إنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
• Saudara-saudara inna:
o 1) لَكِنَّ، tetapi
o 2) أنَّ. Sesungguhnya
o 3) كَأنَّ. Seolah-olah
o 4) لَعَلَّ. Mudah-mudahan
o 5) لَيْتَ. Ingin sekali
o لَا 6 . tidak, tidak ada
o contoh:
لَا صَالِحَ خَاسِرٌ ↩︎ - I’rab
I’rab adalah perubahan tanda akhir kata berdasarkan fungsinya dalam kalimat.
Ada 4 status i’rab utama:
a. Rafa’ (Marfu’): Kondisi dasar kata yang biasanya ditandai dengan harakat dhammah ـُـ
b. Nashab (Manshub): Ditandai dengan harakat fathah ـَ atau huruf Alif ا.
c. Jarr (Majrur):Kondisi khusus untuk kata benda yang biasanya ditandai dengan harakat kasrah atau huruf ya ي.
d. Jazem (Majzum): Kondisi khusus untuk kata kerja yang umumnya ditandai dengan harakat sukun atau penghilangan huruf. ↩︎ - Huruf ya’ ي:
Huruf ya bisa menerima harakat (fathah, dhammah, kasrah, sukun)
Jika berfungsi sebagai huruf illat yang memanjangkan suara (mad), maka huruf sebelumnya harus berharakat kasrah, contoh: فِي (fi)
Bisa berada di awal, tengah atau akhir kata dalam bentuk aslinya.
Asal-usul huruf (akar kata): Ya ي merupakan huruf asli.
Contoh: lafadz أعْطَى , aslinya adalah أَعْطَي (huruf akhir ي) yang berubah menjadi alif maqshurah ( ى )
Hal ini berdasarkan ilmu shorof, bahwa apabila ada huruf ya ي berharakat jatuh setelah huruf berharakat fathah (dalam hal ini setelah طَ) , maka huruf ya tersebut harus diganti dengan huruf alif, yaitu asal lafadznya أَعْطَي menjadi أَعْطَى .
Kecuali apabila lafadz ini bersambung dengan huruf lain, misalkan bersambung dengan isim dhamir muttashil, misalkan huruf نَا (kami), maka huruf akhir dari kata tersebut harus di-sukun-kan (mati). Saat huruf akhir tersebut disukunkan, maka ia kembali ke wujud aslinya yaitu huruf ي dan bukan lagi alif (maqshurah) ى . Alasannya adalah alif dalam bahasa arab tidak menerima harakat atau disukunkan dalam kondisi ini (kecuali huruf hamzah أ atau ء ).
Dalam kaidah ilmu shorof, ini disebut proses kembalinya huruf asal ketika suatu kata kerja bersambung dengan kata ganti (isim dhamir muttashil – kata ganti tersambung). ↩︎ - Fi’il Mu’tal ( فعل معتل ) adalah kata kerja yang mengandung huruf illat, sebagai lawannya fi’il shahih, terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat):
a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
c) Fi’il naqish (akhir): دعا، رمى
d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ ↩︎ - Pola tashrif 7: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ – أَفْعِلْ – إِفْعَالًا – مُفْعِلٌ، مُفْعَلٌ – أُفْعِلَ – يُفْعَلُ
Fungsi utamanya adalah menjadikan transitif. Wazan ini mengubah kata kerja yang tadinya tidak butuh objek (intransitif) menjadi butuh objek (transitif), atau menambah jumlah objeknya. Kadang juga menunjukkan waktu/tempat.
Faidah/arti fi’il dengan wazan أَفْعَلَ diantaranya :
1. Me-nurun-kan — أَنْزَلَ
2. Menjadi berbuah — أَثْمَرَ
3. Mendapatinya lalai — أَغْفَلَ
4. Masuk waktu subuh — أَصْبَحَ
5. Waktunya panen — أَحْصَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
memberitahu : أَعْلَمَ
menginfaqkan : أَنْفَقَ
membereskan : أَصْلَحَ
memasukkan : أَذْخَلَ
menetapkan : أَثْبَتَ
menurunkan : أَنْزَلَ
berbuat baik : أَحْسَنَ – يُحْسِنُ
berserah diri, masuk islam : أَسْلَمَ – يُسْلِمُ
memuliakan : أَكْرَمَ
memahami : أَفْهَمَ
mengenakan (pakaian) : أَلْبَسَ
mengeluarkan : أَخْرَجَ – يُخْرِجُ
menyiapkan: أَعَدَّ – يُعِدּُ
mengadakan, mewujudkan : أَوْجَدَ – يُوجِدُ
menyampaikan, menghubungkan : أَوْصَلَ – يُوصِلُ
menginginkan, menghendaki : أَرَادَ – يُرِيدُ
memberi : أَعْطَى – يُعْطِي
melempar, menyampaikan : أَلْقَى – يُلْقِي
menjadi berbuah : أَثْمَرَ
menjadi berdaun : أَوْرَقَ
mendirikan, menegakkan : أَقَامَ – يُقِيمُ – أَقِمْ – إَقَامَةٌ – مُقِيْمٌ – مُقَامٌ – لَا تَقِمْ
didirikan, ditegakkan: أُقِيْمَ – يُقِيْمُ ↩︎ - Penulisan huruf alif di akhir kata (Alif Layyinah)
ِKaidah shorof berikut berlaku hanya untuk kata yang terdiri dari 3 huruf (tsulatsi), dan penempatan alif di akhir kata. Ada dua (2) penulisan huruf alif di akhir kata, yaitu dengan ا atau ى. Berikut cara memilih huruf mana yang akan dipakai:
Ditulis tegak ( ا ): jika asal-usulnya adalah huruf waw و . Contoh: دَعَا karena asalnya و sebagaimana dapat dilihat pada bentuk fi’il mudhari’nya يَدْعُوْ
Ditulis bengkok tanpa titik ( ى ): jika asal-usulnya adalah huruf ya ي . Contoh: رَمَى karena asalnya ي sebagaimana dapat dilihat pada bentuk fi’il mudhari’nya يَرْمِيْ ↩︎ - Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
a. Fi’il (kata kerja)
b. fa’il (pelaku/subjek)
c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
Contoh:
a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎ - Athaf adalah isim yang mengikuti isim lainnya dengan perantaraan huruf Athaf.
Daftar huruf Athaf:
a) وَ. dan, فَ. Maka, ثُمَّ. Kemudian,
b) حَتَّى. Sehingga, لَكِنْ. Tetapi, بَلْ. Melainkan
c) لَا. Tidak, أَوْ. Atau, أمْ. Ataukah ↩︎ - Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, namun tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎ - Pola tashrif 8: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – فَعِّلْ – تَفْعِيلًا – مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ – فُعِّلَ – يُفَعَّلُ
Fungsi wazan ini untuk mengubah kata kerja intransitif menjadi transitif, atau menunjukkan bahwa suatu perbuatan dilakukan berkali-kali, berulang-ulang, atau dilakukan secara masif.
Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعَّلَ diantaranya :
1. Me-ngeluar-kan — خَرَّجَ
2. Sering me-nutup — غَلَّقَ
3. Banyak yang mati — مَوَّتَ
4. Menuju ke arah timur — شَرَّقَ
5. Melabelinya sbg kafir — كَفَّرَ
6. Mengucapkan Allahuakbar — كَبَّرَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
mendekatkan : قَرَّبَ
memperbanyak : كَثَّرَ
mengharamkan : حَرَّمَ
mendustakan : كَذَّبَ
memahasucikan : سَبَّحَ
memuji dengan baik : حَمَّدَ
membesarkan : كَبَّرَ
menggerakkan : حَرَّكَ
menyerahkan : سَلَّمَ
memasukkan : دَخَّلَ – يُذَخِّلُ
memelihara, mendidik : رَبَّى – يُرَبِّي
mengulangi : كَرَّرَ – يُكَرِّرُ
meng-esa-kan : وَحَّدَ – يُوَحِّدُ
menggembirakan : فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – فَرَِحْ – تَفْرِيْحًا – مُفَرِّحٌ – مُفَرَّحٌ – لَا تُفَرِّحْ
digembirakan : فُرِّحَ – يُفَرَّحُ ↩︎ - Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
Daftar Huruf jarr:
مِنْ. Dari
إلَى. Ke
عَنْ. Dari, tentang
لِ. Kepunyaan, untuk
مُنْدُ. Semenjak
عَلَى. Atas
حَتَّى. Sehingga
فِي. Didalam
بِ dengan
كَ. Seperti
Contoh:
a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎ - Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ ↩︎ - Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
• a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
• b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid ↩︎ - Isim Fa’il: Adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ, contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh: أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan). ↩︎
Leave a Reply