
DAFTAR ISI:
Blogger Hadi-Suro Arabica

A. TASHRIF (PERUBAHAN KATA)
Tashrif adalah mengubah kata asal menjadi berbagai bentuk lainnya seperti kata kerja masa lalu, masa sekarang/ akan datang, bentuk perintah dan larangan, masdar, isim fa’il, isim maf’ul, . Tabel Shorof/ Tashrif terlampir, memetakan berbagai perubahan kata/ Tashrif dan variasi faidah/arti dari masing-masing Tashrif.
Fi’íl dilihat dari suku katanya terbagi menjadi dua, yaitu:
- Fi’il Tsulatsi: yaitu fi’il dengan akar suku katanya (dalam bentuk fi’il madhi) terdiri dari 3 (tiga) huruf, seperti; دَخَلَ, خَرَجَ. Fi’il tsulati terbagi menjadi dua macam, yaitu:
- Fi’il Tsulatsi Mujarrad: yaitu fi’il yang tetap 3 huruf.
- Fi’il Tsulatsi Mazid: yaitu yang ada tambahan (1, 2 atau 3 huruf).
- Fi’il Ruba’i: yaitu fi’il yang akar suku katanya (dalam bentuk fi’il madhi)terdiri dari 4 (empat) huruf, seperti; وَسْوَسَ, دَخْرَجَ, زَلْزَلَ. Fi’il rubai juga terbagi menjadi dua macam, yaitu:
- Fi’il Ruba’i Mujarrad: yaitu fi’il yang tetap 4 huruf.
- Fi’il Ruba’i Mazid: yaitu yang ada tambahan (1 atau 2 huruf).
Berdasarkan kelompok diatas, terdapat 22 pola/ wazan fi’il, dengan rincian sebagai berikut:
- a. Fi’il Tsulatsi Mujarrad (6 pola): فَعَلَ – يَفْعِلُ, فَعَلَ – يَفْعُلُ, فَعَلَ – يَفْعَلُ, فَعِلَ – يَفْعَلُ, فَعِلَ – يَفْعِلُ, فَعُلَ – يَفْعُلُ
- b. Fi’il Tsulatsi Mazid 1 huruf (3 pola): أَفْعَلَ , فَعَّلَ , فَاعَلَ
- c. Fi’il Tsulatsi Mazid 2 huruf (5 pola): اِفْتَعَلَ , اِفْعَلَّ, تَفَعَّلَ, تَفَاعَلَ, اِنْفَعَلَ
- d. Fi’il Tsulatsi Mazid 3 huruf (4 pola): اِسْتَفْعَلَ, اِفْعَوَّلَ, اِفْعَوْعَلَ, اِفْعَالَّ
- e. Fi’il Ruba’i Mujarrad (1 pola): فَعْلَلَ
- f. Fi’il Ruba’i Mazid (3 pola): تَفَعْلَلَ, اْفْعَنْلَلَ, اِفْعَلَلَّ
Untuk rincian perubahan kata (total ada 20 klasifisikasi), termasuk variasi faidah/arti dari tiap klasifikasi, lihat Tabel Shorof Tashrif.
Catatan:
- Pola Masdar dari poin 1-6 (fi’il tsulatsi mujarrad) tidak baku. Berikut variasinya:
- فُعْلًا، فَعَالًا، فَعَالَةً، فُعُولًا، فِعَالٌ، فَعِيلٌ، فَعْلَانٌ، فُعْلَةٌ، فُعُولَةٌ
- Pola isim zaman/makan kebanyakan = pola isim maf’ul nya.
- Pola isim alat umumnya adalah مِفْعَالٌ، مِفْعَلٌ, contoh: مِفْتَاحٌ (kunci), مِطْرَقٌ (palu).
Berikut contoh fi’il dari masing-masing kategori/klasifikasi tashrifnya:
Arti secara umum (untuk kata فَعَلَ melakukan):
- Fi’il madhi : telah melakukan
- Fi’il mudhari‘ : sedang/akan melakukan
- Fi’il ‘amr : lakukanlah
- Masdar : perlakuan, perbuatan
- Isim fa’il : yang melakukan
- Isim maf’ul : yang dilakukan
- Fi’il nahi : jangan lakukan
- zharf makan/zaman: tempat/waktu melakukan
- Fi’il majhul madhi : telah dilakukan
- Fi’il majhul mudhari’ : sedang/akan dilakukan
1. Pola tashrif/wazan: فَعَلَ – يَفْعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 1: فَعَلَ – يَفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il- isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعِلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ, مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- berjanji : وَعَدَ – يَعِدُ
- kembali : رَجَعَ – يَرْجِعُ
- memukul : ضَرَبَ – يَضْرِبُ
- duduk : جَلَسَ – يَجْلِسُ
- mengampuni : غَفَرَ – يَغْفِرُ- اِغْفِرْ – غَفْرٌ – غَفِيرٌ – مَغْفُورٌ – لَا تَغْفِرْ
- diampuni : غُفِرَ – يُغْفَرُ
2. Pola tashrif/wazan: فَعَلَ – يَفْعُلُ
_Rincian:
Pola tashrif 2: فَعَلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- duduk : قَعَدَ – يَقْعُدُ
- menutupi : سَتَرَ – يَسْتُرُ
- melihat : نَظَرَ – يَنْظُرُ
- bersujud : سَجَدَ – يَسْجُدُ
- menolong : نَصَرَ – يَنْصُرُ – اُنْصُرْ – نَصْرًا – نَاصِرٌ – مَنْصُورٌ – لَا تَنْصُرْ
- ditolong : نُصِرَ – يُنْصَرُ
3. Pola tashrif/wazan: فَعَلَ – يَفْعَلُ
_Rincian:
Pola tashrif 3: فَعَلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- membuka : فَتَحَ – يَفْتَحُ
- membaca : قَرَأَ – يَقْرَأُ
- mengumpulkan : جَمَعَ – يَجْمَعُ
- menasehati : نَصَحَ – يَنْصَحُ
- meminta, menanyakan : سَأَلَ – يَسْأَلُ – اِسْأَلْ – سُؤَالٌ – سَائِلٌ – مَسْئُولٌ – لَا تَسْأَلْ
- dimintai (keterangan), ditanya : سُئِلَ – يُسْأَلُ
4. Pola tashrif/wazan: فَعِلَ – يَفْعَلُ
_Rincian:
Pola tashrif 4: فَعِلَ – يَفْعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعِلَ – يَفْعَلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- memuji : حَمِدَ – يَحْمَدُ
- mendengarkan : سَمِعَ – يَسْمَعُ
- mengetahui : عَلِمَ – يَعْلَمُ
- sakit : مَرِضَ – يَمْرَضُ
- melakukan, bekerja : عَمِلَ – يَعْمَلُ – اِعْمَلْ – عَمَلٌ – عَامِلٌ – مَعْمُولٌ – لَا تَعْمَلْ
- dilakukan, dikerjakan : عُمِلَ – يُعْمَلُ
5. Pola tashrif/wazan: فَعِلَ – يَفْعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 5: فَعِلَ – يَفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعِلَ – يَفْعِلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- percaya, yakin : وَثِقَ – يَثِقُ
- mewarisi : وَرِثَ – يَرِثُ
- memuat : وَسِعَ – يَسِعُ
- rindu, cinta : وَمَقَ – يَمِقُ
- menyangka, menghitung: حَسِبَ – يَحْسِبُ – اِحْسِبْ – حِسْبَانٌ- حَاسِبٌ – مَحْسُوبٌ – لَا تَحْسِبْ
- dilakukan, dikerjakan: حُسِبَ – يُحْسَبُ
6. Pola tashrif/wazan: فَعُلَ – يَفْعُلُ
_Rincian:
Pola tashrif 6: فَعُلَ – يَفْعُلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعُلَ – يَفْعُلُ – اِفْعَلْ – … – فَاعِلٌ، مَفْعُولٌ – فُعِلَ – يُفْعَلُ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- aman, menjadi aman, terpercaya : أَمُنَ – يَأْمُنُ
- beradab, menjadi beradab, sopan : أَدُبَ – يْأَدُبُ
- terhormat, menjadi terhormat : شَرُفَ – يَشْرُفُ
- mulia, menjadi mulia: كَرُمَ – يَكْرُمُ
- baik, menjadi baik, soleh: صَلُحَ – يَصْلُحُ -… – صَلَاحٌ – صَلِيحٌ (ket: … berarti tidak ada)
7. Pola tashrif/wazan: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 7: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: أَفْعَلَ – يُفْعِلُ – أَفْعِلْ – إِفْعَالًا – مُفْعِلٌ، مُفْعَلٌ – أُفْعِلَ – يُفْعَلُ
Fungsi utamanya adalah menjadikan transitif. Wazan ini mengubah kata kerja yang tadinya tidak butuh objek (intransitif) menjadi butuh objek (transitif), atau menambah jumlah objeknya. Kadang juga menunjukkan waktu/tempat.
Faidah/arti fi’il dengan wazan أَفْعَلَ diantaranya :
- 1. Me-nurun-kan — أَنْزَلَ
- 2. Menjadi berbuah — أَثْمَرَ
- 3. Mendapatinya lalai — أَغْفَلَ
- 4. Masuk waktu subuh — أَصْبَحَ
- 5. Waktunya panen — أَحْصَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- memberitahu : أَعْلَمَ
- menginfaqkan : أَنْفَقَ
- membereskan : أَصْلَحَ
- memasukkan : أَذْخَلَ
- menetapkan : أَثْبَتَ
- menurunkan : أَنْزَلَ
- berbuat baik : أَحْسَنَ – يُحْسِنُ
- berserah diri, masuk islam : أَسْلَمَ – يُسْلِمُ
- memuliakan : أَكْرَمَ
- memahami : أَفْهَمَ
- mengenakan (pakaian) : أَلْبَسَ
- mengeluarkan : أَخْرَجَ – يُخْرِجُ
- menyiapkan: أَعَدَّ – يُعِدּُ
- mengadakan, mewujudkan : أَوْجَدَ – يُوجِدُ
- menyampaikan, menghubungkan : أَوْصَلَ – يُوصِلُ
- menginginkan, menghendaki : أَرَادَ – يُرِيدُ
- memberi : أَعْطَى – يُعْطِي
- melempar, menyampaikan : أَلْقَى – يُلْقِي
- menjadi berbuah : أَثْمَرَ
- menjadi berdaun : أَوْرَقَ
- mendirikan, menegakkan : أَقَامَ – يُقِيمُ – أَقِمْ – إَقَامَةٌ – مُقِيْمٌ – مُقَامٌ – لَا تَقِمْ
- didirikan, ditegakkan: أُقِيْمَ – يُقِيْمُ
8. Pola tashrif/wazan: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ
_Rincian:
Pola tashrif 8: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – فَعِّلْ – تَفْعِيلًا – مُفَعِّلٌ، مُفَعَّلٌ – فُعِّلَ – يُفَعَّلُ
Fungsi wazan ini untuk mengubah kata kerja intransitif menjadi transitif, atau menunjukkan bahwa suatu perbuatan dilakukan berkali-kali, berulang-ulang, atau dilakukan secara masif.
Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعَّلَ diantaranya :
- 1. Me-ngeluar-kan — خَرَّجَ
- 2. Sering me-nutup — غَلَّقَ
- 3. Banyak yang mati — مَوَّتَ
- 4. Menuju ke arah timur — شَرَّقَ
- 5. Melabelinya sbg kafir — كَفَّرَ
- 6. Mengucapkan Allahuakbar — كَبَّرَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- mendekatkan : قَرَّبَ
- memperbanyak : كَثَّرَ
- mengharamkan : حَرَّمَ
- mendustakan : كَذَّبَ
- memahasucikan : سَبَّحَ
- memuji dengan baik : حَمَّدَ
- membesarkan : كَبَّرَ
- menggerakkan : حَرَّكَ
- menyerahkan : سَلَّمَ
- memasukkan : دَخَّلَ – يُذَخِّلُ
- memelihara, mendidik : رَبَّى – يُرَبِّي
- mengulangi : كَرَّرَ – يُكَرِّرُ
- meng-esa-kan : وَحَّدَ – يُوَحِّدُ
- menggembirakan : فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – فَرَِحْ – تَفْرِيْحًا – مُفَرِّحٌ – مُفَرَّحٌ – لَا تُفَرِّحْ
- digembirakan : فُرِّحَ – يُفَرَّحُ
9. Pola tashrif/wazan: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 9: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَاعَلَ – يُفَاعِلُ – فَاعِلْ- … – مُفَاعِلٌ، مُفَاعَلٌ – فُوعِلَ – يُفَاعَلُ
Fungsi utamanya adalah Musyarakah (saling). Wazan ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh dua pihak atau lebih secara timbal balik.
Faidah/arti fi’il dengan wazan فَاعَلَ diantaranya :
- 1. Saling me-mukul — ضَارَبَ
- 2. Memperbanyak pahala — يُضَاعِفُ
- 3. = Fi’il mujarrad, memberkahi — بَارَكَ
- 4. = أَفْعَلَ, menjauhkan — بَاعَدَ = أَبْعَدَ
- 5. Terus-menerus membaca — طَالَعَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- bersabar : صَابَرَ
- saling melihat : نَاظَرَ
- munafik : نَافَقَ
- membantu : سَاعَدَ
- berkhutbah : خَاطَبَ
- berperang : قَاتَلَ
- menemui, bertemu : قَابَلَ – يُقَابِلُ
- menyetujui, cocok : وَافَقَ – يُوَافِقُ
- berjihad, bersungguh-sungguh : جَاهَدَ – يُجَاهِدُ
- bermusyawarah, berunding : شَاوَرَ – يُشَاوِرُ
- bepergian: سَافَرَ – يُسَافِرُ – سَافِرْ – مُسَافَرَةٌ – مُسَافِرٌ – مُسَافَرٌ – لَا تُسَافِرْ
- dijadikan pergi : سُوفِرَ – يُسَافَرُ
10. Pola tashrif/wazan: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 10: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ – اِفْتَعِلْ – اِفْتِعَالًا – مُفْتَعِلٌ، مُفْتَعَلٌ – اُفْتُعِلَ – يُفْتَعَلُ
Wazan اِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ memiliki beberapa fungsi, namun yang paling umum adalah Mutawa’ah (dampak dari suatu perbuatan) dan Ittikhadz (membuat/mengambil sesuatu).
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْتَعَلَ diantaranya :
- 1. Maka menjadi ter-kumpul — فَاِجْتَمَعَ
- 2. Membikin roti — اِخْتَبَزَ
- 3. Telah sungguh2 me-ndengarkan — اِسْتَمَعَ
- 4. Sama2 ber-debat — اِخْتَصَمَ
- 5. = mujarrad, menarik — اِرْتَقَى = رَقَى
- 6. Menuntut agar bekerja keras — اِكْتَدَّ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- mendengar : اِسْتَمَعَ
- mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ
- berpegang teguh : اِعْتَصَمَ
- menerima : اِسْتَلَمَ
- memilih : اِصْطَفَى
- bercerai : اِفْتَرَقَ
- menang : اِنْتَصَرَ
- memulai : اِبْتَدَأَ – يَبْتَدِئُ
- menjadi dekat : اِقْتَرَبَ – يَقْتَرِبُ
- menyimak, mendengar : اِسْتَمَعَ – يَسْتَمِعُ
- menganggap, mengambil pelajaran : اِعْتَبَرَ – يَعْتَبِرُ
- bersungguh-sungguh : اِجْتَهَدَ – يَجْتَهِدُ
- berkumpul : اِجْتَمَعَ – يَجْتَمَعُ – اِجْتَمِعْ – اِجْتِمَاعًا – مُجْتَمِعٌ – مُجْتَمَعٌ – لَا تَجْتَمِعْ
- dikumpulkan : اُجْتُمِعَ – يُجْتَمَعُ
11. Pola tashrif/wazan: اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ
_Rincian:
Pola tashrif 11: اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ – اِفْعَلَّ – اِفْعِلَالًا – مُفْعَلٌّ، مُفْعَلٌّ – اُفْعُلَّ – يُفْعَلُّ
Wazan ini sangat spesifik dan jarang digunakan untuk kata kerja umum. Fungsi utamanya adalah menunjukkan Mubalaghoh (sangat/kejelasan yang kuat) pada warna atau cacat fisik.
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْعَلَّ diantaranya :
- 1. Betul2 telah meng-hitam — اِسْوَدَّ
- 2. Tambah mem-bengkak — اِسْمَدَّ
- (Kata lainnya: menghijau, tambah kusut, semakin berbunga)
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi ] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- memutih, menjadi putih : اِبْيَضَّ – يَبْيَضُّ
- menghitam, menjadi hitam : اِسْوَدَّ – يَسْوَدُّ
- membiru, menjadi biru : اِزْرَقَّ – يَزْرَقُّ
- menghijau, menjadi hijau : اِخْضَرَّ – يَخْضَرُّ
- menguning, menjadi kuning : اِصْفَرَّ – يَصْفَرُّ
- bertambah berbunga : اِزْهَرَّ
- menjadi bengkok : اِعْوَجَّ – يَعْوَجُّ
- kusut : اِشْعَلَّ
- bengkak : اِسْمَدَّ
- menjadi kabur (penglihatannya) : اِعْمَشَّ – يَعْمَشُّ
- memerah, menjadi merah : اِحْمَرَّ – يَحْمَرُّ – اِخْمَرَّ – اِخْمِرَارًا – مُخْمِرٌّ – مُخْمَرٌّ – لَا تَحْمَرَّ
- dimerahkan, dibuat merah : اُخْمُرَّ – يُخْمَرُّ
12. Pola tashrif/wazan: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ
_Rincian:
Pola tashrif 12: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ – تَفَعَّلْ – تَفَعُّلًا – مُتَفَعِّلٌ، مُتَفَعَّلٌ – تُفُعِّلَ – يُتَفَعَّلُ
Wazan ini merupakan bentuk mutawa’ah (hasil/dampak) dari wazan fa”ala, dan juga sering bermakna Takalluf (berusaha keras).
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَعَّلَ diantaranya :
- 1. Ter-/ber-/Menjadi pecah — تَكَسَّرَ
- 2. Memaksakan melihat — تَبَصَّرَ
- 3. Aku menjadikan Yusuf sbg anak — تَبَنَّيْتُ يُوسُفَ
- 4. Meninggalkan perbuatan mencela (ذَمَمْتُ): menjadi تَذَمَّمْتُ
- 5. Membuat menjadi janda — تَأَيَّمَتْ
- 6. Me-neguk beberapa kali — تَجَرَّعَ
- 7. Meminta memper-jelaskan — تَبَيَّنَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- menjauhi : تَجَنَّبَ
- mengganti : تَبَدَّلَ
- mendekat : تَقَرَّبَ
- maju, berkembang : تَقَدَّمَ – يَتَقَدَّمُ
- berwudhu : تَوَضَّأَ
- terpecah : تَكَسَّرَ
- terlambat : تَأَخَّرَ – يَتَأَخَّرُ
- berubah : تَغَيَّرَ – يَتَغَيَّرُ
- bersengaja : تَعَمَّدَ
- memikirkan, merenungkan : تَفَكَّرَ – يَتَفَكَّرُ
- mengingat : تَذَكَّرَ – يَتَذَكَّرُ
- berbicara : تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ
- belajar, mempelajari : تَعَلَّمَ – يَتَعَلَّمُ – تَعَلَّمْ – تَعَلُّمًا – مُتَعَلِّمٌ – مُتَعَلَّمٌ – لَا تَتَعَلَّمْ – مُتَعَلَّمٌ
- dipelajari : تُعُلِّمَ – يُتَعَلَّمُ
13. Pola tashrif/wazan: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ
_Rincian:
Pola tashrif 13: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعَلْ- تَفَاعُلًا- مُتَفَاعِلٌ، مُتَفَاعَلٌ – تُفُوعِلَ – يُتَفَاعَلُ
Pola wazan تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ biasanya digunakan untuk menunjukkan makna saling melakukan (musyarakah) antara dua pihak atau lebih, atau berpura-pura.
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَاعَلَ diantaranya :
- 1. Saling ber-damai — تَصَالَحَ
- 2. Krn sy menjauhinya maka dia menjadi menjauh — بَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدُ
- 3. Pura-pura sakit — تَمَارَضَ
- 4. = mujarrad, Maha Tinggi Allah — تَعَالَى الله = عَالَى
- 5. Datang secara berangsur — تَوَارَدَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- saling menolong, bekerja sama: تَعَاوَنَ – يَتَعَاوَنُ
- saling bersalaman : تَصَافَحَ – يَتَصَافَحُ
- mengabaikan, pura-pura tidak tahu : تَجَاهَلَ – يَتَجَاهَلُ
- pura-pura sakit : تَمَارَضَ – يَتَمَارَضُ
- pura-pura tidur : تَنَاوَمَ – يَتَنَاوَمُ
- pura-pura lalai : تَغَافَلَ
- saling bertanya : تَسَاءَلَ
- bercakap-cakap : تَحَادَثَ
- saling menjauh : تَبَاعَدَ
- berdekat-dekatan : تَقَارَبَ
- bermain-main : تَلَاعَبَ
- saling bertukar : تَبَادَلَ – يَتَبَادَلُ – تَبَادَلْ – تَبَادُلًا – مُتَبَادِلٌ – مُتَبَادَلٌ – لَا تَتَبَادَلْ – مُتَبَادَلٌ
- saling dipertukarkan : تُبُودِلَ – يُتَبَادَلُ
14. Pola tashrif/wazan: اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 14: اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ – اِنْفَعِلْ- اِنْفِعَالًا – مُنْفَعِلٌ، مُنْفَعَلٌ – اُنْفُعِلَ – يُنْفَعَلُ
Pola wazan tashrif اِنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ umumnya memiliki makna mutawa’ah (akibat dari suatu perbuatan/refleksif).
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِنْفَعَلَ diantaranya :
- 1. Maka menjadi putus — فَاِنْقَطَعَ
- 2. = mujarrad, maka dia pergi — فَاِنْطَلَقَ = طَلَقَ
- (Biasanya yg didahului فَ)
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- terputus, terhenti: اِنْقَطَعَ – يَنْقَطِعُ
- bubar, pergi, berpaling : اِنْصَرَفَ – يَنْصَرِفُ
- terbuka, menjadi terbuka : اِنْفَتَحَ – يَنْفَتِحُ
- terbalik : اِنْعَكَسَ
- terbalik, berubah : اِنْقَلَبَ
- terpukul : اِنْضَرَبَ
- terbagi : اِنْقَسَمَ
- tertolak : اِنْدَفَعَ
- terpecah : اِنْكَسَرَ – يَنْكَسِرُ – اِنْكَسِرْ– اِنْكِسَارًا– مُنْكَسِرٌ – مُنْكَسَرٌ – لَا تَنْكَسِرْ – مُنْكَسَرٌ
- dipecahkan : اُنْكُسِرَ – يُنْكَسَرُ
15. Pola tashrif/wazan: اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 15: اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ – اِسْتَفْعِلْ – اِسْتِفْعَالًا – مُسْتَفْعِلٌ، مُسْتَفْعَلٌ – اُسْتُفْعِلَ – يُسْتَفْعَلُ
Pola ini umumnya digunakan untuk menunjukkan makna memohon/meminta sesuatu atau menganggap/meyakini sesuatu memiliki sifat tertentu.
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِسْتَفْعَلَ diantaranya :
- 1. Memohon ampunan kpd — اِسْتَغْفَرَ
- 2. Aku mendapatkannya bagus — اِسْتَحْسَنْتُهُ
- 3. Aku mendirikannya maka dia menjadi berdiri — أَقَمْتُهُ فَاسْتَقَامَ
- 4. Memaksa untuk berani — اِسْتَجْرَأَ
- 5. Tanah itu telah menjadi batu — اِسْتَحْجَرَ
- 6. Kata اِسْتَرْجَعَ, meringkas ungkapan “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ”
- 7. = mujarrad, menetap — اِسْتَقَرَّ = قَرَّ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- meminta segera : اِسْتَعْجَلَ
- meminta paham : اِسْتَفْهَمَ
- meminta pertolongan : اِسْتَنْصَرَ
- meminta penjelasan : اِسْتَفْهَمَ – يَسْتَفْهِمُ
- meminta bantuan : اِسْتَعَانَ – يَسْتَعِينُ
- meminta huja : اِسْتَسْقَى
- menganggap baik : اِسْتَحْسَنَ – يَسْتَحْسِنُ
- menganggap kecil : اِسْتَصْغَرَ – يَسْتَصْغِرُ
- menganggap (diri) besar, menyombongkan diri : اِسْتَكْبَرَ – يَسْتَكْبِرُ
- menggunakan, mempekerjakan : اِسْتَخْدَمَ – يَسْتَخْدِمُ
- menyambut, menerima : اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ
- mengeluarkan : اِسْتَخْرَجَ
- menyempurnakan : اِسْتَكْمَلَ
- minta dikasihani : اِسْتَرْحَمَ
- memohon ampunan : اِسْتَغْفَرَ – يَسْتَغْفِرُ – اِسْتَغْفِرْ – اِسْتِغْفَرًا – مُسْتَغْفِرٌ – مُسْتَغْفَرٌ – لَا تَسْتَغْفِرْ
- dimohonkan ampun : اُسْتُغْفِرَ – يُسْتَغْفَرُ
18. Pola tashrif/wazan: اِفْعَالَّ – يَفْعَالَّ
_Rincian:
Pola tashrif 18: اِفْعَالَّ – يَفْعَالَّ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: اِفْعَالَّ – يَفْعَالَّ – اِفْعَالَّ – اِفْعِيلَالًا – مُفْعَالٌّ، مُفْعَالٌّ – اُفْعُولَّ – يُفْعَالُّ
Pola wazan tashrif اِفْعَالَّ – يَفْعَالَّ digunakan khusus untuk menunjukkan warna atau cacat fisik yang sifatnya sangat kuat atau sangat jelas. Wazan ini mirip dengan wazan اِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ, namun penambahan huruf alif pada wazan اِفْعَالَّ memberikan makna penekanan yang jauh lebih kuat atau hiperbola (mubalagah) terhadap sifat warna atau cacat tersebut.
Faidah/arti fi’il dengan wazan اِفْعَالَّ diantaranya :
- sama dengan = اِفْعَلَّ namun diperkuat; betul2 telah meng-hitam — اِسْوَادَّ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- menjadi sangat putih : اِبْيَاضَّ – يَبْيَاضُّ
- menjadi sangat hitam : اِسْوَادَّ – يَسْوَادُّ
- menjadi sangat biru : اِزْرَاقَّ – يَزْرَاقُّ
- menjadi sangat hijau : اِخْضَارَّ – يَخْضَارُّ
- menjadi sangat kuning : اِصْفَارَّ – يَصْفَارُّ
- menjadi sangat bengkok : اِعْوَاجَّ – يَعْوَاجُّ
- semakin ber-uban : اِشْعَالَّ
- semakin ber-bunga : اِزْهَارَّ
- menjadi sangat merah : اِحْمَارَّ – يَحْمَارُّ – اِخْمَارَّ – اِخْمِيْرَارًا – مُخْمِارٌّ – مُخْمَارٌّ – لَا تَحْمَارَّ
- dimerahkan, dibuat merah : اُخْمُورَّ – يُخْمَارُّ
19. Pola tashrif/wazan: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ
_Rincian:
Pola tashrif 19: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ – فَعْلِلْ – فَعْلَلَةً – مُفَعْلِلٌ، مُفَعْلَلٌ – فُعْلِلَ – يُفَعْلَلُ
Pola wazan فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ adalah pola dasar untuk fi’il ruba’i mujarrad.
Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعْلَلَ diantaranya :
- 1. Me-nggelinding-kan batu — دَحْرَجَ
- 2. Sbg fi’il lazim, menjadi terang/jelas — حَصْحَصَ
- 3. Meringkas ungkapan — بَسْمَلَ untuk bismillah…rohim
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- menentramkan : طَمْأَنَ – يُطَمْئِنُ
- membisikkan was-was : وَسْوَسَ – يُوَسْوِسُ
- mengguncang : زَلْزَلَ – يُزَلْزِلُ
- menggelindingkan : دَحْرَجَ – يُدَحْرِجُ
- membinasakan : دَمْدَمَ
- memberi keterangan : بَرْهَنَ
- mengumpulkan : حَرْجَمَ
- menerjemahkan : تَرْجَمَ – يُتَرْجِمُ – تَرْجِمْ – تَرْجَمَةٌ – مُتَرْجِمٌ – مُتَرْجَمٌ – لَا تَتَرْجِمْ
- diterjemahkan : تُرْجِمَ – يُتَرْجَمُ
20. Pola tashrif/wazan: تَفَعْلَلَ – يَتَفَعْلَلُ
_Rincian:
Pola tashrif 20: تَفَعْلَلَ – يَتَفَعْلَلُ , dengan pola wazan :
[madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: تَفَعْلَلَ – يَتَفَعْلَلُ – تَفَعْلَلْ – تَفَعْلُلًا – مُتَفَعْلِلٌ، مُتَفَعْلَلٌ – تُفُعْلِلَ – يُتَفَعْلَلُ
Pola ini umumnya bermakna muthawa’ah (akibat atau hasil dari perbuatan kata kerja asalnya).
Faidah/arti fi’il dengan wazan تَفَعْلَلَ diantaranya :
- Akibat perbuatan ‘menggelindingkan’ دَحْرَجَ, maka menjadi ter-gelinding — تَدَحْرَجَ
Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
- memakai jilbab : تَجَلْبَبَ – يَتَجَلْبَبُ
- menggelinding : تَدَحْرَجَ – يَتَدَحْرَجُ
- memakai peci : تَقَلْسَسَ – يَتَقَلْسَسُ
- merendah : تَطَأْمَنَ
- bergoncang : تَزَلْزَلَ – يَتَزَلْزَلُ – تَزَلْزَلْ – تَزَلْزُلًا – مُتَزَلْزِلٌ – مُتَزَلْزَلٌ – لَا تَتَزَلْزَلْ
- digoncangkan : تُزُلْزِلَ – يُتَزَلْزَلُ
B. ISIM FA’IL & ISIM MAF’UL (اسم فاعِل، اسم مَفْعُول)
Isim Fa’il dan Isim Maf’ul, keduanya mempelajari pola kata untuk menentukan pelaku (subjek) yang melakukan pekerjaan dan objek yang dikenai pekerjaan.
Keduanya merupakan bentuk kata turunan/mushtaq (الكَلِمَة المُشْتَقَة) dari kata dasar/akar kata (الجَدْر).
Isim Fa’il:
_Rincian:
Isim fa’il adalah kata benda yang menunjukkan pelaku atau yang melakukan perbuatan.
Pola kata/wazan (الوَزْن):
- Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola فاعِلٌ,
- contoh: كاتِبٌ (yang menulis, penulis).
- جَاءَ الْقَاتِلُ إِلَى الْمَحْكَمَةِ . Artinya: “Pembunuh itu telah datang ke pengadilan
- Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan kasrah pada huruf sebelum akhir. Contoh:
- أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرِمٌ (yang memuliakan).
Isim Maf’ul:
_Rincian:
Isim maf’ul adalah kata benda yang menunjukkan objek atau yang dikenai perbuatan
Pola kata/wazan (الوَزْن):
- Untuk kata kerja 3 huruf / tsulatsi mujarrad mengikuti pola مَفْعُوْلٌ (maf’ulun),
- contoh: مَكْتُوْبٌ (yang ditulis, surat).
- رَأَيْتُ الرَّجُلَ الْمَقْتُوْلَ Artinya: “Saya melihat laki-laki yang dibunuh (korban pembunuhan) itu.”
- Untuk kata kerja lebih dari 3 huruf, caranya adalah mengambil kata kerjanya yang bentuk sekarang (fi’il mudhari’, bukan yang lampau fi’il Madhi), lalu ganti huruf awal dengan awalan م berharakat dhammah (مُ), dan fathah pada huruf sebelum akhir. Contoh:
- أَكْرَمَ (memuliakan) menjadi مُكْرَمٌ (yang dimuliakan).
C. ISYTIQAQ & MASDAR
1. Isytiqaq:
_Definisi Isytiqaq:
Isytiqaq adalah menelusuri huruf asli pembentuk kata dan huruf tambahannya agar tidak keliru saat mencari arti di dalam kamus bahasa Arab.
Konsep dasar isytiqaq:
- Mengambil atau menurunkan suatu lafaz dari lafaz lain dengan kecocokan makna dan susunan huruf dasarnya.
- Contoh: Dari akar kata ك-ت-ب (كَتَبَ yang berarti menulis), lahir kata كِتَابٌ (buku), كَاتِبٌ (penulis), dan مَكْتُوْبٌ (tertulis).
2. Masdar
_Definisi Masdar:
Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, namun tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
- Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
- Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ
Jenis Masdar:
a. Masdar Qiyasi.
_
Masdar Qiyasi memiliki pola/rumus baku. Biasanya untuk kata kerja lebih dari 3 huruf (fi’il ruba’i, khumasi, sudasi).
Ada 3 pola/rumus utama mengikuti wazan fi’il-nya (af’ala, fa’ala, istaf’ala).
- 1). Pola af’ala أَفْعَلَ. Masdarnya إِفْعَالٌ.
- Contoh: kata kerja أَحْسَنَ (berbuat baik, melakukan dengan baik), maka berubah menjadi Masdar إِحْسَانٌ (perbuatan baik).
- 2). Pola fa’ala فَعَّلَ. Masdarnya تَفْعِيلٌ.
- Contoh: kata kerja عَلَّمَ (mengajar, mendidik), maka berubah menjadi Masdar تَعْلِيْمٌ (pengajaran, pendidikan).
- 3). Pola istaf’ala اِسْتَفْعَلَ. Masdarnya اِسْتِفْعَالٌ.
- Contoh: kata kerja اِسْتَغْفَرَ (memohon ampun), maka berubah menjadi Masdar اِسْتِغْفَارٌ (permohonan ampun).
b. Masdar Sama’i.
_
Masdar Sama’i berdasarkan pendengaran/ kamus) karena tidak baku. Umumnya berlaku untuk fi’il tsulatsi (kata kerja 3huruf). Namun ada beberapa pola kecenderungan, contoh:
- 1). Menunjukkan profesi, pola fi’alah فِعَلَةٌ.
- Contoh: كَتَبَ (menulis) menjadi masdar كِتَبَةٌ (penulisan).
- 2). Menunjukkan gerakan/ guncangan.
- Contoh: دَارَ (berputar) menjadi Masdar دَوْرٌ (perputaran).
- 3). Menunjukkan suara.
- Contoh: صَاحَ (berteriak) menjadi Masdar صِيَاحٌ (teriakan).
Contoh pemakaian Masdar dalam kalimat:
- a) Sebagai subyek مُبْتَدَأ (mubtada):
- القِرَاءَةُ مُفِيدَةٌ (Membaca itu bermanfaat)
- b) Sebagai obyek مَفْعُولٌ بِهِ (maf’ulun bihi):
- أُحِبُّ التَّعْلِيمَ (saya menyukai pengajaran)
- c) Sebagai penegas kalimat (maf’ul mutlaq):
- Kalimat: فَهِمْتُ الدَّرْسَ فَهْمًا (saya telah memahami pelajaran itu sebenar-benar paham).
- Ada 2 Masdar disini: sebagai obyek الدرس، dan sebagai maf’ul mutlaq فهما.
c. Masdar Shina’i:
Masdar Shina’i adalah Masdar yang bersambung dengan YA Nisbat ي dan diakhiri dengan TA marbutoh ة untuk menunjukkan sifat padanya.
Contoh:
- إِنْسَانٌ (manusia) menjadi masdar إِنْسَانِيَّةٌ : kemanusiaan
- يَوْمٌ (hari) menjadi masdar يَوْمِيَّةٌ : harian
d. Masdar Sharih dan Masdar Mu’awwal.
Masdar Mu’awwal dan Masdar Sharih, perbedaan utama keduanya terletak pada bentuk kata dan strukturnya, meskipun keduanya memiliki makna dan fungsi sintaksis yang sama.
- 1. Masdar Sharih ( لمَصْدَرُ الصَّرِيْحُ ) adalah Masdar yang berupa kata benda asli yang tertulis jelas dalam satu kata tunggal tanpa bantuan huruf penolong.
- Contoh: قِرَاءَةٌ (bacaan/membaca).
- قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
- 2. Masdar Mu’awwal ( المَصْدَرُ المُؤَوَّلُ ) adalah Masdar yang berupa Frase atau klausa tersirat yang terbentuk dari gabungan huruf masdar (paling sering أَنْ) dan kata kerja setelahnya (fi’il Mudhari’).
- Contoh: أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca),
- Kaidahnya: setelah أَنْ، maka fi’il sesudahnya harus Manshub (di-fathah).
Hubungan kedua Masdar: Keduanya bersifat bisa ditukarkan satu sama lain. Dalam kalimat, kita bisa mengatakan أَنْ تَقْرَأَ (bahwa kamu membaca), dengan Masdar Sharihnya قِرَاءَتَكَ (bacaan kamu).
D. Huruf Illat
Huruf Illat:
Huruf Illat membedakan huruf asal yang normal (shahih) dengan huruf lemah (penyakit) seperti alif, wau, dan ya yang sering mengubah cara baca atau tulisan suatu kata.
Merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah).
Perbedaan Alif ا dan Hamzah أ ء :
Keduanya berbeda sama sekali.
- Alif ا merupakan huruf illat. Alif tidak pernah menerima harakat kecuali sukun اْ، dan hanya berfungsi memanjangkan ketukan suara.
- Hamzah (أ، ء) bukan huruf Illat melainkan huruf shahih (sehat) yang bisa menerima harakat.
- Huruf Hamzah bisa berubah-ubah bentuk tergantung posisi dalam kata (didepan, di tengah, di belakang), dan berubahnya tergantung juga dari harakat huruf sebelumnya، atau huruf sesudahnya (ي atau و ، atau ا).
- Sebagai contoh, untuk kata سُؤَالٍ kita tidak bisa menuliskan سُءَالٍ karena kalau ditengah kata harus ‘digendong’ menjadi ؤ atau ئ atau أ، namun karena harakat huruf sebelumnya adalah rafa’ ( سُ ), maka ء harus menjadi ؤ .
Fi’il Mu’tal [Fi’il Mitsal, Fi’il Ajwaf, Fi’il Naqish, Lafif Maqrun, Lafif Mafruq):
Fi’il Mu’tal ( فعل معتل ) adalah kata kerja yang mengandung huruf illat, sebagai lawannya fi’il shahih, terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat):
- a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
- b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
- c) Fi’il naqish (akhir): دعا، رمى
- d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
- e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
Perbedaan huruf huruf hamzah (أ atau ء) dan alif ( ا atau ى)
Perbedaan huruf huruf hamzah أ ء dan alif ا ى terletak pada fungsi harakat dan cara pelafalannya.
Huruf Hamzah (أ atau ء)
- Huruf hamzah adalah konsonan murni, dan dapat menerima semua jenis harakat (fathah, dhammah, kasrah, sukun), dan bisa dibaca secara mandiri.
- Hamzah memiliki banyak bentuk tergantung posisinya, yaitu berdiri sendiri ( ء ), diatas alif ( أ ), dibawah alif ( إ ), diatas waw ( ؤ ), atau diatas huruf ya ( ئ ).
- Dibaca dengan vokal (a, i, u) seperti bahasa Indonesia, atau seperti huruf k mati di akhir kata, seperti kata ‘bapak’ .
Huruf Alif ( ا )
- Alif adalah vokal panjang (mad) atau huruf tambahan yang berfungsi untuk memanjangkan suara harakat fathah.
- Alif tidak pernah bisa menerima harakat.
- Alif tidak berbunyi jika berdiri sendiri atau tidak didahului huruf berharakat fathah. Suaranya baru muncul sebagai pemanjang huruf sebelumnya yang berharakat fathah. (contoh: na + alif, dibaca naa)
Perbedaan huruf alif ا dan ya ي
Dalam ilmu nahwu dan sharaf dua huruf yang termasuk huruf illat ini (bersama dengan huruf waw), yaitu huruf alif dan huruf ya’ memiliki perbedaan mendasar sebagai berikut:
Huruf Alif ( ا ):
- Huruf alif tidak pernah menerima harakat apapun.
- Huruf sebelumnya harus berharakat fathah.
- Alif tidak pernah menjadi huruf asli di awal kata.
- Asal-usul huruf (akar kata):
- Alif dalam kata kerja atau kata benda 3-huruf bukanlah huruf asli, namun merupakan perubahan dari huruf asli baik dari huruf waw و atau ya ي.
- Contoh (huruf asli ي) : kata بَاعَ (baa’a) aslinya adalah بَيَعَ (baya’a)
- Contoh (huruf asli و) : kata دَعَا (da’aa) aslinya adalah دَعَوَ
Huruf ya’ ي:
- Huruf ya bisa menerima harakat (fathah, dhammah, kasrah, sukun)
- Jika berfungsi sebagai huruf illat yang memanjangkan suara (mad), maka huruf sebelumnya harus berharakat kasrah, contoh: فِي (fi)
- Bisa berada di awal, tengah atau akhir kata dalam bentuk aslinya.
- Asal-usul huruf (akar kata):
- Ya ي merupakan huruf asli.
- Contoh: lafadz أعْطَى , aslinya adalah أَعْطَي (huruf akhir ي) yang berubah menjadi alif maqshurah ( ى )
- Hal ini berdasarkan ilmu shorof, bahwa apabila ada huruf ya ي berharakat jatuh setelah huruf berharakat fathah (dalam hal ini setelah طَ) , maka huruf ya tersebut harus diganti dengan huruf alif, yaitu asal lafadznya أَعْطَي menjadi أَعْطَى .
- Kecuali apabila lafadz ini bersambung dengan huruf lain, misalkan bersambung dengan isim dhamir muttashil, misalkan huruf نَا (kami), maka huruf akhir dari kata tersebut harus di-sukun-kan (mati). Saat huruf akhir tersebut disukunkan, maka ia kembali ke wujud aslinya yaitu huruf ي dan bukan lagi alif (maqshurah) ى . Alasannya adalah alif dalam bahasa arab tidak menerima harakat atau disukunkan dalam kondisi ini (kecuali huruf hamzah أ atau ء ).
- Dalam kaidah ilmu shorof, ini disebut proses kembalinya huruf asal ketika suatu kata kerja bersambung dengan kata ganti (isim dhamir muttashil – kata ganti tersambung).
Penulisan huruf alif di akhir kata (Alif Layyinah)
ِKaidah shorof berikut berlaku hanya untuk kata yang terdiri dari 3 huruf (tsulatsi), dan penempatan alif di akhir kata. Ada dua (2) penulisan huruf alif di akhir kata, yaitu dengan ا atau ى. Berikut cara memilih huruf mana yang akan dipakai:
- Ditulis tegak ( ا ): jika asal-usulnya adalah huruf waw و . Contoh: دَعَا karena asalnya و sebagaimana dapat dilihat pada bentuk fi’il mudhari’nya يَدْعُوْ
- Ditulis bengkok tanpa titik ( ى ): jika asal-usulnya adalah huruf ya ي . Contoh: رَمَى karena asalnya ي sebagaimana dapat dilihat pada bentuk fi’il mudhari’nya يَرْمِيْ
E. Wazan (Timbangan/ Pola kata):
Mempelajari rumus standar pembentukan kata (seperti fa’ala, yaf’alu) untuk mengenali jenis dan kelompok kata dalam bahasa Arab. (Lihat Tabel Tashrif untuk berbagai jenis Wazan).
Penulis Artikel / Blogger:
Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]
Sumber/Referensi:
- 1. Kitab دُرُوسُ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِغَيْرِ النَّاطِقِيْنَ بِهَا (Duruus al-Lughah al-‘Arabiyyah li-Ghair al-Naatiqiina Biha/ Pelajaran Bahasa Arab Bagi Penutur Asing) Juz 1-4, terbitan th. 1431H/2009M, karangan DR. Abdur Rohim, mantan profesor di Universitas Islam Madinah.
- 2. Kitab الْمُيَسَّرُ فِي عِلْمِ النَّحْوِ (al-Muyassar fi ‘Ilmin Nahwi), Jilid 1-3, terbit awal th.1408H/ 1987M, karangan Ustadz Aceng Zakariya, mantan pimpinan Pesantren Persis 99 Rancabango dan Ketua Umum Persis th.2015-2022
- 3. Kitab Ilmu Nahwu Praktis Sistem Belajar 40jam, terbit th.2004, edisi revisi th. 2025, Karangan A.Zakaria
- 4. Kitab Belajar Tashrif Sistem 40jam, terbit th.2017, edisi revisi th.2023, Karangan A.Zakaria
Baca juga … Tabel Tashrif …
Baca juga Artikel lainnya… Ilmu Nahwu …
Baca juga Serial… Kisah Ahmad (Seri-1) …
Leave a Reply