Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Kisah Ahmad (Seri-1)

DAFTAR ISI:

I. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, & Tabel Tashrif (Uraian Ringkas)

Berikut materi tata bahasa Arab dalam bentuk uraian ringkas, silahkan di-klik masing-masingnya bagi yang ingin menyimak lebih lanjut:

Blogger Hadi-Suro Arabica


II. KAJIAN NAHWU SHOROF (KALIMAT-1):

Berikut satu kalimat/paragraf dari artikel yang akan dibahas pada seri kali ini sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof. Adapun link artikel lengkapnya ada di bagian berikutnya setelah kajian ini.


a. Kajian kalimat: أَنَا أَحْمَدُ

#1) Saya Ahmad, saya tinggal di rumah bersama keluarga saya.

أَنَا أَحْمَدُ, أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

أَنَا أَحْمَدُ,

Saya Ahmad

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah ismiyyah أَنَا أَحْمَدُ, yang terdiri dari:
      • mubtada‘ [marfu‘] dalam bentuk isim dhamir أَنَا
      • khabar [marfu‘] dalam bentuk isim alam أَحْمَدُ
  2. Ini kalimat nominal (jumlah ismiyyah 1) paling sederhana. Jumlah ismiyyah terdiri dari mubtada’ (subyek) dan Khabar (predikat).
  3. Kata/lafadz 2 أَنَا (artinya: saya) adalah mubtada’ nya, berupa isim dhamir (kata ganti orang pertama, ‘saya’). Kaidah I’rab (harakat/ tanda baca untuk huruf terakhir) harus di-rafa’ (harakat dhammah ـُ ). Namun untuk isim dhamir sifat katanya adalah mabni (tidak berubah harakat huruf akhirnya), sehingga tetap tertulis أَنَا. Hal yang sama berlaku untuk yang lainnya, diantaranya : أَنْتَ، نَهْنُ، هُوَ، هِيَ dsb.
  4. Lafadz أَحْمَدُ adalah khabar-nya, berupa isim juga yaitu isim alam (nama orang, binatang dll.). Isim ini sifatnya mu’rab, artinya bisa di-I’rab atau bisa berubah harakatnya. Untuk Khabar harakatnya adalah rafa’ , sehingga tertulis أَحْمَدُ dengan harakat dhammah دُ .

 


b. Kajian kalimat: أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي

, … saya tinggal di rumah bersama keluarga saya.

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • jumlah fi’liyyah أَعِيشُ فِي الْمَنْزِلِ مَعَ عَائِلَتِي, yang terdiri dari:
      • fi’il mudhari‘ أَعِيشُ dengan dhamir rafa’ muttasil أَنَا – أَ
      • zharf makan dalam bentuk sybhul jumlah jar wa majrur فِي الْمَنْزِلِ
      • zharf makan dalam bentuk murakkab jar wa majrur مَعَ عَائِلَتِي , yang terdiri dari :
        • huruf jar مَعَ
        • isim majrur عَائِلَتِي dalam bentuk idhafiy , yang terdiri dari :
          • mudhaf [majrur] عَائِلَةِ
          • mudhaf ilaihi [majrur] berupa dhamir jar muttasil أَنَا – يِ
  2. Ini adalah jumlah fi’liyah 3 (kalimat verbal) yang diawali oleh fi’il (kata kerja) dan diikuti oleh Fa’il (subyek/ pelaku) dan maf’ul bih (obyek).
  3. Dalam bahasa arab, fi’il, fa’il dan maf’ul bih dapat digabung menjadi satu kata tersambung. أَعِيشُ (artinya:saya tinggal) adalah fi’il Mudhari’ (kata kerja masa sekarang/ akan datang) yang sudah ada fa’il nya yaitu أـ (saya) di awalannya. Artinya ‘saya tinggal’. Kata kerja ini tidak memerlukan obyek dan disebut fi’il lazim 4. Adapun untuk fi’il yang membutuhkan obyek disebut fi’il muta’addi 5.
  4. Dalam ilmu Sharaf, perubahan kata dalam suatu kata disebut Tashrif. Ada 22 bentuk/Wazan tashrif, sebagaimana yang penulis cantumkan di bagian bawah konten ini.
  5. Lafadz أَعِيشُ masuk pola tashrif no.1 di tabel tersebut dengan pola عَاشَ – يَعِيْشُ .
  6. Frase/tarkib/murakkab 6 فِي الْمَنْزِلِ (artinya: di rumah) adalah kata keterangan/ zharf dalam bentuk jar wa majrur. Artinya terdiri dari huruf jar ( فِيْ ), dan isim yang majrur 7 (harakatnya di-rafa’ /kasrah). Disini terlihat huruf terakhir yang di-kasrah لِ. Lafadz الْمَنْزِلِ berdasarkan cara membaca huruf alim lam, tergolong pada kelompok huruf qomariyah 8 .
  7. Lafadz مَعَ (artinya: bersama) , adalah isim zharf makan 9 (kata keterangan tempat), dan bersifat sebagai mudhaf (disandarkan), dan diikuti mudhaf ilaihi (kata yang kepadanya mudhaf disandarkan) 10.
  8. Murakkab عَائِلَتِي (artinya: keluarga saya) adalah mudhaf ilaihi nya. I’rab nya majrur/di-kasrah عَائِلَةِ (keluarga).
  9. Namun عَائِلَةِ menjadi mudhaf juga dengan mudhaf ilaihi nya adalah isim dhamir majrur muttasil 11 ـتِي (artinya milik saya).

Bacaan lengkapnya dari kalimat-kalimat yang dibahas pada  Kajian diatas dapat dilihat pada Artikel lengkap (Indo-Arabic) dalam postingan tersendiri.

Untuk artikel lengkapnya, silahkan klik link berikut:

…Kisah Ahmad (The Story)…


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Baca selanjutnya… Kisah Ahmad (Seri-2) …

Baca juga Seri lainnya… Shalat Ataukah Rutinitas (Seri-1) …

Baca juga… Ilmu Nahwu …

Baca juga … Tabel Tashrif …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ FootNote:

  1. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali isim. Struktur utamanya terdiri dari mubtada’ (subjek) dan Khabar (predikat), keduanya isim yang dibaca rafa’ (akhiran kasrah ـُ). Contoh:
    • a) أَلْبَيْتُ نَظِيْفٌ. Rumah itu bersih
    • b) هُوَ طَالِبٌ. Dia adalah seorang murid
    ↩︎
  2. Kata/ Lafadz:
    Kata dalam bahasa arab dikategorikan menjadi:
    Isim اِسْمٌ (kata benda)
    Fi’il فِعْلٌ (kata kerja)
    Zharf ظَرْفٌ. (kata keterangan tempat atau waktu)
    Haal حَالٌ. (kata keadaan dari subyek atau obyek)
    Sifat صِفَةٌ/نَعَتْ. (kata sifat)
    Harf Jarr. حُرْفُ جَرٍّ (kata depan)
    Harf Athaf. حَرْفُ عَطْفٍ. (kata hubung)
    ↩︎
  3. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    • a. Fi’il (kata kerja)
    • b. fa’il (pelaku/subjek)
    • c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    • a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  4. Fi’il Lazim فِعْلٌ لاَزِمٌ : tidak membutuhkan obyek (maf’ul bih), cukup dengan pelaku saja, contoh:
    o a) جَلَسَ duduk
    o b) قامَ berdiri
    ↩︎
  5. Fi’il muta’addi adalah kata kerja yang butuh pelaku (fa’il) dan memerlukan objek (maf’ul bih) secara langsung supaya arti kalimatnya jelas dan lengkap.
    contoh:
    o a) أَكَلَ memakan
    o b) ضَرَبَ memukul
    ↩︎
  6. 1) Murakkab: Idhafiy, Washfiy, Isyariy, Sybhul Jumlah (jar wa majrur, zharf wa mudhaf ilaih)
    Frase kalimat disebut Tarkib (تَرْكِيْب, penyusunan) / atau Murakkab (مُرَكَّب, yang tersusun) dalam istilah bahasa Arab. Definisi Tarkib/ Murakkab adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan makna (frasa), tetapi belum bermakna sempurna.
    Jenis-Jenis Frasa (Murakkab) dalam Bahasa Arab, berdasarkan bentuk dan fungsinya, :
    Murakkab Idhafiy (kata majemuk): Frasa kepemilikan atau sandaran (hubungan Mudhaf dan Mudhaf Ilaih), contohnya كِتابُ مُحَمَّدٍ Kitabu Muhammadin (Kitab milik Muhammad).
    Murakkab Washifiy / Na’tiy: Frasa sifat atau diterangkan-menerangkan (hubungan Sifat dan Na’at dan Man’ut), contohnya لمَنْزِلُ الكَبِيرُ Al-Manjilu al-Kabiru (Rumah yang besar).
    Murakkab Isyariy: Frasa penunjuk, contohnya هَذَا القَلَمُ Hadza al-kalamu (pulpen ini).
    Sybhul Jumlah (Serupa Kalimat): (dibahas rinci setelah bagian ini) Murakkab Jar wa Majrur: Frasa yang diawali huruf jar (kata depan),
    Zharf wa mudhaf ilaih ↩︎
  7. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎
  8. Huruf Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.
    Isim ma’rifah (kata benda yang sudah pasti) salah satunya ditandai dengan adanya alif lam ( ال ) di awal kata. Berdasarkan cara membaca alif lam tersebut saat bertemu huruf hijaiyah, hukumnya dibagi menjadi dua: Asy-Syamsiyah dan al-Qomariyah.
    Alif Lam Syamsiyah: terjai jika bertemu dengan 14 huruf syamsiyah, maka cara membacanya – huruf lam tidak dibaca alias melebur atau dianggap tidak ada, dan suara langsung masuk ke huruf berikutnya dengan memakai tanda tasydid ( ّ ). Berikut kelompok huruf syamsiyah: ش, ز, ظ, س, د, ن, ذ, ض, ت, ر, ص, ث, ط, ل. Contoh: الشَمْسَ
    Alif Lam Qomariyah: terjadi jika bertemu dengan salah satu huruf qomariyah, maka cara membacanya yaitu huruf lam dibaca dengan jelas, eksplisit dan mati / tanda baca sukun ( ْ ). Berikut kelompok huruf qomariyah: ي, ه, و, م, ك, ق, ف, غ, ع, خ, ح, ج, ب, أ. Contoh: الْقَمَرُز
    ↩︎
  9. Zharf Makan dan Zharf Zaman adalah kata keterangan tempat dan waktu dengan I’rab nashab, atau sebagai isim Manshub. Dan kata sesudahnya adalah mudhaf ilaih Majrur (kasrah).
    Zharf Makan ظَرْفُ مَكان (tempat). Contoh:
    a) أمامَ didepan, وَراء dibelakang, فَوْقَ diatas, يَمِيْنَ sebelah kanan, يَسيرَ sebelah kiri.
    b) جَلَسْتُ تَحْتَ الشَجَرةِ (dibawah تحت)
    Zharf zaman ظَرْف زَمانٍ (waktu). Contoh:
    a) لَيْلاً، صَباحاً، غَداً، مَساءً، نَهاراً، الآنَ (malam hari, pagi, besok, sore hari, siang, sekarang).
    b) بَيْنَ (antara, diantara) ، بَيْنَما (sedangkan, sementara, di waktu, sedang) ↩︎
  10. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur ↩︎
  11. Isim dhamir majrur muttasil adalah isim dhamir yang kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi yang irab-nya majrur/kasrah (fi mahalli jarrin mudhaf ilaih), dan dituliskan menempel di akhir kata benda/isim yang menjadi mudhaf-nya. Kedudukan ini menunjukkan kepemilikan (posesif) seperti “rumahku“, “kemejamu“, “mobil dia“.
    Berikut cara penulisan dhamir majrur:
    Orang pertama (mutakallim/pembicara): Saya: كِتَابِي – buku saya
    Kami: كِتَابُنَا – buku kami
    Orang kedua (mukhatab/orang yang diajak bicara): Kamu lk.: كِتَابُكَ – buku kamu lk.
    Kamu pr.: كِتَابُكِ – buku kamu pr.
    Kalian lk.: كِتَابُكُمْ – buku kalian lk.
    Kalian pr.: كِتَابُكُنَّ – buku kalian pr.
    Kalian berdua: كِتَابُكُمَا – buku kalian berdua
    Orang ketiga (ghoib/orang yang dibicarakan): Dia lk.: كِتَابُهُ – buku dia lk.
    Dia pr.: كِتَابُهَا – buku dia pr.
    Mereka lk.: كِتَابُهُمْ – buku mereka lk.
    Mereka pr.: كِتَابُهُنَّ – buku mereka pr.
    Mereka berdua: كِتَابُهُمَا – buku mereka berdua
    Catatan penting:
    Untuk dhamir orang ketiga yang diawali huruf Ha (ـهُ / ـهُمَا / ـهُمْ / ـهُنَّ), harakatnya akan berubah menjadi kasrah (ـهِ / ـهِمَا / ـهِمْ / ـهِنَّ) jika isim (mudhaf) di depannya diakhiri dengan harakat kasrah atau huruf Ya sukun (يْ).
    Contoh normal: بَيْتُهُ (rumah dia lk.)
    Contoh perubahan-1: فِي بَيْتِهِ (di rumah dia lk.) << harakatnya ikut berubah menjadi kasrah. ↩︎

Responses

  1. _Ilmu Nahwu – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

  2. _Ilmu Shorof – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

  3. Tabel Tashrif – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Kisah Ahmad (Seri-1) […]

    Like

  4. Assalamualaikum… – mitrahadi30-edniv Avatar

    […] Kisah Ahmad (Seri-1… s/d… Seri-4), dan akan terus bersambung… […]

    Like

Leave a Reply