Silahkan Klik tombol ‘ = ‘ di pojok kanan atas sebelah “Pengantar” untuk pilihan menu di layar hape.

Qs.114 An-Nas النَّاسُ (ayat 1-6)

Kajian Ayat-ayat Al-Qur'an dengan Nahwu & Shorof

DAFTAR ISI:

I. Pengantar Kajian

أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ … بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

Atas taufik & hidayah-Nya, penulis mencoba memberanikan diri untuk melakukan kajian tata bahasa Arab (Nahwu Shorof) terhadap Kalaamullah Kitab Suci al-Qur’anul Karim, serta mencoba memahami kedalaman makna ayat-ayat Nya. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua yang mencoba men-tadabburi ayat-ayatnya… aamiin…

Blogger Hadi-Suro Arabica


II._KAJIAN NAHWU-SHOROF

Berikut kajian ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim sesuai kaidah tata bahasa Arab berdasarkan Ilmu Nahwu Shorof.


#1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١

#2) raja manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢

#3) sembahan manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣

#4) dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤

#5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ۝٥

#6) dari (golongan) jin dan manusia.”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ۝٦


Petikan ayat…

a. Kajian ayat… قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • fi’il ‘amr [majzum] قُلْ
    • maqulul qawl (obyek dari قُلْ ) dalam bentuk jumlah fi’liyyah اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِ , yang terdiri dari :
      • fi’il mudhari’ lazim اَعُوْذُ dengan dhamir rafa’ muttasil أَنَا – أَ
      • muta’alliq bil fi’li (obyek sambung fi’il lazim) بِرَبِّ , yang terdiri dari :
        • huruf ta’alluq بِ
        • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alluq رَبِّ
      • idhafiy رَبِّ النَّاسِ , dengan mudhaf ilaih [majrur] النَّاسِ
  2. Ini adalah jumlah fi’liyyah 1(kalimat verbal) yang didahului oleh fi’il ‘amr قُلْ (katakanlah).
  3. Lafadz قُلْ adalah bentuk perintah dari kata kerja dengan pola tashrif قَالَ – يَقُوْلُ – قُلْ (fi’il madhi – fi’il mudhari’ – fi’il ‘amr). Tiga (3) huruf dasarnya adalah ق, و, ل (terlihat pada bentuk fi’il mudhari’ nya, bukan fi’il madhi).
  4. Dalam ilmu shorof, ini tergolong fi’il mu’tal 2 yaitu ada huruf illat (ا, و, ي) di salah satu atau salah keduanya. Dan dari 5 jenis fi’il mu’tal, ini masuk sub-kategori fi’il ajwaf, yaitu yang berisi huruf illat di huruf tengahnya (و).
  5. Lanjut ke jumlah fi’liyyah yaitu اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, مَلِكِ النَّاسِۙ, اِلٰهِ النَّاسِۙ . Ini adalah obyek (maf’ul bih) dari kata perintah قُلْ yang disebut maqulul qawl – kalimat yang diucapkan.
  6. Fi’il (kata kerja) kalimat ini adalah أَعُوْذُ بِ (aku mencari tempat perlindungan dengan) dengan fa’il (subyek) أَنَا (aku). Pola tashrif kata ini adalah عَاذَ – يَعُوْذُ – عُذْ
  7. Frase kalimat بِرَبِّ النَّاسِ disebut muta’alliq bil fi’li (bentuk jar wa majrur) 3 dengan huruf ta’alluq بِ dan obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq (artinya isim/kata benda dengan i’rab majrur/kasrah) nya adalah رَبِّ dengan arti “pemilik, pemimpin/penguasa, pendidik, kepala keluarga/majikan, pengurus, tuhan“.
  8. Frase kalimat رَبِّ النَّاسِ adalah bentuk mudhaf 4 dan disebut murakkab idhafiy, dengan isim mudhaf nya adalah رَبِّ dan mudhaf ilaih nya النَّاسِ.
  9. Sesuai kaidah maka mudhaf ilaih ber-i’rab majrur/kasrah dan disini berbentuk isim makrifah 5 (dengan awalan al ال). Adapun mudhaf karena sifatnya disandarkan ke mudhaf ilaih maka tanpa awalan al.
  10. Frase/murakkab مَلِكِ النَّاسِۙ dan اِلٰهِ النَّاسِۙ adalah sejajar dengan murakkab sebelumnya رَبِّ النَّاسِ dan dalam ilmu nahwu kedua-duanya berkedudukan sebagai badal 6 (pengganti)-nya atau sebutan lain sebagai athaf bayan (penguat penjelas) dari yang disebut di awal (رَبِّ النَّاسِ).
  11. Secara spesifik, disebut sebagai badal kul min al-kul (pengganti secara keseluruhan, bukan sebagian), yaitu merujuk kepada dzat yang sama yaitu Allah swt (lihat penjelasan detil pada bagian tersendiri ‘tadabbur’ setelah ini). Kaidah badal sebagai salah satu isim tawabi 7 adalah i’rab nya mengikuti yang diikuti (badal minhu), dalam kalimat ini yaitu i’rab majrur.

Petikan ayat…

b. Kajian ayat… مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • idhafiy pertama مِنْ شَرِّ , yang terdiri dari :
      • huruf jar مِنْ
      • mudhaf ilaih [majrur] شَرِّ
    • idhafiy turunan (dari idhafiy pertama) شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ yang terdiri dari :
      • mudhaf [majrur] شَرِّ
      • mudhaf ilahi [majrur] (2 buah) الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
    • na’at/sifat dari kalimat sebelumnya, dalam bentuk maushul الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, yang terdiri dari :
      • isim maushul الَّذِيْ
      • shilah maushul يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ dalam bentuk jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari :
        • fi’il mudhari’ lazim يُوَسْوِسُ
        • muta’alliq bil fi’li فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ , yang terdiri dari :
          • huruf ta’alluq/jar فِيْ
          • obyek dalam bentuk isim majrur muta’alliq صُدُوْرِ , sekaligus bertindak sebagai mudhaf yang bersandar ke mudhaf ilaih [majrur] النَّاسِ
  2. Ini adalah frase/murrakab jar wa majrur juga namun dengan huruf jar min مِنْ (dari).
  3. Isim majrur-nya adalah شَرِّ (kejahatan) dengan i’rab majrur. Lafadz شَرُّ adalah bentuk masdar 8 dari fi’il lazim شَرَّ – يَشَرُّ (dia jahat).
  4. Frase kalimat شَرِّ الْوَسْوَاسِ bukan murakkab washifiy melainkan murakkab idhafiy (frase kepemilikan atau sandaran) dengan bentuk mudhaf + mudhaf ilaih. Hal ini dapat diketahui dari kata pertama (mudhaf) yang tanpa alim lam, yang menyelisihi kata keduanya (mudhaf ilaihi) yang diawali alim lam (berbentuk isim makrifah).
  5. Dua kata ini الْوَسْوَاسُ dan الْخَنَّاسُ adalah isim (kata benda) karena diawali dengan alim lam (al-) yaitu menunjuk pada makhluk yang disebut setan, maknanya berbentuk seperti kata sifat tetapi bukan kata sifat, dalam kaidah nahwu lafad isim seperti ini adalah isim jenis sighah mubalaghoh 9 .
  6. Sighah mubalaghoh atau sifat yang diberikan kepada setan pada ayat ini adalah dengan dua kata ini (silahkan lihat kamus):
    • Sebagai الْوَسْوَاسُ yang artinya ‘pembisik kejahatan, waswas, kegelisahan, kecemasan, obsesi’.
    • Sebagai الْخَنَّاسُ yang artinya ‘pembisik yang selalu bersembunyi/mundur, yang sering menunda-nunda‘, makna lain ‘dia menyusut ketika nama Allah disebut’.
  7. Sighah mubalaghoh adalah isim yang asalnya dari fi’il (kata kerja) yang mengalami perubahan kata (tashrif), inilah yang dipelajari dalam ilmu shorof.
  8. Lafadz الْوَسْوَاسُ berasal dari fi’il وَسْوَسَ – يُوَسْوِسُ (membisik, menghasut, membuat was-was, menggoda, mengajak berbuat jahat atau tak berguna). Fi’il ini dalam ilmu shorof, pada tabel tashrif berbentuk pola tashrif no.19 10 .
  9. Lafadz الْخَنَّاسُ berasal dari fi’il خَنَسَ – يَخْنِسُ (tertinggal dan terlambat, mundur, menarik diri, bersembunyi).
  10. Frase kalimat الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ menerangkan isim sebelumnya (الْوَسْوَاسُ dan الْخَنَّاسُ ) namun ia bukan haal 11 (kata keadaan), karena untuk haal haruslah berbentuk isim naqirah (tanpa alim lam), dan ber-i’rab manshub/fathah, dan juga haal biasanya menerangkan keadaan yang bersifat temporer (sementara) saat perbuatan terjadi.
  11. Kedudukan yang tepat dalam tata bahasa untuk frase kalimat tersebut الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ (diwakili lafadz pertama الَّذِيْ ) adalah na’at (sifat) 12 atau kalimat baru yang dipotong dengan kata sambung.
  12. Sifat dari apa? Yaitu sifat dari man’ut / kata sebelumnya yang diikuti (الْوَسْوَاسِ ) makanya i’rab-nya majrur juga karena sebagai sifat/naat harus sama (i’rab naat harus mengikuti i’rab man’ut), dan bentuknya sebagai isim makrifat (dengan alim lam) juga karena mengikuti man’ut-nya.
  13. Secara lengkap frase kalimat الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ dalam tata bahasa (ilmu nahwu) disebut isim maushul 13 (kata sambung الَّذِيْ artinya ‘yang’) + shilah maushul (kata/kalimat yang disambungkan).
  14. Shilah maushulnya berupa anak kalimat lengkap yaitu يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ (yang membisikan kedalam dada manusia). Isim maushul الَّذِيْ dalam bentuk orang ketiga tunggal (dia, lk.).
  15. Kata kerja يُوَسْوِسُ sudah disinggung pada poin sebelumnya yaitu fi’il mudhari’. Mengapa dalam bentuk fi’il mudhari (sekarang dan akan datang), bukan dalam bentuk fi’il madhi (وَسْوَسَ)…karena perbuatan ini dilakukan terus menerus (hingga akhir zaman).
  16. Murakkab فِيْ صُدُوْرِ adalah berbentuk jar wa majrur 14dengan huruf jar فِي (didalam, kedalam). Selanjutnya murakkab صُدُوْرِ النَّاسِۙ adalah berbentuk murakkab idhafiy, yaitu mudhaf صُدُوْرِ dan mudhaf ilaihi (النَّاسِۙ ), dimana mudhaf tidak boleh bertanwin atau tidak diawali alim lam, karena ia disandarkan kepada mudhaf ilaihi. Mudhaf ilaihi boleh diawali alim lam, atau kalau tidak, harus bertanwin (kasratain ).
  17. Lafadz صُدُوْرِ (dada, hati) adalah isim jamak dari صَدْرُ (dada, bagian atas-depan dari segala sesuatu)
  18. Lafadz النَّاسِ (manusia, anak Adam).

Petikan Ayat…

c. Kajian ayat… مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

dari (golongan) jin dan manusia.”

  1. Struktur kalimat diatas dapat diuraikan susunan, kedudukan dan i’rab-nya secara ilmu nahwu sebagai berikut:
    • huruf jar مِنْ
    • isim majrur (2 buah) الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ yang disambung dengan huruf athaf وَ
  2. Ini adalah murakkab jar wa majrur dengan huruf jar مِنْ (dari ‘golongan’).
  3. Isim majrur nya ada 2 yaitu الْجِنَّةِ (jin) dan النَّاسِ (manusia) yang disambung dengan huruf athof (sambung) وَ (dan).
  4. Catatan: mohon dibedakan antara الْجِنَّةِ (jin) dengan الْجَنَّةِ (taman, surga), meskipun hanya beda di harakat huruf awal.

d. Tadabbur Ayat

Tadabbur تَدَبُّرُ adalah isim masdar dari fi’il تَدَبَّرَ yang artinya dalam konteks Al-Qur’an, adalah aktivitas merenungi, menghayati, dan memahami secara mendalam kandungan makna ayat suci agar dapat menangkap pesan serta mengambil pelajaran di dalamnya.

Berikut beberapa hal yang bisa penulis sampaikan dalam tadabbur ayat-ayat yang sudah dilakukan kajian nahwu-shorofnya diatas:

  1. Surah ini diawali dengan kata perintah قُلْ (katakanlah), dan setelahnya adalah kalimat isti’adzah (memohon perlindungan) اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ .
  2. Apabila diperhatikan ini mirip kalimat isti’adzah yang selalu kita baca di setiap aktifitas apapun dilanjutkan dengan membaca basmalah, namun memiliki nama khusus sebagai kalimat ta’awudz تَعَوُّذُ dengan lafadz أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), dan dengan arti yang sama (meminta perlindungan).
  3. Uniknya, kalimat ta’awudz dibaca di awal setiap aktifitas terutama sebelum membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, adapun surah An-Nas yang berisi kalimat isti’adah ini menempati posisi sebagai surat terakhir al-Qur’an (surat ke-114). Jadi lengkaplah momen permintaan perlindungan yaitu di awal dan di akhir, tanpa ada celah setan menggoda.
  4. Dalam ilmu nahwu, kemiripan ini istilahnya adalah badal (menggantikan). Apa yang diganti dan apa yang menggantikan ? Keduanya sama, namun berbeda penekanan atau penjabaran/penjelasan.
  5. Dalam kalimat ta’awudz أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّّيْطَانِ الرَّجِيمِ , بِاللَّٰهِ artinya kita meminta perlindungan kepada ‘DZAT‘-Nya yaitu Allah swt اللَّٰهُ. Adapun dalam surat an-Nas, kita meminta perlindungan kepada ‘Title/Kedudukan‘-Nya atas manusia, yaitu sebagai :
    1. Rabb an-nas رَبُّ النَّاسِ… ‘Yang Memimpin dan Mengurusi manusia anak-cucu Adam‘.
    2. Malik an-nas مَلِكُ النَّاسِۙ… ‘Yang menjadi Raja bagi seluruh manusia anak-cucu Adam’.
    3. Ilaah an-nas اِلٰهِ النَّاسِۙ… ‘Yang menjadi sesembahan manusia anak-cucu Adam’.
  6. Kata Rabb sebetulnya adalah kata yang disematkan juga untuk manusia umumnya, seperti :
    • Rabbul bait رب البيت , rabbul manjil رب المنزل (kepala rumah tangga)
    • Rabbatul bait ربة البيت, rabbatul manjil ربة المنزل (ibu rumah tangga)
    • Rabbul usroh رب الأسرة (kepala keluarga), ربة الأسرة (ibu pengelola keluarga)
    • Rabbul mal رب المال (pemilik modal, investor)
    • Rabbul amal رب العمل (majikan, bos)
    • Rabbus safinah رب السفينة (nahkoda kapal, pemilik/penguasa kapal)
  7. Artinya, ternyata kita ini, siapapun dia tidak pernah sendirian dalam menjalani kehidupan, karena ada yang mengurus kita. Dan yang mengurus kita bukan sembarang yang mengurus melainkan Rabbul aalamiin (Yang Mengurus Alam Semesta).
  8. Dan salah satu Asmaul Husna yang disandang Allah SWT. adalah Al-Qayyum (الْقَيُّومُ), yang berarti Yang Maha Mandiri atau Yang Terus-Menerus Mengurus (kehidupan) makhluk-Nya.
  9. Kata Malik (raja, penguasa), yang berarti ‘semua titah/perintah-Nya harus diikuti dan dilaksanakan’.
  10. Kata Ilah (tuhan, sesembahan), maknanya cukup jelas.
  11. Badal (pengganti) yang kedua dari kalimat ta’awudz adalah dari badal minhu lafadz مِنَ الشَّّيْطَانِ (dari setan yang terkutuk). Lafadz badal minhu disini adalah الشَّّيْطَانِ yang adalah dzat dari setan itu sendiri (yaitu dari golongan jin dan manusia pada ayat terakhir surah an-Nas).
  12. Adapun badal-nya pada surat an-Nas adalah مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ (dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi). Ini adalah sifat dari setan dalam bentuk sighah mubalaghoh, dan dilanjutkan penjelasannya dengan anak kalimat penjelas الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ (yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,).
  13. Barulah di ayat terakhir surah an-Nas, dijelaskan dengan gamblang bahwa dzat setan itu sendiri ternyata bukan sesuatu makhluk tunggal, melainkan jamak, yaitu مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (dari golongan jin dan manusia)… yang memiliki sifat sighah mubalaghoh sebagaimana disitir ayat sebelumnya.

III. Qs.114 An-Nas : Teks Surah Lengkap (dan Terjemah)

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

بِسْمِ اللَّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

#1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١

#2) raja manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢

#3) sembahan manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣

#4) dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤

#5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ۝٥

#6) dari (golongan) jin dan manusia.”

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ۝٦


Penulis Artikel / Blogger:

Hadi-Suro Arabica… (Penikmat Kopi Arabica)… [Website: kalaamul-hadi.com]


Referensi/ Sumber :

Teks Kitab Suci Al-Qur’anul Karim, Lengkap Terjemah, Link website: https://quran.nu.or.id/

Baca kajian sebelumnya…Qs.108: Al-Kautsar…

Baca kajian sesudahnya…Qs.112: Al-Ikhlas

Baca juga Serial lainnya… Kisah Ahmad (Seri-1) …

Baca juga … Ilmu Nahwu …

Baca juga … Ilmu Shorof …


Catatan Kaki/ Note:

  1. Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali fi’il. Struktur utamanya terdiri dari:
    a. Fi’il (kata kerja)
    b. fa’il (pelaku/subjek)
    c. Maf’ul bih (مَفْعُوْلُ بِهِ), namun tidak wajib ada.
    Contoh:
    a) ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْمَسْجِدِ Muhammad pergi ke masjid
    b) يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ murid itu sedang menulis pelajaran ↩︎
  2. Kata kerja yang mengandung  huruf illat disebut fi’il mu’tal فعل معتل  (lawannya fi’il shahih), terbagi menjadi 5 jenis utama (berdasar letak huruf illat:
    a) Fi’il mitsal (awal): contoh وعد، يسر
    b) Fi’il Ajwaf (tengah): قال، باع
    c) Fi’il naqis (akhir): دعا، رمى
    d) Lafif maqrun (tengah & akhir: شوى، قوي
    e) Lafif mafruq (awal & akhir): وقىَ، وايَ
    Huruf illat merujuk pada tiga huruf tertentu yaitu Alif ا , wau و , dan ya ي . Secara harfiah artinya penyakit atau cacat, karena sering mengalami perubahan (diganti, dibuang, atau di-sukun-kan). Berfungsi juga sebagai pemanjang suara bacaan (huruf maad). Dan berfungsi juga sebagai huruf tambahan/ sisipan dalam pembentukan kata baru (huruf ziyadah). ↩︎
  3. Dalam tata bahasa Arab, bisa saja obyek (maf’ul bih) ditambahkan ke fi’il lazim (kata kerja intransitif) sehingga bermakna mirip dengan fi’il muta’addi (kata kerja transitif, yang dijelaskan dibawah). Namun, penambahan obyek tidak secara langsung dimana fi’il diikuti obyek, melainkan dengan bantuan huruf penjelas atau huruf ta’alluq yang disisipkan antara fi’il dan obyek, sehingga maknanya bisa sampai ke obyek.
    Hampir semua huruf jar dapat bertindak sebagai huruf ta’alluq, yaitu : بِـ, إِلَى, فِيْ, عَنْ, عَلَى, لِـ, مِنْ. Dan gabungan antara huruf ta’alluq dengan obyek adalah seperti hubungan murakkab jar wa majrur, namun dalam hal ini hubungannya disebut khusus sebagai muta’alliq bil fi’li (huruf ta’alluq + obyek).
    Berikut adalah daftar huruf jar yang berfungsi sebagai huruf penjelas/ta’alluq beserta contoh penggunaannya:
    huruf bi بِِـ (dengan, kepada, pada) contoh fi’il lazim normal (tanpa obyek) : ذَهَبَ عَلِيٌ (Ali telah pergi)
    contoh fi’il lazim + muta’alliq bih : ذَهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ (Allah pergi dengan cahaya mereka), dengan arti lain: Allah menghilangkan cahaya mereka.
    huruf ilaa إِلَى (ke, kepada) contoh : تَوَجَّهَ إِلَى (menghadap ke)
    huruf fi فِي (didalam, pada, tentang) contoh : فَكَّرَ فِيْ (memikirkan tentang)
    huruf an عَنْ (dari, tentang, menjauh dari) contoh : بَحَثَ عَنْ (mencari)
    huruf alaa عَلَى (diatas, atas, kepada) contoh : اِعْتَمَدَ عَلَى (bergantung kepada)
    huruf li لِ (untuk, bagi, kepada) contoh : قَالَ لِـ (berkata kepada)
    huruf min مِنْ (dari, termasuk): contoh : خَرَجَ مِنْ (keluar dari)
    Selain muta’alliq bil fi’li seperti diuraikan diatas, ada juga variasi lain yaitu muta’alliq bil masdar, yaitu sebagai penjelas ke masdar yang mendahuluinya.
    Contoh muta’alliq bil masdar : بِإِكْثَارٍ مِنَ الصَّلَاةِ (artinya: hal-hal yang lebih banyak dari shalat)
    Keterangan: muta’alliq مِنَ الصَّلَاةِ (dari shalat) adalah penjelas bagi masdar إِكْثَارٍ (hal-hal yang lebih banyak) ↩︎
  4. Mudhaf yang diikuti oleh mudhaf ilaihi, artinya menyandarkan atau memusatkan sesuatu kepada sesuatu.
    Contoh:خَتَمُ ذَهَبٍ. Cincin emas
    Isim yang pertama (ُخاتم) disebut mudhaf/ yang disandarkan مُضَافٌ
    Isim kedua (ذهبٍ) disebut mudhaf ilaih مضافُ إلَيْهِ، dan harus majrur   ↩︎
  5. Isim Makrifah adalah isim yang menunjukkan makna tertentu, jelas atau sudah dikhususkan.
    Ciri-ciri: tidak menggunakan tanwin (apabila ber-alif lam). Tujuh (7) jenis isim makrifah: Isim alam, Isim mudhaf, dan 5 (lima) Isim mabni (isim dhamir, isyarah, istifham, syarat, maushul).
    Contoh isim makrifah yang diawali dengan alif-lam: الكتابُ، السَماءُ (langit, buku).
    ↩︎
  6. Badal adalah isim yang mengikuti isim lain dan berfungsi untuk menggantikannya. Contoh:
    قالَ الإمامُ مالِكُ. Telah berkata Imam Malik
    مالك adalah badal dari الإمام،. Sekalipun salah satunya dibuang, tidak akan menghilangkan arti.
    Ada 4 kategori badal:
    a. Badal sesuatu menggantikan sesuatu.
    b. Badal sebagian menggantikan keseluruhan.
    أَكَلْتُ الْخُبْزَ نِصْفَهُ.. Aku memakan roti setengahnya
    c. Badal sesuatu mencakup yang lainnya.
    نَفَعَنِي مُحَمَّدٌ عِلْمُهُ. Telah bermanfaat bagiku Muhammad yaitu ilmunya.
    d. Badal yang salah dalam penyebutan. ↩︎
  7. Isim Tawabi adalah isim yang ketentuan I’rabnya mengikuti/ tergantung isim lainnya.
    Yang termasuk Isim Tawabi:
    1. Na’at/ Shifat
    2. Athaf
    3. Taukid
    4. Badal
    Karena bersifat mengikuti, maka tergantung I’rab yang diikuti maka Isim Tawabi bisa bersifat isim marfu, isim Manshub, atau isim Majrur. ↩︎
  8. Masdar adalah kata benda (isim) yang menunjukkan suatu perbuatan atau kejadian, tidak terikat oleh waktu (lampau, sekarang, atau akan datang), dan umumnya menjadi asal dari perubahan kata kerja (fi’il). Karena Masdar sifatnya sebagai isim, maka ia diperlakukan sebagai isim, baik sebagai subyek ataupun obyek dari suatu perbuatan/fi’il.
    • Kata kerja: ‘membaca, قَرَأَ، يَقْرَأُ، اِقْرَأْ… berubah menjadi Masdar>
    • Masdar: ‘pembacaan, aktifitas membaca’, قِرَائةٌ، ‘bacaan’ قُرْآنٌ ↩︎
  9. Definisi dan beberapa wazan/bentuk Sighah Mubalaghoh
    Isim Sighah Mubalaghoh (صِيْغَة مُبَالَغَة) adalah isim dengan makna hiperbolis/dilebih-lebihkan.
    Sighah Mubalaghoh adalah isim yang dibentuk dari kata kerja untuk menunjukkan bahwa suatu sifat atau perbuatan dilakukan secara sangat sering, intens, atau terus-menerus.
    Ada 5 (lima) wazan/bentuk kata dari sighah mubalaghoh yang sering dipakai dalam bahasa arab dengan arti ‘sangat, sering’ , yaitu:
    Wazan Fa’ilun فَعِلٌ , contoh: حَذِرٌ (sangat waspada), قَلِقٌ (sangat gelisah)
    Wazan Fa’iilun فَعِيْلٌ , contoh: رَحِيْمٌ (‘Maha Penyayang), عَلِيْمٌ (Maha Mengetahui)
    Wazan Fa’uulun فَعُوْلٌ , contoh: شَكُوْرٌ (sangat bersyukur), صَبُوْرٌ (sangat penyabar)
    Wazan Mif’aalun مِفْعَالٌ , contoh: مِقْدَامٌ (sangat pemberani), مِعْطَاءٌ (sangat suka memberi)
    Wazan Fa’aalun فَعَّالَ , contoh: غَفَّارٌ (Maha Pengampun), تَوَّابٌ (Maha Penerima Taubat)
    Selain wazan-wazan diatas, ada beberapa wazan lain yang jarang digunakan tetapi tetap sah dalam kaidah bahasa arab, yaitu:
    Wazan Fu”aalun فُعَّالٌ , contoh: كُبَّارٌ (sangat besar)
    Wazan Fa’laalun فَعْلَالٌ, contoh: وَسْوَاسٌ (yang sangat sering dan terus-menerus membisikkan keburukan)
    Wazan Fu’alatun فُعَلَةٌ , contoh: حُمَزَةٌ (suka mencela)
    Wazan Fi”iilun فِعِّيْلٌ , contoh: صِدِّيْقٌ (sangat jujur/membenarkan)
    Wazan Faa’uulun فَاعُوْلٌ, contoh: فَارُوْقٌ (sangat pembeda antara benar dan salah)
    Wazan Mif’iilun مِفْعِيْلٌ, contoh: مِعْطِيرٌ (sangat harum/ suka memakai wewangian) ↩︎
  10. Pola tashrif 19: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ , dengan pola wazan :
    [madhi- mudhari- ‘amr- masdar- isim fa’il & isim maf’ul- majhul madhi & mudhari’]: فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ – فَعْلِلْ – فَعْلَلَةً – مُفَعْلِلٌ، مُفَعْلَلٌ – فُعْلِلَ – يُفَعْلَلُ
    Pola wazan فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ adalah pola dasar untuk fi’il ruba’i mujarrad.
    Faidah/arti fi’il dengan wazan فَعْلَلَ diantaranya :
    1. Me-nggelinding-kan batu — دَحْرَجَ
    2. Sbg fi’il lazim, menjadi terang/jelas — حَصْحَصَ
    3. Meringkas ungkapan — بَسْمَلَ untuk bismillah…rohim
    Contoh dengan urutan [fi’il madhi – fi’il mudhari’] dan kata terakhir dengan urutan [fi’il ‘amr – masdar – isim fa’il – isim maf’ul – fi’il nahi – isim zaman/makan] dan [fi’il majhul madhi – fi’il majhul mudhari’]:
    menentramkan : طَمْأَنَ – يُطَمْئِنُ
    membisikkan was-was : وَسْوَسَ – يُوَسْوِسُ
    mengguncang : زَلْزَلَ – يُزَلْزِلُ
    menggelindingkan : دَحْرَجَ – يُدَحْرِجُ
    membinasakan : دَمْدَمَ
    memberi keterangan : بَرْهَنَ
    mengumpulkan : حَرْجَمَ
    menerjemahkan : تَرْجَمَ – يُتَرْجِمُ – تَرْجِمْ – تَرْجَمَةٌ – مُتَرْجِمٌ – مُتَرْجَمٌ – لَا تَتَرْجِمْ
    diterjemahkan : تُرْجِمَ – يُتَرْجَمُ ↩︎
  11. Haal adalah Isim yang menjelaskan keadaan subyek atau obyek ketika terjadinya suatu perbuatan. Haal hanya berlaku bagi subyek atau obyek yang makrifat, atau didahului dengan الْ. Namun, apabila subyek/obyeknya naqirah, maka itu bukan Haal, melainkan sifat
    Contoh:
    صَلّى أحْمَدُ جالِسًا. Ahmad shalat [sambil duduk جالًسًا ] ↩︎
  12. Naat adalah Isim yang menjelaskan sifat dari isim yang diikuti (man’ut). Contoh:
    a) تَأْتِي امْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ datang seorang wanita cantik
    b) رَأَيْتُ مَنْظَرًا جَمِيلًا aku melihat pemandangan yang indah
    c) مَرَرْتُ بِسُوقٍ مُزْدَحِمٍ saya melewati pasar yang ramai
    Keterangan:
    a. جميلةٌ adalah sifat dengan I’rab marfu’ mengikuti isim yang disifati امرأةٌ. (Isim Marfu).
    b. جميلاً. Adalah sifat dengan I’rab Manshub mengikuti isim yang disifati منظرًا. (Isim Manshub)
    c. مجدحمٍ adalah sifat dengan I’rab majrur mengikuti isim yang disifati سوقٍ. (Isim Majrur). ↩︎
  13. Isim Maushul/ kata sambung/penghubung, artinya “yang”, seperti: Untuk benda tunggal: الَّتِي (pr.)، الَّذِي, (lk.)
    Untuk benda ganda: اللَّذَانِ (lk.), اللَّتَانِ (pr.)
    Untuk benda jamak: الَّذِينَ (lk.), اللَّاتِى (pr.)
    Isim Maushul (kata sambung) sebagaimana disebutkan diatas, diikuti oleh shilah maushul (صلة الموصول) berupa anak kalimat yang berfungsi menjelaskan maknanya, yang terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku), dan juga maf’ul bih (obyek) bila diperlukan (untuk fi’il tam/ kata kerja sempurna فِعْلُ تَام). Shilah maushul tidak memiliki kedudukan i’rab. Contoh dengan fi’il mudhari‘ : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ (orang-orang yang beriman)
    Contoh dengan fi’il madhi : الَّذِيْنَ كَفَرُوْا (orang-orang yang ingkar) ↩︎
  14. Huruf jarr adalah huruf yang berfungsi membuat isim menjadi Majrur. Tanda Majrur bisa dengan kasrah, tetapi kadang dengan ي atau و tergantung klasifikasi isimnya.
    Daftar Huruf jarr:
    مِنْ. Dari
    إلَى. Ke
    عَنْ. Dari, tentang
    لِ. Kepunyaan, untuk
    مُنْدُ. Semenjak
    عَلَى. Atas
    حَتَّى. Sehingga
    فِي. Didalam
    بِ dengan
    كَ. Seperti
    Contoh:
    a) فِي الْبَيْتِ. Didalam rumah
    b) عَنْ جَابِرٍ. Dari Jabir ↩︎

Responses

Leave a Reply